NovelToon NovelToon
Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik / Dunia Masa Depan
Popularitas:2
Nilai: 5
Nama Author: Silviriani

Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang

Matahari menyengat tubuh Cakka yang tengah membelakanginya. Tepat pukul sembilan pagi. Ia sudah selesai mandi, beberapa jam yang lalu tubuh tegap dan kokoh itu membersihkan rumah, yang warnanya sudah luntur.

Menunduk sembari memeluk lutut. Matanya tak bosan menatap bayang yang membentuk dirinya. Ada rasa kagum pada bayang hitam itu. Bibir menyungging, kerutan dibawah matanya melengkung sesuai tarikan senyum.

"Kamu gagah sekali, dalam posisi ini saja bahu mu tetap terlihat berwibawa" ucap Cakka memuji dirinya sendiri "Tapi sayang, wajahmu memelas dan selalu dikasihani orang lain. Aneh! Kata itu selalu terngiang dikepalaku."

Menyisir rambutna menggunakan jari jemari yang begitu panjang dan kekar "Coba saja aku terlahir tampan, pasti dunia memihak ku" gumamnya sembari seolah bercermin pada bayang yang mengikuti gerakannya.

Fokus akan bayang itu, tiba-tiba ada bayang lain yang berdiri dibelakangnya. Menghancurkan karismatik seorang Cakka. Kening menekuk, dalam beberapa detik kemudian kepalanya menoleh kebelakang. Rupanya itu pak Bani. Ayahnya Agni.

Sontak Cakka langsung berdiri dan memutar badan untuk menyambut kedatangan sang mandor bangunan, tempat ia bekerja.

"Pak Bani!" Sapa Cakka ramah dan segan.

Namun tanpa aba-aba pak Bani memukul wajah Cakka begitu saja.

Bugh!!

Secepat kilat wajah Cakka menatap tanah dan sempat tubuhnya terhuyung, karena tak bisa menahan pukulan itu. Tetangga Cakka, yang tadinya hanya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Kini beralih fokus pada Cakka yang begitu saja dipukul tanpa ada cekcok terlebih dahulu.

Perlahan tetangga Cakka mendekat, begitupun dengan aki Aung yang sudah tua renta, punggung bungkuk, berjalan menggunakan tongkat dan gigi yang sudah tersisa dua pada bagian depan.

"Ada apa ini?! Kok cucuku kau pukul Bani?" Tanya Aki aung dengan suaranya yang sudah lemah namun berusaha tegas.

"Dia!" Bani menunjuk Cakka yang perlahan wajahnya bergerak untuk menatap sang mandor "Telah membawa kabur anakku!" Ucapnya dengan bola mata yang hampir keluar.

Cakka tak mengerti mengapa pak Bani menuduh Cakka seperti itu "Saya tidak membawa kabur anak bapak, lagi pula anak yang mana?" Tanyanya sembari berusaha menahan sakit dipipi.

"Agni! Kau bawa kabur dia-kan? Semalam kau bicara dengan dia berdua dibelakang rumah!" Pak Bani.

"Saya memang bicara dengannya tapi itupun tak berlangsung lama, malah yang terakhir bersama Agni, Hendra. Calon suaminya" tutur Cakka.

Tiba-tiba dari arah lain suara Hendra menyangkalnya " Bohong pak! " Berteriak, membuat semua orang melihat kearahnya. Langkah kakinya angkuh, mimik muka kejam tak tertinggal sedikitpun. Tepat berhenti dihadapan pak Bani dan Cakka. Tatapan mata Hendra mengintimidasi anak lelaki yang tiba-tiba dituduhnya tanpa bukti.

" Semalam saya peringatkan kamu, untuk tidak mendekati Agni. Tapi kamu keukeuh! Malah meminta waktu bicara berdua sampai saya di usir oleh calon istri saya sendiri, dimana hati nurani mu Cakka?!"

Ini jelas fitnah yang tak bisa Cakka terima. Malam justru dirinya yang diusir oleh Hendra, sampai-sampai Cakka melihat dengan kedua matanya sendiri kalau Hendra sedikit kasar pada Agni.

Cakka menggelengkan kepalanya beberapa kali, menolak penuh tuduhan itu "Aku gak bawa kabur Agni, aku pulang kerumah seorang diri pak. Sumpah demi Allah!" Hendra menatap sinis wajah Cakka. Beralih pandang pada pak Bani. Seperti terkena hipnotis, apa yang Hendra katakan pak Bani akan lakukan.

"Sebaiknya kita geledah saja rumahnya pak, siapa tahu Agni ada didalam rumah" Ucap Hendra.

Pak Bani mengangguk tegas pun mereka berdua langsung berhambur masuk kedalam rumah Cakka.

Agni!!!

Agni!!!

Brak! Brak! Brak!

Agni!!!

Agni!!!

Berteriak, mengobrak Abrik isi rumah yang sudah Cakka bereskan. Aki aung bertanya pada Cakka yang hanya bisa diam dikelilingi tetangganya yang untungnya mereka tidak mudah percaya begitu saja.

" Benar begitu Cak? "

Cakka menggelengkan kepalanya "Saya tidak pernah menyembunyikan siapapun! Demi Allah ki!"

Bu Darmi mendekati Cakka, mengusap punggungnya dan berkata.

" Yang sabar ya Cak, jika hubungan tidak mendapatkan restu dari calon mertua mending mundur saja. Gakpapa"

Mendengar itu mata Aki Aung melotot, tongkat yang dipegangnya pun berhasil menyentuh perut Bu Darmi.

Tuk!

Bu Darmi sedikit menjauh dari Cakka, pun aki Aung menegurnya.

"Kau ini dari dulu tidak pernah ada dipihak Cakka!"

"Aku dipihaknya!"

"Dipihaknya, tapi kau berkata seolah apa yang mereka katakan itu benar"

"Kita gak tahu anak muda kalau jatuh cinta akan berbuat senekad apa? Bukan percaya, hanya saja menyadarkan dia kalau orangtua perempuan gak suka sama kita, jangan dipaksa!"

" Persetan kau!"

Aki aung malah akan memukul Bu Darmi, untungnya ditahan oleh tetangga yang lain.

" Sudah Ki, gakpapa. Allah melihat semuanya kok" ucap Cakka menenangkan Aki. Meski didalam hatinya amarah perlahan menumpuk didada.

Pak Bani dan Hendra keluar dari rumah Cakka. Mereka kembali menemui Cakka yang masih setia berdiri bersama tetangganya.

" Mungkin memang Agni tidak ada disini tapi kalau sampai nanti kamu terlihat membawanya pergi, habis kau!" Ucap pak Bani, emosi. Keringatnya bercucuran hingga ke rahang.

" Sebaiknya sekarang kita mencari Agni kerumah temannya pak, mungkin Cakka menyembunyikan nya disana" ucap Hendra.

Dada naik turun, bibir mengkerucut tanpa pamit atau salam untuk mengakhiri pertemuan mereka. Pak Bani dan Hendra pergi begitu saja setelah mengacak-acak rumah Cakka.

Aki aung dan tetangga yang lain hanya bisa menggelengkan kepala sembari mengucap, Astagfirulloh haladzim!.

"Tega sekali mereka! Membuat asumsi sendiri tanpa bukti" ucap Pak Tarno, tetangga Cakka.

"Kalau sampai salah bagaimana? Apa mereka mau meminta maaf?!" Gerutu Bu Dewi, istri pak Tarno.

"Sudah, bubar saja! Manusia seperti mereka jangan diberi perhatian!" Ucap Aki Aung, sama kesalnya seperti yang lain.

Perlahan, satu persatu tetangga Cakka pergi ketempatnya masing-masing. Sedangkan Cakka, ia masuk kedalam rumah untuk membereskan kembali barang-barang yang sudah di tata rapih.

Ditengah kegiatannya dalam membereskan rumah itu, terlintas satu pertanyaan yang berputar dikepalanya.

Kemana Agni?

Meski begitu Cakka berusaha untuk tetap ada dalam prinsipnya, tidak mengejar, tidak mencari dan tidak ikut campur dalam urusan mereka.

Tv, yang dibelinya hasil kerja bangunan pun dihidupkan untuk menemani Cakka membereskan semua. Satu acara berhasil mencuri perhatiannya, yaitu acara musik show berjudul Dahsyat. Sembilan laki-laki tampan sedang diwawancara tentunya tentang musik, mereka bersenda gurau dan membaca pertanyaan-pertanyaan positif dari para fans yang sudah ditulis oleh kru.

Kegiatan beberes berhenti, mata Cakka menatap kagum pada mereka yang masih diberi pertanyaan dari fansnya. Lagi, ia tersenyum seperti tadi pagi sebelum Hendra dan pak Bani datang menghancurkan harinya. Tak sadar, bibir Cakka bergumam "Andai aku seperti mereka, mungkin aku takkan begini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!