[Eksekusi penjahat berhasil! 1 Milyar telah dikirim.]
Luis, pengacara miskin yang selalu dihina karena tak pernah memenangkan kasus, mati tertabrak saat pulang.
Namun ia kembali ke masa lalu bersama Sistem Saldo Eksekutor, sistem misterius yang memberinya hadiah uang setiap kali berhasil mengeksekusi kasus dan menjatuhkan para penjahat.
Dari pengacara gagal, Luis mulai bangkit menjadi sosok mengerikan di balik hukum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Tabrak
Di tengah jalan yang sepi dan remang-remang itu, berdiri sebuah sosok mengenakan jas hujan hitam panjang. Sosok itu berdiri diam, kepalanya tertunduk, menghalangi jalan.
"Tabrak saja! Jangan buang waktu!" perintah Surya.
Baron mencoba menginjak gas, tapi mesin mobil tiba-tiba terbatuk dan mati total. Lampu depan mobil meredup, menyisakan kegelapan yang mencekam.
"Sial! Mesinnya mati!" Baron mencoba menyalakan kunci kontak berkali-kali, tapi tidak ada respon.
Di luar, sosok berjubah hitam itu mulai bergerak. Ia tidak berjalan mendekat, melainkan menghilang ke balik pepohonan di pinggir jalan dengan gerakan yang sangat cepat, hampir seperti bayangan yang tersapu angin.
"Baron, lihat itu!" Surya menunjuk ke arah kaca jendela samping.
Di kaca yang berembun karena hujan, muncul sebuah tulisan yang digores dari luar.
[8.000.000.000]
Mata Surya membelalak. "Apa maksudnya ini?!"
Tiba-tiba, kaca jendela di samping Surya retak seribu tanpa ada yang memukulnya. KRAAAK!
"Keluar! Semua keluar dari mobil!" teriak Baron sambil mencabut pistol dari balik pinggangnya.
Para pengawal dari mobil belakang langsung keluar dengan senjata siap tembak. Mereka berdiri melingkar, melindungi mobil Surya di tengah hujan yang semakin menggila. Suasana benar-benar horor. Suara petir yang menggelegar menyamarkan suara langkah kaki yang mendekat.
Baron, dengan instingnya yang tajam, merasakan sesuatu dari arah atas. Ia mendongak, namun hanya melihat tetesan air hujan yang menghantam wajahnya.
BRUK!
Seorang pengawal di samping mobil tiba-tiba tersungkur. Lehernya terlihat biru lebam seolah baru saja dihantam oleh benda tumpul dengan kekuatan luar biasa. Ia pingsan seketika tanpa sempat mengeluarkan suara.
"Di sana! Di belakang pohon!" teriak salah satu anak buah Baron sambil melepaskan tembakan ke arah kegelapan.
DOR! DOR! DOR!
Cahaya tembakan menerangi hutan sesaat, tapi tidak ada siapa pun di sana.
Baron mulai berkeringat dingin. Sebagai orang yang pintar bertarung, ia tahu mereka sedang berhadapan dengan seseorang yang tahu persis teknik guerrilla dan sabotase.
"Bos, masuk ke mobil lagi! Kunci pintunya!" teriak Baron.
Namun, saat Surya mencoba membuka pintu mobil yang tadi terkunci, pintu itu tetap tidak bisa dibuka. Sistem penguncian otomatis mobil mewah itu seolah-olah telah diretas dan dikunci dari luar.
Surya menggedor-gedor kaca dari dalam dengan wajah panik. Ia melihat di kejauhan, di antara pepohonan, sosok berjubah hitam itu muncul kembali. Kali ini, ia memegang sebuah tongkat besi yang berkilat setiap kali petir menyambar.
Sosok itu, Luis berjalan perlahan mendekat. Ia tidak lari. Ia tidak sembunyi lagi. Ia menunjukkan kehadirannya dengan penuh dominasi.
"Hanya satu peluru delapan miliar... dan kalian sudah terjebak seperti tikus," bisik Luis di balik maskernya, meski suaranya tertutup suara hujan.
Ia telah menggunakan fitur Sabotase Kendaraan senilai 8 Miliar tepat saat konvoi itu melewati titik buta yang ia rencanakan. Uangnya kini hampir habis, tapi di depannya, mangsa-mangsa besar sudah tidak bisa lari ke mana-mana.
Hujan semakin deras, mengubah aspal menjadi genangan air yang memantulkan kilatan petir.
Baron dan tiga anak buahnya yang tersisa kini berdiri merapat, saling membelakangi di samping mobil SUV yang mati total.
Senjata api di tangan mereka bergetar pelan. Mereka adalah profesional, tapi melawan musuh yang tidak terlihat di tengah badai seperti ini adalah mimpi buruk.
"Jangan berpencar! Tembak apa pun yang bergerak!" teriak Baron. Suaranya hampir tenggelam oleh deru angin.