NovelToon NovelToon
Ibu Susu untuk Putra CEO

Ibu Susu untuk Putra CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Pengasuh
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.

Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.

Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai yang Belum Usai

Tiga bulan telah berlalu sejak malam penyerbuan yang menegangkan di pinggiran Bogor. Paviliun belakang kediaman Arkan kini tidak lagi terasa sunyi dan dingin. Suara tawa kecil, celotehan bayi, dan gemerincing mainan mengisi setiap sudut ruangan, membawa kehangatan baru yang perlahan-lahan merembes masuk hingga ke bangunan utama mansion.

Kael dan Fatih tumbuh menjadi bayi yang sehat dan menggemaskan. Berkat nutrisi dan limpahan kasih sayang yang sama dari Aisha, kedua bayi itu tumbuh dengan berat badan yang ideal. Kael memiliki sepasang mata elang yang tegas mirip Adrian, namun selalu berbinar jenaka setiap kali melihat Aisha. Sementara Fatih memiliki mata bulat jernih yang teduh, sangat mirip dengan ibunya.

Ajaibnya, kedua bayi itu seperti memiliki ikatan batin yang kuat. Mereka jarang sekali menangis berebut ASI; seolah tahu bagaimana harus bergantian menikmati kehangatan di pelukan Aisha.

Pagi itu, Aisha sedang mengancingkan baju bayi milik Kael di atas ranjang paviliun ketika Bi Asih masuk dengan langkah terburu-buru. Raut wajah wanita paruh baya itu tampak cemas, kontras dengan suasana kamar yang tenang.

"Nak Aisha... ada tamu di gedung utama," bisik Bi Asih dengan suara tertahan, melirik ke arah pintu yang terbuka sedikit.

Aisha mengernyitkan keningnya sembari menggendong Kael. "Tamu? Bukankah Tuan Adrian jarang menerima tamu di rumah selain untuk urusan bisnis penting, Bi?"

Bi Asih menghela napas panjang, meremas jemarinya sendiri. "Ini bukan tamu bisnis, Nak. Yang datang adalah Nyonya besar... Nyonya Farida, ibu kandung dari Tuan Adrian. Beliau baru saja mendarat dari Paris dan langsung menuju ke sini setelah mendengar selentingan kabar dari sopir keluarga tentang adanya 'wanita asing' yang tinggal di paviliun belakang."

Jantung Aisha seketika mencelos. Rasa aman yang ia bangun selama tiga bulan ini mendadak goyah. Di bawah aturan kontrak yang ketat, identitasnya sebagai ibu susu memang dirahasiakan rapat-rapat dari publik dan media, namun ia lupa bahwa Adrian memiliki keluarga besar yang sangat berpengaruh dan menjunjung tinggi kasta serta kehormatan darah mereka.

"Bi... apa yang harus saya lakukan?" tanya Aisha, kepanikan mulai merayap di suaranya. Ia refleks memeluk Kael lebih erat, sementara Fatih masih tertidur lelap di boks bayi di sampingnya.

"Tetaplah di sini, Nak. Jangan keluar paviliun sampai Tuan Adrian pulang. Tuan sudah dikabari oleh Hendra dan sedang dalam perjalanan kembali dari kantor," jawab Bi Asih menenangkan sebelum bergegas kembali ke gedung utama untuk menyajikan teh.

---

Di dalam ruang tamu utama mansion yang megah, seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat elegan duduk di atas sofa beludru mewah. Farida Arkan mengenakan terusan sutra mewah berwarna marun, lengkap dengan perhiasan berlian yang melingkari leher dan jemarinya. Gurat wajahnya tegas, memancarkan keangkuhan seorang sosialita kelas atas yang terbiasa mendikte hidup orang lain.

*Brak!*

Pintu besar mansion terbuka. Adrian melangkah masuk dengan napas yang sedikit memburu. Setelan jas hitamnya tampak sedikit berantakan karena ia setengah berlari dari parkiran mobil. Mata elangnya langsung mengunci sosok ibunya yang sedang menyesap teh dengan tenang.

"Ibu, kenapa datang tiba-tiba tanpa memberi tahu Hendra terlebih dahulu?" tanya Adrian, suaranya berat, mencoba menekan kejengkelan di dadanya.

Farida meletakkan cangkir tehnya di atas meja dengan denting pelan yang mengintimidasi. Ia berdiri, menatap putra tunggalnya dengan pandangan menyelidik yang tajam.

"Kalau Ibu memberi tahu lewat Hendra, kamu pasti akan mencari seribu alasan untuk melarang Ibu datang ke rumah ini, Adrian," ucap Farida, suaranya dingin dan berwibawa. "Ibu datang ke sini untuk menuntut penjelasan dari mulutmu sendiri. Apa benar kabar yang Ibu dengar? Kamu membawa seorang wanita jalanan, seorang janda miskin beranak satu, untuk tinggal di dalam mansion keluarga Arkan?!"

Adrian mengepalkan tangannya di balik saku celananya, rahangnya mengeras sempurna. "Dia bukan wanita jalanan, Ibu. Namanya Aisha. Dia adalah ibu susu resmi yang menyelamatkan nyawa Kael saat kritis tiga bulan lalu. Dokter sendiri yang merekomendasikannya."

"Ibu susu?" Farida mendengus sinis, senyuman merendahkan terukir di bibirnya yang dipulas lipstik merah tua. "Kalau hanya butuh air susu, kamu bisa membeli donor ASI terbaik dari rumah sakit internasional, atau menyewa perawat profesional berpendidikan tinggi! Bukan menampung wanita tidak jelas dari antah berantah, memberi anak haramnya fasilitas mewah yang setara dengan pewaris tunggal Arkan, dan membiarkannya tinggal di paviliun belakang!"

Farida melangkah mendekati Adrian, menatap putranya dengan kilat kemarahan yang membakar. "Apakah kamu sudah gila, Adrian? Sejak kematian seleramu... maksudku mendiang istrimu, kamu menjadi sangat tidak rasional. Ibu tidak akan membiarkan nama baik keluarga kita tercoreng karena gosip murahan tentangmu dan wanita pelayan itu!"

"Ibu! Cukup!" bentak Adrian, suaranya menggelegar memenuhi ruangan, membuat para pelayan di dapur utama refleks menundukkan kepala ketakutan. Ini pertama kalinya Adrian membentak ibunya sendiri demi membela orang lain.

"Aisha berada di bawah perlindunganku. Kontraknya sah secara hukum dan hidupnya adalah tanggung jawabku. Ibu tidak berhak mencampuri urusan domestik rumah tangga di mansion ini," tegas Adrian dengan nada mutlak yang tidak bisa dibantah.

Farida tertegun sejenak, terkejut melihat penolakan keras dari putranya. Namun, keangkuhan wanita paruh baya itu tidak lantas surut. Ia menyipitkan matanya yang penuh tipu daya.

"Baik... Jika kamu keras kepala mempertahankan pelayan itu di sini, Ibu sendiri yang akan menemuinya," ucap Farida dingin. Tanpa menunggu persetujuan Adrian, ia membalikkan badan dan melangkah dengan anggun menuju koridor kaca yang menghubungkan gedung utama dengan paviliun belakang.

Adrian secepat kilat mengejar langkah ibunya dengan gurat kecemasan yang luar biasa di wajahnya. Badai besar yang selama ini ia bendung di luar gerbang mansion, kini telah berhasil menerobos masuk dan bersiap menghantam ketenangan rapuh yang baru saja Aisha temukan.

---

Bersambung

1
Sumining 123
luar BB biasa
Aera_yong
Wah gays terimakasih udah baca karya aku yang ini ya gays udah nembus 3k hehheeh😍😍🥳🥳
Sumining 123
lanjutkan cerita nya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!