Bertahan atau melangkah pergi?
Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?
Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
00^29
Karena hidup di bawah aturan orang lain itu sungguh menyiksa batin, hingga tidak sanggup bergerak dengan keinginannya sendiri. Dan untungnya, 'penolakan' sangat mudah terucap tanpa berpikir jika hal itu menyebabkan resiko besar dalam kehidupan. Walau mengakhiri pun juga akan sulit untuk mencapai kesepakatan. Sampai, kehilangan menjadi faktor utama sebuah rasa penyesalan.
Terus melangkah saat ketua kelas memberi tahu jika kepala sekolah ingin bertemu dengannya. Hal itu membuat ujung bibirnya sesekali naik ke atas, karena diri sudah tahu, jika apa yang akan terjadi.
Diam sejenak saat kaki tiba di salah satu ruangan khusus para guru. Tapi ini ruangan kepala sekolah. Masuk tanpa mengetuk pintu adalah salah satu sikap pemberontakan dari seorang gadis yang tidak takut sama sekali akan hukuman tanpa tertulis.
Tersenyum singkat dengan tangan kanan kembali menutup rapat pintu ruangan itu. Sebelum berjalan mendekat, hingga berdiri tepat di meja kerja milik kepala sekolah.
"Tidak seperti biasanya kau menganggil ku kemari. Apa itu sangat penting?" Tanpa basa-basi, gadis itu mencetuskan perkataannya dengan kedua alis sekilas naik ke atas.
"Austyn," diam, membenarkan lebih dulu posisi duduknya tanpa melepas kacamata bulat yang bertengger di tukang hidungnya. "Apa kau butuh bantuan ku?"
Diam, bukan berarti Austyn tidak mengerti dengan kalimat dari kepala sekolah. Karena Austyn tengah berusaha untuk tidak tertawa melihat wajah kepala sekolah. Seperti tengah memohon pada Austyn. Agar tidak mengatakan pada siapapun akan hal yang telah Austyn tahu.
"Apa penjaga perpustakaan itu memberitahu mu? Jika__"
"Kunci jawaban soal ujian? Kau memerlukannya bukan?" Tidak begitu cepat kepala sekolah menyela perkataan dari Austyn.
"Dengan syarat, hapus rekaman itu." Bukan kepala sekolah, melain Austyn sendiri yang mengatakannya sebagai tebakan di kepalanya.
"Rekaman apa yang kau maksud?" Tanya kepala sekolah yang entah di sengaja hanya untuk berpura-pura bodoh, atau memang tidak tahu.
Itu membuat Austyn menyemburkan tawanya renyahnya yang sangat hambar. "Kau tidak akan menawari ku kunci jawaban jika tidak tahu soal rekaman di mana dirimu dengan penjaga perpustakaan yang begitu menjijikan. Bagaimana bisa seorang kepala sekolah yang sangat dipercaya para wali murid, melakukan__"
Lembar kertas yang kini diletakkan di atas meja oleh kepala sekolah ampuh membuat Austyn diam tidak melanjutkan perkataannya. Tapi Austyn tidak akan segampang itu menarik kesimpulan jika menerima sogokan berupa kunci jawaban pilihan yang tepat.
"Kau hanya perlu menutup mulut mu dan berikan handphone mu padaku." Pinta kepala sekolah yang terselip sebuah ancaman.
"Handphone? Untuk apa aku memberikan handphone ku padamu?" Rendah Austyn dengan menaikan sekilas kedua alisnya. Mulai merasa curiga, hingga membuat diri waspada. Karena mungkin saja, kepala sekolah akan melakukan hal gila kepada Austyn.
"Aku tidak bisa mempercayai jika kau menghapus apa yang telah kau rekam." Seru kepala sekolah yang tidak begitu tinggi.
"Ahh, itu_" kening Austyn mengerut samar, walau sesaat. "Tapi, bukankah aku juga tidak bisa mempercayai? Jika kunci jawaban yang kau berikan itu sangat akurat. Mungkin saja, dan itu bisa terjadi__ kau memberiku kunci jawaban yang berbeda."
Saling pandang dengan sorot mata berbeda.
Hingga satu ide terlintas di kepala Austyn. "Bagaimana jika, kau menghapusnya jika ujian itu berakhir?"
"Apa?" Gumam kepala sekolah yang sangat spontan.
"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan memberitahukannya pasa siapapun. Terkecuali, jika kau tidak memberiku kunci jawaban setiap ujian pengambilan nilai berlangsung." Memberi tawaran menarik adalah suatu ancaman dari Austyn.
"Kau sudah gila?" Teriak kepala sekolah yang tertahan.
"Bukankah itu menguntungkan kita berdua?" Sangat santai, begitu enteng seperti kapas yang berterbangan. Kalimat itu keluar dari mulut Austyn.
"Austyn."
"Apa ini juga salahku, karena telah merekam mu? Bukankah itu salahmu? Kenapa kau tidak tahu tempat?" Cepat Austyn yang tidak ingin kalah dari kepala sekolah. Tanpa peduli jika wanita itu jauh lebih dewasa dari Austyn.
Tersenyum masam, mengambil lembar kertas itu dengan santai. "Kau diam, sama artinya kau menyetujuinya."
Sebentar melihat kepala sekolah, sebelum memutar tumit dan berjalan keluar dari ruangan itu tanpa menunggu sedikit pun respon dari wanita dewasa yang kini hanya bisa mengepalkan kedua tangannya di atas meja dengan pandangan lurus menatap pintu ruangannya yang telah tertutup rapat dari luar.
Tersenyum puas melihat lembar kunci jawaban yang kini terlipat menjadi dua di tanganya, tanpa menghentikan langkah kakinya yang berjalan di lorong kelas. Melewati beberapa murid lalang di sekitarnya.
Tapi, saat berada di belokkan lorong kelas Austyn tubuh Austyn tersentak dengan langkah kaki yang spontan terhenti. Melihat seorang murid perempuan yang hanya diam, menatap Austyn sangat datar.
"Ada apa dengan mu?" Tanya murid itu, yang langsung menbuat Austyn menyembunyikan lipatan kertas itu di belakang tubuhnya. Dan untungnya, sang murid tidak mencurigainya sama sekali.
"Me-mangnya aku kenapa?" Sedikit gugup, Austyn membalikkan pertanyaannya.
"Kau tidak datang ke ruang seni, seharusnya kau ada di sana jika tidak ingin mendapat nilai rendah." Alis gadis itu sedikit terangkat. Dia, Yuna. "Apa kau ingin mengacaukan nilai teman satu kelompok mu?"
Diam sejenak sebelum membuka kembali mulutnya untuk mengimbuhkan perkataannya. "Jika kau tidak perduli dengan hal itu, keluarlah."
"Kau bukan guru seni yang bisa mengeluarkan anggota kelompok. Jadi aku akan ke sana untuk presentasi." Tanggap Austyn yang merasa kesal sendiri. Walaupun Austyn tahu, jika itu memang salahnya. Karena guru seni sudah memberitahu para muridnya untuk datang keruangan seni saat istirahat berlangsung.
Tapi, kepala sekolah juga salah bukan di sini? Tidak seharusnya wanita itu menemui Austyn di saat jam pelajaran berlangsung.
"Untuk apa kau ke sana? Jika kelompok itu sudah dibubarkan." Tak kalah kesalnya Yuna membalas.
"Apa maksud mu?"
"Tugas itu sudah selesai, jadi untuk apa kelompok itu di pertahankan." Tidak begitu cepat Yuna menimpalkan perkataannya.
"Terus, bagaimana dengan nilainya." Khawatir Austyn. Karena ia tidak ingin mendapatkan nilai paling rendah di antara tenan-temannya. Itu akan membuat ibunya semakin murka dengan dirinya.
"Sangat sempurna. Tapi tidak dengan milik mu." Balasnya yang ampuh membuat Austyn gelisah. "Karena absensi itu juga sangat penting Austyn. Jika nilai mu bagus, tapi absensi mu buruk-- bukankah itu tidak seimbang sama sekali?"
Tanpa memberi tanggapan Austyn berlari ke arah ruang seni berada, hanya ingin memastikan jika guru seni itu tidak memberinya nilai di bawah rata-rata. Jika sampai tiu terjadi, tamat sudah riwayat Austyn di tangan ibunya.