cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GIGITAN ANEH ULAR COBRA
BAB 24
Isyarat di Jalan Pulang
Malam semakin larut ketika mereka meninggalkan tepi hutan. Tidak ada pengejaran. Tidak ada kandang. Tidak ada konfrontasi. Hanya rasa tidak enak yang menggantung di udara.
“Cukup sampai di sini,” kata Mang Dedi akhirnya. “Kalau dipaksakan, kita malah ceroboh.”
Sandi mengangguk. Napas mereka sudah berat, kaki terasa lengket oleh lumpur.
Namun perjalanan pulang tidak berjalan biasa.
Di tengah jalan setapak, mereka menemukan jejak aneh—bekas seretan panjang di tanah, seperti karung berat ditarik, tapi tanpa jejak kaki manusia.
“Ini bukan ular,” gumam Nurdin. “Terlalu lurus.”
Farhan berjongkok, menyentuh tanah. “Dan masih baru.”
Beberapa langkah kemudian, mereka melihat senter patah tergantung di dahan rendah, talinya terikat rapi seolah sengaja ditinggalkan sebagai penanda.
“Bukan jatuh,” kata Sandi. “Ini pesan.”
Amelia merinding. “Pesan untuk siapa?”
Tak jauh dari situ, udara mendadak berbau menyengat—campuran amonia dan tanah basah. Bau yang tidak alami untuk hutan.
“Bahan kimia,” kata Farhan pelan. “Tapi sudah lama… residu.”
Mereka saling pandang. Tidak ada satu pun yang bersuara, tapi semua sepakat:
mereka sedang diawasi.
Langkah mereka semakin cepat.
Di dekat batas sawah, seekor kobra kecil melintang di jalan, tidak mengangkat tudung, tidak mendesis. Hanya diam menatap, lalu menyingkir perlahan ke semak.
“Seperti… memastikan kita pulang,” bisik Amelia.
Sesampainya di rumah Mang Dedi, tubuh mereka nyaris roboh.
“Besok kita lanjut dengan kepala dingin,” kata Sandi. “Malam ini cukup.”
Mbah Klowor yang menunggu di teras hanya berkata satu kalimat,
“Hutan belum membuka mulutnya
Pagi yang Terlalu Cepat
Pagi datang tanpa ampun.
Jam di dinding RS Dumai baru menunjukkan pukul enam, tapi mata Amelia sudah berat. Lingkar hitam jelas di bawah matanya saat ia mengenakan jas putih.
“Tidur berapa jam?” tanya Santi pelan sambil menyodorkan kopi.
“Dua… mungkin,” jawab Amelia sambil memijat pelipis.
Sandi masuk ruang IGD dengan langkah kaku. Bahunya masih terasa pegal. Nurdin menguap lebar, nyaris menjatuhkan map pasien.
Farhan sudah berdiri di depan papan jadwal. “Kita dapat shift penuh. Hari ini padat.”
Belum sempat bernapas, suara panggilan terdengar.
“Dokter Farhan, IGD! Kasus gigitan!”
Semua menoleh.
“Gigitan apa?” tanya Amelia cepat.
Perawat menelan ludah. “Ular. Dari daerah… pinggiran hutan.”
Sandi dan Amelia saling pandang.
Farhan mengambil jasnya. “Sepertinya Grenjeng belum selesai dengan kita.”
Di lorong rumah sakit yang dingin dan terang, rasa lelah bercampur firasat buruk.
Malam tadi memang belum membuka rahasia.
Tapi pagi ini…
konsekuensinya mulai berdatangan
Isyarat di Jalan Pulang
Malam semakin larut ketika mereka meninggalkan tepi hutan. Tidak ada pengejaran. Tidak ada kandang. Tidak ada konfrontasi. Hanya rasa tidak enak yang menggantung di udara.
“Cukup sampai di sini,” kata Mang Dedi akhirnya. “Kalau dipaksakan, kita malah ceroboh.”
Sandi mengangguk. Napas mereka sudah berat, kaki terasa lengket oleh lumpur.
Namun perjalanan pulang tidak berjalan biasa.
Di tengah jalan setapak, mereka menemukan jejak aneh—bekas seretan panjang di tanah, seperti karung berat ditarik, tapi tanpa jejak kaki manusia.
“Ini bukan ular,” gumam Nurdin. “Terlalu lurus.”
Farhan berjongkok, menyentuh tanah. “Dan masih baru.”
Beberapa langkah kemudian, mereka melihat senter patah tergantung di dahan rendah, talinya terikat rapi seolah sengaja ditinggalkan sebagai penanda.
“Bukan jatuh,” kata Sandi. “Ini pesan.”
Amelia merinding. “Pesan untuk siapa?”
Tak jauh dari situ, udara mendadak berbau menyengat—campuran amonia dan tanah basah. Bau yang tidak alami untuk hutan.
“Bahan kimia,” kata Farhan pelan. “Tapi sudah lama… residu.”
Mereka saling pandang. Tidak ada satu pun yang bersuara, tapi semua sepakat:
mereka sedang diawasi.
Langkah mereka semakin cepat.
Di dekat batas sawah, seekor kobra kecil melintang di jalan, tidak mengangkat tudung, tidak mendesis. Hanya diam menatap, lalu menyingkir perlahan ke semak.
“Seperti… memastikan kita pulang,” bisik Amelia.
Sesampainya di rumah Mang Dedi, tubuh mereka nyaris roboh.
“Besok kita lanjut dengan kepala dingin,” kata Sandi. “Malam ini cukup.”
Mbah Klowor yang menunggu di teras hanya berkata satu kalimat,
“Hutan belum membuka mulutnya.”
BAB 30
Pagi yang Terlalu Cepat
Pagi datang tanpa ampun.
Jam di dinding RS Dumai baru menunjukkan pukul enam, tapi mata Amelia sudah berat. Lingkar hitam jelas di bawah matanya saat ia mengenakan jas putih.
“Tidur berapa jam?” tanya Santi pelan sambil menyodorkan kopi.
“Dua… mungkin,” jawab Amelia sambil memijat pelipis.
Sandi masuk ruang IGD dengan langkah kaku. Bahunya masih terasa pegal. Nurdin menguap lebar, nyaris menjatuhkan map pasien.
Farhan sudah berdiri di depan papan jadwal. “Kita dapat shift penuh. Hari ini padat.”
Belum sempat bernapas, suara panggilan terdengar.
“Dokter Farhan, IGD! Kasus gigitan!”
Semua menoleh.
“Gigitan apa?” tanya Amelia cepat.
Perawat menelan ludah. “Ular. Dari daerah… pinggiran hutan.”
Sandi dan Amelia saling pandang.
Farhan mengambil jasnya. “Sepertinya Grenjeng belum selesai dengan kita.”
Di lorong rumah sakit yang dingin dan terang, rasa lelah bercampur firasat buruk.
Malam tadi memang belum membuka rahasia.
Tapi pagi ini…
konsekuensinya mulai berdatangan
Orang yang Pulang
Siang itu Desa Grenjeng tampak lebih terang dari biasanya. Matahari menembus sela awan tipis, menyapu sawah yang baru saja ditanami. Angin membawa bau lumpur basah dan daun padi muda—bau kampung yang tak pernah bisa ditiru kota.
Sandi sedang duduk di balai desa bersama Nurdin, memeriksa catatan kasus gigitan terakhir, ketika sebuah mobil tua berwarna abu-abu berhenti perlahan di depan halaman.
Pintu terbuka.
Seorang pria berusia sekitar lima puluhan turun. Kemeja lengan panjang dilipat rapi, tas kulit cokelat menggantung di bahu. Wajahnya tenang, matanya tajam tapi hangat.
Mang Dedi yang sedang menata kursi mendadak berhenti.
“…Pak Eden?”
Pria itu tersenyum kecil. “Masih ingat aku, Di?”
Mang Dedi tertegun satu detik, lalu tertawa keras. “Lah iya! Pak Eden! Dosen Eden!”
Ia maju cepat, menjabat tangan pria itu dengan dua tangan. “Ya Allah… panjenengan pulang juga.”
Sandi berdiri. “Maaf, Pak…?”
Eden menoleh. “Eden Pratama. Dulu ngajar di fakultas kesehatan masyarakat. Sekarang… ya masih dosen, cuma rambutnya lebih kalah sama usia.”
Sandi tersenyum tipis. “Sandi.”
“Nurdin,” sambung Nurdin.
Eden mengangguk hormat. “Saya dengar ada kejadian aneh di desa ini. Dan… ternyata ini desa saya.”
“Desa asal?” tanya Sandi.
Eden menatap sawah di kejauhan. “Saya lahir di sini. Rumah orang tua saya… di ujung barat. Masih ada. Adik-adik saya juga.”
Mang Dedi menghela napas. “Wah… dunia sempit ya.”
“Bukan sempit,” kata Eden pelan. “Kadang memang kita dipanggil pulang.”
Di rumah orang tua Eden, suasana hangat langsung menyergap.
Seorang perempuan sepuh keluar membawa nampan teh. “Den…?”
“Ibu,” jawab Eden lirih.
Pelukan terjadi. Tak banyak kata. Hanya helaan napas panjang yang tertahan bertahun-tahun.
Seorang pria tua duduk di kursi bambu, menatap Eden dengan mata bergetar. “Kamu kurus.”
Eden tertawa kecil. “Bapak juga nggak gemuk-gemuk amat.”
Adik-adiknya bermunculan. Ada yang sudah beruban, ada yang masih terlihat muda. Suara tawa, suara panggilan lama yang nyaris terlupa.
Amelia, Santi, dan Sinta yang ikut datang berdiri sedikit ke belakang.
“Ini siapa saja?” tanya ibu Eden.
“Teman-teman saya,” jawab Eden. “Mereka sedang membantu desa.”
Ibu Eden menatap Amelia lama. “Dokter?”
Amelia mengangguk. “Iya, Bu.”
“Alhamdulillah… desa ini butuh banyak doa belakangan.”
Sore menjelang.
Mbah Klowor duduk di beranda, tongkat kayunya di pangkuan. Ketika Eden melangkah mendekat, orang tua itu tersenyum tipis.
“Kamu pulang juga, Den.”
Eden menunduk hormat. “Mbah masih ingat saya?”
Mbah Klowor terkekeh. “Kamu bocah yang dulu takut ular sawah.”
Eden tertawa, kali ini lepas. “Saya masih takut, Mbah.”
“Takut itu tanda hormat,” jawab Mbah Klowor. “Yang bahaya itu merasa berkuasa.”
Sandi duduk bersila di samping mereka. “Pak Eden, apa Bapak tahu sesuatu tentang… pola-pola aneh di desa ini?”
Eden terdiam cukup lama.
“Ada hal yang dulu… sengaja dilupakan,” katanya akhirnya. “Waktu saya masih kecil, pernah ada orang luar datang. Bukan turis. Bukan peneliti resmi.”
Mang Dedi menajamkan telinga. “Orang luar?”
“Mereka membawa peti,” lanjut Eden. “Dan ular-ular di sawah waktu itu… menghilang.”
Amelia merasakan dingin menjalar di punggungnya.
“Orang-orang bilang itu takhayul,” Eden menghela napas. “Tapi setelah saya belajar toksikologi… pola ini terasa familier.”
Sandi menatapnya serius. “Jadi ini bukan pertama kali?”
Eden menggeleng. “Ini pengulangan.”
Sunyi turun di antara mereka.
Santi berbisik ke Sinta, “Kok rasanya desa ini kayak… lingkaran.”
Sinta mengangguk pelan. “Lingkaran yang dibuka lagi.”
Malam datang perlahan.
Di dapur, ibu Eden menyajikan makan malam sederhana. Sayur bening, tempe goreng, sambal terasi. Semua duduk lesehan.
“Den,” kata sang ibu tiba-tiba. “Kamu lama nggak pulang… tapi pulangmu kok pas desa sedang sakit.”
Eden menunduk. “Mungkin karena sekarang saatnya saya berhenti lari.”
Sandi menatap Amelia sekilas. Kalimat itu seperti menyentuh sesuatu yang sama di dalam dirinya.
Setelah makan, Eden berdiri. “Besok… aku ingin lihat sawah bagian barat.”
Mbah Klowor menatapnya lama. “Kalau kamu ke sana, berarti kamu sudah siap mendengar yang tidak ingin kamu dengar.”
Eden mengangguk. “Saya siap.”
Di luar, malam Grenjeng sunyi—terlalu sunyi.
Dan di desa yang menyimpan ingatan panjang itu,
seorang anak akhirnya pulang,
tepat ketika rahasia lama mulai bangkit kembali.
Jejak di Sawah Barat
Sore itu langit Grenjeng berwarna tembaga. Matahari condong ke barat, memantulkan cahaya ke genangan air sawah yang tenang—terlalu tenang.
Sandi berjalan berdampingan dengan Pak Dosen Eden menyusuri pematang sempit. Di belakang mereka, Nurdin membawa ransel kecil, sementara Mang Dedi menjaga jarak, matanya waspada ke semak-semak.
“Bagian ini,” kata Eden pelan, menunjuk ke arah hamparan ilalang tinggi. “Dulu sering jadi tempat ular bertelur.”
Sandi berhenti. “Dan sekarang?”
Eden menghela napas. “Kosong. Seharusnya tidak sekosong ini.”
Tiba-tiba—
Desis keras.
Disusul teriakan.
“WOI—HATI-HATI!”
Sandi refleks mengangkat tangan. “Berhenti!”
Dari balik semak, empat pria muncul. Pakaian mereka lusuh, celana penuh lumpur. Di tangan masing-masing—kayu pengait, karung, dan satu bilah parang pendek.
Di hadapan mereka, seekor kobra besar berdiri tegak, tudungnya mengembang, tubuhnya tegang.
“Pemburu,” gumam Mang Dedi. “Bukan warga sini.”
Sandi melangkah maju sedikit. “Hei! Jangan diprovokasi!”
Salah satu pemburu tertawa kasar. “Kalau nggak diganggu, nggak laku, Bang.”
Ular itu menyembur, meleset tipis. Salah satu pria terpeleset—
“AWAS!”
Terlambat.
Kobra itu menyambar cepat.
“AAAAAH!”
Gigitan itu mengenai betis kiri. Darah mengalir tipis.
“DITANGKAP!” teriak salah satu pemburu lain.
Dengan brutal, mereka mengait leher kobra, menghantamkannya ke tanah, lalu memasukkannya ke karung. Ular itu masih meronta saat karung diikat.
Pria yang tergigit jatuh terduduk, napasnya memburu.
Sandi berlari mendekat. “Jangan bergerak!”
Amelia tidak ada. Ini lapangan.
Eden berlutut. “Waktunya dicatat. Jam berapa?”
Nurdin melihat jam. “16.42.”
Sandi membuka sepatu korban. Luka dua titik itu terlihat—rapi, dangkal.
“Rasanya gimana?” tanya Sandi.
Pria itu terengah. “Panas… tapi… aneh.”
“Aneh bagaimana?”
“Bukan sakit… tapi kayak… berat di dalam.”
Eden dan Sandi saling pandang.
Biasanya, kobra: nyeri hebat, lumpuh cepat.
Ini tidak.
“Pusing?” tanya Eden.
“Belum,” jawab pria itu. “Tapi… dada kayak ditekan.”
Sandi mengeluarkan P3K. “Nurdin, tekan proksimal. Jangan disedot.”
Pemburu lain tampak gelisah. “Bang… ini bahaya nggak?”
Sandi menatap mereka tajam. “Kalian bawa ular ke mana?”
Salah satu pemburu menghindari tatapan. “Ke… pengepul.”
“Di mana?” desak Sandi.
“Bukan urusan Abang,” jawab yang lain ketus.
Pria yang tergigit tiba-tiba terdiam.
“Mas,” panggil Eden.
Tak ada jawaban.
Mata pria itu terbuka—tapi fokusnya kosong.
“Tekanan darah turun,” kata Eden, tangannya di pergelangan korban. “Terlalu cepat untuk kobra biasa.”
Sandi menggertakkan gigi. “Ini pola yang sama.”
Korban mulai gemetar, bukan kejang—lebih seperti menggigil dari dalam.
“Kita harus bawa dia ke RS,” kata Sandi.
Pemburu lain panik. “Kalau ke RS… urusan kami bisa ketahuan!”
Sandi berdiri, nadanya dingin. “Kalau dia mati di sini, kalian semua akan berurusan lebih besar.”
Diam.
Akhirnya mereka mengangguk.
Saat mereka mengangkat korban, Eden menatap karung ular itu. Ia mendekat, mengendus samar.
“Ada bau asing,” katanya pelan. “Bukan bau tanah.”
Sandi mengangguk. “Modifikasi.”
Eden menatap ke arah hutan kecil di barat. “Kalau ini benar… berarti ada orang yang memanfaatkan pemburu liar sebagai tangan kotor.”
Mang Dedi meludah ke tanah. “Dan desa ini jadi ladang.”
Di kejauhan, matahari tenggelam perlahan. Cahaya merah menyelimuti sawah—seolah menandai darah yang belum berhenti mengalir.
Sandi menatap korban yang diangkat tergesa. “Ini bukan lagi soal ular.”
Eden mengangguk. “Ini soal manusia yang mempermainkan racun.”
Dan sore itu, di pematang sawah yang seharusnya tenang,
sebuah gigitan membuka pintu menuju jaringan yang lebih gelap—
yang tak lagi bersembunyi di balik hutan,
melainkan berjalan di antara manusia
Racun yang Dipelajari
Ambulans berhenti mendadak di depan IGD RS Dumai.
“Pasien gigitan ular!” teriak perawat.
Pintu dibuka. Pria pemburu itu dibawa masuk dengan wajah pucat keabu-abuan. Napasnya pendek, tapi tidak ada kejang hebat—sesuatu yang seharusnya sudah muncul.
Amelia langsung menyambut. “Waktu gigitan?”
“16.42,” jawab Sandi cepat. “Sekarang 18.05.”
Amelia mengerutkan dahi. “Satu jam lebih… dan belum kolaps?”
Farhan muncul dari balik tirai. “Bawa ke ruang observasi tiga. Aku mau lihat sendiri.”
Di ruang observasi, Farhan berdiri lama menatap luka di betis pasien. Dua titik tusukan itu nyaris rapi seperti bekas jarum.
“Tekanan darah?” tanyanya.
“90 per 60, Dok,” jawab perawat.
“Nadi?”
“Cepat, tapi stabil.”
Farhan diam.
Sandi dan Pak Eden berdiri di sisi ruangan, memperhatikan setiap gerakannya.
“Aneh,” gumam Eden. “Seharusnya—”
“—sudah lumpuh atau henti napas,” potong Farhan tanpa menoleh. “Tapi ini tidak.”
Farhan menarik kursi, duduk, lalu berkata pelan tapi jelas,
“Yang menggigit dia… bukan kobra biasa.”
Sandi mendongak. “Maksud Dokter?”
Farhan mengangkat kepala. “Racunnya masih kobra. Tapi cara racun itu bekerja… sudah diajari ulang.”
Sunyi.
Eden menelan ludah. “Rac… diajari?”
Farhan berdiri, berjalan ke papan tulis kecil, lalu menggambar cepat: taring, kelenjar, alur racun.
“Biasanya,” katanya, “kobra menyuntikkan racun penuh sebagai respons ancaman. Sekali. Cepat. Brutal.”
Ia menggambar panah lain. “Tapi pada pasien ini, dosisnya parsial, tapi kompleks.”
Sandi mengerutkan kening. “Seperti… disetel?”
“Persis.” Farhan menoleh. “Seperti ular itu dilatih—atau dipaksa—menggigit dengan dosis tertentu.”
Eden berdiri tegak. “Itu… mungkin?”
Farhan tersenyum tipis, pahit. “Secara etika? Tidak. Secara biologi? Sangat mungkin.”
Ia menunjuk monitor. “Lihat ini. Racun tidak menyerang saraf dulu. Dia menargetkan pembuluh mikro. Organ dalam rusak pelan.”
Amelia menyela, suaranya rendah. “Seperti pengujian obat.”
Farhan mengangguk. “Uji toksisitas kronis.”
Sandi terdiam lama. “Jadi… orang-orang ini—”
“—bukan korban kecelakaan,” lanjut Farhan. “Mereka subjek uji lapangan.”
Pak Eden melangkah mundur satu langkah. “Ya Tuhan…”
Farhan menatapnya. “Pak Eden, ini bukan pertama kali.”
Eden menoleh cepat. “Dokter tahu?”
“Dua puluh tahun lalu,” jawab Farhan pelan. “Kasus serupa muncul di jurnal gelap—tidak pernah dipublikasikan resmi. Lokasinya… Jawa Barat.”
Sandi dan Eden saling pandang.
“Dan sekarang,” lanjut Farhan, “kita melihat versi yang lebih rapi. Lebih terkendali. Artinya—”
“—mereka belajar dari kegagalan,” sambung Sandi dingin.
Farhan mengangguk.
Perawat datang membawa hasil lab lanjutan. Farhan membaca cepat, lalu tersenyum miris.
“α-KX17 aktif… tapi tidak dominan,” katanya. “Ada senyawa baru.”
“Apa namanya?” tanya Amelia.
Farhan menunjuk kode di layar.
“KX-S Variant. Versi uji.”
Ruangan terasa menyempit.
Eden berbisik, “Mereka… masih mengembangkan.”
Farhan menatap pasien yang kini tertidur dengan napas teratur. “Dan desa kalian… dipakai sebagai laboratorium hidup.”
Sandi mengepalkan tangan. “Siapa pun di balik ini… tidak melihat manusia sebagai manusia.”
Farhan menoleh padanya. “Dan itu yang paling berbahaya.”
Di luar ruangan, langkah kaki RS Dumai berjalan seperti biasa. Pasien lain datang dan pergi. Tidak ada yang tahu—di balik dinding ini—
sebuah kebenaran mengerikan sedang dibedah.
Dan untuk pertama kalinya,
Sandi dan Pak Eden menyadari satu hal yang sama:
Mereka tidak sedang mengejar pelaku.
Mereka sedang mengejar sistem.