Dulu, Alya hanya gadis pendiam yang selalu menjadi sasaran ejekan di sekolah. Hari-harinya dipenuhi rasa takut, terutama karena Reno,ketua geng paling disegani sekaligus pria yang paling sering membuat hidupnya terasa menyakitkan. Bagi Alya, Reno adalah luka yang ingin ia lupakan selamanya.
Namun takdir mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berlalu.
Kini, Alya telah berubah menjadi wanita mandiri dan sukses, sementara Reno bukan lagi remaja arogan seperti dulu. Di balik sikap dinginnya, Reno menyimpan penyesalan yang tak pernah sempat ia ungkapkan. Pertemuan mereka kembali membuka kenangan lama, menghadirkan benci yang perlahan berubah menjadi perasaan yang tak terduga.
Bisakah seseorang yang pernah menyakitimu menjadi rumah terbaik untuk hatimu? Atau masa lalu akan tetap menjadi penghalang di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 — Perasaan yang Mulai Mengganggu
Setelah malam itu, Alya mulai merasa hidupnya tidak lagi tenang.
Bukan karena Reno mengganggunya.
Justru sebaliknya.
Pria itu tiba-tiba berubah menjadi terlalu baik.
Setiap datang ke kantor untuk membahas proyek hotel, Reno selalu bersikap sopan. Tidak pernah membentak, tidak pernah mengejek, bahkan sering membantu hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu ia lakukan.
Dan itu membuat Alya bingung.
Pagi itu, Alya sedang fokus memperbaiki desain lobby hotel ketika rekan kerjanya, Siska, tiba-tiba menghampiri mejanya sambil tersenyum jahil.
“Ya ampun, Alya… bos muda Mahardika Group ganteng banget, ya.”
Alya langsung menatap layar laptopnya lagi. “Biasa aja.”
“Biasa apanya? Tinggi, kaya, dingin… lengkap!” Siska terkikik. “Tapi anehnya dia kelihatan perhatian banget sama kamu.”
Alya langsung tersedak kopinya sendiri.
“Nggak ada.”
“Halah, semua orang kantor juga sadar kali.” Siska mendekat sambil berbisik, “Tadi dia nanya kamu udah sarapan atau belum.”
Alya mengernyit.
“Dia nanya begitu?”
“Iya.” Siska mengangguk cepat. “Bahkan dia bawain kopi buat kamu.”
Belum sempat Alya menjawab, suara langkah kaki terdengar mendekat.
Dan benar saja.
Reno muncul sambil membawa dua gelas kopi di tangannya.
Seketika suasana kantor menjadi ramai oleh bisikan kecil para karyawan.
“Pak Reno ganteng banget…”
“Cocok nggak sih sama Kak Alya?”
Alya langsung merasa tidak nyaman.
Reno berhenti tepat di depan mejanya lalu meletakkan satu gelas kopi perlahan.
“Kopi caramel favorit kamu.”
Alya menatapnya kaget.
“Kamu masih ingat?”
Reno tersenyum tipis. “Dulu kamu selalu beli itu di kantin sekolah.”
Jawaban itu membuat Alya terdiam sesaat.
Ia sendiri bahkan sudah lupa kebiasaan kecil itu.
“Terima kasih,” ucapnya akhirnya pelan.
Siska yang melihat itu langsung pergi sambil menahan senyum lebar, sengaja meninggalkan mereka berdua.
Reno menarik kursi di depan meja Alya.
“Aku boleh duduk?”
“Kalau aku bilang nggak?”
“Aku tetap duduk.”
Alya mendelik kesal, tapi Reno justru tertawa kecil.
Dan untuk pertama kalinya, Alya menyadari sesuatu.
Ternyata Reno punya senyum yang cukup hangat saat tidak sedang menyebalkan.
“Ada revisi desain?” tanya Alya cepat, berusaha mengalihkan pikirannya sendiri.
“Enggak.” Reno bersandar santai. “Aku cuma mau lihat kamu.”
Deg.
Alya langsung salah tingkah.
“Kamu masih suka ngomong sembarangan.”
“Aku serius.”
Tatapan Reno terlalu tenang untuk dianggap bercanda.
Alya buru-buru berdiri. “Aku mau print desain dulu.”
Ia berjalan cepat meninggalkan meja kerjanya sementara Reno hanya tersenyum kecil melihat kepanikan Alya.
Namun langkah Alya tiba-tiba berhenti ketika mendengar dua pegawai wanita berbisik di dekat ruang printer.
“Itu Pak Reno kayaknya suka sama Kak Alya deh.”
“Iya, tapi katanya dulu mereka musuhan.”
Alya langsung masuk ke ruang printer tanpa ingin mendengar lebih jauh.
Dadanya terasa aneh.
Ia membenci kemungkinan itu.
Tidak.
Bukan karena Reno menyukainya.
Tapi karena sebagian kecil dirinya mulai menikmati perhatian pria itu.
Malam harinya, Alya pulang ke apartemen dengan kepala penuh pikiran.
Ia baru saja keluar dari lift ketika melihat seseorang duduk di depan pintu apartemennya.
Reno.
Pria itu terlihat lelah, tetapi langsung berdiri saat melihat Alya datang.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Alya kaget.
“Aku mau kasih ini.”
Reno menyerahkan sebuah paper bag kecil.
Alya menerimanya pelan lalu membuka isi di dalamnya.
Obat lambung.
Alya langsung terdiam.
“Dari mana kamu tahu aku sakit lambung?”
“Kamu sering sakit kalau telat makan.” Reno menatapnya lembut. “Dulu juga begitu.”
Jantung Alya terasa berdebar tidak nyaman.
Kenapa Reno masih mengingat hal-hal kecil tentang dirinya?
“Aku cuma nggak mau kamu sakit.”
Kalimat sederhana itu justru membuat pertahanan Alya perlahan retak.
Karena selama ini…
Belum pernah ada seseorang yang memperhatikannya sedetail itu.
Dan yang paling berbahaya
Orang itu adalah Reno.
Alya menggenggam paper bag itu sedikit lebih erat.
Lorong apartemen terasa sunyi. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar di antara mereka.
“Aku bisa beli sendiri,” ucap Alya pelan, meski suaranya tidak sedingin biasanya.
Reno mengangguk kecil. “Aku tahu.”
“Terus kenapa repot-repot ke sini?”
Reno tersenyum tipis, tetapi kali ini senyumnya terlihat lelah.
“Karena aku kepikiran kamu.”
Kalimat itu membuat Alya kehilangan kata-kata selama beberapa detik.
Ia buru-buru membuka pintu apartemennya untuk menghindari tatapan Reno yang terlalu sulit diartikan.
“Makasih obatnya,” katanya cepat. “Sekarang kamu bisa pulang.”
Namun saat Reno berbalik, tiba-tiba pria itu sedikit limbung.
Alya refleks menahan lengannya.
“Kamu kenapa?”
“Cuma pusing sedikit,” jawab Reno santai.
Alya mengernyit curiga. “Kamu sakit?”
“Enggak.”
“Kamu bohong.”
Reno tertawa kecil, lalu tanpa sengaja batuk cukup keras.
Dan saat itulah Alya menyadari wajah Reno terlihat pucat.
“Kamu demam?” tanyanya pelan.
“Sedikit.”
“Sedikit katanya?” Alya menatap tidak percaya. “Wajah kamu aja kayak orang mau tumbang.”
Reno malah tersenyum geli melihat ekspresi khawatir Alya.
“Aku nggak nyangka kamu masih peduli.”
Kalimat itu langsung membuat Alya salah tingkah.
“Aku cuma nggak mau ada orang pingsan depan apartemenku.”
“Hm, jadi tetap peduli.”
“Reno!”
Pria itu tertawa pelan. Tawanya terdengar hangat, jauh berbeda dari sosok arogan yang dulu selalu membuat Alya takut.
Entah kenapa, perubahan itu membuat hati Alya semakin kacau.
“Ayo masuk dulu,” ucap Alya akhirnya mengalah. “Minimal minum obat sebelum pulang.”
Reno terlihat sedikit terkejut, tapi ia menurut tanpa banyak bicara.
Begitu masuk ke apartemen Alya, Reno diam sejenak memperhatikan ruangan itu.
Apartemen kecil dengan nuansa hangat dan rapi. Ada tanaman kecil di dekat jendela dan rak buku di sudut ruangan.
“Tempat kamu nyaman,” katanya.
Alya meletakkan tas di sofa. “Nggak mewah, tapi cukup.”
“Lebih nyaman daripada rumahku.”
Alya menoleh heran, tapi Reno hanya tersenyum kecil seolah tidak ingin menjelaskan lebih jauh.
Tak lama kemudian, Alya datang membawa segelas air hangat dan obat penurun demam.
“Nih.”
Reno menerimanya sambil menatap Alya beberapa detik lebih lama dari biasanya.
“Apa?”
“Aku senang kamu nggak benar-benar benci aku.”
Alya langsung mengalihkan pandangan.
“Aku belum maafin kamu.”
“Aku tahu.”
“Tapi…” Alya menggigit bibirnya pelan. “Aku juga capek kalau harus marah terus.”
Reno terdiam mendengar pengakuan itu.
Untuk pertama kalinya, ada harapan kecil tumbuh di dalam hatinya.
“Alya.”
“Hmm?”
“Makasih udah kasih aku kesempatan buat ada dekat kamu lagi.”
Jantung Alya langsung berdegup lebih cepat.
Suasana mendadak menjadi canggung.
Alya buru-buru berdiri. “Kayaknya kamu harus pulang dan istirahat.”
Namun saat Reno mencoba berdiri, tubuhnya kembali oleng karena demam.
“Astaga…” Alya panik menahan tubuhnya. “Kamu beneran sakit.”
“Aku cuma kurang tidur.”
“Kurang tidur apanya? Badan kamu panas banget.”
Reno tertawa pelan meski wajahnya terlihat lemas.
“Kalau aku sakit begini terus, kamu bakal khawatir nggak?”
Alya mendelik kesal. “Masih sempat bercanda?”
Tapi Reno justru memperhatikan wajah Alya dengan tatapan lembut.
Tatapan yang membuat Alya gugup.
“Lucu,” gumam Reno pelan.
“Apa?”
“Kamu kalau khawatir ternyata lucu.”
Pipi Alya langsung memanas.
Dan sebelum ia sempat membalas, tiba-tiba ponsel Reno berdering.
Nama yang muncul di layar membuat ekspresi Reno berubah seketika.
“Papa.”
Senyum di wajahnya langsung menghilang.
Reno menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya mematikan panggilan tanpa menjawab.
Namun Alya sempat melihat sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya—
Ketakutan di mata Reno.