Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.
Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.
Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARTA KARUN TANPA HARGA
Bulan purnama bersinar terang di langit malam kampung Cibuntu, menyinari lapangan di bawah pohon beringin dengan cahaya yang lembut namun cukup jelas untuk melihat sekeliling. Udara malam terasa sejuk dan segar, bercampur aroma bunga bakung yang tumbuh di sekeliling lapangan dan sedikit aroma dupa yang dinyalakan Kakek Darmo di atas nampan kecil yang diletakkan di bawah pohon. Evan duduk bersila di sisi leluhurnya, tubuhnya masih sedikit lelah setelah berlatih gerakan beladiri yang lebih kompleks malam itu, namun pikirannya tetap jernih dan siap untuk menerima apa pun yang akan diajarkan Kakek Darmo.
Setelah beberapa saat berdiam diri menikmati keindahan malam hari, Kakek Darmo mulai berbicara dengan suara yang dalam dan penuh makna. "Evan, cucu... sudah beberapa bulan sejak kamu mulai belajar ilmu beladiri dan pengobatan dari saya. Kamu telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa – tidak hanya dalam kemampuan fisik dan pengetahuanmu tentang tanaman obat, namun juga dalam kesabaran, kedisiplinan, dan cara kamu melihat dunia di sekitarmu."
Evan mengangguk dengan rasa hormat, tidak berani mengucapkan sepatah kata pun karena merasa bahwa Kakek Darmo akan mengatakan hal yang sangat penting.
"Sejak zaman nenek moyang kita yang pertama menemukan ilmu ini," lanjut Kakek Darmo sambil melihat ke arah bulan yang terang itu, "warisan ini telah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan aturan yang sangat ketat. Banyak orang yang telah datang kepada kita dengan harapan untuk belajar ilmu ini – beberapa dengan niat yang benar, namun banyak juga yang datang dengan hasrat untuk mendapatkan kekuatan agar bisa menyakiti orang lain atau menunjukkan keunggulan diri mereka."
Ia mengambil sehelai daun sirih merah dari saku sarungnya, memegangnya dengan hati-hati seperti memegang sesuatu yang sangat berharga. "Ilmu yang kita pelajari ini bukanlah barang dagangan yang bisa dibeli dengan uang atau diperoleh dengan paksaan. Ia adalah harta karun tanpa harga yang hanya bisa diberikan kepada orang yang memiliki hati yang baik dan siap untuk membawa tanggung jawab yang besar yang melekat padanya."
Kakek Darmo berbalik menghadap Evan dengan tatapan yang sangat serius, matanya bersinar seperti bintang di bawah sinar bulan. "Ada tiga syarat utama yang harus dipenuhi oleh siapa saja yang ingin menerima warisan ini secara penuh, cucu. Syarat pertama adalah memiliki hati yang bersih dari hasrat untuk menyakiti orang lain – hati yang selalu ingin membantu yang lemah dan menjaga kedamaian di sekitarnya."
Ia menghitung jari telunjuknya dengan jempolnya. "Syarat kedua adalah memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi – siap untuk menggunakan ilmu ini hanya untuk kebaikan dan siap untuk menjawab atas setiap tindakan yang dilakukan dengan menggunakan ilmu ini. Kita tidak bisa menggunakan kekuatan yang kita miliki dengan seenaknya dan kemudian menyalahkan orang lain jika ada yang salah."
Kemudian ia menghitung jari tengahnya. "Dan syarat ketiga yang paling penting adalah memiliki kesediaan untuk melestarikan dan meneruskan warisan ini kepada generasi berikutnya – hanya kepada mereka yang juga memenuhi syarat yang sama. Karena warisan ini bukan milik kita sebagai individu melainkan milik seluruh komunitas dan harus dilestarikan agar bisa memberikan manfaat bagi banyak orang selama berabad-abad yang akan datang."
Evan mendengarkan dengan penuh perhatian, setiap kata yang keluar dari mulut Kakek Darmo seperti guntur yang menggelegar di dalam hatinya. Ia mulai menyadari bahwa apa yang telah dia pelajari selama ini bukan hanya sekadar keterampilan atau pengetahuan – ia adalah amanah yang sangat besar yang diberikan kepadanya oleh leluhurnya.
"Kakek," ujar Evan dengan suara yang sedikit gemetar namun penuh tekad, "apakah saya sudah memenuhi syarat-syarat itu? Apakah saya layak untuk menerima warisan ini secara penuh?"
Kakek Darmo tersenyum lembut, kemudian menepuk bahu Evan dengan tangan yang penuh kasih sayang. "Kamu masih muda, cucu, dan masih ada banyak hal yang harus kamu pelajari dan alami sebelum bisa mengatakan bahwa kamu telah memenuhi semua syarat dengan sempurna. Tapi berdasarkan apa yang saya lihat selama ini – dari cara kamu membantu Pak Jono sembuh, dari kesabaranmu ketika berlatih setiap pagi, dan dari cara kamu memperlakukan setiap orang di kampung dengan hormat dan kasih sayang – saya yakin bahwa kamu memiliki potensi untuk menjadi penerus yang layak bagi warisan ini."
Ia berdiri perlahan dan mengajak Evan untuk berdiri bersama-samanya di tengah lapangan. Di bawah pohon beringin yang besar itu, Kakek Darmo melakukan gerakan yang Evan belum pernah lihat sebelumnya – serangkaian gerakan yang lambat namun penuh dengan kekuatan tersembunyi, seolah ia sedang menari dengan alam sekitarnya. Setiap gerakan diiringi oleh napas yang terkontrol dengan sempurna, dan Evan merasa seolah ada energi khusus yang menyebar di udara sekitar mereka.
"Sekarang saya akan menunjukkan kepada kamu sesuatu yang hanya diberikan kepada mereka yang sudah siap untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar," ujar Kakek Darmo setelah menyelesaikan gerakan itu. Ia mengajak Evan untuk masuk ke rumahnya dan pergi langsung ke ruangan rahasia yang menyimpan buku-buku kuno itu. Di sana, ia berjalan ke arah sudut paling dalam ruangan dan menarik sebuah batu kecil yang terletak di bawah rak buku. Dengan suara kresek yang pelan, sebuah bagian dari dinding kayu terbuka perlahan, mengungkapkan ruangan yang lebih kecil lagi di belakangnya.
Di dalam ruangan kecil itu, terdapat sebuah meja kayu yang sangat tua dengan sebuah kotak kayu besar di atasnya. Kotak itu memiliki ukiran yang sangat indah – menggambarkan orang-orang yang sedang berlatih beladiri dan menyembuhkan orang lain, dengan latar belakang pohon beringin yang sama dengan yang ada di kampung. Kakek Darmo membuka kotak itu dengan hati-hati, menunjukkan isi di dalamnya – sebuah pedang kecil dengan gagang yang terbuat dari kayu cendana dan bilah yang sangat tajam, beberapa gulungan kain sutra tua yang berisi tulisan tangan, dan sebuah kalung yang terbuat dari batu giok hijau dengan ukiran bentuk ular yang sedang melingkar.
"Ini adalah barang-barang yang telah diwariskan dari leluhur kita yang pertama," ujar Kakek Darmo dengan suara yang penuh rasa hormat. "Pedang kecil ini disebut 'Keris Pelindung' – bukan untuk digunakan untuk menyakiti orang lain melainkan sebagai simbol perlindungan bagi yang lemah dan sebagai pengingat akan tanggung jawab yang kita miliki. Gulungan kain sutra itu berisi catatan-catatan rahasia tentang ilmu beladiri dan pengobatan yang tidak tertulis di buku-buku yang kamu lihat sebelumnya. Dan kalung ini adalah simbol bahwa kamu telah menjadi bagian dari rantai warisan yang panjang dan mulia."
Ia mengambil kalung itu dan memasangkannya dengan hati-hati di leher Evan. Ketika batu giok menyentuh kulit Evan, ia merasa seolah ada arus energi yang hangat mengalir dari kalung itu ke seluruh tubuhnya. "Kalung ini hanya boleh dilepas olehmu sendiri atau oleh penerus warisan ini setelah kamu. Ia akan menjadi pengingat bagi kamu tentang siapa kamu dan apa yang kamu yakini."
Kakek Darmo kemudian mengambil salah satu gulungan kain sutra dan membukanya dengan hati-hati. Ia mulai membacakan catatan yang tertulis di dalamnya – tentang bagaimana ilmu ini pertama kali ditemukan oleh nenek moyang mereka yang tinggal di hutan belantara dan belajar dari alam sekitarnya, tentang bagaimana mereka menggunakan ilmu ini untuk membantu orang-orang yang terluka dalam perang antar suku, dan tentang bagaimana mereka membuat perjanjian untuk selalu menggunakan ilmu ini hanya untuk kebaikan.
"Setiap penerus warisan ini harus membuat sumpah di depan leluhur kita dan alam semesta," ujar Kakek Darmo setelah selesai membaca. "Sumpah untuk selalu menggunakan ilmu ini dengan hati yang baik, untuk melindungi yang lemah, untuk menjaga kedamaian, dan untuk melestarikan warisan ini agar bisa diberikan kepada generasi berikutnya. Apakah kamu siap untuk membuat sumpah itu, Evan?"
Evan merasa bahwa hati dan pikirannya sudah siap. Ia berdiri tegak di depan Kakek Darmo dan di depan kotak kayu yang berisi barang-barang leluhur, melihat ke arah langit malam yang penuh dengan bintang-bintang melalui jendela kecil ruangan itu. Dengan suara yang jelas dan penuh tekad, ia mengucapkan sumpah yang telah diucapkan oleh banyak generasi sebelum dirinya:
"Saya, Evan, dengan ini bersumpah di hadapan leluhur saya dan alam semesta bahwa saya akan menggunakan ilmu yang diberikan kepadaku dengan hati yang baik dan bersih. Saya akan menggunakan nya untuk melindungi yang lemah, untuk menyembuhkan yang sakit, dan untuk menjaga kedamaian di sekitar saya. Saya tidak akan pernah menggunakan ilmu ini untuk menyakiti orang lain tanpa alasan yang benar dan tidak akan pernah menyalahgunakan kekuatan yang saya miliki. Saya akan menjaga dan melestarikan warisan ini dengan segenap hati saya dan akan meneruskannya hanya kepada orang yang layak menerimanya. Demi kebaikan semua makhluk hidup, saya berjanji."
Setelah Evan menyelesaikan sumpahnya, Kakek Darmo tersenyum dengan bangga. Ia menutup kotak kayu itu dengan hati-hati dan menunjukkannya kepada Evan. "Dari hari ini, ruangan ini dan semua yang ada di dalamnya adalah tanggung jawabmu juga, cucu. Kamu akan belajar tentang isi dari setiap gulungan kain sutra itu secara bertahap, sesuai dengan perkembanganmu dan kesediaan hatimu untuk menerima pengetahuan itu."
Mereka keluar dari ruangan rahasia dan menutupinya kembali dengan hati-hati. Ketika mereka kembali ke bawah pohon beringin, bulan sudah mulai bergeser ke arah barat dan sinarnya memberikan bayangan yang panjang di tanah. Kakek Darmo mengajak Evan untuk duduk kembali bersama-samanya, kemudian memberikan sebuah buku kecil yang terbuat dari kulit kayu yang sangat tipis.
"Ini adalah buku yang akan kamu isi sendiri selama hidupmu," ujarnya dengan lembut. "Di dalamnya kamu akan mencatat pengalamanmu dalam menggunakan ilmu ini, kasus-kasus penyembuhan yang kamu lakukan, pelajaran yang kamu pelajari dari setiap kesalahan yang kamu buat, dan pesan-pesan yang ingin kamu berikan kepada penerus warisan ini di masa depan. Setiap penerus harus membuat buku mereka sendiri sebagai bagian dari kontribusi mereka terhadap warisan ini."
Evan menerima buku itu dengan tangan yang gemetar namun penuh rasa hormat. Ia merasa bahwa dunia nya telah berubah secara total – ia tidak lagi hanya seorang anak muda yang belajar dari leluhurnya melainkan seseorang yang memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga dan mengembangkan sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.
"Ingatlah selalu, cucu," ujar Kakek Darmo sebelum mereka berpisah untuk malam itu, "harta karun yang paling berharga di dunia bukanlah emas atau permata melainkan pengetahuan yang digunakan untuk kebaikan dan cinta yang diberikan kepada sesama makhluk hidup. Warisan yang kamu terima hari ini adalah gabungan dari keduanya – jaga dengan baik dan gunakan dengan bijak."
Evan berjalan pulang ke rumahnya dengan langkah yang lebih mantap dan hati yang lebih tenang. Kalung batu giok di lehernya terasa hangat dan memberikan rasa aman padanya. Ia melihat ke arah langit malam yang indah itu, merasa bahwa leluhur leluhurnya sedang menatapnya dengan senyum bangga dan memberikan dukungan untuk perjalanan yang akan datang.
Di rumahnya, Evan membuka buku kecil yang diberikan Kakek Darmo dan mulai menulis kata-kata pertama di halaman kosongnya: "Hari ini saya menerima warisan yang tidak ternilai harganya – sebuah warisan tentang cinta, kebaikan, dan tanggung jawab. Saya akan menjaganya dengan segenap hati saya dan akan melakukan yang terbaik untuk menjadi penerus yang layak bagi leluhur saya dan untuk memberikan manfaat bagi orang lain."
Di luar jendela kamar nya, matahari mulai menunjukkan warna jingga muda di ufuk timur, menandakan bahwa hari baru telah tiba – hari baru yang penuh dengan harapan, tujuan, dan tanggung jawab yang besar. Dan seperti matahari yang akan memberikan kehidupan bagi semua makhluk di bumi, Evan merasa bahwa warisan yang diterimanya akan memberikan kehidupan baru dan harapan bagi mereka yang sedang dalam kesusahan – sebuah harapan yang akan terus menyala terang seperti lilin yang tidak pernah padam, menerangi jalan bagi mereka yang sedang dalam kegelapan dan ketidakpastian.