Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Lembah Sunyi.
Di dalam sebuah gua yang dipenuhi kabut beracun dan bau bangkai yang menyengat.
"Guru, murid sudah menghabisi semua siluman di markas ini, tapi kenapa Wisesa belum muncul juga?" Langgeng Sakti menatap mayat-mayat siluman cacing yang bergelimpangan di tanah dengan bingung.
Bukankah gurunya bilang Wisesa ada di dalam markas? Tapi seluruh markas luar dan dalam sudah dia geledah, dan musuhnya itu seolah hilang ditelan bumi.
Nyai Geni Tirta tidak menjawab. Sebenarnya, indra batinnya sudah mendeteksi bahwa Wisesa sedang bersembunyi di kedalaman seratus meter di bawah tanah. Namun, dia sengaja belum memberitahu Langgeng. Saat ini, di dalam Cincin Pusaka, dia sedang menatap buku harian dengan wajah kesal.
[Menghitung waktu, Langgeng Sakti harusnya sudah hampir mengalahkan Wisesa.]
[Untung banget dia dibantu Nyai Geni Tirta buat menaikkan tingkat kesaktiannya ke 'Penyatuan Asal' secara paksa.]
[Kalau tidak, dia sudah mati dikeroyok siluman cacing tingkat 'Pencerahan' dan 'Penguasaan Tubuh'.]
Hampir dikalahkan? Lawannya saja belum menampakkan batang hidungnya! batin Nyai Geni Tirta geram.
Wajahnya muram. Dia sadar, gara-gara dia meledakkan tekanan batin yang luar biasa di luar tadi, Wisesa jadi ketakutan dan memilih sembunyi di bawah tanah. Ini benar-benar menyimpang dari tulisan buku harian itu.
Nyai Geni Tirta merenung. Dia ingin mengikuti alur cerita yang tertulis. Sebagai heroine sekaligus guru sang protagonis, dia percaya bahwa selama Langgeng Sakti mengikuti plot dengan lancar sampai akhir, tujuannya untuk mendapatkan kembali tubuh aslinya pasti tercapai.
Tak ada pilihan lain. Aku harus memaksanya keluar berapa pun harganya!
Dia menutup Buku Harian Jaka Utama. Seluruh wujud jiwanya berubah menjadi seberkas cahaya dan melesat keluar dari cincin.
"Guru? Kenapa Anda keluar?" Langgeng Sakti terkejut. Di depannya, muncul sosok loli kecil bergaun hitam dengan rambut hitam lurus dan mata emas yang tajam. Itulah gurunya, Nyai Geni Tirta.
"Aku sudah mendeteksi Wisesa sembunyi seratus meter di bawah tanah," ucap Nyai Geni menatap bumi di bawah kakinya.
"Di bawah tanah?!" Mata Langgeng berkilat penuh nafsu balas dendam.
"Menjauh dari sini. Aku akan menggali binatang itu keluar."
"Baik, Guru!" Langgeng segera mundur menjauh.
Sesaat kemudian, aura tenaga dalam yang dahsyat meledak dari dalam gua. Langit di atas lembah seketika berubah gelap, awan hitam bergulung-gulung disertai kilatan petir yang menyambar.
"Guntur Hitam Dewa Ular!"
Begitu suara Nyai Geni menggelegar, sambaran petir hitam raksasa menyerupai naga ular jatuh dari langit.
BOOM—!!!
Seluruh perbukitan itu dihantam ular petir dan meledak hebat. Batu-batu besar dan lumpur beterbangan ke langit seperti letusan gunung berapi. Setelah asap menipis, terlihat sebuah kawah raksasa sedalam seratus meter di tempat gunung itu berdiri sebelumnya.
Langgeng Sakti terpana. Kesaktian gurunya benar-benar di luar nalar! Kekuatan jurus tadi setidaknya setara dengan tingkat Pemurnian Hampa!
Di tengah kawah, terlihat sesosok siluman setengah manusia perlahan bangkit. Wajahnya mengerikan dengan dua tentakel hitam di dahi dan tubuh yang tertutup cangkang hitam keras.
"KETEMU KAMU! WISESA!!!" raung Langgeng Sakti.
Wisesa, yang tampak terluka dan ketakutan akibat ledakan tadi, langsung tertatih-tatih melarikan diri ke arah berlawanan.
"BAJINGAN, BERHENTI KAMU!!!" Langgeng Sakti mengejarnya dengan kalap.
"Dia tidak benar-benar terluka..." Nyai Geni Tirta mencoba memperingatkan, tapi suaranya melemah. Penggunaan jurus sebesar itu menguras banyak kekuatan jiwanya. Dia harus segera bermeditasi. Nyai Geni memasang pagar gaib sederhana di sekelilingnya untuk mendeteksi gerakan musuh, lalu duduk bersila untuk memulihkan diri.
Pintu Masuk Lembah Sunyi.
"Astaga?"
"Aku tidak salah lihat, kan?"
"Itu Guntur Hitam Dewa Ular tadi??"
Jaka Utama melongo di tempat. Berkat pengalamannya di reinkarnasi sebelumnya, dia langsung tahu itu adalah ajian rahasia Klan Ular Hitam—sesuatu yang hanya bisa dikeluarkan oleh Nyai Geni Tirta!
"Gila! Nyai Geni benar-benar melenceng! Dia meledakkan seluruh markas siluman?!" teriak Jaka panik. "Itu tidak ada di naskah!"
Jaka mencoba menenangkan diri. Dalam plot asli, Langgeng seharusnya berduel di dalam gua, lalu Wisesa kabur dalam keadaan sekarat ke wilayah selatan. Pelarian Wisesa itulah yang jadi petunjuk bagi Langgeng untuk mengungkap otak di balik pembantaian desanya. Tapi sekarang?
Markasnya diledakkan sampai rata! Apa Wisesa tidak jadi debu? Kalau dia mati sekarang, misi balas dendam Langgeng bakal putus tengah jalan. Gagal total reinkarnasiku!
Jaka segera mengaktifkan Ajian Panglimunan, menyatu dengan ruang hampa, dan berlari menuju lokasi ledakan. Sampai di tepi kawah raksasa, Jaka semakin stres.
"Kacau! Benar-benar hancur sampai akarnya!"
Jaka berlari di sepanjang tepi kawah, mencari tanda-tanda Langgeng atau Wisesa. Tiba-tiba, dia melihat sosok loli bergaun hitam sedang duduk bersila. Itulah Nyai Geni Tirta.
Lho, kenapa dia di sini? Kenapa tidak masuk ke dalam cincin Langgeng?
Jaka mencari Langgeng di sekitarnya, tapi nihil. Apa dia mengejar Wisesa? Harapan muncul di hati Jaka. Kalau Langgeng masih mengejarnya, plotnya masih bisa diselamatkan!
Tapi Jaka dalam dilema. Haruskah dia bertanya pada wanita ini? Nyai Geni sangat kejam dan tidak terduga. Kalau Jaka salah bicara, dia bisa dihabisi di tempat. Apalagi filosofi Nyai Geni adalah "cabut rumput sampai akarnya". Dia mungkin akan membunuh Jaka hanya karena Jaka adalah musuh muridnya.
Apa yang harus kulakukan? Bertanya atau diam saja?