Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).
Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.
Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 25
Alam Atas – Sektor Tembok Ratapan.
Di hadapan kekuatan absolut Dao Surgawi (Heavenly Dao), bahkan para dewa yang paling perkasa pun tidak lebih dari sekumpulan semut yang merangkak di atas daun kering.
SWUUUSH!
Rantai Penghakiman transparan yang turun dari puncak langit melesat dengan kecepatan yang melampaui konsep ruang dan waktu. Itu bukanlah serangan yang terbentuk dari Qi atau sihir, melainkan manifestasi murni dari Hukum Sebab-Akibat. Ketika Langit memutuskan bahwa eksistensimu adalah sebuah anomali, maka takdir kematianmu telah tertulis di dalam jaring Samsara.
"BOS! AWAS!" raung Lei Shan.
Sang Dewa Petir memaksakan Inti Dao-nya hingga retak, melompat maju untuk menjadi perisai hidup. Di sebelahnya, Wuming dan Ao Zun ikut menerjang, membakar esensi darah mereka demi menahan Rantai Surgawi tersebut.
Namun, sebelum mereka bisa melangkah sejauh satu Zhang, sebuah gelombang tekanan tak kasat mata menekan tubuh mereka.
Bruk! Bruk! Bruk!
Ketiga Jenderal Tertinggi itu jatuh terbanting ke atas meteorit. Tubuh mereka kaku sekeras batu. Mereka tidak terluka, namun mereka mendapati bahwa tubuh mereka menolak untuk bergerak. Hukum alam di sekitar mereka telah dicabut sementara; udara menolak masuk ke paru-paru mereka, dan ruang hampa menolak menjadi pijakan mereka.
"TIDAK ADA YANG BISA MENGHALANGI TATANAN MUTLAK."
Suara tanpa emosi dari Surga bergema lagi, membuat jutaan bintang di Sektor Utara berkedip redup, menunduk patuh pada penciptanya.
Rantai itu melesat lurus menuju pusaran Dantian Shi Hao, berniat menghancurkan Mortal Dao yang dianggap telah merusak keseimbangan.
Namun, di detik ketika Rantai Penghakiman itu hendak menembus perutnya...
TAAAK!
Sebuah suara benturan yang sangat ganjil terdengar. Rantai transparan yang membawa bobot triliunan dunia itu mendadak berhenti.
Shi Hao tidak menghindar. Ia bahkan tidak menggunakan Tombak Asura-nya.
Ia hanya mengangkat tangan kirinya tangan kasar yang penuh kapalan karena bertahun-tahun memegang cangkul dan palu kayu dan menggenggam ujung rantai surgawi itu secara langsung!
Cahaya keemasan beradu dengan cahaya hijau transparan. Ruang hampa di sekeliling genggaman Shi Hao retak menjadi pecahan kaca spasial. Darah segar berwarna merah (bukan emas dewa, melainkan darah merah fana) mulai menetes dari sela-sela jari Shi Hao, jatuh menetes ke atas ruang angkasa.
Mata Ketiga Shi Hao menatap tajam ke arah langit tertinggi.
"Kau pikir kau siapa?" suara Shi Hao tidak lagi selembut angin musim semi. Kali ini, suaranya mengandung gemuruh badai yang terpendam. "Ketika aku mengundang seorang tamu ke rumahku, bahkan Pemilik Takdir pun tidak berhak menutup pintunya."
Di saat yang sama, di ujung rantai yang lain, mantan Dewa Iblis Shen Yu sedang tergantung di udara. Leher keriputnya tercekik erat oleh simpul Rantai Karma. Matanya yang sudah rabun menatap ke arah Shi Hao.
Shen Yu melihat bagaimana sang Kaisar Asura musuh yang baru saja ia coba hancurkan dengan segala cara—kini berdiri melawan Kehendak Langit Tertinggi hanya untuk melindungi nyawa rentanya. Darah fana menetes dari tangan Shi Hao demi sebuah pengampunan.
Dalam detik-detik kematiannya yang tersiksa, sebuah pencerahan yang tak tertandingi menghantam benak Shen Yu.
Segala kesombongannya sebagai Dewa Iblis, seluruh obsesinya untuk menaklukkan Alam Atas, dan semua kebencian yang ia pelihara selama jutaan tahun... terasa begitu hampa, kecil, dan menggelikan di hadapan kebesaran jiwa seorang petani buta.
"Hahaha... Uhuk..." Shen Yu tertawa pelan, tawanya terdengar damai, sebuah suara dari manusia tua yang akhirnya menemukan jalan pulangnya setelah tersesat seumur hidup.
"Shen Yu!" Shi Hao mengertakkan gigi, mencoba menarik rantai itu agar melonggar dari leher pria tua itu. "Bertahanlah! Jika kau mati di sini, siapa yang akan membantu istriku mencabut rumput liar di musim semi nanti?!"
Shen Yu menatap Shi Hao. Air mata bening mengalir dari kelopak matanya yang keriput, membasuh sisa-sisa karma hitam di wajahnya.
"Kaisar Asura... Shi Hao..." suara Shen Yu terdengar lemah, bergema langsung ke dalam lautan kesadaran Shi Hao melalui telepati fana. "Terima kasih atas tawarannya... Sungguh, teh bunga persik dan gubuk bambu... terdengar seperti surga yang tak pantas kudapatkan..."
"Diam dan simpan napasmu, Orang Tua!" geram Shi Hao, tangannya semakin berdarah menahan tarikan Tatanan Surgawi.
Shen Yu menggelengkan kepalanya pelan di tengah cekikan rantai. Senyum tulus dan damai mengembang di bibirnya.
"Jalan Kemanusiaan-mu telah mengajariku bahwa kehidupan sejati tidak berakar dari keabadian, melainkan dari merelakan," batin Shen Yu. "Jangan kotori tanganmu melawan Langit hanya demi setumpuk tulang lapuk sepertiku. Biarkan aku membayar hutang karmaku sendiri."
Dengan sisa percikan jiwa fana terakhirnya, Shen Yu tidak mencoba melawan rantai itu. Sebaliknya, ia secara sukarela memadamkan Api Kehidupannya sendiri dari dalam.
Ia membakar jiwanya menjadi debu, bukan untuk menyerang, melainkan untuk melepaskan diri dari siklus Samsara dengan damai.
"Kayu bakarmu... biarkan orang lain yang membelahnya..."
Itu adalah kalimat terakhir sang mantan Penguasa Sembilan Nether.
Tubuh renta Shen Yu perlahan memudar, berubah menjadi titik-titik debu cahaya fana yang hangat, melayang lepas dari lilitan Rantai Surgawi, lalu tertiup angin kosmik menghilang ke arah Dunia Fana. Shen Yu telah tiada, bukan terbunuh dalam pertempuran epik, melainkan meninggal dengan ketenangan seorang kakek tua yang menemukan kedamaian.
Keheningan kembali menyelimuti Alam Atas.
Rantai Surgawi yang melilit Shen Yu kini kehilangan targetnya dan menyusut kembali ke langit.
"ENTITAS IBLIS TELAH KEMBALI PADA KETIADAAN. HUKUM KARMA TELAH TERPENUHI."
Suara Dao Surgawi bergemuruh puas. Rantai yang digenggam oleh Shi Hao juga perlahan memudar menjadi serpihan cahaya transparan, merasa bahwa tugas penghakimannya di tempat itu telah selesai.
Langit Tertinggi merasa puas. Namun... Pemilik Bumi di bawah sana sama sekali tidak.
Shi Hao berdiri mematung. Tangan kirinya masih menggenggam udara kosong, diwarnai oleh darah merah fananya yang kini mengering di udara dingin. Tatapannya tertuju pada tempat di mana debu fana Shen Yu baru saja tertiup angin.
Lei Shan, Wuming, dan Ao Zun akhirnya bisa bergerak kembali. Mereka berdiri dengan hati-hati, tidak berani bernapas terlalu keras melihat punggung pemimpin mereka. Mereka belum pernah melihat sosok Shi Hao sediam ini. Bukan ketenangan fana yang damai, melainkan keheningan dari laut mati sebelum meledaknya gunung berapi bawah laut.
Shi Hao perlahan menurunkan tangannya.
"Dia baru saja setuju untuk bekerja di ladangku," gumam Shi Hao, suaranya sangat rendah, membuat dimensi di sekitarnya mulai retak halus secara spontan.
Mata Ketiga Emasnya yang melambangkan kehidupan dan pengampunan... perlahan-lahan meredup, lalu tertutup rapat.
Sebagai gantinya, udara di sekitar Shi Hao berubah. Hawa musim semi yang sejuk seketika lenyap, digantikan oleh hawa pembunuhan purba yang begitu pekat dan hitam hingga membuat ketiga jenderalnya langsung berlutut muntah darah. Niat membunuh ini jauh, jauh lebih mengerikan daripada gabungan seluruh aura armada Sembilan Nether!
Shi Hao mengangkat tangan kirinya, lalu menyentuh ikatan kain rami putih yang menutupi mata kirinya selama seratus tahun terakhir.
"Aku telah berusaha hidup sebagai manusia biasa. Aku menyimpan pedangku, memegang cangkul, dan bahkan memaafkan musuh yang membakar kebunku," bisik Shi Hao ke arah langit tertinggi.
Jari-jarinya menarik simpul kain putih tersebut.
Sret.
Kain rami putih itu terlepas, terbawa angin puyuh kosmik yang mendadak mengamuk liar.
"Tapi tampaknya... ada seseorang di atas sana yang salah mengira kesabaranku sebagai sebuah kelemahan."
Saat mata kiri Shi Hao perlahan terbuka... seluruh Tiga Ribu Dunia bergetar dalam teror yang sesungguhnya. Awan-awan emas di Langit Tertinggi mendadak berubah warna menjadi merah darah. Guntur surgawi yang tadinya bergemuruh penuh otoritas, kini terdengar seperti lolongan ketakutan.
Mata kiri Shi Hao tidak memiliki iris putih atau pupil biasa. Di dalam rongga mata itu, terdapat sebuah pusaran Lautan Darah Asura yang mendidih mewakili seluruh kebencian, pembantaian, dan dosa dari jutaan zaman yang telah ia kurung demi istri dan kedamaiannya!
"Jika Langit tidak tahu cara menghormati tamuku..."
Shi Hao mencengkeram Tombak Hitamnya. Logam tombak itu seketika beresonansi, berubah wujud menjadi sebuah Sabit Perang berwarna merah darah yang meneteskan niat membunuh yang sangat kuat.
"...Maka aku akan merobohkan singgasana Surga itu sendiri!"
Di bawah tatapan Mata Asura yang terbuka untuk pertama kalinya dalam satu abad, sang Kaisar membengkokkan lututnya, bersiap melompat langsung menuju Dimensi Tertinggi Dao Surgawi!