Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]
Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Bertahan Dari Ketidakadilan
"Kau gila?" Suara babi tambun itu melengking menembus debu.
Mandor itu menunjuk tumpukan besi bengkok. Ludahnya menyembur tak tentu arah. Terlihat jelas pembuluh darah di lehernya yang bengkak.
Fais diam. Kepalanya masih berdenyut sisa semalam.
"Ini proyek mahal. Kau merusaknya. Kau menjatuhkan alat berat itu."
Ia hanya menatap ujung sepatu bot mandor yang berlumpur. Tidak ada gunanya membantah. Fakta adalah barang mewah untuk orang miskin. Siapa yang akan percaya pada kuli kumal sepertinya?
"Gajiku." Fais bersuara. Serak. Kering. "Bulan ini..."
Mandor itu tertawa. Tertawa lepas seolah Fais baru saja melontarkan komedi kelas atas. Tawa yang bikin gendang telinga gatal dan perut mual.
"Gaji? Kau minta gaji? Gaji bapakmu!" Mandor itu maju. Mendorong dada Fais kasar. "Potong ganti rugi! Hutangmu di sini saja masih sisa banyak. Pergi sebelum kupanggil polisi untuk menyeretmu."
Dada Fais bergemuruh. Kosong melompong.
Ia meremas ujung bajunya yang sobek. Jari-jarinya kaku bergetar menahan marah. Tapi tenaga untuk marah pun ia tidak punya.
"Bapakku butuh obat besok." Fais menelan ludah berkarat. Telinganya berdenging tipis. "Tolong. Setengahnya saja."
"Bukan urusanku. Mati ya mati saja. Jangan bikin kotor lahanku."
Mati ya mati saja. Mati ya mati saja. Kalimat itu berulang. Berputar konstan di dalam batok kepalanya.
Dunia memang selalu begini. Cacat sejak awal dan dirancang untuk membunuh orang-orang di bawah.
Fais berbalik pelan. Kakinya menyeret debu pasir.
Layar biru itu masih mengambang di ujung matanya. Angka hitung mundur berkedip malas mengikutinya. Mengolok-olok sisa usianya.
Ia tidak memukul wajah mandor itu. Bukan karena takut. Tenaganya sudah habis dimakan sistem aneh ini semalam. Tulangnya serasa diremukkan mesin giling.
Udara panas siang itu memanggang kulitnya yang penuh luka lecet. Keringatnya perih masuk ke luka robek di pelipis.
Sepuluh juta. Syarat dari sistem ini. Terlihat mudah di atas teks neon bercahaya itu.
Ia harus bertahan hidup. Tapi bagaimana mau hidup kalau uang tebusan napasnya sendiri ditahan oleh bajingan berdasi?
Ia berjalan gontai menyusuri gang kumuh di belakang area proyek. Bau got mampat dan sampah membusuk meruap menyengat hidung. Lalat hijau berkerumun di sudut tembok.
Langkahnya terhenti mendadak.
Ada tiga bayangan menghalangi cahaya matahari di ujung gang sempit itu. Tiga tumpukan daging dan tato luntur.
Itu si Penagih hutang.
Pria dengan rahang kotak itu mengunyah tusuk gigi dengan malas. Matanya menyipit redup, menatap Fais seperti menatap bangkai tikus got.
"Bapakmu belum mati, Fais?" Suaranya berat. Bau alkohol murahan menguar kuat dari mulutnya menabrak wajah Fais.
Fais mendesah pelan. Paru-parunya mendadak menolak oksigen.
Hari yang sial. Hari keparat yang teramat panjang tanpa jeda napas.
Dua keroco di belakang Penagih itu memukul-mukul telapak tangan mereka dengan balok kayu. Suaranya beraturan. Tok. Tok. Tok. Menggema di antara dinding beton berlumut.
"Mana jatah minggu ini?" Penagih itu melangkah maju. Sepatunya menginjak genangan air kotor. Cipratannya mengenai ujung celana Fais.
"Tidak ada." Fais menjawab datar. Matanya kosong. "Mandor menahan uangnya."
Penagih itu tersenyum miring. Tusuk gigi itu jatuh dari bibirnya ke tanah.
"Kau pikir aku yayasan amal?"
Tangan besar keparat itu melayang tanpa aba-aba.
Bugh!
Rahang Fais meledak oleh rasa sakit. Pandangannya berputar hebat. Bumi seolah miring sembilan puluh derajat seketika.
Ia tersungkur mencium aspal kasar. Rasa anyir darah langsung memenuhi rongga mulutnya yang kering. Luka lamanya terbuka lagi. Mengucurkan darah segar.
"Geledah." Perintah Penagih itu dingin.
Dua keroco itu maju. Menendang perut Fais telak. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
Fais melingkar pasrah seperti janin cacat. Menahan tendangan bertubi-tubi dengan sisa tulangnya.
Rusuknya menjerit. Perutnya mual brutal. Udara paksa keluar dari tenggorokannya.
Mereka membongkar sakunya kasar. Menarik celananya. Tidak ada uang di sakunya. Hanya ada korek gas kotor dan puntung rokok penyok.
"Kosong, Bang." Keroco pertama meludah sembarangan. "Benaran melarat si anjing ini."
Penagih itu berjongkok santai. Menarik kerah baju Fais hingga wajah mereka sejajar. Dekat sekali.
"Kau tahu aturannya, kan? Tidak ada uang, bayar pakai darah."
Penagih itu mengangkat kepalan tangannya tinggi-tinggi. Ada cincin besi tebal melingkar di jari tengahnya. Mengkilap memantulkan cahaya siang.
Fais menatap kepalan raksasa itu. Napasnya putus-putus.
Ia akan mati. Jika pukulan dengan cincin besi itu mendarat di pelipisnya yang retak, ia pasti mati jam ini juga. Otaknya akan tumpah.
Waktu terasa tersangkut di udara. Melambat dengan cara yang sangat memuakkan.
Layar biru itu mendadak berkedip terang menutupi wajahnya. Menghalangi visual kepalan tangan Penagih itu.
[Peringatan: Kematian fatal terdeteksi.]
[Analisis Peluang aktif.]
[Peluang Anda menghindari serangan: 0.2 persen.]
Nol koma dua. Angka lelucon dari tuhan.
Tubuhnya lumpuh total. Ototnya kram parah. Ia tidak bisa menggerakkan jarinya seinci pun, apalagi menghindari pukulan fatal.
Fais menatap teks biru itu dengan tatapan nanar. Menatap angka sialan itu lekat-lekat.
[Aktivasi Probabilitas ke 100 persen?]
[Peringatan: Konsumsi komputasi fisik tinggi.]
Ia melihat kotak konfirmasi terang.
Dunia membuangnya. Mandor membuangnya seperti sampah. Dan preman cacat ini akan membuangnya ke selokan.
Ia tidak sudi. Ia tidak akan pernah sudi mati sebagai rongsokan dunia.
Di dalam kepalanya yang berdenging, Fais berteriak sekuat tenaga.
'YA.'
Seketika, gravitasi di gang itu berubah aneh.
Udara di sekitarnya menjadi padat. Sensasi dingin merambat dari sumsum tulang belakangnya, menjalar ke seluruh saraf motorik di lengan dan lehernya.
Sistem merampas kendali tubuhnya paksa. Mengambil alih sirkuit otaknya.
Kepalan tangan Penagih itu meluncur turun tanpa ampun. Cincin besi itu mengarah tepat merobek pelipis Fais.
Sret.
Kepala Fais miring dua sentimeter ke kiri. Kecepatannya tidak wajar. Mengaburkan batas pandangan manusia normal. Tepat sebelum cincin itu menyentuh kulitnya.
Brak!
Tinju Penagih itu menghantam aspal keras. Buku jarinya terkelupas parah seketika. Tulangnya berbunyi retak nyaring.
"Argh! Bangsat!" Penagih itu meraung kesakitan. Menarik tangannya yang berdarah kental.
Ia menatap Fais tidak percaya. Rahangnya menganga. Kuli kurus sekarat ini baru saja menghindari pukulannya dari jarak sekepal dengan gerakan yang tidak tercium mata.
Fais sendiri terdiam. Lehernya terasa mendidih. Sendinya dipaksa bergerak di luar nalar manusia. Ini bukan refleks. Ini manipulasi realita.
"Habisi dia! Pukul sampai cacat anjing ini!" Penagih itu mundur tersandung langkahnya sendiri, memegang tangannya yang gemetar.
Dua keroco itu mengayunkan balok kayu secara bersamaan. Maju menyergap dari sisi kiri dan kanan lorong.
Fais masih terbaring kaku. Teks kuning menyala terang di layarnya.
[Menjaga Probabilitas: 100 persen.]
Balok pertama mengayun ke arah tulang rusuk dadanya.
Tubuh Fais berguling. Gerakannya licin seperti belut yang dilumuri oli. Pinggulnya terputar sempurna. Balok itu menghantam aspal kosong. Menimbulkan percikan batu kecil terbang.
Balok kedua mengarah lurus meremukkan tulang keringnya.
Kaki Fais terlipat ke dalam dengan sudut aneh yang tidak wajar. Melipat dengan presisi mekanis yang melawan batas hukum engsel tulang manusia.
Wush.
Angin ayunan kayu itu hanya membelai celana kotornya. Gagal total.
Keroco pertama mengumpat sangat kasar. Ia mengayunkan baloknya lagi bertubi-tubi, membabi buta menghantam ke arah kepala dari atas.
Fais mendorong tangannya ke aspal, tubuh atasnya melesat mundur terseret ke belakang sejauh satu meter dalam posisi rebah. Ujung balok itu nyaris menggesek hidungnya.
Tiga serangan mematikan. Tiga kegagalan absolut.
Napas para preman itu memburu acak. Bingung kalut. Mereka saling pandang dengan mata terbelalak ketakutan.
Mereka tidak sedang memukul ahli bela diri. Mereka sedang memukul kuli miskin yang gerakannya patah-patah kaku, namun mustahil untuk disentuh sedemikian rupa.
Seolah ada dinding ruang waktu tak kasat mata yang menolak keberadaan mereka mendekati Fais.
Keroco kedua berteriak kalap karena panik. Ia membuang baloknya ke samping. Mencabut belati lipat berkarat dari saku belakang celananya.
Ia menerjang maju membabi buta. Menusuk lurus ke arah pangkal leher Fais dengan niat membunuh jitu.
Fais menatap bilah perak kotor itu mendekat. Pasrah menunggu sistem mengambil alih lagi tubuhnya.
Tapi preman itu tiba-tiba menginjak pecahan botol sirup tebal di dekat genangan air got. Sol sepatu usangnya sangat licin.
Keseimbangannya hancur berkeping-keping seketika itu juga.
Tubuh preman itu terpelanting kencang ke depan karena momentumnya sendiri. Belatinya terlepas dari genggaman karena kaget. Melayang bebas membelah udara berdebu.
Jleb.
Bilah tajam tajam itu menancap sangat dalam. Tembus membelah paha keroco pertama yang kebetulan sedang berdiri di depannya.
"Aaaargh! Gila kau! Kenapa kau menusukku bangsat!"
Darah menyembur layaknya pipa bocor. Merendam celana jeans murah preman itu dalam sekejap. Ia jatuh berlutut, memegangi pahanya yang robek menganga.
Keroco yang kehilangan belati panik memucat pasih. Ia menatap telapak tangannya yang kosong melompong, lalu menatap temannya yang berguling kesakitan meronta.
Semuanya menjadi berantakan.
Penagih itu menatap ngeri. Wajah sangarnya luntur seketika ditelan teror murni.
Akal sehatnya runtuh di tempat. Kejadian di depannya terlalu absurd untuk dicerna. Kuli pincang itu bahkan belum bangkit berdiri, belum memukul balik, tapi anak buahnya sudah saling tikam menghancurkan diri sendiri.
Ini sama sekali bukan kebetulan fisik. Ini kesialan ganjil yang mengutuk siapa saja yang berani mendekat.
"Setan." Penagih itu bergumam merinding. Matanya melotot ketakutan melihat Fais yang menatapnya balik dengan pupil mata hitam pekat tanpa emosi.
Dunia di gang kumuh itu seolah membeku kaku.
"Mundur." Penagih itu memberi isyarat mundur. Suaranya bergetar hebat. "Ayo cabut! Biarkan saja orang gila ini!"
Penagih itu membalikkan badan terbirit-birit. Berlari pincang menyusuri jalan aspal gang sempit. Dua keroco itu tertatih-tatih panik mengikuti langkah bosnya. Meninggalkan jejak darah kental memanjang di atas tanah kotor.
Gang itu kembali sepi seperti sediakala. Hanya menyisakan dengung lalat dari tong sampah di sudut tembok.
Fais masih terduduk kaku di atas tanah. Napasnya menderu putus-putus. Paru-parunya bekerja ekstra keras memompa sisa udara masuk.
Seluruh tubuhnya nyeri bukan main. Aktivasi probabilitas seratus persen tadi seolah merobek paksa setiap serat ototnya dari dalam kulitnya sendiri.
Sakit kepalanya kini seratus kali lipat lebih brutal dari malam sebelumnya. Layaknya lempengan besi merah menyala ditekankan langsung ke otaknya.
Layar biru bersinar di depannya meredup perlahan. Kembali bergeser ke sudut penglihatannya.
[Sisa Probabilitas Harian: 0/1]
Fais mengangkat perlahan kedua tangannya. Telapaknya gemetar hebat tanpa henti. Sangat kotor. Penuh luka dan darah yang bukan miliknya saja.
Ia tidak melakukan apa-apa tadi. Ia hanya berbaring pasrah, mengaktifkan teks biru itu, dan dunia tunduk merendah pada kalkulasi angka di kepalanya.
Dunia aspal yang sangat kejam ini baru saja dilipat layaknya kertas bekas oleh sistem. Oleh mesin hitung gila yang sekarang berdiam di sumsum tubuhnya.
Matanya tidak lagi menatap kosong. Ada sesuatu yang baru saja menyala di dasar sana. Dingin. Kelam. Menyeramkan.
Sudut bibir pecahnya tertarik ke atas pelan. Membentuk senyuman cacat yang luar biasa mengerikan.
"Apa..." Suara Fais serak parah, bergesekan sakit dengan kerongkongannya. "Aku benar-benar menang..."