Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.
Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Suara pintu yang tertutup pelan menandakan Eleanor sudah benar-benar meninggalkan ruangan. Bianca tetap diam di posisinya selama beberapa menit demi memastikan langkah kaki ibu Kiyo itu benar-benar menjauh dan hilang di ujung koridor marmer yang panjang. Saat suasana sudah terasa sepi senyap sepenuhnya, Bianca baru menghela napas panjang. Ekspresi wajahnya yang tadi penuh kesantunan dan kepolosan seketika hilang berganti menjadi tatapan yang begitu tajam dan penuh perhitungan.
Ia beranjak dari tempat tidur lalu berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke taman samping. Matanya mengamati setiap sudut ruangan hingga tertuju ke pojok atas. Di sana terpasang sebuah benda kecil berwarna hitam dengan lampu indikator merah yang berkedip perlahan seolah menatapnya tanpa suara.
'CCTV. Sialan, Maxwell bener-bener curigaan. Di kamar anaknya sendiri pun dipasang alat pengawas,' batin Bianca dengan rasa kesal yang tersembunyi.
Ia sadar bahwa hampir seluruh sudut bangunan megah ini diawasi oleh sistem keamanan tingkat tinggi. Bergerak sembarangan sama saja dengan menyerahkan diri ke kandang singa. Namun Bianca bukan orang yang datang tanpa persiapan matang. Ia segera merogoh saku pakaiannya mengambil ponsel lalu menghubungi sebuah nomor lewat aplikasi komunikasi khusus yang terenkripsi.
"Gimana? Aman?" Suara berat dan serak Rebecca terdengar di seberang sambungan langsung ke pokok permasalahan.
"Gue di kamarnya Kiyo. Eleanor baru aja keluar. Tapi rumah ini kayak penjara, Bec. CCTV ada di mana-mana. Gue nggak bisa asal keluar masuk ruangan kalau nggak mau tamat hari ini juga," bisik Bianca sambil terus membelakangi arah kamera, berpura-pura sedang merapikan rambutnya di dekat jendela.
Rebecca terkekeh pelan di seberang telepon. "Lo pikir gue nggak antisipasi itu? Dengerin gue, Bi. Jam sepuluh nanti, tim IT gue bakal coba putar sementara server pusat keamanan mereka selama lima menit. Nggak lama, tapi cukup buat bikin sistem mereka macet atau berulang-ulang rekamannya. Lo harus manfaatin waktu itu buat cari ruang kerja Maxwell."
"Lima menit? Lo gila? Rumah ini luas banget, Bec! Mana gue tau ruang kerjanya di sebelah mana," protes Bianca dengan suara yang tertahan namun penuh penekanan.
"Gue udah kirim denah kasar yang gue dapet dari data arsitek lama mereka ke email lo. Cek sekarang. Ruang kerja Maxwell ada di sayap kiri lantai dua, tepat di balik perpustakaan pribadi. Pintunya pake pemindai sidik jari, tapi gue yakin lo bisa akalin kalau lo dapet akses dari salah satu anggota keluarganya nanti. Tugas lo sekarang cuma catat posisinya aja," jelas Rebecca panjang lebar.
Bianca segera membuka pesan masuk di ponselnya. Sebuah denah gambar bangunan terlihat jelas di layar. "Terus kalau gue udah di depan pintu, gue harus ngapain? Gue nggak punya sidik jari si tua bangka itu."
"Lo nggak butuh sidik jarinya sekarang. Tugas lo hari ini cuma pastiin posisi brankas atau dokumen penting yang kelihatan secara fisik. Kalau lo beruntung, cari celah buat pasang alat penyadap kecil di tempat tersembunyi. Gue butuh denger percakapan dia," perintah Rebecca tegas. "Inget, Bi. Risiko lo gede banget. Kalau orang rumah liat lo keluyuran di area terlarang, habislah kita."
"Gue tau. Gue bakal pake alibi tersesat kalau ketahuan. Pelayan di sini lumayan segan sama gue gara-gara Kiyo belain gue semalem," ucap Bianca sambil menyunggingkan senyum tipis penuh percaya diri.
"Bagus. Manfaatin rasa suka si Kiyo itu buat keuntungan kita. Jam sepuluh tepat, sistem bakal mati sebentar. Gerak cepet, Bianca. Jangan sampe dendam Ayah sia-sia cuma gara-gara lo lambat," ucap Rebecca sebelum memutus sambungan telepon.
Bianca menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 09.45. Masih ada lima belas menit lagi. Ia kembali duduk di tepi tempat tidur berusaha mengatur napas dan menenangkan hati. Setiap detik yang berlalu terasa berat persis seperti dentukan palu di dadanya.
Sementara itu di SMA Global Bangsa, suasana kelas sama sekali tidak membantu ketenangan pikiran dua pemuda keluarga Anderson itu.
Di ruang kelas XII-IPA 1, Kiyo duduk diam di bangku paling belakang. Buku pelajaran biologi terbuka di atas meja, namun matanya hanya menatap kosong ke arah papan tulis yang bersih. Pikirannya melayang jauh kembali ke rumahnya sendiri.
'Bianca lagi apa ya sekarang? Apa dia udah makan? Atau dia pingsan lagi gara-gara denger suara petir tadi pagi?' Kiyo meremas gagang pulpennya dengan kuat. Ia merasa sangat tidak tenang meninggalkan Bianca sendirian di rumah, terlebih lagi bersama ayahnya yang bisa saja pulang kapan saja untuk urusan pekerjaan.
"Woi, Yo! Fokus amat, sampe pulpen mau patah gitu," celetuk Jonathan, teman sebangku Kiyo.
Kiyo tersentak kaget lalu berdehem pelan. "Berisik lo, Jo. Gue lagi mikirin materi yang tadi."
"Materi apa? Orang dari tadi Bu Ratna belum nulis apa-apa," goda Jonathan sambil tertawa kecil. "Lo mikirin Bianca ya? Gila, baru sekali this gue liat Ketua OSIS yang paling rapi jadi bengong begini. Bener-bener ya, kekuatan rasa suka emang nggak masuk akal."
"Gue cuma nggak mau ada masalah di rumah gue. Lo tau sendiri bokap gue kayak gimana kalau ada orang asing," kilas Kiyo cepat, meski jauh di dalam hatinya ia tahu alasan sebenarnya jauh lebih dalam dari itu. 'Kenapa gue jadi se-pedasih ini? Baru ditinggal beberapa jam aja rasanya gue pengen cabut dari sekolah sekarang juga.'
Di saat yang sama, di ruang kelas XII-IPS 3, Gwen juga tidak kalah kacau perasaannya. Ia berkali-kali mengecek layar ponselnya di bawah meja berharap ada pesan masuk. Namun layar benda itu tetap gelap dan kosong.
'Sialan, kenapa gue nggak kepikiran buat tukeran nomor WA semalem? Gue bener-bener bego kalau urusan beginian,' gumam Gwen kesal. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan gerakan kasar.
'Kiyo pasti lagi senyum-senyum sendiri ngebayangin Bianca ada di kamarnya. Brengsek. Kenapa harus adek gue yang nemuin dia di jalan? Harusnya gue yang ada di sana kemarin,' batin Gwen penuh rasa kesal dan iri. Keinginan memiliki Bianca semakin memuncak, bukan hanya karena gadis itu menarik, tapi karena egonya sebagai kakak tertua merasa tertantang oleh adiknya sendiri.
Pukul 10.00 tepat.
Bianca berdiri tegak di depan pintu kamar Kiyo. Ia menarik napas dalam-dalam lalu perlahan membuka daun pintu. Matanya mengamati kamera pengawas yang ada di koridor. Lampu merah kecilnya berhenti berkedip, sebuah tanda sistem sedang terganggu sesuai rencana Rebecca.
'Sekarang!'
Bianca melangkah keluar dengan cepat namun tetap tanpa suara. Mengikuti petunjuk denah dari Rebecca, ia menyusuri koridor panjang menuju sayap kiri bangunan. Jantungnya berdegup kencang setiap kali mendengar suara sapu atau percakapan pelayan yang ada di lantai bawah. Ia bersembunyi di balik tiang besar saat seorang pembantu melintas di ujung lorong.
"Ayo, Bianca... dikit lagi," bisiknya pelan pada diri sendiri.
Tak lama kemudian ia sampai di depan sebuah pintu kayu jati yang besar dan kokoh. Itulah ruang kerja Maxwell Anderson persis seperti yang dikatakan Rebecca. Di sana terpasang alat pemindai sidik jari di samping daun pintu. Bianca tidak mencoba membukanya, ia hanya memperhatikan bentuk dan cara kerja alat itu dengan saksama. Setelah itu ia bergeser ke ruang perpustakaan pribadi yang berada tepat di sebelahnya.
Sesuai rencana, Bianca mulai mencari celah masuk atau titik lemah di sana. Ia menemukan sebuah lubang ventilasi kecil di bagian atas rak buku yang terhubung langsung ke ruang kerja Maxwell. Dengan gerakan lincah, ia memanjat tumpukan rak buku yang tinggi itu. Tangannya merogoh saku dan mengeluarkan benda kecil alat penyadap. Dengan bantuan sebatang penggaris besi, ia mendorong benda itu masuk lewat celah ventilasi.
Pluk. Benda itu jatuh pelan ke atas karpet tebal di dalam sana dan tidak terlihat oleh siapa pun.
Bianca segera turun ke lantai lalu merapikan kembali posisi buku-buku yang sempat bergeser. Namun saat ia baru saja menapakkan kaki dengan aman, sebuah suara berat terdengar mengejutkannya.
"Nona? Sedang apa Anda di area ini?"
Bianca tersentak hebat. Ia menoleh dan melihat kepala pelayan keluarga Anderson, seorang pria paruh baya bernama Pak Darman, berdiri menatapnya dengan pandangan yang penuh curiga dan serius.
"E-eh... Pak Darman ya?" Bianca langsung memasang wajah bingung yang polos dan tidak bersalah. "Maaf, Pak. Saya... saya tadi mau cari dapur karena haus banget, tapi rumah ini besar sekali. Saya sepertinya salah belok dan malah sampai ke sini."
Pak Darman menyipitkan matanya makin curiga. "Dapur ada di lantai bawah, Nona. Dan area ini adalah tempat pribadi Tuan Maxwell. Sangat dilarang bagi siapapun untuk masuk ke sini tanpa izin."
"Aduh, maaf sekali, Pak. Saya bener-bener nggak tau. Kepala saya masih agak pusing efek obat semalam, jadi saya jalan asal aja nyari tangga," Bianca memegang kepalanya sambil berakting seolah ia hampir kehilangan keseimbangan.
Melihat kondisi Bianca yang tampak lemah dan pucat, rasa curiga Pak Darman sedikit berkurang. Ia ingat betul pesan tegas Tuan Muda Kiyo agar menjaga gadis ini dengan baik. "Mari, Nona. Saya antar kembali ke kamar. Saya akan minta pelayan lain mengantarkan minuman untuk Anda."
"Terima kasih banyak, Pak. Maaf ya sudah merepotkan," jawab Bianca dengan nada sesal yang sangat meyakinkan dan sopan.
Sambil berjalan mengikuti langkah Pak Darman, Bianca diam-diam mengembuskan napas lega yang luar biasa. 'Hampir aja ketahuan. Kalau Pak Darman dateng semenit lebih awal, dia pasti liat gue lagi manjat rak buku,' batinnya penuh rasa menang.
Sore harinya saat bel tanda pulang sekolah berbunyi, Kiyo dan Gwen berlomba-lomba menuju tempat parkir. Mereka bahkan tidak sempat saling sapa atau bertukar kata, langsung tancap gas menuju rumah besar itu seolah ada harta paling berharga yang sedang menunggu kedatangan mereka.
Begitu sampai di halaman rumah, Kiyo langsung berjalan cepat menuju kamarnya. Ia mendapati Bianca sedang duduk tenang membaca sebuah buku dan tampak jauh lebih segar bugar dibandingkan saat pagi tadi.
"Gimana hari ini? Nggak ada masalah kan? Ada yang ganggu lo?" tanya Kiyo bertubi-tubi sambil melepaskan dasi dan jaket seragamnya.
"Nggak ada kok, Kak. Tadi Tante Eleanor baik banget nemenin aku. Cuma tadi aku sempet ditegur Pak Darman gara-gara salah jalan pas mau cari dapur," jawab Bianca dengan senyum termanisnya.
Kiyo mengernyitkan dahi tak paham. "Lo ke mana emangnya?"
"Ke arah perpustakaan yang pintunya besar itu. Aku kira tangganya lewat situ," Bianca berbohong dengan sangat lancar dan tenang.
Kiyo terdiam sejenak lalu menghela napas panjang. "Jangan ke sana lagi ya, Bi. Itu tempatnya Papa. Papa itu sangat menjaga privasi dan sensitif banget. Gue nggak mau lo kena masalah gara-gara itu."
"Iya, Kak Kiyo. Aku janji nggak bakal ke sana lagi," jawab Bianca dengan nada patuh dan tak berdosa.
'Gue nggak perlu ke sana lagi kalau alat penyadapnya udah terpasang rapi, Kiyo sayang,' batin Bianca dengan rasa puas yang tersembunyi.
Tak lama kemudian, Gwen mendorong pintu kamar Kiyo hingga terbuka lebar. "Bi! Gue bawain lo martabak manis kesukaan... eh, lo udah di sini, Yo? Cepet amat lo balik."
Kiyo menatap Gwen dengan pandangan yang tajam dan tidak suka. "Ini kamar gue, Gwen. Lo mau ngapain lagi?"
"Gue mau ketemu Bianca lah! Emang cuma lo yang boleh? Nih, Bi, makan dulu. Biar lo cepet sehat dan bisa gue ajak jalan-jalan lagi," ucap Gwen sambil menyodorkan kotak makanan ke hadapan Bianca, sengaja untuk memancing emosi adiknya.
Suasana kamar kembali terasa panas dan penuh ketegangan. Dua bersaudara itu saling melempar argumen dan kata-kata, sementara di sudut ruangan Bianca hanya duduk manis sambil menikmati pertunjukan gratis di depannya. Baginya, setiap perselisihan antara Kiyo dan Gwen adalah bumbu pelengkap yang sempurna bagi rencana besarnya.
'Teruslah berebut, kalian berdua. Karena sebentar lagi, istana megah ini bakal hancur lebur," batin Bianca sambil menggigit makanan yang dibawa Gwen dengan tenang. Strateginya berjalan sangat mulus, dan Maxwell Anderson sama sekali tidak pernah menyangka bahwa putri musuh terbesarnya sedang duduk manis di kamar putra kesayangannya serta merancang kehancuran keluarganya perlahan dari dalam.