NovelToon NovelToon
Digigit Mbak Janda

Digigit Mbak Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Janda / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Kaya Raya
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Raey Luma

"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Posesif

Lampu-lampu kantor sudah banyak yang dipadamkan. Hanya lantai tempat Radit dan Rania yang masih menyala.

Rania merapikan pakaiannya. Kini, tugasnya untuk menemui Radit sudah selesai.

“Kalau udah enggak ada yang mau diomongin lagi, aku pulang dulu ya,” ucap Rania tanpa menoleh.

"Mau langsung pulang?” tanya Radit pelan.

“Iya. Udah malam juga.”

“Sendirian?”

Rania berhenti, menoleh sekilas, “Kenapa? Kamu mau ikut antar?”

Radit tidak menjawab. Ia justru mendorong tubuhnya perlahan menjauh dari meja, mendekat.

Rania baru akan melangkah pergi, saat tangan Radit menarik lembut pergelangan tangannya.

“Radit…”

Tak ada kalimat balasan. Hanya satu tarikan. Dan detik berikutnya, bibirnya sudah menyentuh bibir Rania.

Ciuman itu hangat. Tidak tergesa. Tidak liar.

Rania mematung.

Jantungnya berdetak tak karuan. Ia tidak membalas, tapi juga tidak menghindar.

Radit perlahan melepaskan. Tatapannya masih melekat pada mata Rania, mencari sesuatu.

“Itu… bagian dari kontrak juga, kan?” gumamnya dengan nada sedikit sinis.

Rania menunduk. “Iya. Semua sudah tertulis. Termasuk hal seperti ini.”

Radit mengangguk pelan. Namun senyumnya pahit.

“Jadi jangan terlalu serius,” ucap Rania, “Semua yang terjadi sekarang, ada batasnya.”

“Iya…” jawab Radit, tapi nadanya meredup. “Tentu saja ada batas.”

“Oke. Aku pulang.”

“Aku antar.”

“Enggak usah.”

“Aku tetap mau antar.”

“Terserah kamu, tapi jangan nyalahin aku kalau kamu makin kangen.”

Mereka saling pandang. Lalu tertawa. Tawa kecil yang janggal, tapi lepas.

“Tunggu,” kata Radit, mengerutkan dahi. “Tadi kamu jalan lewat mana?”

“Aku lupa juga. Eh… kita turun lewat tangga dong?”

“Tuh, kan. Gak fokus. Kamu sih!”

Rania mendecak, “Ya udah, kita lewat lift aja.”

“Oke" ucap Radit, mantap. "Sekarang pegang tanganku. Kalaupun nyasar, seenggaknya kita berdua masih barengan."

Rania tidak menjawab, namun menyetujui.

Langkah mereka pun menyusuri koridor kantor menuju lift dengan arah yang sempat salah—lagi. Rania menggerutu, Radit hanya mengangkat bahu sambil menggoda.

Setibanya di basement. Radit masuk ke mobil lebih dulu, disusul Rania yang duduk di sebelahnya.

"Pakai sabuk pengaman." titah Radit dengan suara lebih santai.

"Siap, Pak Bos!"

Langit malam menemani keduanya. Tak ada percakapan selama perjalanan, hanya beberapa tanya jawab singkat yang masih wajar untuk sebuah pengantaran.

Akhirnya setelah beberapa saat, mobil Radit berhenti di depan sebuah perumahan sederhana. Lampu-lampu jalan menyala remang, menerangi gerbang besi yang tak seberapa besar.

Radit menoleh ke arah bangunan itu, alisnya langsung terangkat. “Ini?” tanyanya cepat, seperti tak percaya.

Rania melirik malas. “Ya, ini.”

“Tempat tinggal seorang Nyonya Raditya Mahendra?” ejek Radit dengan nada menggoda. “Kamu bercanda?”

Rania mendecak, lalu mencubit lengannya pelan. “Kamu tuh—aku bisa aja balik ke apartemenmu, tapi… aku takut kamu makin tergila-gila.”

Radit terkekeh. “Wah, kamu udah makin berani ya.”

“Kamu duluan yang mulai,” balas Rania santai sambil turun dari mobil.

Radit hanya tertawa, namun diam-diam matanya memandangi punggung Rania yang berjalan menuju gerbang rumah barunya.

Tapi belum sempat mereka lanjutkan godaan itu, sebuah mobil dari belakang membunyikan klakson keras—mengingatkan mereka bahwa mereka tak sendiri di dunia ini.

Rania langsung menoleh dan mengangkat tangan sebagai isyarat minta maaf, lalu menoleh kembali ke Radit yang bersiap pergi.

Tepat sebelum ia menutup jendela mobil, Radit berkata dengan nada lebih tenang.

“Ran…”

Rania menoleh.

“Jangan pernah bikin keputusan sendiri lagi… kayak tadi pagi. Aku hampir gila nyari kamu.”

Rania terdiam sejenak.

“Oke. Aku janji.”

Radit mengangguk pelan. Ia ingin bilang banyak hal lagi, tapi ia tahu waktu mereka masih panjang.

“Masuk sana. Dan tidur yang nyenyak.”

“Kamu juga, Tuan Raditya Mahendra.”

Mobil Radit melaju pelan, meninggalkan bayangan Rania di balik pagar rumah barunya. Dan meski terpisah dinding dan jalanan, entah kenapa… hati mereka terasa lebih dekat dari sebelumnya.

---

Pagi harinya. Radit kembali memulai hari seperti biasanya. Ia berangkat lebih pagi ke kantor, dengan harapan akan bertemu Rania. Namun, notifikasi dari ponsel Radit muncul di layar saat ia baru saja sampai di kantornya.

Rania: Aku ke rumah sakit dulu ya, Pal Radit. Jadi mungkin agak telat masuk kantor.

Kening Radit langsung berkerut. Ia mengetik cepat.

Radit: Siapa yang sakit? Aira kenapa lagi?

Pesan itu hanya centang satu. Tidak dibaca. Tidak dibalas.

Beberapa menit berlalu. Lalu satu jam. Lalu dua jam.

Radit menekuk tubuhnya di kursi, tak bisa konsentrasi sama sekali. Tangannya mengetuk-ngetuk meja, matanya kosong memandangi layar komputer yang tak satupun dibukanya. Berkali-kali ia membuka pesan, mengecek status pesan tadi, berharap satu centang itu berubah jadi dua.

“Gila,” gumamnya, menyandarkan kepala ke sandaran kursi.

“Bukannya dia yang harusnya gila-gilaan sama aku? Ini kenapa malah kebalik?”

Ia menghela napas panjang. Menyesap kopi yang sudah dingin. Tapi tetap tidak bisa tenang. Otaknya memutar segala kemungkinan. Apakah Aira sakit parah lagi? Apa Rania tidak ingin melibatkan dia? Kenapa tidak bilang sejak awal?

Bahkan sampai waktu makan siang pun ia tetap duduk di ruangannya. Menolak ajakan rapat, bahkan menolak laporan keuangan yang biasanya jadi makanan favoritnya.

Namun tepat saat jam dinding menunjuk ke angka dua…

Tok. Tok.

Pintu ruangannya diketuk.

Radit mendongak. Dan saat pintu terbuka…

Rania berdiri di sana.

Rambutnya diikat rapi, wajahnya terlihat sedikit letih, tapi senyum di bibirnya masih sama, menenangkan.

“Hey…” sapanya lembut.

Radit tidak menjawab. Ia langsung berdiri, langkahnya cepat menghampiri Rania.

“Aku udah nanya dari pagi. Kenapa kamu gak jawab? Siapa yang sakit? Aira baik-baik aja? Atau—”

“Hey, hey, tenang dulu,” potong Rania sambil mengangkat kedua tangannya pelan.

Radit mengerutkan dahi. “Kenapa kamu kayak gak peduli banget?! Aku panik, Ran.”

Rania tersenyum. Ia melangkah mendekat, lalu dengan lembut menarik tangan Radit untuk duduk kembali ke kursinya.

Tanpa berkata apa-apa, Rania berdiri di belakang Radit. Tangannya mulai memijit pelan bahu pria itu, lembut namun menenangkan.

“Tenanglah,” ucapnya. “Kalau aku nggak jawab, bukan berarti aku gak peduli. Aku cuma… ingin menyelesaikan semuanya dulu sebelum kamu panik.”

Radit masih terdiam. Matanya lurus ke depan. Hatinya mulai luluh.

“Terus… siapa yang sakit?” tanyanya lirih.

Rania terdiam sejenak sebelum menjawab, “Bukan Aira. Tenang, dia baik-baik saja. Aku hanya… memastikan beberapa hal aja di rumah sakit.”

“Hal apa?”

“Rahasia,” jawab Rania cepat. “Nanti kamu juga tahu. Tapi yang jelas, gak ada yang bahaya.”

Radit mendengus pelan. Tapi bahunya yang tegang mulai rileks di bawah pijatan lembut itu.

“Ran…”

“Hmm?”

“Jangan kayak gitu lagi.”

“Kayak gimana?”

“Kayak ninggalin aku sendiri di tumpukan asumsi. Aku bisa gila tau gak.”

Rania terkekeh pelan. Ia mencondongkan wajahnya, membisikkan satu kalimat di samping telinga Radit.

“Yaudah… jangan terlalu sayang, nanti kamu capek sendiri.”

Radit langsung menoleh ke belakang, ingin membalas, tapi Rania sudah melangkah mundur sambil tersenyum menang, lalu berkata:

“Aku kerja dulu, Pak Bos. Biar cepet naik jabatan jadi istri bohongan paling cerdas.”

Radit tertawa, pelan. Matanya tak lepas dari perempuan itu.

Gemas.

"Aku bakal makin gila, kalau kamu terus kayak gini."

–––

Suasana kantor mulai ramai jelang sore. Beberapa staff melintas sambil membawa tablet, beberapa lainnya sibuk berdiskusi di area kerja terbuka.

Rania berjalan cepat dari ruang editing menuju ruang penyimpanan dokumen. Map berisi data promosi masih ada di tangannya. Tapi baru beberapa langkah, langkahnya terhenti.

Matanya menangkap sosok pria berjas abu di dekat ruang rapat.

Untuk sesaat, waktu seakan membeku.

Rania mematung.

Detak jantungnya melompat liar. Tapi hanya satu detik ia kehilangan kendali.

Detik berikutnya, ia langsung menegakkan postur tubuhnya. Matanya tajam, ekspresinya berubah dingin. Ia melangkah seperti biasa, meskipun isi kepalanya bergemuruh.

Bukan sekarang. Jangan sekarang.

Pria itu sedang berbincang dengan salah satu staf yang baru. Sambil tersenyum, santai, seperti biasa. Tapi mata Reyhan tak sempat menoleh padanya.

Beruntung.

Rania terus berjalan melewatinya sambil membuang muka, berharap ia tak menyadari kehadirannya.

Dan itu, berhasil.

Reyhan pun tak bereaksi.

Seolah ikut terhanyut dalam skenario diam-diam yang Rania bentuk di tempat itu.

Begitu masuk ke ruangan belakang, Rania bersandar ke dinding, memejamkan mata, menahan napas yang hampir meledak.

“Apa yang dia lakukan di sini?”

“Apa jangan-jangan dia tau soal kontrak ini?”

Tapi tidak. Ia harus tetap tenang. Radit tidak boleh tahu. Siapapun tidak boleh tahu.

Ia menenangkan diri sejenak, lalu kembali ke ritme kerjanya.

Sementara, di ruang kerja Radit

Radit baru keluar dari ruang meeting saat melihat Rania datang sambil membawa map. Ia sempat menatap wanita itu lebih lama dari seharusnya.

“Kenapa kamu pucat?” tanya Radit, setengah menggoda, setengah khawatir.

Rania mengerjapkan mata, lalu langsung tersenyum lebar.

“Lapar,” katanya singkat.

“Lapar bisa bikin kamu kelihatan kayak ngeliat hantu?”

Rania mengangkat map di tangannya dan menepuk ringan bahu Radit. “Daripada mikirin wajah aku, lebih baik kamu tanda tanganin ini dulu. Bos besar.”

Radit tersenyum, lalu mengambil map itu sambil terus mencuri pandang.

Detik berikutnya, ketika Rania hendak menutup berkas. Seseorang sudah berada di ambang pintu.

Dekat.

Matanya menangkap sosok itu beberapa saat, sebelum akhirnya ia menutupkan berkas ke wajahnya sambil berkata:

"Aduh, Pak Bos. Ada panggilan alam. Maaf, aku harus pergi sekarang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!