Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.
AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Playboy yang Terpaku dan Gadis pendiam
Setelah beberapa pasangan mulai menunjukkan chemistry mereka (Arazka-Maura yang penuh ketegangan, Danis-Kinara yang manis, dan Miko-Fanila yang rusuh), kini giliran dua karakter yang paling misterius: Asean Mahardika dan Keysha.
🥋 Gimmick yang Gagal
Asean Mahardika terkenal sebagai playboy sejati di ALVEGAR. Senyumnya yang menawan dan keahliannya tebar pesona selalu sukses menaklukkan siswi mana pun. Namun, hanya satu cewek yang imun terhadapnya: Keysha, si cantik pendiam yang irit bicara.
Hari itu, Asean ditugaskan oleh Arazka untuk mengurus keamanan tambahan di gerbang belakang. Ia melihat Keysha berjalan sendiri menuju gerbang, mungkin hendak pulang.
"Keysha! Hai, Cantik!" sapa Asean, langsung memasang gimmick tebar pesona terbaiknya. Ia berjalan mendekat dengan langkah stylish.
Keysha berhenti, menoleh sekilas, tapi tidak tersenyum. "Ya?"
"Loe mau pulang? Biar gue temenin. Gak bagus lho cewek cantik jalan sendirian, apalagi tadi ada insiden air kotor. Gue bisa jadi bodyguard pribadi loe, bayarannya cuma senyum manis loe aja," kata Asean, mengedipkan mata.
Keysha menatapnya datar. "Aku sudah dijemput."
"Oh ya? Siapa? Kakak loe?"
"Ayah gue."
Asean tersenyum lagi. "Gini deh. Loe tahu kan, gue jago bela diri? Gue bisa protect loe 24 jam. Mau gue demonstrasi-in jurus andalan gue?"
Keysha hanya diam, seolah sedang menganalisis setiap kata Asean. Lalu, ia mengeluarkan tiga kata yang membuat Asean terdiam.
"Aku juga jago," bisik Keysha.
"Hah? Jago apa?" tanya Asean, bingung.
Tiba-tiba, tanpa peringatan, Keysha bergerak sangat cepat. Tangannya menangkap lengan Asean yang terentang, memutar pergelangannya sedikit, dan dalam sekejap, Asean sudah kehilangan keseimbangan.
KLAK!
Asean jatuh ke lantai, meringis kesakitan. Keysha berdiri tegap di atasnya, dress seragamnya sama sekali tidak kusut.
"Jangan anggap remeh," ujar Keysha, suaranya sangat pelan. Lalu ia berbalik dan berjalan menuju mobil hitam yang sudah menunggunya di gerbang.
Asean terbaring di lantai, shock. Dia adalah rider terbaik ALVEGAR, jago bela diri, tapi baru saja dijatuhkan oleh seorang gadis pendiam hanya dengan satu gerakan cepat.
"Gila... Loe ninja?" gumam Asean, bangkit dengan susah payah.
🧩 Misteri yang Tertarik
Asean kembali ke markas ALVEGAR dengan wajah yang bukan lagi playboy, melainkan wajah penasaran dan sedikit malu.
"Kenapa muka loe lecek gitu, Sean? Gak biasanya prince charming ALVEGAR diginiin," goda Miko.
"Diem loe, Ko!" Asean membentak. "Gue barusan dijatuhin sama Keysha. Keysha si cewek pendiam!"
Rangga yang sedang fokus dengan laptopnya mendongak. "Keysha? Setahu gue, dia itu sabuk hitam Taekwondo. Dia anak pemilik akademi beladiri terbesar di kota."
Asean melongo. "Sial! Kenapa loe gak bilang dari dulu, Rangga?!"
"Loe gak pernah nanya," jawab Rangga datar. "Loe cuma tertarik sama cewek yang teriak-teriak histeris liat loe."
Arazka yang sedang mendengarkan sambil menyortir dokumen, menyahut. "Keysha itu pendiam, tapi dia cerdas dan kuat. Dia satu-satunya cewek yang gak butuh pesona loe, Sean. Dan loe baru aja belajar itu."
Asean menghela napas. Dia tidak marah karena kalah berkelahi. Dia justru merasa tertarik. Selama ini, semua cewek mudah ditebak. Keysha berbeda. Dia misterius, kuat, dan kebal terhadap daya tariknya.
"Dia... keren," gumam Asean tanpa sadar. "Gue harus ajak dia ngobrol lagi."
"Ngobrol tentang apa? Jurus bantingan?" Miko tertawa ngakak.
"Bukan. Tentang buku-buku yang dia baca, atau... tentang kenapa dia selalu diam. Dia itu teka-teki, Ko. Dan gue suka teka-teki," kata Asean. Untuk pertama kalinya, ia tertarik pada seorang gadis bukan karena penampilannya atau pujiannya, tapi karena misteri di balik keheningannya.
☕ Kencan Palsu, Perasaan Nyata
Sementara itu, di sebuah kafe, Arazka dan Maura sedang menjalankan salah satu 'kewajiban' perjanjian mereka: kencan publik.
Mereka duduk berhadapan. Maura sibuk mengecek dokumen, sementara Arazka sibuk dengan ponselnya. Mereka terlihat seperti pasangan yang bosan.
"Arazka, besok kita ada wawancara live sama majalah sekolah. Loe jangan terlalu dingin. Coba sesekali senyum dikit," perintah Maura.
Arazka mendongak. "Senyum? Buat apa? Biar kelihatan murahan? Justru karena gue dingin, image gue mahal."
"Iya, mahal dan kaku! Lo harus kelihatan mencintai pacar loe! Ini sandiwara, Arazka!"
"Gue mencintai pacar gue dengan cara gue sendiri," balas Arazka, lalu ia menunduk dan mengambil tangan Maura di atas meja, menggenggamnya erat.
DEG!
Lagi-lagi, sentuhan Arazka yang dingin, tiba-tiba, dan dominan, membuat jantung Maura berdebar.
"Apa-apaan loe?" Maura mencoba menarik tangannya, tapi genggaman Arazka terlalu kuat.
"Ini akting, sayang," bisik Arazka, matanya menatap Maura intens, "Ada beberapa siswi yang lagi lihat kita di ujung sana. Kita harus terlihat mesra. Jangan malu-malu."
Maura melirik ke sudut. Benar saja, ada sekelompok siswi yang sedang memotret mereka. Maura tidak punya pilihan selain membiarkan Arazka memegang tangannya.
"Lepasin gue kalau mereka udah pergi," desis Maura.
Arazka menyeringai, ganteng dan licik. "Gak akan. Gue mau loe mulai terbiasa sama genggaman gue. Karena sebentar lagi, loe gak akan mau gue lepasin."
Maura memejamkan mata, merasakan panas menjalar dari tangan Arazka. Meskipun perjanjian itu jelas melarang kontak fisik melewati batas, Arazka selalu tahu bagaimana memanfaatkan celah agar sentuhannya terasa paling intim.
Maura tahu, peperangan ini bukan lagi soal image atau acara amal. Ini adalah perang hati yang semakin sulit ia menangkan.
TO BE CONTINUED