Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
“Gita, Papa minta maaf, ya,” ucap Rafka sambil berjongkok di hadapan putrinya. Kedua tangannya memegang lengan kecil Gita dengan lembut, seolah ingin menyalurkan rasa bersalah yang tak bisa dia ucapkan sepenuhnya. “Hari ini kita tidak jadi pergi ke kebun binatang.”
Wajah Gita yang sejak pagi berseri-seri, mendadak meredup. Senyum kecil yang tadi melekat perlahan runtuh. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan sesuatu yang ingin pecah.
Sejak sebulan lalu, hari ini adalah hari yang paling di tunggu sama Gita. Hari yang dia hitung dengan coretan kecil di kalender dinding. Lalu, pagi ini dia juga mandi sendiri dan memilih pakaian terbaik miliknya.
“Kenapa batal, Pa?” tanya Gita pelan. Suaranya gemetar, tapi dia berusaha terdengar kuat. Dia tahu papanya tidak suka anak yang cengeng.
Rafka menelan ludah. Ada dorongan untuk memeluk putrinya erat-erat dan membatalkan semua rencana lain. Namun, pikirannya terbelah antara anak yang menatapnya dengan harapan, dan janji terlarang yang sudah dia ucapkan pada perempuan lain.
“Papa ada acara mendadak,” jawab Rafka akhirnya. “Liburannya kita pindahkan ke minggu depan, ya?”
Gita mengangguk kecil. Bukan karena setuju, tetapi karena dia tidak ingin mengecewakan papanya lebih jauh. Air matanya jatuh satu, cepat-cepat dia seka dengan punggung tangan.
Dari ambang pintu, Kirana memperhatikan semuanya. Hatinya seperti diremas. “Ada apa ini? Kok, Gita kelihatan sedih?” tanyanya, meski sebenarnya dia sudah menebak.
Rafka berdiri dan tersenyum kaku. “Sayang, aku lupa bilang semalam. Hari ini aku ada acara sama teman sekantor. Jadi rencana ke kebun binatang harus ditunda.”
Kirana mengernyit. “Acara yang sangat penting, Mas?”
“Iya,” jawab Rafka cepat. “Mas juga baru tahu kemarin.”
Ada nada yang terasa janggal, tetapi Kirana memilih diam. Dia menahan kecewa lagi. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk anaknya.
Kirana berjongkok di depan Gita, mengusap pipi kecil yang masih basah. “Nggak apa-apa, ya, Sayang. Kita ganti rencananya. Kita jenguk dede bayinya Tante Dina, yuk?”
Mata Gita terangkat sedikit. “Baby L?”
“Iya. Sekarang Baby L sudah bisa tengkurap,” jawab Kirana lembut.
Wajah Gita perlahan berubah. Ada cahaya kecil kembali menyala. “Aku mau lihat,” katanya pelan, seolah takut harapannya kembali dipatahkan.
Kirana tersenyum dan memeluk putrinya. Di dalam dadanya, ada rasa perih yang mengendap karena sekali lagi, kebahagiaan anaknya harus diganti, bukan dipenuhi.
Rafka akhirnya pergi bersama Kinanti dan Ara menuju sebuah mal besar yang ada di pusat kota mereka. Jaraknya jauh dari rumah dan membuatnya merasa aman dari tatapan orang-orang yang mengenalnya.
Kinanti menggenggam tangan Rafka erat, jemarinya menyelip di sela-sela jari pria itu. Senyum di wajahnya penuh kemenangan. Ara berjalan di depan mereka, melompat-lompat kegirangan, seolah mereka benar-benar sebuah keluarga utuh yang bahagia.
“Mas, aku mau yang itu,” ujar Kinanti sambil menunjuk sebuah tas hitam berukuran sedang dengan detail elegan. Logo kecil berkilau di sudutnya menandakan harga yang tak ramah.
Rafka mendekat, membaca banderol harga. Matanya membelalak. “Ini beneran harganya lima puluh juta?”
Kinanti mengangguk ringan. “Iya. Ini keluaran terbaru.”
Rafka menarik napas panjang. Angka itu menari di kepalanya. Uang yang dia dan Kirana kumpulkan sedikit demi sedikit untuk merenovasi rumah, untuk mimpi membeli mobil agar mudah ketika bepergian sekeluarga.
“Apa nggak ada yang lain?” tanya Rafka ragu.
“Aku maunya yang ini,” jawab Kinanti, suaranya melunak, nyaris merengek. Tangannya merangkul lengan Rafka, menempelkan tubuhnya lebih dekat. “Boleh, ya, Mas?”
Rafka terdiam lama. Ada pergulatan hebat di dadanya. Akhirnya, dia mengangguk. “Baiklah. Tapi ini yang terakhir.”
Kinanti tersenyum lebar.
Rafka menyerahkan kartu. Tangannya sedikit bergetar. Dengan satu gesekan, tabungan masa depan keluarganya berpindah tangan.
Setelah itu, Mereka pergi ke Timezone. Kinanti berjongkok di depan Ara.
“Ara, kamu main di sini, ya. Jangan ke mana-mana. Mama sama Om Rafka ada urusan sebentar.”
Ara mengangguk ceria. Dia malah senang karena area bermain itu penuh warna dan mainan. Kinanti menitipkan Ara pada seorang karyawan, menyelipkan uang agar anak itu diawasi.
Rafka dan Kinanti pun pergi, meninggalkan hiruk-pikuk mal yang perlahan memudar di belakang mereka. Hotel itu berdiri tak jauh dari mall. Gedung tinggi, dingin, dan anonim, seolah diciptakan khusus untuk menyimpan rahasia. Begitu pintu kamar tertutup dengan bunyi klik pelan, dunia di luar seakan lenyap.
Kinanti menyandarkan punggungnya ke pintu. Matanya menatap Rafka tanpa berkedip, senyum tipis terbit di sudut bibirnya.
“Mas capek?” tanyanya lirih, suaranya mengalir lembut seperti bisikan yang disengaja.
Rafka menelan ludah. “Sedikit,” jawabnya jujur, meski yang ia rasakan bukan sekadar lelah.
Kinanti melangkah mendekat. Jarak di antara mereka menghilang perlahan. Tangannya menyentuh lengan Rafka, mengusap ringan, lalu berhenti di dada pria itu.
“Biar aku yang bikin Mas rileks,” katanya pelan.
Rafka tidak menjawab. Ia hanya menarik napas panjang, seolah sedang berusaha menenangkan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya.
Kinanti membaca keraguan itu dengan baik. Ia tersenyum, lalu meraih tangan Rafka dan menggenggamnya.
“Mas selalu tegang kalau sama aku,” ucap Kinanti, nada suaranya setengah menggoda. “Kenapa, sih?”
“Bukan begitu,” sahut Rafka cepat, lalu berpaling sejenak. “Aku cuma kepikiran orang rumah.”
Kinanti tertawa kecil, lalu mendekatkan wajahnya. “Di sini, Mas tidak perlu memikirkan siapa pun. Cuma ada kita.”
Kinanti menuntun Rafka duduk di tepi ranjang. Duduk di hadapannya, Kinanti menatap wajah pria itu dengan penuh perhatian yang sengaja dibuat terasa istimewa.
“Aku cuma ingin Mas bahagia,” kata Kinanti lembut. “Apa itu salah?”
Rafka memejamkan mata. Sentuhan Kinanti di tangannya terasa hangat, menenangkan, sekaligus berbahaya.
“Kamu selalu tahu caranya merayu,” gumam Rafka.
Kinanti tersenyum, lalu mendekat lagi. “Karena aku tahu apa yang Mas butuhkan.”
Waktu berjalan tanpa terasa. Di dalam kamar itu, Rafka larut dalam suasana yang sengaja Kinanti ciptakan. Wanita itu penuh perhatian, penuh godaan, penuh rayuan yang memabukan. Kinanti berusaha keras menyenangkan Rafka, memastikan pria itu merasa diinginkan, dihargai, dan dimenangkan dari keraguannya sendiri.
“Mas jangan tegang begitu,” bisik Kinanti di sela napasnya. “Nikmati saja.”
Rafka mengangguk pelan, mencoba menyingkirkan suara-suara di kepalanya. Namun di sela detik yang seharusnya memabukkan, bayangan wajah Gita yang menahan tangis tadi pagi menyusup tanpa ampun. Lalu, di susul oleh wajah Kirana yang tersenyum tipis.
Rafka membuka matanya tiba-tiba. Napasnya tercekat.
“Kamu kenapa?” tanya Kinanti, alisnya berkerut. “Mas sakit?”
“Tidak,” jawab Rafka cepat, meski suaranya terdengar goyah.
Kinanti mendekat lagi, kali ini memeluknya erat. “Jangan mikir yang lain. Aku di sini.”
Pelukan itu hangat. Menenangkan. Sekaligus menjerat. Rafka akhirnya menutup mata lagi, membiarkan dirinya tenggelam. Bukan karena rasa bahagia, melainkan karena lelah melawan. Rasa bersalah itu tidak pergi. Ia hanya disenyapkan sementara dan ditimbun oleh pelukan dan bisikan manis.
Di balik keintiman yang terasa nyata, ada kehampaan yang menganga. Dan jauh di lubuk hatinya, Rafka tahu, setiap detik yang ia habiskan di kamar ini adalah luka baru yang ia torehkan pada keluarganya sendiri.
Sementara itu di sebuah rumah sederhana, Kirana dan Gita duduk berhadapan dengan seorang bayi laki-laki yang mungil. Baby L tengkurap, berusaha mengangkat kepala, lalu terjatuh lagi dengan bunyi kecil yang lucu.
“Lucu!” seru Gita sambil tertawa gemas.
Baby L menggerakkan tangan dan kakinya, mengeluarkan suara protes yang mengundang tawa. Kirana ikut tertawa, meski ada sendu yang mengendap di matanya.
“Dulu Gita juga begitu,” kata Kirana pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Dia menatap putrinya dengan penuh cinta. Anak ini selalu belajar menahan perasaan, belajar mengalah, dan belajar kuat.
Gita menoleh. “Ma, nanti minggu depan kita jadi ke kebun binatang, kan?”
Kirana terdiam sejenak. “Iya, Sayang.”
Kirana memeluk Gita erat. Di dalam pelukan itu, ada doa yang tak henti dia panjatkan agar suatu hari, anaknya tidak perlu belajar kecewa terlalu sering.
Di dua tempat yang berbeda, pada waktu yang sama, dua dunia berjalan berlawanan arah. Satu dipenuhi tawa polos dan cinta sederhana, yang lain dibangun di atas kebohongan yang perlahan menggerogoti segalanya.
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏