Seorang pemuda pendiam meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai bayi di dunia sihir yang persis seperti RPG kesayangannya. Ia menyimpan ingatan masa lalu, tapi di mata semua orang hanyalah anak desa biasa tanpa bakat apa pun. Padahal di dalam dirinya terpendam kekuatan langka: penguasa api, air, tanah, angin, dan petir sekaligus.
Diam-diam ia berlatih, pergi ke ibu kota, membentuk tim dengan sahabat dari berbagai ras, dan perlahan naik pangkat. Namun di balik kedamaian, kegelapan kuno sedang bangkit. Akankah kekuatan terbesarnya cukup melawan Raja Iblis, dan bisakah ia mengubah takdir dunia ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
S2: JEJAK KEGELAPAN DI TIMUR Bab 7: Penguasa Menara Kembar
Asap hitam perlahan menyebar ke sekeliling kaki sosok raksasa itu, seolah bumi sendiri enggan menyentuhnya. Tingginya hampir dua kali lipat manusia biasa, balutan zirah gelap itu berkilau samar setiap kali bergerak, seolah terbuat dari logam yang menyerap cahaya alih-alih memantulkannya. Topeng yang menutupi wajahnya memiliki paruh panjang dan celah mata yang sempit, tempat di mana sepasang titik cahaya merah tua menyala stabil, tanpa berkedip sedikit pun. Di punggungnya, sepasang sayap kabut yang lebar bergerak pelan, menyapu debu batu di lantai hanya dengan hembusan angin yang ditimbulkannya.
“Namaku Zarghul,” suaranya bergema, berat dan bergetar hingga membuat gigi terasa ngilu. “Bagi kalian yang hanya tahu sedikit tentang sejarah benua ini… nama itu mungkin tidak berarti. Tapi bagi mereka yang pernah merasakan kekuasaanku… itu adalah nama yang tidak mudah dilupakan.”
Voren dan Kaelix masih menunduk dalam, tidak berani mengangkat wajah sedikit pun. Kehadiran Zarghul seketika mengubah seluruh atmosfer halaman itu. Tekanan yang tadinya terbagi rata kini terpusat penuh, membuat napas terasa berat seolah ada beban tak terlihat menekan dada setiap orang.
“Jadi kaulah yang memimpin mereka,” ujar Valerius, meski merasa tertekan ia tetap berusaha menjaga nada bicaranya tenang. “Kau yang mengirimkan makhluk-makhluk itu, yang mengubah aliran energi alam, dan yang mengancam keamanan wilayah ini.”
Zarghul menggerakkan kepalanya sedikit, seolah sedang mengamati serangga kecil yang berani berbicara padanya. “Mengancam? Manusia selalu memiliki cara yang aneh untuk menyebut sesuatu yang tidak mereka pahami. Aku tidak mengancam… aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik bangsaku sejak dulu. Wilayah ini, kekuatan ini… semuanya adalah hak waris yang dirampas berabad-abad lalu.”
Rey melangkah maju sedikit, posisinya sejajar dengan Valerius. Ia merasakan getaran yang berbeda dari makhluk ini—energinya tidak sekadar gelap atau jahat, melainkan penuh kebencian dan keinginan balas dendam yang terpendam sangat lama. “Hak waris tidak bisa diambil dengan cara menindas kehidupan lain. Jika kau benar-benar memiliki klaim atas tempat ini, kau seharusnya menjaganya, bukan merusaknya hingga mati seperti sekarang.”
Terdengar suara tawa rendah dari balik topeng Zarghul. “Kau berbicara tentang menjaga? Sementara rasamu sendiri selalu berperang, selalu merusak, selalu mengambil apa yang bukan miliknya? Kau terlalu polos, anak penjaga. Dunia tidak berjalan dengan aturan kebaikan yang kau percayai.”
Ia mengangkat satu tangan yang tertutup sarung tangan besi. Seketika, sisa-sisa energi ungu yang tadinya terputus di menara kanan tersedot kembali ke arahnya, berputar kencang di telapak tangannya menjadi bola cahaya padat. “Kau berhasil mengacaukan satu ikatan. Itu memang kemampuan yang mengagumkan. Tapi kau lupa satu hal penting: kekuatan yang terputus bisa dipulihkan lagi… selama sumber utamanya masih berdiri.”
“Bersiap!” seru Valerius seketika. “Jangan biarkan dia mengendalikan aliran itu lagi!”
Namun Zarghul bergerak lebih cepat dari perkiraan. Ia tidak melompat atau berlari—ia seolah bergeser di udara, langsung muncul di depan mereka dalam sekejap mata. Hantaman tangannya yang tidak bersenjata membawa gelombang kejut yang cukup kuat untuk mendorong Kaelan dan Rina yang berada di barisan depan terpental mundur beberapa langkah.
Kaelix yang tadinya tertekan, seolah mendapat perintah diam-diam, kembali melompat maju dengan semangat baru. Voren juga mengangkat tongkatnya, kali ini dengan ritme yang lebih cepat dan berbahaya. Pertarungan yang tadinya seimbang kini berubah total—mereka tidak lagi berhadapan dengan dua penjaga saja, melainkan dengan tiga kekuatan yang saling melengkapi dengan sempurna.
“Jangan biarkan mereka mengelilingi kita!” teriak Sylfia sambil melepaskan panah ke arah Zarghul, namun panah itu terhenti di udara beberapa jari dari tubuh makhluk itu, lalu jatuh tak berdaya ke tanah.
“Serangan biasa tidak akan mempan!” seru Rey. Ia langsung mengerahkan elemen tanah dan air, menciptakan lapisan pelindung tebal di sekeliling tim, namun benturan serangan Zarghul membuat lapisan itu retak seketika. Kekuatan fisik makhluk itu melampaui batas logika yang mereka pahami.
Zarghul tidak terburu-buru. Ia bergerak di tengah pertarungan seolah sedang berjalan-jalan, sesekali mengayunkan tangan atau menendang, dan setiap gerakan kecil itu memiliki dampak besar. Voren dan Kaelix hanya perlu menutupi celah yang tersisa, membuat posisi tim Rey semakin sempit dan terdesak.
“Kalian bisa bertahan sebentar saja,” ujar Zarghul dengan nada datar. “Tapi tenaga manusia ada batasnya. Dan aku… aku sudah ada di sini jauh sebelum leluhur kalian lahir.”
Daren dan Lyra yang berusaha menyelinap dari samping untuk menyerang jarak dekat justru hampir terkena serangan balik yang tak terduga. Untungnya refleks mereka cukup cepat untuk menghindar, namun luka lama Daren kembali terbuka, membuat gerakannya makin terbatas.
Rey menyadari bahwa mereka tidak bisa menang dengan cara biasa. Selama Zarghul masih bisa memanfaatkan aliran energi dari kedua menara itu, ia tidak akan kehabisan tenaga. Dan meskipun Rey sudah melemahkan salah satunya, menara kiri masih berfungsi penuh sebagai sumber cadangan.
“Valerius! Sylfia!” seru Rey di tengah hiruk-pikuk pertarungan. “Aku harus mencapai menara sebelah kiri juga! Tapi aku tidak bisa melakukannya selama dia ada di sini!”
“Kami akan menahannya!” jawab Valerius sambil menangkis serangan pedang Kaelix dengan susah payah. “Tapi jangan lama-lama! Kami tidak tahu seberapa lama kami bisa menahan makhluk sekuat ini!”
Sylfia menyusup ke samping Rey sejenak. “Aku akan memberimu waktu. Tapi hati-hati—menara kiri ini mungkin memiliki pertahanan yang lebih kuat dari yang pertama.”
Rey mengangguk mantap, lalu dengan gerakan cepat berbalik arah, membelah debu dan kabut menuju jalur terbuka ke arah menara kiri. Gerakan itu tidak luput dari perhatian Zarghul.
“Mencoba trik yang sama lagi?” Zarghul berbalik hendak mengejar, namun dihadang oleh serangan gabungan yang tak terduga dari seluruh anggota tim. Kaelan dan Rina mengerahkan seluruh tenaga perisai mereka untuk menahan langkahnya, sementara Daren dan Lyra melemparkan segala senjata jarak jauh yang mereka miliki ke arah kaki dan lengan makhluk itu. Valerius sendiri melompat tinggi, mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh yang diselimuti aura perak terang.
Zarghul terpaksa berhenti sejenak untuk menangkis serangan itu. “Keras kepala… sama seperti dulu.”
Jeda kecil itu cukup bagi Rey untuk sampai di pangkal menara kedua. Di sini, tekanan terasa jauh lebih berat. Ukiran di dinding ini tidak hanya bersinar ungu, tapi juga berdenyut dengan irama yang tajam dan tidak teratur, seolah marah. Tanah di sekitarnya terasa panas hingga menembus alas kaki.
“Kau lebih ganas dari saudaramu,” bisik Rey sambil mengangkat kedua tangannya lagi. Kali ini ia tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan halus. Menara ini sudah terikat terlalu kuat dengan kehendak Zarghul.
Di belakangnya, suara benturan semakin keras. Ia tahu waktu tidak banyak. Dengan napas panjang, Rey memanggil kekuatan kelima elemen itu keluar lebih kuat dari sebelumnya—tidak hanya menyatu, tapi juga berputar lebih cepat, menciptakan pusaran energi berwarna-warni yang berlawanan arah dengan aliran di menara.
“Kita lihat siapa yang lebih keras kepala.”
Saat cahaya keemasan menyentuh permukaan batu, terjadi benturan yang jauh lebih hebat daripada sebelumnya. Seluruh halaman bergetar seolah diguncang gempa dahsyat. Zarghul yang sedang mendesak Valerius tiba-tiba terhenti, tubuhnya bergetar hebat seolah ada ikatan penting yang baru saja tercabik.
“Tidak mungkin…” gumam Zarghul, matanya menyala lebih terang karena marah besar. “Kau tidak boleh…”
Namun Rey tidak berhenti. Ia menekan lebih dalam, memaksakan pola asli menara itu kembali muncul. Cahaya ungu perlahan tergantikan, ikatan yang menghubungkan kedua menara itu kini putus sepenuhnya.
Efeknya instan. Kekuatan yang mengelilingi Zarghul, Voren, dan Kaelix langsung merosot drastis. Aura mereka memudar seketika, membuat mereka terhuyung-huyung seolah pijakan kaki mereka hilang. Voren dan Kaelix berlutut karena tidak sanggup lagi berdiri, sementara Zarghul mengerang panjang, suara itu penuh amarah sekaligus rasa sakit yang mendalam.
“Kau… baru saja merusak rencana yang kubangun berabad-abad…” Zarghul perlahan menoleh kembali ke arah Rey, yang kini berdiri terhuyung namun tetap teguh di antara dua menara yang telah berubah cahayanya menjadi keemasan lembut. “Ini belum selesai. Ingatlah nama ini… karena suatu hari nanti, ia akan menjadi hal terakhir yang kau dengar sebelum binasa.”
Dengan gerakan cepat namun tidak sekuat sebelumnya, Zarghul mengayunkan lengannya ke tanah, menciptakan ledakan debu yang tebal. Saat debu itu hilang, tidak ada siapa-siapa lagi di tempatnya. Zarghul, Voren, dan Kaelix telah menghilang—menarik diri sebelum kehilangan seluruh kekuatan mereka sepenuhnya.
Keheningan kembali menyelimuti halaman itu, kali ini terasa sangat berbeda. Kabut tebal perlahan terangkat, cahaya matahari yang lebih terang mulai menembus celah awan kelabu. Udara yang tadinya berat dan beracun kini berangsur-angsur menjadi segar kembali.
Rey berdiri diam, napasnya terengah-engah hebat, kakinya terasa lemas seketika. Sylfia dan Valerius segera bergegas mendekat, menahan bahunya agar tidak jatuh.
“Kau berhasil… kedua menara itu sudah kembali tenang,” kata Sylfia dengan nada lega yang tak bisa disembunyikan.
Valerius mengangguk sambil memeriksa kondisi sekeliling. “Mereka mundur, tapi tidak kalah. Zarghul benar—ini baru jeda, bukan akhir.”
Rey menatap ke arah tempat sosok itu menghilang, lalu kembali menatap menara kembar yang kini berdiri damai memancarkan cahaya keemasan. “Aku tahu. Tapi setidaknya untuk saat ini… wilayah ini sudah aman.”
Namun di dalam hatinya, Rey tahu satu hal lagi: nama Zarghul dan kisah masa lalu yang ia sebutkan… adalah bagian baru dari teka-teki yang jauh lebih besar. Dan jawabannya tidak akan menunggu lama untuk datang.