Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.
Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.
"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."
Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.
Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: SIDANG CIPAYUNG DAN BOM WAKTU
Pelatnas Cipayung – 09:15 WIB
Udara di ruang rapat utama PBSI terasa begitu tipis, seolah oksigen sengaja disedot keluar untuk mencekik siapa pun yang ada di dalamnya. Livia Liang duduk mematung. Di hadapannya, Coach Hendra menatapnya dengan pandangan yang lebih tajam dari ujung raket paling baru.
Di sebelah Livia, Rangga Adiwinata duduk tegak. Pria itu tidak bersandar. Ia hanya diam, namun auranya mendominasi seluruh ruangan, membuat Clarissa yang duduk di pojok ruangan dengan wajah puas mendadak kehilangan keberanian untuk mencibir.
“Mateo, stop!” teriak Livia ke arah ponsel yang ia letakkan di atas meja dengan loudspeaker menyala. Suaranya bergetar, separuh marah, separuh memohon. “Lo udah gila!”
“GILA?” Mateo tertawa sinis dari seberang telepon. Suaranya parau, pecah oleh amarah yang tidak terkendali. “Gue FIRST LO, LIV! LO PIKIR ITU BISA LO HAPUS PAKE CINCIN PALSU DARI SI PANGERAN SUCI ITU?”
BRAKK!
Coach Hendra menggebrak meja jati di hadapannya hingga tumpukan dokumen berhamburan. “CUKUP!”
Ponsel itu masih menyala, tapi keheningan yang menyusul setelah bentakan itu jauh lebih mengerikan. Coach Hendra menunjuk Livia dengan telunjuk yang gemetar karena emosi.
“Ini bukti,” katanya tajam, suaranya menusuk tepat di ulu hati Livia. “Kamu bukan atlet lagi, Livia. Kamu itu masalah. Kamu liabilitas yang bisa menghancurkan reputasi Pelatnas dalam semalam!”
Rangga berdiri.
Gerakannya pelan, tenang, namun seketika suasana di ruangan itu berubah drastis. Ia tidak perlu berteriak untuk menarik perhatian. Ia hanya perlu berdiri, dan semua orang di sana seolah tersadar bahwa pria ini bukan sekadar atlet—ia adalah seorang Adiwinata.
Rangga mengambil ponsel dari tangan Livia.
“Mateo de Vries,” ucap Rangga. Suaranya rendah, datar, dan mengandung ancaman yang begitu nyata hingga Livia merasa bulu kuduknya meremang.
“Kamu punya tiga puluh detik buat pergi dari gerbang Pelatnas.”
Mateo tertawa di seberang sana, tawa yang terdengar sangat meremehkan. “Atau apa, Rangga? Lo mau khotbah di depan gue? Lo mau ajak gue berdoa supaya dosa-dosa Livia di apartemen gue hilang?”
“Atau aku aktifkan laporan pemerasan, ancaman digital, dan pelanggaran izin tinggal imigrasi kamu detik ini juga,” lanjut Rangga tanpa nada emosi sedikit pun. “Tim pengacaraku sudah siaga. Video itu? Silakan, upload saja. Kita lihat siapa yang lebih cepat masuk sel; Livia ke publik atau kamu ke penjara dengan pasal berlapis.”
Hening. Mateo terdiam di ujung telepon.
Rangga menutup panggilan itu. Menekan tombol power hingga layar ponsel itu gelap. Selesai.
Ia kemudian menatap Coach Hendra. Tatapannya bukan lagi tatapan seorang murid kepada pelatihnya. Ia tidak meminta izin. Ia memberikan pernyataan yang tak bisa diganggu gugat.
“Livia tanggung jawab saya,” katanya, setiap katanya berat dan penuh otoritas. “Dia bukan liabilitas. Dia calon istri saya. Segala urusan hukum dan media akan ditangani oleh keluarga Adiwinata.”
Tanpa menunggu jawaban dari Coach Hendra yang masih terpana, Rangga menarik tangan Livia. Kuat, hangat, dan tak terbantahkan. Ia menyeret Livia keluar dari ruangan itu.
***
Lorong Belakang Gedung Pelatnas
Sepi. Hanya gema langkah kaki mereka yang terburu-buru di atas lantai ubin yang dingin. Begitu mereka sampai di sudut lorong yang tersembunyi, Rangga mendadak berhenti dan membalikkan tubuh Livia.
Ia menyudutkan Livia ke dinding. Tidak kasar, tapi penuh kontrol. Rangga menahan kedua sisi kepala Livia dengan tangannya—ia tidak menyentuh kulit Livia, tapi jaraknya begitu dekat hingga Livia bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh pria itu.
“Kamu masih simpan nomor dia,” kata Rangga pelan.
Itu bukan pertanyaan. Itu tuduhan yang dingin.
“Aku... aku belum sempat blokir, Ngga,” bisik Livia, suaranya nyaris hilang.
Rahang Rangga mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang. Ia menatap Livia dengan mata yang gelap, seolah sedang menahan badai besar di balik ketenangannya.
“Aku pasang badan buat kamu di depan semua orang, Livia,” katanya, suaranya serak namun menekan. “Aku nggak masalah soal masa lalu. Aku tahu siapa Mateo buat kamu. Tapi aku... aku nggak berbagi.”
Nada itu membuat perut Livia mengencang—campuran antara takut yang mendalam dan gairah yang panas. Ia belum pernah melihat Rangga seposesif ini.
“Sekali lagi pria itu ganggu kamu,” lanjut Rangga, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. “Aku nggak akan berhenti di ancaman hukum. Kamu paham?”
Napas mereka beradu, menciptakan tensi yang begitu berat hingga Livia merasa dunianya hanya menyisakan Rangga di depannya. Emosi itu hampir meledak menjadi sesuatu yang lebih primitif, sampai sebuah suara menginterupsi.
“RANGGA! LIVIA!”
Sarah muncul di ujung lorong, wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal-sengal.
“Dia nggak pergi,” kata Sarah panik, suaranya bergetar. “Mateo... dia nekat. Dia nabrak gerbang depan pake mobilnya. Sekarang dia lagi ribut sama sekuriti di depan semua wartawan yang baru dateng. Dan dia teriak-teriak sesuatu yang gila...”
Sarah menelan ludah, menatap Livia dengan tatapan iba sekaligus ngeri.
“...dia bilang dia punya bukti kalau kamu lagi hamil anak dia.”
Dunia Livia seolah runtuh seketika. Pendengarannya berdenging, dan lututnya mendadak lemas seperti jelly. Tubuhnya merosot, namun Rangga menangkapnya dengan sigap sebelum Livia menyentuh lantai.
Rangga memegang bahu Livia, memaksa gadis itu untuk menatapnya.
Tatapan pria itu kini berubah; ada luka yang tersirat di sana, ada kemarahan yang membeku, namun ada pula naluri protektif yang meledak-ledak. Semuanya bercampur menjadi satu kekacauan yang menakutkan.
“Hamil?” ulang Rangga pelan, suaranya begitu rendah hingga terdengar seperti geraman.
Pria itu mendekatkan wajahnya ke telinga Livia, berbisik dengan nada yang membuat jantung Livia seolah berhenti berdetak.
“Katakan padaku kalau itu cuma halusinasi dia karena mabuk, Livia...”
Rangga menjeda, napasnya yang berat menerpa leher Livia. “...atau aku benar-benar akan menghabisinya di depan semua wartawan itu sekarang juga.”
Livia hanya bisa menatap mata Rangga yang memerah, lidahnya kelu tak mampu menjawab, sementara di kejauhan, suara riuh media dan teriakan Mateo di depan gerbang Pelatnas mulai terdengar mendekat ke arah mereka.
Livia merasa dunia berputar.
Kata-kata Mateo seperti racun yang merembes ke setiap pori-porinya, membuatnya sesak napas. Ia menatap Rangga, mata pria itu kini seperti api yang siap membakar segalanya.
“Ngga... itu bohong,” bisik Livia akhirnya, suaranya pecah. “Aku... aku nggak hamil. Aku udah tes, seminggu lalu. Negatif. Mateo... dia lagi gila, lagi pengen hancurin aku.”
“Aku urus ini,” gumam Rangga akhirnya. Ia melepaskan pegangannya pada Livia, tapi sebelum pergi, ia menarik Livia ke pelukannya sebentar. Hangat, protektif, tapi penuh ketegangan. “Tetap di sini. Jangan keluar.”