Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Bingkai foto.
Keheningan ruangan kerja sang CEO terasa begitu pekat, hanya diiringi oleh suara deru halus pendingin ruangan dan napas teratur dari pria yang tengah terlelap di atas sofa kulit hitam itu. Prisha melangkah mendekat dengan amat sangat berhati-hati, seolah-olah setiap ketukan sol sepatunya di atas karpet tebal bisa memicu alarm bahaya.
Gadis itu perlahan menurunkan tubuhnya, berjongkok tepat di samping sofa tempat Saka Tanubrata tertidur. Dalam jarak sedekat ini, Prisha lekat-lekat menatap pahatan wajah pria di hadapannya. Harus ia akui, saat terpejam seperti ini, gurat keangkuhan yang tadi pagi Saka pancarkan seolah luntur tak bersisa.
Saka tampak begitu tenang, damai, dan ... sangat indah dipandang. Semburat ketampanan yang sempurna itu sempat membuat Prisha tertegun selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia menggelengkan kepala dengan cepat untuk menyadarkan dirinya sendiri. 'Ingat misimu, Prisha! Jangan malah terpesona.'
Prisha perlahan menegakkan tubuhnya kembali. Matanya menyapu sekeliling ruangan yang didominasi warna monokrom klasik, hingga netranya tertambat pada meja kerja jati raksasa di tengah ruangan. Di sudut meja yang rapi itu, terdapat sebuah bingkai foto berdesain sederhana yang tampak sedikit kontras dengan kemewahan interior kantor.
Didorong rasa penasaran, Prisha melangkah mendekat ke meja kerja tersebut dan meraih bingkai foto itu. Alisnya seketika bertaut. Di dalam foto, terlihat sosok Saka yang berdiri di bawah pohon sakura dengan kelopak-kelopak bunga yang berjatuhan. Pria itu sedang merangkul seorang wanita.
Prisha menyipitkan mata, meneliti wajah wanita di dalam foto itu. 'Tidak begitu cantik,' batin Prisha menilai secara objektif. Wanita itu tidak memiliki garis wajah yang menonjol seperti para model atau sosialita, penampilannya cenderung sangat polos, sederhana, dan lugu. Namun, yang membuat Prisha terkejut adalah ekspresi Saka. Di foto itu, Saka tersenyum begitu lepas dan tulus, sebuah senyuman yang memancarkan kebahagiaan murni.
Prisha menoleh sekilas ke arah sofa, memandangi Saka yang masih terlelap, lalu kembali menatap foto di tangannya. Pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan di kepalanya. Bagaimana kabar wanita itu sekarang? Di mana dia? Apakah karena wanita ini, Saka terus-menerus menolak untuk menikah hingga membuat Nyonya Ratih frustrasi dan nekat menjodohkannya dengan sembarang gadis?
Prisha membalikkan sedikit bingkai foto itu untuk menyelidiki apakah ada petunjuk lain. Tepat di bagian bawah bingkai, terdapat sebuah ukiran tulisan tangan yang tampak dibuat dengan kuas kecil bermotif hati: Saka love Utami.
Pfftt...
Prisha hampir saja menyemburkan tawa di tengah kesunyian ruangan itu. Ia terpaksa menutup mulutnya dengan satu tangan agar tawanya tidak pecah. 'Saka love Utami? Yang benar saja!' Judul tulisan itu terasa sangat menggelikan dan kekanak-kanakan, persis seperti gaya coretan anak SD yang baru pertama kali kasmaran.
Prisha menebak, bingkai beserta tulisan norak ini pasti pemberian dari si wanita yang bernama Utami itu, dan lucunya, seorang CEO agung seperti Saka Tanubrata justru memajangnya dengan bangga di atas meja kerja utamanya.
Sambil menahan sisa-sisa tawanya, Prisha meletakkan kembali bingkai foto itu ke tempat semula. Ia berjalan kembali ke sisi sofa, mengamati Saka yang posisi tidurnya tampak kurang nyaman akibat sepatu pantofel yang masih membungkus kedua kakinya.
Naluri kemanusiaan Prisha sedikit terketuk. Berpikir untuk memberikan impresi pertama sebagai wanita yang perhatian, Prisha membungkuk dan mengulurkan kedua tangannya secara perlahan, berniat untuk melepaskan sepatu Saka.
Namun, Prisha meremehkan insting waspada seorang Saka Tanubrata.
Tepat saat jemari Prisha menyentuh bagian tumit sepatunya, kelopak mata Saka terbuka dengan sentakan instan. Refleks pertahanan diri pria itu bekerja dalam sepersekian detik. Tanpa melihat siapa yang berada di dekat kakinya, Saka langsung melayangkan satu tendangan kuat yang telak menghantam bahu Prisha.
Duk!
"Aaakh!" Prisha menjerit kecil saat tubuhnya terlempar ke belakang akibat hantaman tersebut, membuat pantatnya mendarat dengan keras di atas lantai marmer yang dilapisi karpet.
Saka langsung menegakkan tubuhnya, duduk di tepi sofa dengan napas yang sedikit memburu dan tatapan mata yang luar biasa tajam bagai elang yang siap menerkam mangsa. "Apa yang kau lakukan?!" kecam Saka dengan suara berat yang menggelegar dingin, menatap Prisha penuh permusuhan.
Prisha meringis kesakitan, perlahan bangkit berdiri sembari menggosok-gosok pantatnya yang terasa sangat ngilu akibat benturan barusan. "Melepaskan sepatumu," sahut Prisha defensif, wajahnya berkerut menahan nyeri.
Saka menaikkan sebelah alisnya, tatapannya masih sekaku batu. "Untuk apa melakukan itu?"
"Ya ... untuk melepas sepatumu saja. Memangnya apa lagi?" jawab Prisha dengan nada polos yang terkesan aneh dan sedikit tidak nyambung di telinga Saka.
Saka mendengus ketus. Pria itu berdiri dari sofa, melangkah tegap menuju sakelar di dinding dan menghidupkan lampu utama ruangan. Seketika, cahaya terang benderang memenuhi setiap sudut kantor, mengusir temaram yang tadi sempat menyelimuti mereka.
Saat itulah, pandangan Saka tertuju pada sebuah paper bag dan kotak tempat bekal yang terletak di atas meja kopi dekat sofa.
Prisha yang menyadari arah pandang Saka, langsung berusaha menetralisasi suasana. "O-oh iya, aku membawa ini dari rumah," ucap Prisha, bergegas melangkah mendekati meja kopi dan mulai menyusun kotak-kotak bekal tersebut dengan rapi. "Ayo makan, Kak Saka. Kamu pasti belum makan malam karena sibuk bekerja, kan?"
Saka melangkah mendekat, berdiri menjulang di depan Prisha yang sedang sibuk membuka tutup wadah makanan. Sudut bibir pria itu terangkat, membentuk seulas senyum miring yang sarat akan cemoohan.
Tanpa diduga, Saka mengulurkan tangannya, menyambar seluruh kotak bekal yang baru saja disusun Prisha dengan kasar, lalu berjalan dua langkah dan melemparkannya begitu saja ke dalam tong sampah di sudut meja kerja.
Prang! Gedubrak!
Kotak-kotak berisi makanan mewah itu kini berakhir mengenaskan di tumpukan sampah dokumen.
Prisha membeku. Matanya mengikuti arah jatuhnya bekal itu ke dalam tong sampah, setelah itu ia perlahan memutar tubuh dan kembali menatap Saka dengan ekspresi wajah yang anehnya ... sama sekali tidak terlihat sedih atau terluka.
"Niatmu datang ke sini malam-malam begini mau menggodaku, kan?" todong Saka tanpa basa-basi, suaranya terdengar sangat mengintimidasi.
Prisha menatap tong sampah sekali lagi, lalu kembali mengunci pandangannya pada manik mata hitam Saka. "Iya," jawab Prisha dengan sangat jujur, tanpa ada niat untuk mengelak sedikit pun. Gadis itu bahkan memajukan tubuhnya selangkah dengan berani. "Kenapa dibuang? Memangnya dandananku kurang menarik? Atau ... apa kau punya saran bagaimana cara menggoda yang baik menurut seleramu?"
Saka sempat tertegun selama satu detik. Sepanjang hidupnya, ia sudah menghadapi ratusan wanita yang mencoba mendekatinya dengan berbagai topeng kepolosan atau kepura-puraan. Tapi gadis di depannya ini? Dia benar-benar di luar nalar.
"Gadis gila! Pergi dari sini sekarang!" bentak Saka, kemarahannya mulai tersulut oleh ketebalan muka Prisha.
Bukannya mundur karena takut, Prisha justru menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan menantang yang sensual. "Kau tidak mau tidur denganku malam ini? Lumayan, lho, buat menghilangkan stres pekerjaanmu."
Napas Saka seketika tercekat di tenggorokan. Ia tidak mengira Prisha akan se-blak-blakan dan seberani itu menawarkan hal sensitif demi melancarkan misinya.
Padahal sebelum ini, Saka sudah menerima data lengkap mengenai latar belakang Prisha dari orang kepercayaannya. Ia sudah membaca seluruh riwayat hidup gadis itu, yang dikenal dengan reputasi sebagai 'Putri Jahat' sepanjang sejarah pendidikannya karena sifatnya yang angkuh dan dingin saat keluarganya masih jaya.
Tapi sekarang, sosok di depannya ini tampak seperti orang yang berbeda demi mempertahankan hidup.
Saka mendekatkan wajahnya ke arah Prisha, memberikan tekanan aura yang luar biasa pekat. "Ada kau di sini ... justru membuatku tambah stres," desisnya tajam tepat di depan wajah Prisha.
Prisha tidak gentar. Ia justru menyunggingkan senyum tipis yang menawan, melirik sekilas ke arah meja kerja di mana foto Utami berada. "Padahal kalau dilihat-lihat ... aku jauh lebih cantik dan menarik daripada Utami."
Mendengar nama keramat itu keluar dari bibir Prisha, rahang Saka seketika mengeras sempurna. Sorot matanya berubah menjadi kilatan amarah yang sangat berbahaya, seolah-olah Prisha baru saja menginjak area paling terlarang di dalam hidupnya.
Tanpa berkata-kata lagi, Saka mencengkeram lengan Prisha dengan kuat, setengah menyeret tubuh gadis itu menuju pintu keluar, membuka daun pintu ganda jatinya, lalu mendorong Prisha keluar ke koridor sebelum membanting pintu dengan kekuatan penuh.
Brak!!!
Suara dentuman pintu yang beradu terdengar begitu nyaring, menggema di seluruh koridor lantai teratas yang sepi.
Prisha terengah-engah di depan pintu yang tertutup rapat, memegangi lengannya yang sedikit memerah. Namun, kekagetannya belum mereda saat sebuah suara tepuk tangan pelan mendadak terdengar dari arah sampingnya.
Prok... prok... prok...
Prisha menoleh dengan cepat. Di sana, Bora sudah berdiri tegak dengan senyum tipis di wajah polosnya. Padahal tadi gadis itu bilang ingin menunggu di ruang tunggu lantai bawah, tapi nyatanya dia justru sudah berdiri di sini sejak tadi.
"Selamat, Nona Prisha. Anda baru saja memecahkan rekor tercepat diusir dari ruangan ini oleh Tuan Muda Saka," ucap Bora dengan nada suara datar yang terdengar sangat sarkas di telinga Prisha.
Prisha mendengus pelan, merapikan gaunnya yang sedikit berantakan. "Kenapa kau ada di sini? Bukannya katamu mau menunggu di bawah?"
"Bora sengaja naik untuk menjemput Anda, Nona. Bora juga sudah siap mengantarkan Anda pulang dan siap menghibur jika Nona merasa sedih atau ingin menangis," jawab Bora dengan profesionalitas yang tinggi namun menggelikan.
Prisha memutar bola matanya, lalu mulai melangkah menuju lift dengan santai. "Aku tidak sedih, Bora. Sama sekali tidak. Hal sekecil ini tidak akan bisa membuatku sedih atau menangis."
Bora berjalan di samping Prisha, mengamati ekspresi wajah majikan barunya itu dari samping. Sebuah senyuman tipis yang tulus akhirnya terukir di wajah pelayan muda itu. Di dalam hatinya, Bora merasa kagum sekaligus terhibur.
Dulu, gadis-gadis kelas atas yang dibawa oleh Nyonya Ratih ke kantor ini pasti akan langsung menangis histeris, sakit hati, dan merasa terhina karena seluruh makanan buatan mereka berakhir mengenaskan di dalam tong sampah tanpa sempat disentuh oleh Saka.
Namun, Prisha Kaelen ... gadis satu ini benar-benar berbeda. Sifatnya yang keras kepala, tebal muka, dan realistis sepertinya akan menjadi seonggok kerak membandel yang siap mengacaukan kehidupan tenang dan dingin milik seorang Saka Tanubrata di hari-hari berikutnya.
Bersambung....