NovelToon NovelToon
Sistem: Peluang 100%

Sistem: Peluang 100%

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Naik Kelas
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]

Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Hutang Lama

Matanya menatap Fais. Bukan lagi menatap rekan bisnis yang nyaris bangkrut sejam lalu. Bukan menatap kawan senasib.

Ia menatap anomali. Ia menatap monster yang memakai kulit manusia.

Ketakutan absolut merayap dari pangkal leher wanita itu. Menjalar cepat ke sepanjang punggungnya.

Tapi aneh. Sangat aneh.

Itu bukan jenis ketakutan yang membuat lutut lemas tak bertulang. Bukan ketakutan remeh yang membuat perut mual dan keringat dingin bercucuran.

Ketakutan itu justru memompa jantungnya liar. Berdegup kencang. Menghantam tulang rusuknya dari dalam seperti palu godam.

Darahnya mendidih.

Semua lisensi mereka lolos.

Jalur distribusi mereka bersih.

Persetujuan gudang raksasa itu ditandatangani. Tanpa satu pun campur tangan birokrasi manusia. Semuanya terhapus otomatis.

Hanya dalam rentang waktu yang terlalu ringkas untuk sebuah kebetulan di atas kertas.

Fais merapikan lengan kemejanya. Gesturnya teratur.

Wajah pria itu sedatar aspal jalanan malam.

"Kita selesaikan urusan hutang lama," ucap Fais.

Suara itu datar. Kosong dari emosi dan euforia kemenangan.

Sri menganga. Kelopak matanya tertarik mundur, kaku.

"Kita ke tempat Wawan," tambah Fais lagi.

Satu kalimat itu diucapkan tanpa keraguan.

Dan kewarasan Sri rasanya baru saja ditendang jauh ke dasar jurang.

Ia nyaris tersedak pasokan oksigennya sendiri di ruangan itu. "Ke... ke tempat Wawan?"

Fais menoleh pelan. Membalas tatapan itu dengan tatapan mata mati. "Ya."

Otak Sri berputar paksa. Ia mencari pijakan logika darurat.

Wawan bukan preman kampung murahan. Wawan adalah tangan besi distrik ini. Penguasa yang memiliki jabatan di militer.

Dan Fais mau datang ke sana? Malam ini? Menyerahkan leher ke mulut serigala?

Sri menelan ludah mentah-mentah.

Ia makin yakin. Seratus persen yakin dan paten.

Fais pasti punya bayangan raksasa di belakang punggungnya. Ada dukungan yang begitu masif, begitu gelap dan mutlak, sampai sistem kota tunduk tanpa syarat padanya malam ini.

Dukungan mengerikan yang membuat pria di depannya ini tidak punya rasa gentar mendatangi lumbung peluru sang bandar.

Tapi Sri salah menebak isi kepala Fais.

Bagi Fais, ini bukan soal keberanian buta. Ini murni kalkulasi. Kalkulasi di atas meja kematian.

Fais tidak pernah bertaruh menggunakan insting. Ia bertaruh dengan hukum angka.

Garis-garis neon biru berkedip liar di retina matanya. Tumpang tindih merobek ruang hampa.

Hanya ia yang bisa melihat panel sistem itu. Angka-angka berbaris merangkum tata bahasa semesta.

Sistem sedang membaca segalanya. Membaca angin, membaca perilaku manusia, membaca roda probabilitas nasib.

Jalur tercepat.

Waktu terbaik.

Respons optimal dari otak musuh saat ditekan kepanikan parsial.

Semuanya dikunyah habis oleh algoritma.

Teks mengambang stabil di udara kosong. Menyapu kornea Fais dengan cahaya statis yang dingin.

[Probabilitas Negosiasi Berhasil: 83%]

Angka itu tidak berubah. Stabil.

Satu baris perintah tambahan muncul tepat di bawahnya. Menghapus keraguan sekecil sel.

[Rekomendasi: Datang malam ini.]

Fais berkedip lambat. Menutup paksa jendela antarmuka itu.

Delapan puluh tiga persen sudah lebih dari cukup. Delapan puluh tiga persen adalah rasio di mana kau meletakkan nyawamu sendiri di meja judi, dan pulang membawa kepala musuhmu.

"Ayo," tegur Fais. Kakinya sudah melangkah lebih dulu ke daun pintu. "Jangan buang waktu yang tersisa."

***

Mesin sedan hitam menyala lambat. Membelah jalanan beton distrik yang kusam memantulkan lampu jalan.

Sepanjang perjalanan, kabin mobil terasa seperti ruang tunggu eksekusi. Sepi.

Sri diam. Ia mengunci bibirnya. Jantungnya masih memompa darah dengan tempo balap. Ia mencengkeram sabuk pengaman di dada kirinya erat-erat.

Sesekali ia melirik Fais.

Pria di kursi kemudi itu menyetir santai. Matanya tertuju lurus ke kap mobil dan aspal raya.

Tenang. Tenang yang luar biasa menyebalkan. Tenang yang sanggup meruntuhkan mental lawan bicara.

Sedan itu berbelok patah di perempatan tergelap. Mengarah ke sebuah blok kawasan niaga yang dihindari aparat.

Gedung tinggi bermaterial beton kokoh menjulang di ujung aspal. Membelah angkasa hitam dengan bentuk monotonnya.

Itu markas utama Wawan.

Malam ini, jadwal harian bos besar itu berstatus terkunci merah.

Tidak ada penerimaan tamu. Tidak ada kolega luar. Tidak ada transaksi abu-abu.

Akses jalan masuk diputus paksa. Keamanan ditarik merapat ke lapisan terdalam gedung.

Tapi sedan Fais meluncur mulus bak membelah mentega. Ban mobilnya bergesekan tajam dengan pelataran lobi marmer. Berhenti di area steril.

Lampu depan menyorot gerombolan pria di anak tangga kaca.

Lima penjaga bertubuh balok langsung menegang parah.

Tangan mereka serentak merogoh balik jas gelap. Mengamankan laras pistol otomatis dan gagang pisau dari sarungnya. Siaga penuh.

Tapi otot mereka tertahan. Mereka menatap badan sedan hitam itu dengan pandangan bingung. Luar biasa bingung.

Lokasi presisi tempat bos mereka bersembunyi malam ini adalah informasi rahasia. Tertutup dari radar distrik. Sinyal dikacaukan sejak matahari terbenam.

Bagaimana mobil hitam ini bisa melenggang sampai ke depan pintu utama? Bergerak menembus lapis penjagaan bayangan seolah dipandu oleh satelit militer?

Tidak ada satu pun dari mereka yang berani melepas tembakan lebih dulu.

***

Tiga puluh lantai di atas aspal jalanan.

Ruang kerja raksasa berdinding kaca menyajikan hamparan lampu distrik yang berkedip layaknya kunang-kunang di ambang maut.

Wawan menyandar di kursi kulitnya. Tangan kanannya sedang menyesap cairan amber dari gelas kristal.

Telepon interkom di ujung mejanya mendadak menjerit. Nyaring. Berisik.

"Bos." Suara parau penjaga bawah memecah lapisan keheningan ruang pimpinan itu. "Ada Fais di lobi. Dia memarkir mobil. Dia naik."

Tangan Wawan membeku total.

Gelas kristal di genggamannya berhenti di udara. Cairan mahal itu beriak membentur tepian gelas berulang kali.

Raut wajah pria paruh baya itu luntur seketika. Senyum pongahnya tersapu bersih. Ditelan remang pencahayaan.

Otaknya dipaksa bekerja memproses kalimat tak masuk akal itu.

Fais ada di lobi. Memasuki wilayah absolutnya. Menembus titik buta pengawasan kota tanpa izin satupun pionir jalanan.

Itu mustahil. Itu menabrak hukum rantai makanan distrik.

Logika tua Wawan berputar buntu.

Ia menolak mentah-mentah jika ini hanyalah keberuntungan buta.

Tidak ada orang yang bisa melacak sarangnya secepat durasi putaran jarum jam. Tidak ada.

Kecuali, ada intervensi dari pemain yang menduduki strata puncak piramida rahasia distrik ini. Entitas yang sanggup meretas sistem dan meruntuhkan birokrasi perizinan tanpa meninggalkan satu sidik jari pun.

Napas Wawan memberat. Dadanya naik turun menyedot oksigen.

Ia yakin sekarang. Titik asumsinya berlabuh pada satu kesimpulan mutlak.

Ada monster raksasa menaungi pemuda tengik bernama Fais itu. Ada dalang brutal yang sedang menarik tali takdir dari ruang tanpa cahaya.

Dan monster itu memutuskan untuk mengetuk pintu depannya malam ini juga.

Wawan menurunkan gelasnya ke meja lambat-lambat. Telapak tangannya kini dingin oleh keringat.

"Biarkan dia masuk."

***

Lantai eksklusif direksi. Di depan lift utama.

Lorong beton panjang berpenerangan temaram itu mendadak padat. Disesaki penjaga bersenjata lengkap yang ditarik untuk membentengi koridor.

Pagar manusia berdinding moncong baja panas.

Udara di lorong itu memadat. Tersedot habis oleh ketegangan psikologis penghuninya.

Lampu digital di atas pintu baja berdenting.

Satu per satu angka merah menyala merambat naik. Berhenti di lantai teratas.

TING.

Harmoni logam dikokang serentak mendominasi udara. Belasan moncong senapan diangkat sejajar dengan dada. Menunggu target.

Pintu baja ganda itu bergeser pelan. Menciptakan celah yang melebar pelan.

Fais melangkah keluar dari lambung besi lift.

Sepatunya menghantam keramik lantai dengan ritme mematikan. Konstan.

Wajah Fais lurus. Matanya sedingin balok es yang dikubur belasan tahun.

Ia memandang lurus menembus barikade. Ia tidak melirik ujung-ujung senapan yang mengincar ubun-ubunnya sama sekali.

Fais berjalan lurus. Ia berjalan. Ia terus membelah lorong dengan bahu tegap tanpa keraguan setipis debu pun.

Tidak ada letusan. Tidak ada proyektil timah yang terbang menyobek dinding dada.

[Peluang mereka menembak: 0%]

Ia lanjut berjalan. Senjata-senjata itu tak pernah sampai tepat pada mereka. Ada belenggu yang menahan senjata itu dilontarkan.

Dan itu, sedang menyambutnya.

1
ghost
novel ga jelas...ga usah di baca
Ironside: Terima kasih /Joyful/, kalau boleh tahu. Apa yang perlu aku perbaiki?
total 1 replies
ghost
novel tolol
Ironside: Oke /Smile/
total 1 replies
Cecilia
up heii, udh nunggu agak lama masih 25 chapter. 200 chapter lah kakk
Ironside: Apa-apaan kamu Kak /Curse/. Aku sedang revisi /Scream/
total 2 replies
Gege
kan bisa turun di ruangan fitness apartemen, lari diatas tritmil Thor...🤣🤣
Ironside: Iya sih /Facepalm/
total 1 replies
Gege
pelit bener systemnya Thor...dimana mana ada system buat memudahkan, dan banyak cheat..hiburan harapan dalam bentuk tulisan yang mengalir ringan..🤣
Ironside: Untuk perkembangan sifat MC juga, karena pengalamannya sebatas tukang bangunan aja 😆.
total 1 replies
Cecilia
mana Insectnya kak
Ironside: Tidak ada /Scream/
total 1 replies
Yui
Akhirnya setelah 3x bulan purnama, author ini bikin nopel yang ada insectnya /Proud//Proud/
Ironside: Sembarangan /Curse//Curse//Curse/, tidak ada insect di sini /Grievance/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!