Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.
Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.
Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Hari Kelulusan dan Awal Keretakan
Hari perayaan kelulusan SMA mereka.
Hari yang seharusnya dipenuhi tawa, foto bersama, dan kenangan indah sebelum masing-masing melangkah ke jalan hidup yang berbeda.
Namun bagi Alden, hari itu justru menjadi awal dari keretakan yang tak pernah benar-benar bisa diperbaiki.
Ingatannya kembali pada siang itu.
Halaman sekolah dipenuhi siswa berseragam putih abu-abu yang tengah merayakan kelulusan.
Tawa bercampur sorak gembira terdengar di mana-mana, diselingi bunyi kamera yang terus mengabadikan momen kebersamaan terakhir mereka sebagai pelajar.
Di tengah keramaian itu, matanya menemukan Anjani. Gadis itu berdiri bersama teman-temannya. Saat menyadari Alden berjalan mendekat, senyum perlahan muncul di wajahnya. Senyum yang saat itu tidak berarti apa-apa bagi Alden, namun kini menjadi salah satu kenangan yang paling sulit ia lupakan.
"Aku mau ngomong sama kamu," ujarnya dengan nada yang jauh lebih rendah dari biasanya. Nada yang sudah hampir tiga tahun tidak pernah lagi didengar Anjani.
"Ngomong aja."
"Tapi nggak di sini."
"Kemana?"
Alden meraih tangan Anjani pelan, lalu mengajaknya menjauh dari kerumunan teman-teman mereka ke sudut yang lebih sepi.
"Kenapa harus di sini?" protes Anjani sambil menatap sekeliling. "Memangnya mau ngomong apa sampai harus sembunyi-sembunyi begini?"
"Aku cuma mau tanya sesuatu ke kamu."
Alden menatapnya lekat dengan kedua tangan disilangkan di depan dada, memperlihatkan keangkuhan yang sengaja ia bangun di hadapan Anjani.
"Apa." Anjani bereaksi heran.
"Apa tujuan kamu selama ini ganggu aku?"
Anjani langsung mengernyit. "Ganggu kamu? Aku pernah ganggu kamu?"
Alden hanya menatap tanpa menjawab.
"Kamu aja yang merasa terganggu," lanjut Anjani ketus.
"Ini hari terakhir kita di sekolah," kata Alden.
"Bisa, kan, setelah ini kamu berhenti jadi penguntit?"
Mata Anjani membulat tak percaya.
"Penguntit?"
"Iya. Ke kantin ngikut. Ke perpustakaan ngikut. Lewat depan kelas aku juga sering."
Anjani mendengus kesal. "Aku nggak ngikutin kamu. Itu namanya kebetulan."
"Kebetulan yang terlalu sering."
"Ge-er."
"Gue cuma menyampaikan fakta."
"Dan aku cuma menyampaikan kalau kamu ge-er," sahut Anjani kesal.
Alden menghela napas pendek. Entah kenapa, ada sesuatu yang menghantam dadanya saat mendengar bantahan itu. Namun ia segera menepisnya dan kembali memasang wajah datar.
"Ge-er? Gue yang ge-er?" Alden langsung menunjuk wajah Anjani. "Lu tuh yang ge-er."
Anjani menepis tangannya. "Apaan sih?"
"Udah, nggak usah pura-pura. Gue tahu tipe orang kayak lu."
"Tipe orang kayak aku?"
Alden tertawa sinis. "Sok baik, sok peduli, padahal ujung-ujungnya cuma mau bikin orang kasihan."
Wajah Anjani perlahan memucat. Kalimat itu terasa seperti tamparan yang datang tanpa peringatan. Namun Alden terus melanjutkan.
"Dan satu lagi, berhenti ngikutin gue ke mana-mana. Gue nggak pernah minta ditemani. Apalagi sama lu."
Tatapannya lurus menembus mata Anjani. Tidak ada nada bercanda, hanya tatapan dingin.
"Jadi tolong, jangan ge-er." Rahangnya mengeras. "Gue nggak pernah menganggap lu penting."
Hening. Anjani terpaku di tempatnya. Tanpa menyadarinya, Alden sedang menghancurkan satu-satunya hubungan yang selama ini selalu ada untuknya.
"Gue tahu lu pasti senang sekali sekarang, kan?" Alden tertawa pendek tanpa kehangatan.
"Akhirnya tugas lu selesai juga. Nggak perlu lagi capek-capek ngikutin gue ke mana-mana. Nggak perlu lagi pura-pura peduli setiap hari."
Ia menatap Anjani dengan sorot mata dingin.
"Kamu tuh ngomong apa, sih? Ngawur banget."
Anjani benar-benar mulai kesal.
"Dari tadi nggak jelas. Narik aku ke sini cuma buat dengerin omongan ngelantur. Buang-buang waktu aja."
Anjani nyaris hendak berbalik hingga akhirnya ditarik lagi oleh Alden hingga langkahnya berhenti.
"Apa lagi?" tanya Anjani kesal.
Alden menatapnya beberapa saat tanpa berkedip.
Rahangnya mengeras.
Ia sebenarnya sudah berniat mengakhiri percakapan itu sejak tadi. Namun setiap kali melihat Anjani berdiri di hadapannya dengan ekspresi bingung dan kesal seperti itu, sesuatu di dalam dirinya justru semakin memberontak.
"Gue cuma penasaran."
Anjani menghela napas kasar.
"Penasaran apa lagi?"
"Capek nggak sih?"
"Apaan?"
"Ngurusin hidup orang lain terus."
Anjani langsung mengernyit.
"Kamu masih bahas itu?"
"Iya."
"Alden, aku serius nggak ngerti kenapa kamu tiba-tiba bersikap aneh begini."
Alden tertawa pendek tanpa humor.
"Nggak ngerti atau pura-pura nggak ngerti?"
"Maksud kamu apa?"
"Sudahlah. Nggak usah pura-pura."
Anjani mulai kehilangan kesabaran.
"Dari tadi aku dengar omongan kamu yang nggak jelas. Kalau memang ada masalah, ngomong yang jelas."
Tatapan Alden semakin tajam. Namun Anjani tak kalah tajam menatapnya.
"Kalau mau minta maaf, bilang. Kalau mau ngaku salah, bilang. Kalau mau jadi orang bener, bilang. Nggak usah muter-muter," ujar Anjani.
Alden terdiam sejenak, tapi tak lama.
"Masih aja pura-pura nggak ngerti."
"Aku memang nggak ngerti!"
"Ya udah. Biar gue jelasin." Alden melangkah setengah langkah mendekat. "Soalnya setelah ini, gue nggak bakal lihat muka lu lagi."
Anjani balas menatapnya.
"Terserah kalau itu yang kamu mau." Nadanya ketus.
"Tapi asal kamu tahu, Al, apa yang menurut kamu mengganggu itu cuma karena aku peduli sama kamu."
Alden tertawa miris. "Peduli?"
"Iya."
"Dan gue cuma mau bilang, nggak ada orang yang bisa sepeduli itu tanpa mengharapkan sesuatu."
Dahi Anjani berkerut. "Apa maksud kamu?"
"Sekarang lu bisa datang ke Papa dan bilang kalau misi lu berhasil. Alden sudah diawasi, sudah dijaga, sudah diatur sampai habis."
"Siapa tahu Papa kasih hadiah mahal buat lu. Atau mungkin dari awal memang itu yang lu tunggu-tunggu?"
Mata Anjani membelalak. "Alden..."
"Jadi berhenti berpura-pura seolah semua yang lu lakukan itu tulus."
Kalimat itu jatuh begitu saja, tajam dan tanpa ampun. Wajah Anjani yang semula masih menyimpan kekesalan perlahan memucat, digantikan tatapan tak percaya yang bercampur luka.
"Alden..." Suaranya bergetar. "Kamu ngomong apa, sih?"
Saat itu matanya tampak berkaca-kaca.
"Aku nggak pernah dapat apa-apa. Aku nggak pernah menganggap itu tugas." Suaranya semakin pelan.
"Aku melakukannya karena aku peduli sama kamu."
"Tanpa Papa kamu suruh pun aku tetap melakukannya."
Dada Anjani terasa sesak.
"Karena aku menganggap kamu teman aku."
Hening seketika menyelimuti mereka. Namun Alden tetap berdiri kaku di tempatnya, memaksa dirinya mempertahankan tatapan dingin.
"Teman?" Alden menyela dengan tawa pendek yang terdengar sinis.
"Siapa yang bilang kita teman?"
Anjani terdiam.
"Jangan ngaku-ngaku teman!" potong Alden kasar.
Ia tertawa pendek, sinis dengan wajah penuh ejekan.
"Dari dulu lu cuma seorang anak yang terlalu percaya diri yang kebetulan disuruh Papa untuk mengawasi gue. Bedanya, lu terlalu bodoh sampai menganggap itu persahabatan."
"Alden..."
"Apa? Salah?" Alden melangkah mendekat.
"Coba pikir. Kalau bukan karena Papa, apa lu akan repot-repot peduli sama gue? Apa lu akan datang setiap kali gue bikin masalah?"
Anjani menggeleng pelan. Namun Alden tidak memberinya kesempatan bicara.
"Kamu selalu ikut campur urusan gue. Selalu merasa paling tahu apa yang terbaik buat gue. Padahal yang gue rasakan cuma satu."
Ia menatap Anjani tajam.
"MUAK."
Kata itu keluar begitu dingin hingga membuat dada Anjani terasa sesak.
"Gue muak lihat lu terus. Ke mana pun gue pergi, selalu ada lu. Selalu ada nasihat lu, omelan lu, perhatian lu yang nggak pernah gue minta."
Alden menggeleng pelan.
"Dan yang paling menyedihkan, lu bahkan nggak sadar kalau kehadiran lu itu mengganggu."
Mata Anjani mulai berkaca-kaca. Namun Alden tetap melanjutkan.
"Jadi dengarkan baik-baik. Gue nggak pernah membutuhkan lu. Nggak dulu, nggak sekarang, dan nggak akan pernah."
Suaranya rendah, tetapi setiap katanya terdengar tajam.
"Kalau besok gue pergi dan nggak pernah kembali, orang pertama yang nggak mau gue lihat adalah lu."
Keheningan langsung menyelimuti mereka.
Anjani hanya diam menatap Alden dengan sorot mata tajam.
"Terserah kamu mau ngomong apa. Kamu juga bakalan nggak mau dengar," ujar Anjani kemudian. Nadanya lebih rendah. Dan ada sorot kecewa di balik mata yang mulai berkaca-kaca itu.
"Aku nggak minta banyak, Al."
"Aku cuma mau kamu berubah. Itu aja."
Namun saat itu, emosi dan gengsi telah mengambil alih akal sehat Alden.
Ia melihat mata Anjani yang mulai berkaca-kaca, tetapi alih-alih berhenti, ia justru memilih melangkah lebih jauh.
Jika Anjani tidak mau pergi, maka ia akan membuat gadis itu pergi sendiri dengan membuatnya marah, membencinya, bahkan menghancurkan semua hal baik yang selama ini berhasil tumbuh di antara mereka.
Karena semakin dekat Anjani berdiri di hadapannya, semakin sulit baginya untuk melepaskan.
Ia mengembuskan napas pelan, lalu menggeleng kecil.
"Oke, oke. Aku salah." Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Aku memang nakal. Mungkin juga jahat di mata kamu." Ia berhenti sebentar, menatap Anjani lurus.
"Tapi kamu tahu, kan, kenapa aku jadi begini?"
Nada suaranya berubah lebih pelan, lebih tenang, dan justru karena itu terdengar berbahaya. Anjani belum tahu bahwa Alden sudah berhenti berbicara jujur.
Mendengar kalimat itu, raut wajah Anjani yang semula tegang perlahan melunak. Bahkan ada secercah kelegaan yang samar terlihat di matanya.
"Syukurlah kalau kamu akhirnya sadar..." ucapnya sambil menghela napas panjang.
"Kamu tuh harusnya sadar, setelah lulus ini hidup kamu nggak akan berhenti sampai di sini. Justru perjalanan hidup akan semakin panjang dan tantangannya makin berat."
Anjani menatapnya tajam.
"Kamu mau jadi apa kalau terus bertingkah seperti ini? Mau jadi preman? Mau jadi penjahat?"
Tidak ada nada merendahkan dalam suaranya. Yang terdengar justru kekhawatiran dari seseorang yang selama ini terlalu peduli.
"Kalau begitu, buat apa kamu sekolah? Buat apa kamu ikut merayakan kelulusan ini? Kalau kamu tetap nggak mau berubah, lebih baik nggak usah ikut merayakannya sama sekali."
Alden mulai gerah. Menurutnya, Anjani masih saja merasa paling tahu tentang dirinya.
"Stop! Jangan banyak ngomong!" potong Alden ketus.
"Tanpa perlu lu nasihatin, gue juga mikirin masa depan gue sendiri. Lu nggak usah sibuk ngatur hidup gue."
Anjani mendengus kesal.
"Ya sudah. Syukurlah kalau kamu masih bisa berpikir demi kebaikan diri kamu sendiri."
Setelah itu suasana kembali hening. Lalu tiba-tiba Alden mengulurkan tangan, seolah ingin mengakhiri pertengkaran mereka dengan damai.
Anjani sempat terkejut.
Namun setelah beberapa detik ragu, ia tetap menyambut uluran tangan itu.
Di luar dugaan, Alden justru menarik tangan tersebut hingga Anjani tersentak mendekat.
"Al... apa yang kamu lakukan?!"
Anjani langsung berusaha melepaskan diri. Wajahnya berubah kaget dan marah.
Alden terdiam sesaat. Napasnya terasa berat.
Ada sesuatu yang meledak dalam dadanya. Emosi, frustrasi, dan perasaan yang selama bertahun-tahun ia pendam bercampur menjadi satu hingga membuat pikirannya kehilangan arah.
Kesadarannya kalah oleh luapan emosi sesaat itu.
Dalam sekali hentakan, Alden menarik tubuh Anjani semakin dekat ke dadanya.
Tanpa memberi kesempatan untuk bereaksi, ia menyambar bibir gadis itu dengan kasar. Bahkan hingga menggigit bibir tersebut dengan kekuatan yang cukup menyakitkan.
Anjani sangat terkejut.
Ia spontan berseru dan berusaha mendorong Alden menjauh sekuat tenaga.
Beberapa detik kemudian, ia akhirnya berhasil melepaskan diri.
"Apa yang kamu lakukan?!" Suaranya meninggi, penuh keterkejutan dan ketidakpercayaan.
Alden terdiam. Perlahan, kesadarannya kembali. Namun alih-alih menunjukkan penyesalan, Alden justru tertawa pendek dan memasang ekspresi seolah tidak terjadi apa-apa.
Sikap itu menjadi pemicu terakhir yang menghancurkan seluruh kesabaran Anjani.
Plak! Plak!
Dua tamparan keras mendarat berturut-turut di pipi Alden. Anjani menatapnya dengan mata membelalak, air mata mulai memenuhi pelupuk matanya.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Al!" Suaranya bergetar.
"Aku pikir kamu benar-benar sadar dan mau berubah. Ternyata tidak. Bahkan lebih buruk dari yang aku kira."
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia menangis karena semua yang selama ini ia lakukan ternyata dianggap serendah itu oleh orang yang selama bertahun-tahun selalu ia pedulikan.
"Oke." Anjani menatap Alden lurus dengan mata yang masih basah. Ia mengangguk kecil.
"Kalau kamu ngerasa aku ganggu hidup kamu, aku berhenti."
Suaranya mulai bergetar.
"Kalau kamu muak sama aku, aku juga bakal pergi."
Alden tidak menyela, dan itu justru membuat dada Anjani semakin sesak.
"Mulai sekarang aku nggak bakal ngurusin kamu lagi. Nggak bakal negur kamu. Nggak bakal nyari kamu."
Ia mengusap cepat air matanya, namun suaranya tetap pecah saat melanjutkan.
"Tapi satu hal yang harus kamu tahu...,"
Bibirnya bergetar.
"Aku cuma pengen lihat Alden yang dulu. Itu aja."
Setelah mengatakan itu, Anjani berbalik.
Ia langsung berlari menjauh tanpa memberi Alden kesempatan untuk menjawab.
Alden tetap berdiri di tempatnya. Ia hanya menatap punggung Anjani yang semakin menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangan.
Hari itu menjadi hari terakhir Anjani peduli padanya.
Penyesalan terbesar dalam hidupnya bukan karena Anjani pergi, melainkan karena ia sendiri yang membuat Anjani pergi.
bersambung...
bantu follow dan baca ya🙏