"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Radar Cemburu Seorang Prajurit
Radar cemburu seorang prajurit seringkali jauh lebih tajam serta berbahaya daripada detektor ranjau yang tertanam di medan perang paling ekstrem sekalipun. Arga Dirgantara melangkah masuk ke dalam rumah dengan bantingan pintu yang cukup keras hingga gema suaranya memantul di dinding ruang tamu yang kaku. Matanya yang biasanya sedingin es kini tampak menyala oleh kemarahan yang tertahan akibat kehadiran remaja lelaki di gerbang markas komando tadi.
"Jelaskan kepada saya sekarang juga, hubungan macam apa yang kamu miliki dengan bocah ingusan yang berani mati mendatangi asrama militer ini?" tanya Arga Dirgantara dengan nada yang sangat menekan.
Maya Anindya berdiri di tengah ruangan sambil meremas ujung seragam sekolahnya dengan jari-jari yang gemetar hebat karena rasa takut sekaligus tersinggung. Dia menatap suaminya dengan sorot mata yang berkaca-kaca namun tetap mencoba untuk mempertahankan sisa keberaniannya di hadapan sang perwira. Suasana di dalam rumah dinas itu terasa sangat menyesakkan laksana sebuah ruang interogasi yang tidak memberikan celah sedikit-pun bagi tertuduh untuk bernapas.
"Dia hanya teman sekolah yang merasa khawatir karena saya mendadak menghilang tanpa kabar sedikit-pun setelah pernikahan kontrak ini terjadi!" balas Maya Anindya dengan suara yang parau.
Arga Dirgantara tertawa sinis sambil melepaskan baret hijaunya dan melempar benda itu ke atas meja kayu dengan gerakan yang sangat kasar. Dia melangkah mendekati istrinya hingga bayangan tubuhnya yang besar mengunci posisi Maya tepat di bawah lampu gantung yang mulai berpijar redup. Setiap hembusan napasnya terasa sangat panas seolah-olah sang letnan sedang bersiap untuk meledakkan seluruh amunisi emosi yang dia simpan sejak tadi.
"Khawatir? Apakah menurutmu pantas seorang lelaki asing menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan kepada perempuan yang sudah memiliki ikatan sah secara hukum negara?" bentak Arga Dirgantara tepat di depan wajah Maya.
Gadis itu terlonjak kaget hingga air matanya jatuh membasahi lantai ubin yang dingin sementara dadanya terasa sangat sakit akibat bentakan yang sangat keras tersebut. Dia tidak menyangka bahwa pria yang biasanya bersikap sangat disiplin serta logis itu bisa berubah menjadi sosok yang sangat emosional hanya karena cemburu. Maya merasa bahwa dirinya kini benar-benar terjepit di antara dunia sekolah yang lugu serta dunia militer Arga yang sangat keras dan penuh dengan aturan rahasia.
"Anda tidak memiliki hak untuk mengatur siapa saja teman saya selama saya tetap menjaga kehormatan serta nama baik Anda di sekolah menengah atas!" teriak Maya Anindya di tengah isak tangisnya.
Mendengar perlawanan dari istrinya, Arga justru semakin mendekat hingga Maya bisa merasakan aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau mesiu yang samar dari seragam sang letnan. Dia mencengkeram kedua bahu Maya dengan tekanan yang cukup kuat namun tidak sampai melukai kulit lembut gadis remaja di hadapannya tersebut. Amarahnya perlahan berubah menjadi sebuah rasa posesif yang sangat mendalam sekaligus sangat membingungkan bagi logika militernya yang biasanya sangat jernih.
"Mulai detik ini, saya melarangmu untuk berinteraksi dengan siapa-pun yang bernama Daffa atau lelaki mana-pun yang mencoba mendekatimu tanpa izin dari saya langsung!" perintah Arga Dirgantara dengan suara yang merendah namun sangat tajam.
Maya hanya bisa terdiam membisu sambil menatap dada bidang suaminya dengan perasaan hancur yang sangat sulit untuk dia lukiskan melalui kata-kata. Dia menyadari bahwa kebebasannya sebagai seorang manusia telah lenyap sepenuhnya demi sebuah keamanan yang terasa sangat semu serta sangat menyiksa batinnya. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Maya mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Arga sambil menyimpan sebuah pertanyaan besar mengenai siapa Daffa sebenarnya bagi hatinya.