NovelToon NovelToon
TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Berbaikan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.

Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.

Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.

"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.

Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Menjauh?

"Sedang apa?"

Sepertinya sudah menjadi kebiasaan Sean. Mengecup pelipis Alissa di saat perempuan itu tengah duduk bersantai di ruang tengah.

Alissa melirik suaminya sinis, sebelum akhirnya ia usap bekas bibir Sean kasar.

"Aku tidak suka bibir bekas." kata perempuan itu jutek.

"Apa yang kau maksud, Alissa?" Sean dengan tampang bingunya ikut duduk bersama istrinya itu. Ingin merangkul bahu Alissa namun urung ketika dengan cepat Alissa bergeser menjauh.

Alissa tersenyum remeh tanpa menatap Sean. Lalu ia ambil remote untuk mematikan saluran tv dan berujar dengan nada yang kelewat santai.

"Sudah berapa kali kau dan Stella ciu-man?"

Raut Sean berubah dingin saat mendengar penuturan Alissa. "Omong kosong apa yang kau bicarakan."

Alissa mengendikan bahu acuh tanpa menjawab pertanyaan Sean. Perempuan itu berdiri dan hendak pergi dari sana. Berduan dengan Sean hanya membuatnya muak. Namun baru saja ia ingin melangkah, suaminya itu langsung menahannya dengan mencekal lengan Alissa.

"Aku dan Stella tidak seperti yang kau pikirkan." bohong! Alissa menjerit dalam hati.

"Aku tidak serendah itu Alissa."

Alissa menyentak cekalan Sean kasar. Ia tatap laki-laki itu berang. "Pada dasarnya, kau memang rendahan Sean." hinanya.

"Kau---" Alissa tunjuk suaminya menghakimi.

"---Kau laki-laki paling rendah yang pernah aku temui. Semua bukti sudah jelas dan kau masih ingin mengelak?" perempuan itu tertawa sarkas.

"Dasar pembual!"

Alissa harus selalu menekankan ini. Jika dunia yang dia tinggali sekarang, bukanlah dunia yang sebenarnya. Ini adalah novel di mana nantinya dia akan mati di tangan suaminya sendiri.

Dan Alissa tidak menginginkan takdir tragis itu. Secepatnya, dia akan pergi. Jika memang tidak bisa melalui perceraian, maka Alissa kabur. Persetan dengan statusnya yang masih menyandang sebagai istri dari Sean Balrick. Alissa sudah tidak peduli lagi.

Perempuan itu masih berpatokan pada alur novel meskipun semua jalan cerita sudah banyak yang melenceng. Bukankah waspada itu harus selalu ada.

"Kenapa kau selalu menuduhku mempunyai hubungan dengan Stella?"

"Karena memang itu kenyataannya!"

"Kau---,shhh..."

Sean panik saat tiba-tiba Alissa memegangi perutnya disertai rintihan. Ia ingin menyentuh istrinya itu namun lagi-lagi Alissa menolaknya.

"Jangan sentuh aku! Aku tidak suka di sentuh barang bekas."

"Alissa, dengar. Terserah jika kau marah padaku. Tapi kau harus ingat, dia yang ada di perutmu juga milikku." ujar Sean tegas dan kembali mendekati perempuan itu. Kali ini Alissa tidak memberontak. Rasa sakit diperutnya lebih mendominasi.

Apa yang terjadi. Ini sakit sekali!

"Elis!" suara Sean menggelegar ke penjuru ruangan. Sang empu yang terpanggil lari tergopoh-gopoh menghampiri sang majikan.

"Saya Tuan."

"Panggil dokter segera!"

Pelayan itu lalu menatap sang Nyonya yang sedang merintih kesakitan. Tanpa bertanya dia mengangguk patuh dan melaksanakan apa yang tuannya perintahkan. Dipikirkannya, jangan sampai laki-laki itu kembali marah dan memakinya lagi.

Sementara itu, Sean gegas menggendong Alissa ala bridal style. Membawa perempuan itu menuju ke kamarnya.

"Sakit, Sean..." rintih Alissa kala laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu membaringkannya pada ranjang.

"Di mana yang sakit, hm?" Alissa tidak menjawab. Namun kedua tangannya kian menekan perutnya kuat.

"Jangan seperti ini." Sean melerai tangan Alissa. Sebagai gantinya ia usap perut istrinya itu dengan telapak tangan beruratnya lembut.

Alissa tidak bisa menolak. Apalagi saat rasa sakit diperutnya berangsur-ansur berkurang.

Alissa sangat membenci situasi ini. Di saat dia tidak ingin menginginkan Sean, berbanding terbalik dengan anak di kandungannya yang seakan-akan ingin sekali mencari perhatian ayahnya.

Tak lama dokter datang dengan didampingi Elis sebelum akhirnya pelayan itu pamit undur diri. Melihat kedatangan wanita berjas putih itu, Sean berinisiatif menjauh dan memberikan ruang dokter itu untuk memeriksa keadaan istrinya. Dan...Alissa merasa kehilangan.

"Apa keluhanmu, Nyonya?"

"Perutku tiba-tiba sakit. Aku tidak tahu apa sebabnya. Hanya saja...sangat sakit."

Dokter itu mengangguk mengerti. Ia mulai memeriksa Alissa mulai dari tekanan darah dan denyut jantung.

"Tekanan darahmu sangat tinggi Nyonya. Ini tidak baik untuk wanita hamil."

"Kenapa perutnya bisa sakit?" Sean bertanya dengan nada dinginnya.

Sebelum menjawab, dokter itu sempat menelan ludahnya gugup. Aura laki-laki yang menatapnya penuh intimidasi itu sungguh membuatnya kuwalahan.

"Banyak pikiran dan stres bisa memengaruhi kandungan, Tuan. Tolong usahakan agar Nyonya tidak terlalu berpikir yang berat-berat. Untuk memastikan keadaan kandungan, alangkah lebih baiknya jika kalian memeriksakannya langsung ke rumah sakit dengan alat yang lebih memadai."

"Suasana hati wanita hamil memang labil. Jadi sebagai orang disekitarnya harus bisa memahaminya."

Dokter itu pamit setelah menyelesaikan tugasnya. Selepas itu, suasana hening. Alissa yang masik asik dengan lamunannya dan Sean yang tengah menatap istrinya lekat dengan banyak ujaran di otaknya.

"Apakah kepadamu sudah membaik?" suara Sean memecah kesunyian yang tercipta.

"Belum. Selagi ada dirimu, aku tidak akan pernah baik, Sean." balas Alissa tanpa menatap lawan bicaranya. Dan jawabannya itu berhasil menohok hati keras milik Sean.

"Jika aku menjauh darimu, apa kau akan bahagia?" tanya Sean rendah. Ia tatap istrinya rumit.

"Aku akan sangat bahagia. Kebahagianku ketika kau menghilang dari pandanganku."

Sean mengangguk mengerti. Laki-laki itu tersenyum tipis. Sangat tipis sampai garisnya pun tidak terlihat. Laki-laki itu mendekatkan istrinya. Lalu mengusap kening istrinya yang masih enggan menatapnya. Gerakannya pelan seakan takut melukai.

"Jika itu keinginanmu, baiklah Alissa. Aku...akan menjauh darimu."

Nafas Sean tercekat. Matanya mengedip satu kali. Jakunnya naik turun. Seakan...dia ragu untuk melakukan ini.

"Berbahagialah..." kata antagonis itu sebelum akhirnya meninggalkan kamar Alissa. Menyisakan istrinya seorang diri.

Mendengar pintu telah ditutup, Alissa menoleh. Entah mengapa, ada sudut hatinya yang merasa...kehilangan.

Matanya memanas. Bibirnya melengkung ingin menangis. Sebenarnya apa yang dirinya inginkan!

Ia usap perutnya dengan tangis yang tergugu. "Jika kau ingin tahu, di masa depan dia akan menghabisimu bersamaku. Jadi, tolong. Berhenti untuk mengharapkan dia."

Sementara itu, Sean berjalan menuju ruang kerjanya. Membawa perasaannya yang berkecamuk.

 Brak!

Membanting pintu, ia tumpu kedua tangannya pada meja. Mati-matian laki-laki itu menahan gejolak emosinya.

"Selagi ada dirimu, aku tidak akan pernah baik, Sean."

"Aku akan sangat bahagia. Kebahagianku ketika kau menghilang dari pandanganku."

"Si-al!"

Laki-laki itu hempaskan semua barang yang tergeletak di meja. Tangannya mengepal kuat, sampai salah satu di antaranya meninju meja kuat hingga buku-buku jarinya lecet.

Dia tidak tahu, sejak kapan dirinya selemah ini di hadapan Alissa. Entah sejak kapan perasaan ini muncul tapi--, melihat Alissa yang menatapnya penuh benci, sungguh benar-benar mengusik hatinya.

Bernarkah yang Alissa pernah katakan. Jika perilakunya hanyalah tindakan implusif atas perubahan istrinya itu? sangat tidak masuk akal.

Sean ambil ponselnya dari saku celana yang dipakainya dan medial nomor seseorang.

"Siapkan keberangkatan kita. Kita akan terbang ke Jerman malam ini."

1
Ahrarara17
Nanti dikabulin panik sendiri kamu, Alissa
Ahrarara17
Dih, gombal banget Sean
Ahrarara17
Wajar aja denial. Takut Sean bohong
Ahrarara17
Semangat nulisnya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!