NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Ketika Rasa Takut Itu Datang

Pagi hari di mansion Dimitri terasa jauh lebih tenang dibanding beberapa minggu terakhir.

Cuaca cerah.

Langit biru membentang luas tanpa awan gelap.

Burung-burung terdengar berkicau dari taman belakang.

Namun ketenangan itu tidak sepenuhnya dirasakan oleh Rubi.

Sejak bangun pagi, entah kenapa perasaannya terasa tidak nyaman.

Bukan karena sakit.

Bukan juga karena sesuatu yang buruk terjadi.

Hanya saja ada perasaan gelisah yang sulit dijelaskan.

Saat ini ia sedang duduk di balkon kamar sambil menikmati secangkir teh hangat.

Tangannya mengusap perut yang semakin membesar.

Usia kandungannya kini sudah memasuki bulan kedelapan.

Sebentar lagi bayinya akan lahir.

Memikirkan hal itu biasanya membuat Rubi bahagia.

Tetapi pagi ini berbeda.

"Aku kenapa ya?"

gumamnya pelan.

Seolah menjawab perkataannya, bayi dalam kandungannya bergerak pelan.

Membuat Rubi tersenyum kecil.

"Setidaknya kamu baik-baik saja."

bisiknya.

---

Di sisi lain mansion, Alexander sedang berada di ruang kerja.

Tumpukan dokumen memenuhi mejanya.

Beberapa laporan keamanan juga tergeletak di samping laptop.

Namun sejak tadi pria itu tidak benar-benar fokus.

Pikirannya justru berada di lantai atas.

Di kamar Rubi.

Semalam wanita itu terlihat cepat lelah.

Bahkan saat makan malam, wajahnya tampak sedikit pucat.

Alexander sudah meminta dokter keluarga datang sore nanti untuk memeriksa kondisinya.

Meski dokter terakhir mengatakan semuanya baik-baik saja, ia tetap tidak bisa tenang.

Ketukan pintu terdengar.

"Masuk."

Salah satu anak buah kepercayaannya masuk.

"Tuan."

"Ada apa?"

Pria itu menyerahkan sebuah map.

"Kami menemukan beberapa pergerakan mencurigakan milik Viktor."

Tatapan Alexander langsung berubah.

Semua perhatian yang tadi tertuju pada Rubi kini berpindah pada laporan tersebut.

"Apa dia bergerak lagi?"

"Kemungkinan besar."

jawab bawahannya.

Alexander membuka map itu perlahan.

Semakin lama ia membaca, semakin dingin ekspresinya.

Viktor memang belum menyerang.

Namun pria itu jelas sedang mempersiapkan sesuatu.

Dan itu membuat Alexander semakin waspada.

Karena ia tahu.

Musuh yang diam adalah musuh yang paling berbahaya.

---

Menjelang siang.

Rubi sedang berjalan santai di taman belakang ditemani dua pelayan.

Dokter selalu menyarankan agar ia tetap aktif bergerak selama tidak berlebihan.

Karena itu ia rutin berjalan beberapa putaran setiap hari.

Namun hari ini tubuhnya terasa lebih berat.

Bahkan baru beberapa menit berjalan, napasnya sudah sedikit terengah.

"Nyonya muda, apa Anda ingin beristirahat?"

tanya salah satu pelayan.

Rubi mengangguk.

"Mungkin sebentar."

Mereka kemudian duduk di gazebo dekat kolam.

Angin sejuk berembus lembut.

Biasanya suasana itu akan membuat Rubi merasa nyaman.

Tetapi kali ini tidak.

Perasaan gelisah itu masih ada.

Bahkan semakin kuat.

Sampai akhirnya suara langkah kaki terdengar.

Alexander datang.

Begitu melihat Rubi, pria itu langsung berjalan mendekat.

"Kau pucat."

ucapnya tanpa basa-basi.

Rubi langsung mendelik.

"Aku baru saja duduk."

"Itu bukan alasan."

jawab Alexander.

Rubi menghela napas.

Kadang perhatian pria ini memang berlebihan.

Namun diam-diam ia menyukainya.

---

Alexander duduk di samping Rubi.

Tatapannya tidak lepas dari wajah wanita itu.

"Kau merasa tidak enak badan?"

tanyanya.

Rubi berpikir sejenak.

"Lumayan."

jawabnya jujur.

Alexander langsung mengernyit.

Baginya kata lumayan dari Rubi bisa berarti banyak hal.

"Apa yang sakit?"

"Tidak ada."

"Lalu?"

Rubi mengusap perutnya perlahan.

"Hanya merasa aneh."

Pria itu semakin khawatir.

Namun sebelum sempat bertanya lagi, bayi dalam kandungan Rubi bergerak cukup kuat.

Membuat wanita itu terkejut.

Refleks Alexander langsung memegang perut Rubi.

"Apa itu sakit?"

"Tidak."

Rubi tertawa kecil.

"Dia hanya aktif."

Meski begitu Alexander tetap terlihat tegang.

Membuat Rubi menggeleng geli.

"Aku rasa kamu lebih panik dibanding aku."

ucapnya.

Alexander tidak membantah.

Karena memang benar.

---

Sore harinya dokter keluarga datang.

Pemeriksaan berlangsung cukup lama.

Alexander bahkan menolak meninggalkan ruangan selama proses pemeriksaan.

Dokter yang sudah mengenalnya bertahun-tahun sampai tertawa melihat sikap pria itu.

"Tuan muda, Anda membuat saya gugup."

ucap dokter sambil tersenyum.

Alexander tidak terlihat malu.

"Pastikan semuanya baik-baik saja."

Dokter menggeleng kecil.

Kemudian melanjutkan pemeriksaan.

Beberapa menit kemudian hasilnya keluar.

"Kondisi ibu dan bayi sangat baik."

ucap dokter.

Rubi langsung menghela napas lega.

Begitu pula Alexander.

Meski pria itu berusaha menyembunyikannya.

"Namun..."

lanjut dokter.

Seketika Alexander kembali tegang.

"Namun apa?"

Dokter tersenyum.

"Tidak ada hal buruk."

Alexander terlihat tidak sabar.

Dokter akhirnya berkata,

"Hanya saja usia kehamilan sudah semakin besar."

"Kemudian?"

"Mulai sekarang Nyonya Muda harus mengurangi aktivitas yang tidak perlu."

Alexander langsung mengangguk.

Sedangkan Rubi sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.

Benar saja.

Begitu dokter pergi, Alexander langsung berkata,

"Kau dengar sendiri."

Rubi memejamkan mata.

"Aku tahu."

"Tidak ada berjalan sendiri."

"Iya."

"Tidak ada naik turun tangga tanpa pendamping."

"Iya."

"Dan tidak boleh—"

"Alexander."

potong Rubi.

Pria itu terdiam.

Rubi menatapnya sambil tertawa kecil.

"Aku bukan anak kecil."

"Tapi kau keras kepala."

jawab Alexander datar.

Membuat Rubi langsung kehabisan kata-kata.

---

Malam hari.

Hujan kembali turun.

Rubi duduk di ruang keluarga sambil membaca buku.

Sedangkan Alexander bekerja di sofa seberang.

Suasana seperti ini sudah menjadi kebiasaan baru bagi mereka.

Tidak harus berbicara.

Tidak harus melakukan sesuatu bersama.

Cukup berada di ruangan yang sama.

Dan itu sudah terasa nyaman.

Sampai tiba-tiba Rubi menutup bukunya.

"Alexander."

panggilnya.

"Hm?"

Pria itu mengangkat kepala.

Rubi terlihat ragu.

Seolah sedang memikirkan sesuatu.

"Apa kamu takut?"

tanyanya tiba-tiba.

Alexander mengernyit.

"Takut apa?"

"Menjadi ayah."

Untuk pertama kalinya pria itu tidak langsung menjawab.

Karena pertanyaan tersebut benar-benar membuatnya berpikir.

Takut?

Tentu saja.

Mungkin lebih dari siapa pun.

Ia takut tidak menjadi ayah yang baik.

Takut gagal melindungi anaknya.

Takut mengulangi kesalahan yang pernah terjadi dalam keluarganya sendiri.

Namun selama ini ia tidak pernah mengatakannya.

Karena Alexander Dimitri tidak terbiasa menunjukkan ketakutan.

"Aku takut."

jawabnya akhirnya.

Rubi terlihat terkejut.

Mungkin tidak menyangka akan mendapat jawaban jujur.

Alexander menatap api perapian di depan mereka.

"Aku takut sesuatu terjadi pada kalian."

ucapnya pelan.

Kalimat itu membuat Rubi membeku.

Karena tidak ada kata-kata romantis.

Tidak ada pengakuan cinta.

Namun bagi Rubi, kalimat tersebut jauh lebih berarti.

"Kalian."

Kata itu kembali digunakan Alexander.

Seolah dirinya dan bayi mereka memang sudah menjadi dunia pria itu.

Rubi tersenyum hangat.

Lalu perlahan menggenggam tangan Alexander.

Pria itu menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Dan tanpa perlu banyak kata, keduanya memahami perasaan masing-masing.

Mungkin cinta mereka belum terucapkan.

Namun sudah hidup di dalam setiap perhatian, setiap kekhawatiran, dan setiap janji yang mereka berikan satu sama lain.

Sementara di luar mansion, seseorang sedang mengawasi dari kejauhan.

Seseorang yang tersenyum tipis saat melihat lampu kamar keluarga Dimitri masih menyala.

Viktor Romanov belum menyerah.

Dan badai yang sesungguhnya ternyata semakin dekat.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!