"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"
Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.
Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.
Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?
Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.
Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Masa Lalu
"Kalendra, aku mohon berhenti."
Tempat berganti di sebuah kelas yang sepi. Hanya ada Kanaya dan Kalendra di ruangan itu.
"Apa kau tidak lelah selalu menggangguku?" ekpresi Kanaya tampak jengah. Berbanding terbalik dengan Kalendra yang setia menyunggingkan senyum bila berada di dekat sang pujaan hati.
"Aku tidak akan pernah berhenti. Kau itu jantungku, berjauhan denganmu sama saja membunuhku."
"Cukup Kalendra!" tukas Kanaya tegas. "Aku tidak nyaman dengan semua tingkahmu. Tidak hanya itu, perbuatanmu yang sudah kelewat batas membuatku dan Pram bertengkar."
Sudah cukup selama ini Kanaya selalu abai dengan tingkah Kalendra yang seenak jidat. Pemuda itu selalu saja mengintilinya dengan terus menerus mengungkapkan bualan tak berguna. Selalu merusuh ketika Kanaya bersama Pram--- yang saat itu menjadi kekasihnya.
Kanaya tak tahu pasti kapan Kalendra menaruh hati padanya. Yang pasti, sejak gadis itu memberikan plester untuk membalut lutut Kalendra yang terluka, mulai dari sanalah, Kalendra mulai merecokinya.
"Baguslah. Sekalian saja putuskan dia. Aku bisa menjadi kekasih yang lebih baik daripada Pram si idiot itu."
"Kalendra!!" seru Kanaya. Kali ini ia benar-benar marah. Kalendra tidak berhak merendahkan Pram.
"Kau keterlaluan! Dengar ini, jauhi aku atau jika tidak, aku akan benar-benar membencimu!"
Kanaya mengambil tasnya kasar. Membuang bunga krisan yang diberikan Kalendra. Tak puas sampai di sana, gadis itu menginjak-injak bunga tersebut hingga hancur tak berbentuk.
"Seharusnya kau punya rasa malu untuk mendekati gadis yang jelas-jelas memiliki kekasih." ujar Kanaya dingin.
Setelahnya, gadis itu meninggalkan kelas. Di ujung pintu, pemuda yang amat Kalendra benci tengah menunggu. Pram merangkul Kanaya mesra. Melirik pada Kalendra, ia sunggingkan senyum miring penuh kemenangan.
Di tempatnya, Kalendra mengepalkan tangannya kuat. Memejamkan matanya, ia coba redakan amarah yang hampir akan meledak. Ingin rasanya dia menarik Kanaya dengan kasar. Memberikan mulut jahatnya itu pelajaran.
Kembali membuka matanya, Kalendra tatap bunga yang sudah hancur dengan mata berkilat tajam. Kekehan dingin mengudara dari bibirnya.
"Ahhh, Kanaya-ku sangat menggemaskan."
.
.
Layar kembali menunjukkan pergantian tempat. Di lapangan upacara, terlihat gerombolan siswa membentuk sebuah lingkaran. Di dalamnya, terdapat Kalendra yang membawa sebuket bunga krisan merah beserta coklat berbentuk hati. Matanya tampak mengedar seolah sedang mencari seseorang.
Lalu, pada saat salah seorang siswa menjorokkan satu siswa perempuan agar masuk ke dalam 'lingkaran' itu, sang pemuda melebarkan senyumnya.
"Kanaya...akhinya kau datang juga."
Kanaya yang masih bingung terkejut saat Kalendra berlutut di hadapannya. Menyodorkan bunga dan coklat yang dibawanya.
"Kanaya Wilson, tolong terima bunga serta coklat ini, dan jadilah kekasihku!"
Kanaya melotot tak percaya. Bahkan, sorak semorai dari para siswa yang menggoda tidak ia hiraukan. Dengan wajah yang memerah, ia rampas bunga serta coklat itu lalu melemparkannya ke tanah.
Akibat ulahnya itu, semua siswa mendadak diam. Suasana romantis mendadak berubah menegangkan.
"Apa kau tidak punya akal?!" seru Kanaya terdengar marah.
"Sudah berapa kali ku bilang, jauhi aku! Sekarang kau malah nekat menyatakan cinta di depan banyak orang?!" wajah Kanaya memerah. Bukan karena tersipu, tetapi karena amarah yang tak dapat dibendung lagi.
Kalendra--- pemuda itu terhenyak. Tidak ia sangka respon Kanaya akan semarah ini.
"Kau memang sangat ingin dipermalukan ya, Kalendra?" itu bukan pertanyaan, melainkan ejekan yang tersirat.
"Dasar tidak punya malu! Kau senekat ini, padahal kau tahu betul aku memiliki kekasih!!"
Bisik-bisik mulai terdengar dari para siswa yang menonton.
"Kata Kalendra, mereka sudah putus."
"Tidak ku sangka, Kalendra menyebarkan rumor palsu hanya demi mendapatkan dukungan."
"Ini sudah ditahap obsesi, tidak sih?"
"Sangat menakutkan jika ada pemuda seperti itu yang mendekati kita. Percuma tampan kalau bermasalah."
Kanaya terkekeh mengejek mendengar bisikan-bisikan itu. Ia pandang Kalendra dengan sorot meremehkan.
"Kau dengar itu? Kau adalah pemuda yang bermasalah."
"Kau pemuda bermasalah yang tidak tahu malu! Dasar penguntit! Kau sampah Kalendra!"
Kalendra-- dia mengepalkan telapak tangannya erat. Nafasnya berderu tidak beraturan dengan rahang yang mengetat.
Perasaan Kanaya tak nyaman melihat tatapan Kalendra. Setitik penyesalan menyusup ke dalam hatinya, namun setelah mengingat kembali betapa obsesinya pemuda itu padanya, Kanaya buang jauh-jauh penyesalannya.
"Dengar ini." Kalendra bersuara. Terdengar rendah dan mengancam.
"Kau akan menyesal Kanaya. Kau benar-benar akan menyesal."
Kanaya menyunggingkan senyum sinis. "Aku tidak akan menyesal. Pemuda bermasalah sepertimu, memang pantas dipermalukan."
Lantas, gadis itu pergi. Disusul para siswa yang semula menonton. Meninggalkan Kalendra sendiri di tengah awan yang mendung. Guntur menyalakan sinarnya, kemudian, hujan turun dengan derasnya.
Kalendra tidak berpindah tempat untuk sekedar meneduh. Ia biarkan air dari langit itu mengguyur tubuhnya dengan rasa sesak yang semakin dalam menghinggapi dadanya.
.
.
Sudah seperempat jam Kanaya mengelilingi sekolah untuk mencari Pram. Namun, ia tak kunjung menemukan batang hidung pemuda itu.
Gadis itu berhenti melangkah. Berdecak kesal karena mulai lelah, dia sandarkan punggungnya pada dinding gudang olahraga.
Sampai sebuah suara aneh menyapa gendang telinganya. Seperti suara...desa-han seseorang. Menelan salivanya dalam, Kanaya balikkan tubuhnya hingga menghadap jendela. Berjinjit, ia arahkan pandangannya ke dalam ruangan yang berisi peralatan olahraga itu.
Seketika--- badannya menegang. Kanaya hampir kehilangan pijakannya.
Di dalam sana, seorang pemuda yang sangat Kanaya kenal sedang....melakukan hal tak senonoh dengan--- entahlah, Kanaya tidak tahu namanya.
"Sialan. Sedari tadi aku mencarinya bak orang hilang, ternyata dia malah sedang berselingkuh!"
.
.
Sejak hari itu, Kanaya memutuskan hubungannya dengan Pram tanpa memberikan kesempatan pemuda itu untuk menjelaskan. Baginya, apa yang dilihatnya sudah lebih dari cukup. Pram berkhianat. Kesalahannya fatal. Dan Kanaya, tidak bisa mentolerirnya.
Kehidupan Kanaya berjalan normal. Sudah tidak ada lagi Kalendra yang menganggu. Pemuda itu pindah sekolah. Sebenarnya, Kanaya tidak peduli. Namun saat mengingat kesan terakhir antara dia dan Kalendra, rasa penyesalan itu selalu muncul.
Sampai usia Kanaya menginjak menginjak usia 23 tahun.
Perusahaan keluarganya mengalami koleps dan membutuhkan dana suntikkan. Waktu itu, Evan--- ayahnya pulang dengan wajah lesunya.
"Bagaimana? Apakah ada jalan keluar untuk masalah ini?" tanya Tania, wanita yang telah melahirkan Kanaya.
"Sebenarnya, ada yang menyarankan agar kita meminta bantuan pada pemilik Wijaya grub." balas Evan tampak ragu.
Dalam diamnya, Kanaya tampak mengernyitkan dahinya. Dia seperti pernah mendengar nama marga itu.
Apakah....dia?
"Benarkah? Ini kabar yang bagus! Siapa pimpinannya?" tanya Tania antusias.
"Kalendra Wijaya. Dia adalah pemilik bisnis properti terbesar di negara ini." Evan menelan salivanya pahit. Ia tatap Kanaya yang sedari tadi diam mendengarkan tengah duduk di sofa seberang.
Ahhh, ternyata benar dia. Sudah lama sejak Kanaya mendengar namanya.
"Kalendra Wijaya?" beo Tania, lalu pandangannya beralih pada putri sulungnya.
"Bukankah dia temanmu di sekolah menengah atas?"
Melihat tatapan ibunya, perasaan Kanaya mulai tidak enak.
"Kanaya, tolong bujuk dia agar mau membantu perusahaan keluarga kita. Kalian kan teman, pasti dia akan lebih mudah mengiyakan permohonanmu."
Deg. Saat itu, Kanaya merasa dunianya seakan berhenti.
Masalahnya...hubungan mereka tidak baik-baik saja. Apakah Kanaya masih memiliki muka untuk menemui laki-laki itu setelah apa yang terjadi?
.
.
Kanaya tahu. Tidak seharusnya dia egois. Ayah dan ibunya sedang membutuhkannya. Sekarang, Kanaya adalah harapan satu-satunya untuk bisa menyelamatkan perusahaan keluarga.
Jadi, di sinilah dia sekarang. Perusahaan seseorang yang sudah ia permalukan di masalalu.
"Ada apa kau datang kemari?"
Perempuan yang semula menundukan wajahnya itu, menegakkan wajah. Jemarinya memilin baju yang dipakainya gelisah.
"Kalendra....aku--- aku membutuhkan bantuanmu."
Laki-laki bernama Kalendra itu menyunggingkan senyum miring. Menatap sang lawan bicaranya arogan.
"Serius, Kanaya? Setelah apa yang kau perbuat padaku, kau tidak punya malu untuk datang di hadapanku dan meminta bantuanku?"
Perempuan itu mengigit bibirnya gugup. Ragu, dia meraih tangan Kalendra dengan tatapan penuh permohonan.
"Ak---aku mohon Kalendra. Hanya kau satu-satunya harapanku. Aku----
Kalimat Kanaya terpotong saat Kalendra menyentak lengannya. Lalu, "Kau hanya membuang waktu dengan memohon padaku. Seperti diriku yang memohon kepadamu tujuh tahun silam." ujar Kalendra dingin.
Kanaya tak menyerah, dia meluruhkan tumbuhnya. Menjadikan lutut sebagai tumpuan, kemudian perempuan itu menyentuh kaki Kalendra mengiba.
"Aku mohon Kalendra. Aku akan melakukan apapun yang kau minta. Apapun."
Kalendra menunduk. Membalas tatapan putus asa Kanaya dengan seringainya. "Termasuk, menjadi budakku?"