NovelToon NovelToon
MARRIAGE FOR HEIR

MARRIAGE FOR HEIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Poligami / Keluarga / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Liana menutup mulutnya dengan telapak tangan, wajahnya berubah pucat pasi.

Ia segera meraih tisu dan memuntahkan suapan sup itu kembali.

Tubuhnya sedikit gemetar, membuat Abi yang berada di sampingnya seketika panik.

"Liana! Kamu kenapa?" Abi dengan sigap mengusap punggung Liana, tangannya yang besar terasa hangat namun justru membuat Liana merasa mual karena alasan lain.

Liana menatap Genata dengan tatapan penuh rasa bersalah yang dibuat-buat, matanya berkaca-kaca seolah ia sangat ketakutan akan menyinggung perasaan istri pertama suaminya itu.

"Maafkan aku, Mbak Gen. Sepertinya lidahku sedang tidak enak, sayurnya terasa sangat asin di mulutku," ucap Liana lirih.

Abi langsung menyambar sendok dan mencicipi sedikit sup itu.

"Asin? Rasanya pas, Liana. Mungkin memang lidahmu yang bermasalah karena efek alkohol semalam." Namun, saat melihat Liana yang tampak sangat menderita, Abi beralih menatap Genata dengan tatapan menuntut.

"Gen, sepertinya Liana butuh makanan yang lebih segar. Buatkan dia bubur halus atau sesuatu yang lebih ringan. Sup ini mungkin terlalu berat untuk perutnya sekarang," perintah Abi.

Genata sempat terkejut, ia tahu betul bumbu yang ia masukkan sudah sangat pas, namun melihat tatapan Abi yang begitu protektif pada Liana, ia hanya bisa menghela napas panjang.

"Baik, Mas. Tunggu sebentar, Mbak masakkan yang baru ya, Liana."

Genata segera bangkit menuju dapur. Di balik punggung suaminya, Liana menatap kepergian Genata dengan sorot mata yang dingin dan penuh kemenangan. Permainan dimulai, Mbak, batinnya.

Tak lama kemudian, Genata kembali dengan semangkuk bubur ayam hangat yang aromanya sangat menggoda.

Liana menerimanya dengan senyum manis dan mulai menikmatinya dengan lahap, seolah sup buatan Genata sebelumnya benar-benar beracun.

"Enak, Mbak. Terima kasih," ucap Liana di sela makannya.

Setelah merasa cukup kenyang, Liana meletakkan sendoknya.

Ia menatap Abi dengan pandangan memelas, tangannya perlahan menyentuh betisnya yang masih terbalut kain karena luka lebam.

"Mas... Paman..." Liana memanggil dengan sebutan yang sengaja ia campur untuk mengusik emosi Abi.

"Boleh aku meminta sesuatu? Kakiku benar-benar sakit kalau harus naik turun tangga setiap hari."

"Apa yang kamu inginkan, Sayang?"

"Boleh aku pindah kamar ke lantai bawah? Aku tidak sanggup kalau harus terus naik ke atas dalam kondisi seperti ini," pinta Liana dengan nada suara yang sangat lembut.

Suasana meja makan seketika menjadi beku. Genata yang sedang meneguk air putih hampir saja tersedak.

Ia menatap wajah suaminya dengan tatapan tak percaya. Di lantai bawah, hanya ada satu kamar yang layak huni selain kamar tamu yang kecil: yaitu kamar utama milik Abi dan Genata.

Genata meremas serbet di bawah meja makan,

Jika Liana pindah ke bawah, itu artinya Liana akan menempati wilayah pribadinya, atau lebih buruk lagi, Abi akan menghabiskan lebih banyak waktu di sana bersama Liana.

Abi tampak ragu. Ia menoleh ke arah Genata, melihat gurat kecemasan di wajah istri pertamanya. Namun, saat ia kembali menatap Liana yang sedang memegangi kakinya yang luka akibat perbuatannya semalam, rasa bersalah itu kembali menang telak.

"Tentu, Liana. Kalau itu bisa membuatmu lebih nyaman dan tidak kesakitan, kamu bisa pindah ke bawah," jawab Abi mantap.

Genata mematung saat mendengar perkataan dari suaminya.

Dadanya terasa sesak seolah baru saja dihantam batu besar. Rencananya untuk menjadikan Liana "hanya sebagai rahim" kini mulai berbalik arah.

Liana bukan hanya sekadar mesin, ia mulai merayap masuk dan mengambil alih ruang paling privasi dalam rumah tangga mereka.

Liana tersenyum, kali ini senyumnya sangat lebar hingga mencapai matanya.

"Terima kasih, Mas Abi. Mas sangat baik."

"Tapi, Mas. Kamar di bawah itu kan kamar kita. Semua barang-barangku dan barang-barang Mas ada di sana," ucap Genata dengan suara yang sedikit bergetar.

Ia mencoba menahan diri agar tidak terdengar seperti sedang cemburu, namun ketakutan akan kehilangan wilayah pribadinya sangat nyata.

Abi menatap Genata dengan tatapan memohon.

"Gen, ini hanya sementara. Sampai kaki Liana sembuh dan lebamnya hilang. Kasihan dia kalau harus memaksakan diri naik-turun tangga."

Melihat perdebatan kecil itu, Liana segera melancarkan aksinya.

Matanya seketika berkaca-kaca, dan ia menundukkan kepala dalam-dalam. Isak tangis kecil mulai terdengar dari bibirnya yang pucat.

"Maaf Mbak Gen. Liana tidak bermaksud merebut kamar Mbak," bisik Liana dengan suara yang terputus-putus.

"Paman, tidak apa-apa. Liana akan naik ke atas saja. Liana tidak mau jadi beban dan membuat Mbak Genata tidak nyaman."

Liana perlahan bangkit dari kursinya dengan gerakan yang sengaja dibuat sangat lemah.

Ia meringis kesakitan setiap kali kakinya menyentuh lantai, menyeret langkahnya menuju tangga dengan sangat lambat.

"Liana, berhenti!" seru Abi.

Liana tidak berhenti. Ia justru mulai menaiki anak tangga pertama dengan tangan yang mencengkeram pegangan tangga dengan kuat, menoleh sekilas ke arah Abi dengan tatapan penuh luka sebelum kembali melangkah.

Melihat pemandangan itu, rasa bersalah Abi meledak.

Ia tidak sanggup melihat gadis yang sudah ia sakiti semalam itu harus berjuang menahan sakit demi "menghargai" perasaan Genata.

Tanpa memedulikan Genata yang masih mematung di meja makan, Abi melangkah lebar dan langsung menyambar tubuh Liana ke dalam bopongannya.

"Paman, lepaskan! Liana bisa sendiri," protes Liana lemah, namun tangannya justru mengalung erat di leher Abi.

"Diamlah, Liana. Jangan keras kepala," ucap Abi tegas.

Abi tidak membawa Liana ke atas. Ia justru berbalik dan melangkah mantap menuju kamar utama di lantai bawah.

Genata hanya bisa berdiri diam, menyaksikan suaminya membopong wanita lain masuk ke dalam kamar tempat mereka biasa berbagi rahasia dan kasih sayang selama bertahun-tahun.

BRAK!

Pintu kamar utama ditutup oleh Abi menggunakan kakinya.

Di dalam kamar, Abi membaringkan Liana di atas ranjang king size yang empuk.

Wangi mawar dari pengharum ruangan milik Genata masih tercium di sana, namun Liana justru tersenyum dalam hati.

Ia kini berada di jantung pertahanan musuhnya.

"Istirahatlah di sini. Aku akan menyuruh orang rumah memindahkan pakaianmu ke sini," ucap Abi sambil mengusap kening Liana.

Liana menarik tangan Abi dan menggenggamnya, menatap suaminya dengan tatapan yang sangat dalam.

"Terima kasih, Mas Abi. Aku merasa sangat aman jika dekat denganmu."

Kata-kata itu membuat Abi terpaku. Ia merasa seolah-olah dimaafkan atas segala dosanya semalam.

Sementara itu, di luar kamar, Genata terduduk lemas di sofa ruang tamu.

Setelah menutup pintu kamar untuk Liana, Abi melangkah keluar dan menemukan Genata masih terduduk lemas di sofa ruang tamu.

Bahu istri pertamanya itu tampak bergetar hebat. Abi merasa dadanya sesak melihat pemandangan itu.

Ia sadar bahwa keputusannya baru saja melukai perasaan wanita yang telah mendampinginya selama bertahun-tahun.

Abi mendekat, lalu duduk di samping Genata. Tanpa kata, ia menarik tubuh Genata ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah ingin menyalurkan kekuatan.

"Sabar, Gen. Tolong, bersabarlah sedikit lagi," bisik Abi di sela rambut istrinya.

"Ini hanya sementara, hanya sampai kaki Liana sembuh dan kondisinya stabil. Aku tidak mungkin membiarkannya terus-menerus merasa tersiksa di rumah ini."

Genata menyandarkan kepalanya di dada Abi, air matanya membasahi kemeja suaminya.

"Aku tahu, Mas. Aku yang memintamu menikahinya, aku yang ingin ini terjadi. Tapi melihatmu membawanya ke kamar kita, rasanya hatiku tetap saja tidak siap."

Abi mengecup puncak kepala Genata dengan penuh rasa sayang.

"Kamar itu hanya ruangan, Gen. Hatiku tetap milikmu. Kamu tahu itu, kan?"

Genata hanya mengangguk pelan, meski di dalam hatinya ada keraguan yang mulai tumbuh.

Ia bisa merasakan bagaimana cara Abi menatap Liana, ada rasa bersalah yang bercampur dengan perlindungan yang begitu posesif.

"Malam ini Mas tidur dimana?" tanya Genata lirih.

Abi terdiam sejenak. Ia melirik ke arah pintu kamar utama yang tertutup.

"Aku harus menjaganya dulu malam ini, Gen. Dia masih sering mengigau dan kesakitan. Kamu tidur di kamar atas dulu ya? Besok kalau dia sudah lebih baik, kita bicarakan lagi."

Genata melepaskan pelukan Abi perlahan. Ia menatap wajah suaminya, mencari sisa-sisa kepastian di sana.

"Baiklah, Mas. Aku mengerti."

Genata bangkit dan melangkah menuju tangga dengan hati yang berat.

Sementara itu, Abi kembali masuk ke kamar utama.

Di dalam kamar, Liana yang tadinya berpura-pura memejamkan mata, sebenarnya mendengar percakapan itu dari balik pintu. Ia tersenyum sinis di tengah kegelapan.

'Hanya ruangan, Paman? Kita lihat saja, apakah setelah malam ini, kamar ini masih akan tetap terasa seperti 'rumah' untuk Mbak Genata.

Liana segera merubah posisinya menjadi meringkuk kesakitan saat mendengar pintu terbuka.

1
Sasikarin Sasikarin
di bolak balik belum juga tayang /Shy/
Sasikarin Sasikarin
lanjuttttt... 🤭
Sasikarin Sasikarin
💪 othor tuk berkarya 🙏
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lg lg banjir /Sob/
Sasikarin Sasikarin
good job author bikin novelnya mewek mulu. 🤭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
hi hi... lanjut si thor tambah seru si ceritanya
Sasikarin Sasikarin
hihi.... lanjut si thor tambah seru alna? 😁
Sasikarin Sasikarin
aduh thor napa g minghat dulu liana nya. nyesek aq baca nya.. lanjutttttty 🙏
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt 💪
اختی وحی
jngn balik lu biarin abi stres
Sasikarin Sasikarin
💪 othor makin penasaran nasib si paman
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt t seru nih
my name is pho: sudah kak.
selamat membaca 🥰
total 4 replies
my name is pho
sabar kak
Sasikarin Sasikarin
lanjuttt
my name is pho: siap kak
besok lagi
total 1 replies
اختی وحی
kok sepi ya pdhl ceritanya bagus
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt thor please... banjir air mata nih
Sasikarin Sasikarin
sukaaaa ceritanya, buat mewek dan meresap kata2nya, sumpah nie cerita buat mengaduk emosi pembaca .💪
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
اختی وحی
makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!