Menjadi editor sebatang kara itu membosankan, tapi dirampok sampai pingsan dan pindah ke dunia novel? Itu diluar nalar!
Lin Xia Yi bertransmigrasi menjadi Lin Xia Mei, wanita yang akan tewas karena cinta buta suaminya, Wei Zhu Chen. Untuk bertahan hidup, ia harus menurunkan tingkat rasa suka Wei Zhu Chen dari 99% ke 20%.
Bersama sistem berwujud kucing imut bersayap bernama Bao, Lin Xia Yi akan memulai misi demi kembali ke dunianya serta membawa pulang hadiah yang menggiurkan.
Hadiah menggiurkan menanti, tapi nyawa taruhannya. Siapkan camilan favoritmu dan temanilah Lin Xia Yi sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
005~ Ide Baru
Lin Xia Mei mengibas rambutnya dengan anggun lalu berdiri, ia berjalan ke arah Wei Zhu Chen yang masih ada di pintu kamar. Wei Zhu Chen tersenyum kecil, ia berpikir positif pada Lin Xia Mei.
Senyumnya pudar seketika saat Lin Xia Mei mengucapkan satu kalimat, "Daripada diam saja, lebih baik kau bersihkan toilet."
Lin Xia Mei tersenyum sinis lalu pergi ke luar kamarnya, saat menuruni anak tangga ia berpapasan dengan Bibi Yu Si. ART-nya itu tidak berani menoleh pada Lin Xia Mei dan memilih diam menepi di railing, namun Lin Xia Mei dengan sengaja melakukan gerakan tendangan kecil yang membuat ember berisi air itu langsung tumpah dan membasahi anak tangga.
"Tidak berguna," sindir Lin Xia Mei sambil menatap sinis Bibi Yu Si.
Wei Zhu Chen segera menghampiri kedua orang itu, Lin Xia Mei segera menuruni anak tangga, meninggalkan Bibi Yu Si yang masih menundukkan kepala dan Wei Zhu Chen yang menghampirinya.
"Bi, maafkan Istriku."
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya yang ceroboh."
Segera Wei Zhu Chen mengejar Lin Xia Mei, saat akan membuka pintu utama, Wei Zhu Chen menarik Lin Xia Mei ke pelukannya.
"Tolong jangan pergi, aku minta maaf." ucap Wei Zhu Chen dengan suara bergetar.
Lin Xia Mei melepas pelukan Wei Zhu Chen dengan sangat kasar, terlihat mata Wei Zhu Chen sudah memerah dan basah.
"Aku hanya ingin keluar menghirup angin segar," ungkap Lin Xia Mei.
"Tidak, pasti kamu ingin kabur kan?"
Lin Xia Mei menatap Wei Zhu Chen dengan kesal.
"Wei Zhu Chen, kau tahu? Aku bosan, setiap hari aku di dalam rumah, aku bahkan tidak tahu rasanya berdiri di teras rumah!" protes Lin Xia Mei.
"Tidak, ayo ke dalam saja. Jangan pergi."
"Hoo, bagus. Sekarang kau sudah menunjukkan wajah aslimu, Zhu Chen!" ucapnya dalam hati.
Akhirnya ia merasakan langsung rasa resah yang Lin Xia Mei asli rasakan, di kurung dalam rumah mewah, bahkan ke teras rumah saja tidak diizinkan.
"Aku hanya ingin menghirup udara di luar tapi kau tuduh mau kabur?!"
Wei Zhu Chen kembali merasa bersalah, ia mencoba menyentuh Lin Xia Mei namun langsung ditepis.
"Sakit jiwa!"
Lin Xia Mei mendorong Wei Zhu Chen dengan kasar, ia pergi berlalu meninggalkan Wei Zhu Chen yang masih mematung di depan pintu, Lin Xia Mei menaiki anak tangga dengan langkah cepat dan napas memburu.
"Sial!" umpatnya.
Bibi Yu Si menghela napas, ia kembali menaiki anak tangga membawa ember untuk mengepel lantai dan sapu. Ia tersentak saat mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras, lebih tepatnya membanting pintu.
"Inang," Bao muncul.
"Memang gila si Wei Zhu Chen itu, Bao. Masa, aku hanya ingin ke luar duduk di teras atau gazebo malah dikira berniat kabur?"
Lin Xia Mei mengulurkan tangan dan memperlihatkan pergelangan tangannya pada Bao.
"Lihat, dia mencekalku dengan keras sampai kemerahan seperti ini."
Wei Zhu Chen tiba-tiba membuka pintu kamar, Bao hanya diam menonton.
"Sayang, aku minta maaf." ucap Wei Zhu Chen, ia merasa bersalah setelah melihat pergelangan tangan Lin Xia Mei memerah karena ulahnya.
"Aku tidak bermaksud melukaimu," ujarnya dengan lirih dan raut wajah sedih.
"Aku tidak ingin melihatmu, malam ini kau tidur di kamar lain saja." balas Lin Xia Mei, ia berbalik memunggungi Wei Zhu Chen.
"Tidak, aku tidak bisa jauh darimu." tolak Wei Zhu Chen, ia berusaha mendekati Lin Xia Mei namun Lin Xia Mei lebih dulu mendorong dada Wei Zhu Chen agar mundur.
"Apakah langsung cerai saja?" batin Lin Xia Mei.
Bao yang masih aktif tentu mendengar isi hati Lin Xia Mei.
"Tindakan tersebut tidak baik, inang. Dengan rasa suka yang masih tinggi, tokoh utama pria masih sangat posesif. Bukannya selamat, kau hanya menambah masalah saja." ujar Bao mengingatkan.
"Aku merinding, Bao."
"Tolong beri aku waktu sendiri, aku ingin menjernihkan pikiran." pinta Lin Xia Mei
Wei Zhu Chen menggeleng dengan cepat.
"Apa kamu akan menyusun rencana untuk pergi? Ku mohon jangan lakukan itu."
Lin Xia Mei menghela napas lalu menatap Wei Zhu Chen.
"Jika aku ingin pergi, sedari kemarin aku sudah tidak ada disini."
Wei Zhu Chen terdiam, benar juga perkataan Lin Xia Mei. Istrinya memiliki banyak waktu ketika dirinya pergi bekerja, jika ingin lari, maka ini tidak akan sulit. Namun sampai detik ini istrinya masih berdiri tegak dihadapannya.
"Bagaimana? Aku beri dua pilihan. Satu, beri aku waktu dan ruang untuk menyendiri. Dua, aku akan menggugatmu ke pengadilan."
Wei Zhu Chen menghela napas berat, matanya sendu saat melihat raut wajah Lin Xia Mei yang sangat marah.
"Baiklah, malam ini aku tidur di kamar Wei Ji Xiang."
Lin Xia Mei mengangguk, perlahan raut wajahnya berubah menjadi lebih tenang.
"Terima kasih. Sekarang, aku minta kau keluar."
Tidak ingin membuat Lin Xia Mei kembali marah, Wei Zhu Chen mengangguk patuh, ia berjalan menjauh. Sebelum menutup pintu kamar, ia menatap punggung Lin Xia Mei, berat pisah kamar namun ini pilihan yang terbaik. Di pikirannya saat ini sudah tidak baik-baik saja, ia mulai curiga dibalik perubahan istrinya da pria lain yang memprovokasinya.
"Jika sampai ada laki-laki lain, maka aku akan membawa kepalanya ke hadapanmu, Xia Mei." ucapnya dalam hati.
Setelah mendengar suara pintu yang tertutup, Lin Xia Mei menghela napas lega, tubuhnya lemas, ia duduk di ujung tempat tidur.
"Inang, kau baik-baik saja?" tanya Bao yang melihat Lin Xia Mei mulai pucat.
"Aku baik-baik saja, Bao. Aku hanya teringat bagian akhir di cerita itu, menyedihkan."
Ingatan tentang akhir dari kehidupan Lin Xia Mei di Novel sangat membuatnya gemetaran. Tidak sanggup jika pada akhirnya ia akan mengalami hal yang sama. Mati dibunuh suami sendiri lalu mayat di awetkan, setiap malam menemani suaminya tidur di ranjang yang sama.
"Rasa suka Wei Zhu Chen terus naik-turun, naiknya mudah, turunnya sulit. Sudah satu minggu lebih aku disini, tapi aku belum berhasil menurunkan angkanya."
"Inang, coba cara lain saja agar angkanya berubah signifikan, jangan lagi menggunakan trik marah-marah, sekali serang langsung turun banyak. Bao percaya padamu!"
Lin Xia Mei mengusap kasar wajahnya.
"Ini sulit, Bao. Sudah hampir 100%, artinya setiap kesalahanku pasti akan dimaklumi. Jika angkanya masih 10% sih pakai trik kecil akan langsung selesai. Ini sudah 100%, sama saja aku harus menguras sumur dalam menggunakan botol."
Bao terkekeh, ia terbang mengelilingi Lin Xia Mei.
"Inang, Bao yakin kau bisa. Jangan putus asa."
"Hmmmmm" Lin Xia Mei menopang wajahnya.
"Inang, mungkin dengan menghabisi Wei Ji Xiang akan memiliki pengaruh besar."
Lin Xia Mei menatap Bao dengan datar.
"Ck, saranmu menyeramkan, Bao. Aku tidak ingin sampai harus menghilangnya nyawa. Wei Ji Xiang tidak salah, dia tidak layak kehilangan nyawa." tolak Lin Xia Mei.
Di dunianya, melihat darah hewan yang mati terlindas saja bisa membuat Lin Xia Mei ketakutan setengah mati, apalagi sampai harus menghilangkan nyawa.
"Inang, Bao pamit dulu." Dengan sekali kedip Bao pun menghilang.
"Hump, tidak pernah lama menemaniku. Dasar Bao!"
Setelah diam berpikir selama beberapa waktu, sebuah ide akhirnya datang.
"Aha!!!"
"Di duniaku, mayoritas laki-laki tidak suka pada perempuan boros, foya-foya dan berpenampilan buruk."
Merasa menemukan solusi, Lin Xia Mei tersenyum lebar, ia berdiri dan membuang napas dengan pelan.
"Aku akan mencobanya satu-satu, atau bisa juga digabung." ucapnya sambil mengangguk kecil berulang.
"Wei Zhu Chen, kita lihat. Aku akan berfoya-foya, membuang uangmu untuk hal tidak penting, apakah kau sanggup? Hahahahah. Lin Xia Mei bukan orang yang suka menghamburkan uang, tapi aku bukan dia." tawa Lin Xia Mei memenuhi ruang kamarnya.
"Kalau selingkuh, sama saja cari mati. Ah, di dunia ini banyak hal tidak penting yang bisa dilakukan untuk menghabiskan uang. Lin Xia Yi, kau memang pintar."