NovelToon NovelToon
Digigit Mbak Janda

Digigit Mbak Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Janda / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Kaya Raya
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Raey Luma

"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Mendadak

Radit melangkah keluar dari ruangannya dengan ritme langkah yang cepat dan mantap. Semua karyawan yang melihatnya langsung menegakkan punggung. Ekspresinya tidak marah… tapi terlalu datar.

Dan Radit yang datar adalah Radit yang paling berbahaya.

Lift terbuka.

Ia masuk.

Jari telunjuknya menekan tombol lantai tim produksi.

"Sudah ku duga ada yang enggak beres."

TING.

Pintu lift terbuka.

Suasana lantai produksi biasanya ramai. Tapi saat melihat Radit muncul begitu saja, hampir seluruh orang diam beberapa detik.

Radit menyapu ruangan dengan tatapan dingin, sebelum akhirnya matanya menemukan sosok yang ia cari tengah duduk di mejanya.

Rania tampak sibuk mengetik, tapi dari jauh Radit bisa melihat kelemahan.

Radit berjalan mendekat.

Perlahan.

Tapi setiap langkahnya membuat beberapa karyawan menelan ludah. Beberapa yang tadi berada di pantry mulai saling berpandangan panik, mereka tahu gosip tadi sudah menyebar, dan kalau Radit ada di sini…

Ini tidak baik.

Radit berhenti tepat di samping meja Rania.

Rania mendongak otomatis, terkejut.

“P-Pak Ra…dit?” suaranya lirih.

Radit menatapnya lama.

Tidak senyum.

“Ikut saya,” kata Radit tegas.

Rania langsung panik. “Hah? Eng—aku lagi kerja, aku belum—”

“Aku bilang, ikut.”

Nada itu lembut… namun tegas.

Beberapa orang di sekitar bahkan sampai berhenti mengetik, menyadari situasinya.

Radit menunduk sedikit, suaranya lebih pelan, khusus untuk Rania.

“Kamu mau aku ngomong di sini? Di depan mereka?”

Rania langsung menggeleng cepat.

Radit mengangguk kecil, lalu berjalan duluan menuju pintu. Rania buru-buru bangun dan mengikutinya.

Mereka masuk ke ruang meeting yang cukup sepi. Begitu pintu tertutup, Radit berbalik.

“Duduk,” ucapnya datar.

Rania patuh.

Radit bersandar pada meja, tangan terlipat, menatap Rania tanpa berkedip.

“Jelaskan.”

Rania berkedip beberapa kali. “Jelaskan… apa?”

“Kenapa wajah kamu keliatan letih gitu?”

Rania tersentak. “Aku nggak—”

“Rania.” Nada Radit merendah, “Jangan bohong.”

Rania menunduk.

Ia mengusap tangannya sendiri, gelisah. “Aku cuma… capek.”

“Capek apa?”

“Capek… dengar omongan orang.”

Radit langsung menghela napas tajam, panjang.

“Aku udah duga.”

Ia melangkah pelan, duduk di kursi di depan Rania.

“Apa yang mereka omongin?” tanyanya.

“Aku nggak mau sebut—”

“Rania.”

Rania menundukkan wajahnya.

“They said… aku enak karena dekat sama kamu. Jam kerjaku fleksibel. Kerjaku dianggap main-main. Dan mereka bilang aku ngandalin nama kamu.”

Radit terdiam.

Dua detik.

Tiga.

Lalu…

Radit tertawa tipis.

Tawa yang penuh amarah.

“Aku baru tinggal kamu kurang dari 24 jam… dan mereka udah berani giniin kamu?”

“Aku nggak apa-apa, Radit. Beneran.”

Radit mendekat, mencondongkan tubuh.

“Dengerin aku.”

Rania menelan ludah.

“Aku nggak suka kamu diperlakukan kayak gini. Enggak suka sedikitpun.”

Ia menatap mata Rania, dingin tapi penuh proteksi.

“Aku bakal beresin semua ini.”

Rania terlonjak. “Jangan! Nggak usah, Radit. Nanti aku makin dianggap—”

“Aku nggak peduli mereka anggap kamu apa, sekalipun mereka nganggap kamu dekat denganku.”

Napas Radit terdengar lebih berat karena menahan emosi.

“Aku cuma peduli sama kamu.”

Rania membeku.

Radit melanjutkan lebih pelan,

“Kamu kerja keras. Kamu nggak pernah minta perlakuan khusus. Dan kamu nggak pernah numpang nama siapa pun. Jadi kalau ada yang berani rendahin kamu…”

Ia menatap ke arah pintu, seolah melihat orang-orang di luar.

“…aku yang bakal maju duluan.”

“Kenapa kamu marah banget?” sambung Rania, heran.

Radit menatapnya lama.

“…karena kamu penting buatku.”

Kata-kata itu keluar begitu saja.

Rania mematung.

Dan Radit langsung sadar ia baru memperjelas sesuatu yang selama ini ia tahan.

Ia bersandar ke belakang, menarik napas dalam-dalam.

“Oke… kita bahas nanti,” gumamnya pelan.

“Sekarang kamu ikut aku.”

“Hah? Ke mana lagi?”

“Makan.”

“Aku belum—”

“Justru itu.”

Radit berdiri, membuka pintu meeting room.

Rania masih duduk, terkejut.

Radit menoleh, mengangkat alis.

“Kamu mau jalan sendiri atau aku gendong?”

Rania langsung berdiri cepat.

“Ngg—nggak perlu! Aku bisa jalan!”

Radit hanya mengangguk.

“Good.”

Orang-orang yang berada di lantai itu hanya bisa membeku melihat Radit berjalan di depan, Rania mengikuti di belakangnya.

Saat mereka berjalan menuju lift—

TING.

Pintu lift terbuka.

Dan di sana berdiri Reyhan.

Ia berdiri dengan satu tangan memegang berkas, wajahnya netral… tapi matanya?

Menatap Rania dan Radit bergantian.

“Kalian… mau ke mana?”

Radit menjawab cepat, pendek, dan tegas.

“Makan.”

Reyhan mengangguk pelan, hanya sepersekian detik… tapi Rania bisa merasakannya.

Tatapan itu membuat jantungnya seakan menegang.

Radit menangkap itu.

Namun Reyhan tiba-tiba tersenyum kecil—senyum yang sopan, datar, dan tidak mengundang konflik.

“Oh. Oke. Have fun ya”

Ia melangkah keluar dari lift, mempersilakan keduanya masuk.

“Jalan aja. Jangan tunggu aku.”

Rania hanya mengangguk gugup. “I-iya…”

Radit menatap adiknya sejenak, seolah ingin memastikan sesuatu.

Tapi Reyhan sudah berbalik, berjalan melewati mereka tanpa sepatah kata tambahan. Tidak ikut campur.

Radit masuk ke lift, menarik Rania untuk ikut.

Begitu pintu tertutup, Rania mengembuskan napas pelan.

Radit melihatnya sekilas.

“Kenapa?”

Rania menggeleng cepat. “Nggak apa-apa.”

“Dia bikin kamu nggak nyaman?”

“Enggak. Cuma… tatapannya beda aja.”

“Dia adikku. Bukan orang lain. Kalau dia bikin kamu nggak nyaman, bilang ke aku.”

“Radit…” Rania menatapnya pelan. “Kamu jangan terlalu tegas sama semua orang. Itu bikin capek, loh.”

Radit menatapnya balik.

Lama.

“…kalau soal kamu,” jawabnya lembut, “aku nggak pernah capek.”

Lift kembali berbunyi TING.

Pintu terbuka.

Dan Radit berjalan keluar sambil berkata,

“Ayo. Kamu harus makan dulu. Hari ini akan terasa sangat panjang.”

Rania hanya mengangguk, pasrah. Ia tidak bisa menolaknya untuk kedua kali.

Saat mereka sedang asik makan. Tiba tiba Reyhan memanggil Radit lewat panggilan telepon.

"Siapa?"

"Ah. Gak penting" jawab Radit, seolah ia tak ingin waktunya dengan Rania terganggu.

Namun, bukannya berhenti. Telepon berbunyi lagi.

"Radit?" kata Rania, tajam

"Iya. Oke. Aku angkat"

Radit pun menjauh dari Rania. Lalu mulai berbicara dengan Reyhan di panggilan itu.

"Ada apa?" tanya Radit pertama kali, membuka obrolan.

"Enggak. Cuman, mau mastiin aja"

Radit merasa aneh, ia kembali bertanya, "Mastiin apa, kamu aneh banget hari ini!"

Suara tawa Reyhan terdengar dari seberang sana, "mastiin kalau kamu luang hari ini"

"Luang? Kamu gak lihat aku–"

"Ngajak karyawan makan? Padahal dia baru aja datang? Hah?" potongnya terlalu cepat.

Radit menarik nafa, teratur kali ini. "Kamu gak tau apapun. Aku lagi sibuk. Kamu mau ngomong apa. Cepat!"

"Gak usah ngegas juga dong. Santai. Aku cuma mau bilang, kalau Mama mau ke sini, siang ini."

Degg.

Jantung Radit rasanya mau loncat.

Siang ini? Itu berarti, Ibunya akan bertemu dengan Rania.

Sial.

Radit mengusap kening, frutasi.

"Dalam hal apa, dia berkunjung ke kantorku?"

"Loh. Emangnya gak boleh, Dit? Lagian, suka suka Mama dong, mau ke kantor ini apa enggak."

“Reyhan. Jawab jelas.”

“Ya… Mama cuma mau lihat suasana kantor dan mau ketemu kamu. Katanya kangen. Mau lihat juga suasana kantor sekarang gimana."

Radit langsung membeku.

Kalimat itu.

Reyhan sengaja.

“…kamu bilang apa ke Mama?” Radit bertanya dengan suara menurun tajam.

“Hah? Aku? Kok nuduh? Aku cuma ngobrol biasa, tanya kabar, begitu.”

“Reyhan.”

“Kamu sembunyiin sesuatu ya?”

Radit mengepal.

“Reyhan.”

“Ya terus kamu maunya apa? Mama udah di jalan. Mau suruh pulang? Dia datang sama sopir pribadi, Dit. Masa kamu mau bilang jangan datang?”

Radit mendengus frustasi, tangannya sudah menekan pangkal hidung.

“Kenapa kamu gak ngasih tau aku dari tadi?”

“Ya aku baru dikabarin lima menit lalu… terus kamu langsung muncul sama Rania di depan lift. Aku kaget!”

Radit menutup mata. Ia tahu adiknya bohong. Reyhan selalu tahu duluan, lebih cepat, dan lebih detail dari siapa pun.

Otaknya bekerja cepat.

Mama. Kantor. Rania. Belum ada persiapan.

Sial.

“Dit?” panggil Reyhan pelan

“Jangan panik. Mama cuma mau lihat kamu. Udah, itu aja.”

“…Ya. Terserah.”

Radit terdiam. Hanya beberapa detik.

“Kalau kamu mau Mama senang” lanjut Reyhan berat, “kamu harus memperlihatkan sisi baik dari kantor ini”

Radit menatap restoran itu. Rania sedang menunggu di meja, memainkan sedotan, tampak gelisah karena ia pergi terlalu lama.

Perut Radit menegang.

“Mama sampai jam berapa?” tanyanya cepat.

“Estimasi tiga puluh menit.”

“TIGA PULUH MENIT?!” Radit hampir teriak.

“Hehehe… iya. Jadi saran aku, bimbing dulu karyawannya. Atau… jelasin sekalian.”

“Reyhan—”

Tut.

Panggilan putus.

Radit menatap layar ponselnya dengan tatapan yang jelas-jelas ingin melempar benda itu ke dinding.

Ia menarik napas panjang, menahan emosi yang hampir meledak.

Kemudian ia kembali ke meja.

Rania langsung menatapnya. “Ada apa? Kamu kok keliatan pucat?”

Radit duduk perlahan, seolah beban 10 kilo baru saja dijatuhkan ke bahunya.

“Kita harus balik ke kantor,” ucapnya pelan.

“Hah? Baru juga makan.”

“Aku tau.”

Radit memijat tengkuknya. “Tapi… ada seseorang yang mau datang.”

“Siapa?”

Radit menatap Rania. Lama.

Sangat lama.

“…Mamaku.”

Rania membeku.

“What?”

“Aku juga nggak siap. Tapi dia sudah di jalan.”

“T-tunggu… berarti—”

“Iya.” Radit menatapnya serius.

“Kamu dan Mama akan ketemu.”

Jantung Rania langsung jatuh sampai tumit.

Radit melanjutkan, suaranya lebih berat.

“Dan aku butuh kamu tetap tenang. Apapun yang terjadi.”

Rania menelan ludah.

Dingin.

Takut.

Deg-degan.

“Radit…” suaranya bergetar. “Kamu serius?”

Radit mengangguk.

“Rania… ini beneran.”

Kursi Rania hampir goyah.

Radit meraih tangannya di bawah meja, menggenggamnya erat.

“Gak usah takut,” bisiknya.

“Aku di sini.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!