NovelToon NovelToon
JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:839
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: TOPENG YANG RETAK DAN AMARAH SANG PEMBURU

Suara gedoran keras di pintu depan rumah Mayang terdengar bagai dentang lonceng kematian. Struktur kayu rumah tua itu bergetar hebat, menjatuhkan debu-debu dari langit-langit kamar. Ibu Mayang yang baru saja siuman langsung tersentak ketakutan, mencengkeram lengan putrinya dengan tubuh yang kembali menggigil.

"Mayang! Buka pintunya! Kami tahu kau menyembunyikan penyusup di dalam rumahmu!" Suara parau dan berwibawa milik Tetua Gidion menggema dari luar, memecah keheningan pagi desa yang mencekam.

Dion melangkah cepat ke depan ranjang, memosisikan tubuh tingginya sebagai dinding pembatas antara ancaman di luar dan dua wanita di belakangnya. Mata abu-abu badainya berkilat tajam, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat. Bilah belati kuno di tangan kanannya mulai bergetar halus, memancarkan asap perak tipis yang dingin.

"Tetap di sini dan jaga ibumu," bisik Dion kepada Mayang, suaranya terdengar sangat dalam dan mutlak, tak menerima bantahan. "Jangan keluar sebelum aku menyuruhmu."

Mayang menatap punggung kokoh Dion dengan rasa cemas yang mendalam, namun ia mengangguk patuh sambil meremas jemari ibunya. "Hati-hati, Dion..."

BRAAAKKK!

Sebelum Dion sempat mencapai ruang tamu, pintu depan rumah Mayang sudah didobrak paksa dari luar. Tiga orang pengawal desa bertubuh kekar dengan baju zirah kulit dan tombak besi merangsek masuk, diikuti oleh Tetua Gidion yang melangkah perlahan dengan tongkat kayu berkepala tengkorak miliknya. Wajah tua Gidion yang dipenuhi keriput tampak sangat puas, seolah ia baru saja menjebak seekor mangsa berharga.

"Ah, ternyata desas-desus itu benar," desis Tetua Gidion, matanya yang licik menatap Dion dari atas ke bawah sebelum tertuju pada luka sayat yang terbalut di tangan kiri Dion. "Keturunan terakhir dari klan sesat yang membawa sial. Kau berani menginjakkan kakimu di tanah suci desa ini, pemburu haram."

Dion terkekeh rendah, sebuah suara bariton yang sarat akan penghinaan. Ia sama sekali tidak gentar menghadapi mata tombak yang mengarah ke dadanya. "Tanah suci, Gidion? Tempat ini dibangun di atas genangan darah keluargaku yang kausembelih saat mereka lengah. Seharusnya kau berkaca, siapa sebenarnya monster sesat yang ada di sini."

Wajah Tetua Gidion mendadak mengencang, topeng kebijaksanaannya retak seketika digantikan oleh gurat kebencian yang mendalam. "Lancang! Pengawal, ringkus bajingan ini! Dan bawa gadis sialan itu keluar! Dia telah bersekutu dengan kegelapan untuk membawa racun ke dalam desa!"

Dua pengawal langsung merangsek maju, mengayunkan tombak mereka dengan cepat ke arah bahu Dion untuk melumpuhkannya. Namun, mereka meremehkan kecepatan seorang pemburu kabut.

Dion merunduk dengan sangat tangkas, menghindari mata tombak pertama, lalu dengan gerakan memutar yang cepat, ia menghantamkan siku kirinya ke rahang pengawal pertama hingga terdengar suara retakan yang mengerikan. Pengawal itu langsung tumbang ke lantai, tak sadarkan diri. Pengawal kedua mencoba menusuk lambung Dion, namun Dion dengan dingin menangkis mata tombak itu menggunakan bilah belatinya yang sekeras baja.

TINGGG!

Percikan api memercik di udara. Dengan satu hentakan kaki yang kuat, Dion menendang dada pengawal kedua hingga pria itu terbang menabrak dinding rumah dan merobohkan lemari kayu di dekatnya.

Tetua Gidion yang melihat kedua pengawalnya tumbang dalam hitungan detik mulai panik. Ia mengangkat tongkat tengkoraknya tinggi-tiinggi, mencoba merapalkan sebuah mantra sihir segel berwarna merah darah untuk mengunci pergerakan Dion. "Sihir darah, belenggu jiwa!"

Sebuah jaring energi merah pekat meluncur dari mata tengkorak tongkat tersebut, mengarah tepat ke tubuh Dion. Namun, sebelum jaring itu sempat menyentuh kulitnya, Dion melepaskan seluruh energi magis elemental miliknya. Asap keperakan yang sangat pekat dan dingin mendadak meledak dari tubuh Dion, membentuk pusaran angin puyuh kabut kecil di dalam ruangan.

BOOOMMM!

Sihir kabut perak Dion menabrak sihir merah Gidion, menghancurkannya berkeping-keping hingga menciptakan gelombang kejut yang melempar Tetua Gidion ke tanah di luar halaman rumah. Tongkat kayunya terlepas dan menggelinding di atas tanah yang berlumpur.

Mayang, yang tidak bisa lagi menahan diri untuk diam di kamar, langsung berlari keluar ke ruang tamu yang kini sudah berantakan. Ia terengah-engah melihat dua pengawal yang terkapar di lantai, lalu menatap Dion yang berdiri di tengah pusaran asap perak dengan napas yang memburu dan mata yang berkilat keperakan.

Dion menoleh ke arah Mayang. Amarah di matanya langsung mereda begitu melihat wajah gadis itu. Ia berjalan mendekat, lalu mencengkeram lembut bahu Mayang. "Kau tidak apa-apa?"

Mayang mengangguk, namun matanya beralih ke luar pintu. Di halaman rumah, Tetua Gidion perlahan bangkit sambil merangkak dengan sisa tenaganya. Beberapa penduduk desa yang mendengar keributan mulai berkumpul di kejauhan dengan wajah ketakutan, memandangi asap perak yang keluar dari dalam rumah Mayang.

Gidion, dengan kelicikan yang tak ada habisnya, langsung berteriak histeris ke arah penduduk desa untuk memutarbalikkan fakta. "Lihat! Lihat sendiri warga desaku! Mayang telah membawa iblis kabut ke dalam desa kita! Dialah penyebab kutukan ini kian mematikan! Mereka ingin membantai kita semua seperti yang dilakukan penyihir kabut zaman dulu!"

Mendengar provokasi itu, bisik-bisik ketakutan dan kemarahan mulai terdengar dari kerumunan warga desa. Mereka yang tidak tahu apa-apa mulai memandang rumah Mayang dengan tatapan penuh permusuhan.

Dion mengepalkan tinjunya hingga urat-urat di lengannya menonjol tajam. Ia melangkah keluar ke beranda rumah, berdiri tegak di depan kerumunan warga dengan belati yang masih meneteskan sisa energi perak. "Tutup mulutmu, Gidion! Kau yang sengaja membiarkan mereka mati dengan menyembunyikan penawar bunga Lunaria di balik segel sihir darahmu!"

Suasana mendadak senyap. Kata-kata Dion membuat beberapa warga desa saling pandang dengan bingung. Rahasia kelam para tetua yang selama ratusan tahun tersimpan rapat kini mulai robek di depan mata seluruh penduduk lembah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!