NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Sudah tiga hari berlalu sejak makan malam romantis di rooftop malam itu. Tiga hari sejak Alexander mengatakan dengan begitu lantang bahwa suatu hari nanti ia akan melamar Aurora. Namun anehnya, Aurora masih belum bisa beranjak dari memori malam itu.

Kalimat tersebut seolah lengket di kepalanya. Saat ia sedang sibuk menyeka meja di kafe tempatnya bekerja paruh waktu, saat duduk mendengarkan dosen di dalam kelas, bahkan ketika ia sudah berbaring bersiap untuk tidur, untaian kata itu terus terngiang-ngiang.

"Suatu hari nanti, aku akan melamarmu."

"Aurora!"

Aurora langsung tersentak kaget. "Hah? Iya?!"

Lily menghela napas panjang melihat tingkah sahabatnya, lalu meletakkan cangkir minumnya. "Kamu melamun lagi, Aurora Quinn."

Aurora hanya bisa tersenyum canggung, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf, Lily."

Lily menyipitkan mata, menatap Aurora dengan pandangan penuh selidik yang jenaka. "Alexander lagi, ya?"

Seketika itu juga, rona merah langsung menjalar cepat di kedua pipi Aurora. Dan reaksi spontan tersebut sudah lebih dari cukup menjadi jawaban bagi Lily.

---

Sore harinya, seperti biasa Alexander sudah bersiap menjemput Aurora. Namun kali ini, mobil mewah pria itu tidak mengarah ke restoran estetis ataupun taman kota yang biasa mereka kunjungi. Alexander justru membawanya membelah jalanan menuju sebuah tempat yang asing bagi Aurora.

Mereka tiba di sebuah bukit kecil di pinggiran New York. Tempat itu tergolong sepi, menenangkan, dan menyuguhkan pemandangan lanskap kota yang luar biasa megah.

"Wah..." Aurora bergumam takjub sembari memandangi langit senja yang mulai berganti warna. Satu per satu lampu-lampu gedung di kejauhan mulai menyala, berpendar cantik seperti taburan bintang.

Alexander mendudukkan dirinya di atas hamparan rumput hijau, lalu menepuk pelan ruang kosong di sampingnya. "Sini, duduk."

Aurora melangkah mendekat dan ikut duduk di sebelah Alexander, menikmati embusan angin yang menerpa wajah mereka.

"Kamu tahu?" buka Alexander, memecah keheningan.

"Apa?" Aurora menoleh, menatap profil samping wajah tampan kekasihnya.

"Aku sering banget datang ke tempat ini waktu masih kecil," kenang Alexander dengan pandangan lurus ke depan.

"Sendirian?" tanya Aurora lembut.

Alexander mengangguk pelan. "Ayah selalu sibuk dengan urusan korporasi, Ibu juga sibuk dengan lingkaran sosialitasnya. Jadi, kalau aku merasa jenuh, aku sering kabur ke sini."

Aurora terdiam, mendengarkan setiap patah kata itu dengan takzim.

"Di tempat ini, aku biasa duduk berjam-jam cuma untuk membayangkan bagaimana masa depanku nanti," lanjut Alexander lagi.

Aurora menyunggingkan senyum tipis. "Lalu? Apa bayanganmu waktu kecil terwujud?"

Alexander tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar agak getir. "Dulu aku sempat berpikir kalau seluruh jalan hidupku sudah ditentukan oleh orang lain."

Aurora mengernyitkan dahi. "Ditentukan?"

"Iya," Alexander kembali mengangguk. "Masuk ke sekolah terbaik, melanjutkan ke universitas paling bergengsi, lulus langsung menjabat sebagai CEO, lalu ditutup dengan menikah bersama wanita pilihan keluarga yang setara."

Aurora seketika terenyak. Ia mendadak tersadar akan jurang pemisah di antara mereka. Di dunia luar biasa tempat Alexander tumbuh, naskah hidup yang kaku seperti itu memang sebuah keharusan.

"Tapi sekarang?" tanya Aurora dengan suara yang mendadak cicit dan pelan.

Alexander tersenyum hangat. Ia memutar tubuhnya, lalu menatap netra Aurora lekat-lekat. Lama sekali. Tatapan yang begitu dalam hingga mengunci seluruh kesadaran Aurora.

"Sekarang aku ingin menulis dan menentukan jalan hidupku sendiri," jawab Alexander mantap.

Deg.

Angin sore berhembus sedikit lebih kencang, membuat beberapa helai rambut Aurora berantakan menutupi wajahnya. Dengan gerakan yang teramat lembut, tangan Alexander terulur untuk merapikan untaian rambut itu ke belakang telinga Aurora. Sebuah gestur yang sangat sederhana, namun sukses membuat jantung Aurora berdegup liar tak keruan.

Tepat setelah tangannya turun, Alexander mengucapkan kalimat yang sanggup membuat waktu di sekeliling mereka seolah berhenti berputar.

"Aurora."

"Iya, Alex?"

"Aku benar-benar serius tentang hubungan kita," tutur Alexander dengan nada suara yang bergetar penuh penekanan.

Aurora terpaku, menatap sepasang mata di depannya tanpa berani berkedip sedikit pun.

"Aku serius tentang masa depan kita," sambung Alexander lagi. "Dan... aku sangat serius tentang pernikahan."

Detik itu juga, lapisan air mata langsung menggenang di pelupuk mata Aurora. Dada gadis itu berdesir hebat. Namun, itu bukanlah air mata kesedihan, melainkan sebuah luapan rasa bahagia yang teramat membuncah.

Sebab sepanjang hidupnya yang penuh dengan kesulitan, belum pernah ada satu orang pun yang memilih dirinya dengan begitu yakin. Belum pernah ada seseorang yang menatapnya seolah-olah ia adalah satu-satunya masa depan yang berharga.

Alexander meraih jemari mungil Aurora, menggenggamnya dengan begitu erat seolah enggan melepaskannya. Ia mengulas senyum paling tulus.

"Mungkin bukan sekarang, Aurora. Mungkin juga bukan tahun depan. Tapi suatu hari nanti..."

Tenggorokan Aurora terasa tercekat, ia menahan napasnya.

Dan di bawah saksi langit senja New York, Alexander mengucapkan janji sakral yang kelak—tanpa mereka ketahui—akan menjadi belati paling tajam yang menghancurkan hati mereka berdua di kemudian hari.

"Aku pasti akan menikahimu."

Air mata yang sejak tadi ditahan Aurora akhirnya luruh juga, membasahi kedua pipinya. Satu tetes, kemudian disusul tetesan berikutnya.

Melihat hal itu, Alexander mendadak panik setengah mati. "Eh? Aurora? Kenapa kamu malah menangis? Ada perkataanku yang salah?"

Aurora tertawa kecil di sela tangisnya, buru-buru menghapus jejak air mata di pipinya. "Kamu bodoh, Alex."

Alexander semakin mengernyitkan alisnya bingung. "Aku benar-benar salah bicara, ya?"

Aurora menggeleng cepat. Alih-alih menjawab, untuk pertama kalinya sepanjang mereka menjalin hubungan, Aurora memberanikan diri untuk memajukan tubuhnya dan memeluk Alexander terlebih dahulu. Ia melingkarkan kedua lengannya di leher pria itu, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alexander.

"Aku juga sangat menginginkan masa depan itu bersama kamu, Alex," bisik Aurora lirih, tepat di telinga Alexander.

Alexander tersenyum lega. Ia membalas dekapan itu, mendekap tubuh Aurora dengan teramat erat seolah ingin menyatukan dua dunia mereka yang berbeda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!