Dulu, Alya hanya gadis pendiam yang selalu menjadi sasaran ejekan di sekolah. Hari-harinya dipenuhi rasa takut, terutama karena Reno,ketua geng paling disegani sekaligus pria yang paling sering membuat hidupnya terasa menyakitkan. Bagi Alya, Reno adalah luka yang ingin ia lupakan selamanya.
Namun takdir mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berlalu.
Kini, Alya telah berubah menjadi wanita mandiri dan sukses, sementara Reno bukan lagi remaja arogan seperti dulu. Di balik sikap dinginnya, Reno menyimpan penyesalan yang tak pernah sempat ia ungkapkan. Pertemuan mereka kembali membuka kenangan lama, menghadirkan benci yang perlahan berubah menjadi perasaan yang tak terduga.
Bisakah seseorang yang pernah menyakitimu menjadi rumah terbaik untuk hatimu? Atau masa lalu akan tetap menjadi penghalang di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 — Pengakuan yang Mengacaukan Hati
“Aku jatuh cinta sama kamu sejak lama, Alya.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Alya bahkan setelah beberapa detik berlalu.
Ia hanya diam menatap Reno dengan jantung yang berdetak kacau.
Hujan mulai turun pelan di luar kafe, menciptakan suasana tenang yang justru membuat pengakuan itu terasa semakin nyata.
Reno tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun.
“Alya…” suaranya rendah dan lembut, “aku tahu aku nggak punya hak berharap kamu langsung percaya sama perasaanku.”
Alya menunduk pelan, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
“Kenapa baru bilang sekarang?”
“Karena dulu aku terlalu bodoh buat ngerti perasaanku sendiri.”
Reno tersenyum kecil pahit.
“Aku pikir kalau seseorang terus ada di pikiran aku, itu cuma rasa penasaran.” Tatapannya melembut. “Ternyata itu kamu.”
Dada Alya terasa sesak mendengar ketulusan di suara pria itu.
Bagian paling menyebalkan adalah—
Ia mulai mempercayainya.
“Aku benci kamu dulu,” bisik Alya lirih.
“Aku tahu.”
“Aku bahkan berharap nggak pernah ketemu kamu lagi.”
Reno menunduk pelan. “Aku juga tahu itu.”
“Tapi sekarang semuanya jadi rumit.”
Tatapan Reno kembali terangkat perlahan.
“Karena kamu mulai punya perasaan buat aku?”
Pipi Alya langsung memanas.
“Aku nggak bilang begitu.”
“Tapi kamu nggak menyangkal.”
Alya langsung kehabisan kata-kata.
Reno tertawa kecil melihat kepanikan wanita itu, lalu perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Aku nggak akan maksa kamu jawab sekarang,” katanya pelan. “Aku cuma pengen kamu tahu perasaanku.”
Suasana kembali hening beberapa saat.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alya merasa hatinya benar-benar tidak aman.
Karena semakin dekat dengan Reno, semakin sulit baginya untuk menjaga jarak.
Malam semakin larut saat Reno akhirnya mengantar Alya pulang.
Sepanjang perjalanan, Alya lebih banyak diam sambil menatap keluar jendela mobil.
Sementara Reno sesekali meliriknya dengan senyum tipis.
“Kamu jadi pendiam banget.”
“Aku lagi mikir.”
“Mikirin aku?”
Alya mendelik kesal meski wajahnya memerah.
“Kamu pede banget.”
“Karena aku tahu jawabannya iya.”
Alya mendesah pelan.
Dan itu justru membuat Reno tertawa kecil lagi.
Namun ketika mobil berhenti di depan apartemen Alya, suasana mendadak berubah.
Beberapa pria berpakaian hitam berdiri di depan lobi apartemen.
Tatapan mereka langsung mengarah pada Reno.
Rahang Reno seketika mengeras.
“Alya, jangan turun dulu.”
Nada suaranya berubah serius.
“Ada apa?” tanya Alya bingung.
Salah satu pria itu berjalan mendekat ke mobil lalu mengetuk kaca jendela Reno.
“Pak Reno,” katanya formal. “Tuan besar minta Anda pulang sekarang.”
Tatapan Reno dingin.
“Bilang aku sibuk.”
“Maaf, Pak.” Pria itu menunduk sedikit. “Kami diperintah membawa Anda pulang.”
Alya langsung merasa suasana menjadi tidak nyaman.
“Reno…”
“Tenang,” bisik Reno pelan pada Alya sebelum membuka pintu mobil.
Begitu keluar, Reno langsung berdiri di depan mobil seolah memastikan Alya tetap aman di dalam.
“Aku bilang aku nggak ikut,” ucap Reno tajam.
“Tuan besar marah besar karena berita hari ini.”
“Biarin.”
“Tolong jangan mempersulit kami, Pak.”
Alya bisa melihat jelas bagaimana Reno menahan emosinya.
Dan untuk pertama kalinya, ia sadar keluarga Reno benar-benar mencoba mengendalikan hidup pria itu.
Salah satu pria berpakaian hitam kemudian melirik ke arah Alya di dalam mobil.
“Ternyata ini perempuan itu.”
Tatapan pria tersebut membuat Alya merasa tidak nyaman.
Namun sebelum siapa pun bisa bicara lagi, Reno langsung berdiri lebih depan hingga menutupi pandangan mereka ke arah Alya.
“Jangan lihat dia.”
Nada suara Reno begitu dingin hingga suasana langsung menegang.
“Aku ikut pulang,” lanjut Reno akhirnya. “Tapi jangan ganggu Alya.”
Pria-pria itu langsung mengangguk hormat.
Sebelum pergi, Reno kembali mendekati jendela mobil Alya.
Tatapannya melembut lagi seolah dua sisi berbeda hidup dalam dirinya.
“Masuk apartemen sekarang.”
“Tapi kamu”
“Aku bakal baik-baik aja.”
Alya menggenggam tasnya erat.
Entah kenapa ia merasa sesuatu buruk akan terjadi.
Dan saat Reno mulai berjalan menjauh bersama orang-orang itu, dada Alya mendadak terasa sangat tidak tenang seolah ia akan kehilangan Reno lagi.
Alya tidak langsung masuk ke apartemennya.
Ia masih berdiri di depan lobi sambil memperhatikan mobil hitam yang membawa Reno pergi hingga menghilang di ujung jalan.
Perasaannya gelisah.
Sangat gelisah.
Malam itu, untuk pertama kalinya Alya benar-benar takut terjadi sesuatu pada Reno.
Sementara itu, suasana rumah keluarga Mahardika jauh lebih mencekam.
Begitu Reno masuk ke ruang kerja ayahnya, sebuah gelas langsung dilempar hingga pecah di dekat kakinya.
“Kurang ajar kamu!”
Suara keras sang ayah menggema memenuhi ruangan.
Reno tetap berdiri tegak tanpa ekspresi.
“Ayah udah bilang jauhi perempuan itu!”
“Namanya Alya,” jawab Reno dingin.
“Papa nggak peduli siapa namanya!” bentak pria paruh baya itu marah. “Dia cuma bikin reputasi keluarga kita hancur!”
Tatapan Reno langsung berubah tajam.
“Jangan bicara seolah Alya perempuan murahan.”
“Kamu membela dia sekarang?”
“Aku serius sama dia.”
Brak!
Ayah Reno memukul meja keras.
“Kamu mau melawan keluarga demi perempuan biasa?!”
Kalimat itu membuat Reno tersenyum sinis.
“Perempuan biasa yang Ayah hina itu jauh lebih baik daripada semua orang di rumah ini.”
Suasana langsung membeku.
Ibu Reno yang sejak tadi diam terlihat terkejut mendengar ucapan putranya.
“Reno…” ucap wanita itu pelan.
Namun Reno sudah terlalu marah untuk menahan dirinya.
“Seumur hidup aku selalu nurut sama apa yang Ayah mau.” Tatapannya dingin penuh luka. “Sekali ini aja, aku pilih hidup aku sendiri.”
Ayahnya mengepalkan tangan kuat-kuat.
“Kalau kamu tetap bersama perempuan itu…” suaranya rendah penuh ancaman, “jangan harap dapat apa pun dari keluarga ini.”
Namun Reno justru tertawa kecil.
Tawa pahit yang terdengar lelah.
“Kalau harus kehilangan semua demi Alya…” ia menatap ayahnya tanpa takut sedikit pun, “aku rela.”
Deg.
Bahkan ibunya langsung terdiam mendengar ketegasan itu.
Untuk pertama kalinya, mereka melihat Reno benar-benar serius terhadap seseorang.
Di apartemennya, Alya masih belum bisa tidur.
Ia terus melihat layar ponselnya, berharap Reno memberi kabar.
Namun tidak ada pesan.
Tidak ada telepon.
Jam sudah menunjukkan pukul satu malam ketika akhirnya ponsel Alya berdering.
Nama Reno muncul di layar.
Alya langsung mengangkatnya cepat.
“Reno?!”
Namun yang terdengar justru suara asing.
“Maaf… apa benar ini pemilik kontak terakhir Pak Reno?”
Jantung Alya langsung terasa jatuh.
“I-iya…”
“Kami dari rumah sakit.”
Dunia Alya seolah berhenti berputar saat.
“Pak Reno mengalami kecelakaan.”
Ponsel di tangan Alya langsung gemetar hebat. Tanpa berpikir panjang, ia segera mengambil jaket dan berlari keluar apartemen menuju rumah sakit, sementara pikirannya dipenuhi ketakutan buruk yang terus menghantuinya sepanjang perjalanan malam itu.Air matanya berjatuhan deras.