NovelToon NovelToon
My Dangerous Assistant

My Dangerous Assistant

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita perkasa / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."

Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.

Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.

Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemampuan Yang Harus Disembunyikan

Malam itu, langit di atas kampus Institut Kesenian Jakarta berwarna jingga keruh karena polusi cahaya kota. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Studio lukis masih ramai oleh segelintir mahasiswa yang mengejar deadline pameran semester.

Adinda Elizabeth sedang membersihkan palet catnya. Kemeja flanelnya yang kebesaran terkena noda cat biru di bagian lengan, membuatnya terlihat benar-benar seperti mahasiswi seni yang berantakan. Namun, di balik penampilannya yang santai, otot-otot di balik kemeja itu tetap siaga.

"Din, laper nggak?" tanya Arthur, muncul dari balik kanvasnya dengan wajah lelah. Rambut ikalnya diikat asal-asalan. "Anak-anak mau makan di warung pecel lele depan gang. Ikut yuk? Jangan pulang terus, nanti dikira hantu studio."

Adinda menimbang sejenak. "Normal" berarti bersosialisasi. William ingin dia punya teman.

"Boleh," jawab Adinda singkat, memasukkan kuas-kuas mahalnya ke dalam tas.

Mereka berjalan beriringan keluar gerbang kampus—Adinda, Arthur, dan dua teman perempuan lain, Siska dan Reni. Jalanan di sekitar kampus seni itu cukup gelap, hanya diterangi lampu jalan yang remang-remang dan lampu neon dari warung-warung tenda.

Sambil berjalan, Siska dan Reni sibuk membicarakan gosip dosen, sementara Arthur mengeluh soal harga cat yang naik. Adinda mendengarkan, sesekali tersenyum sopan.

Namun, di tengah obrolan ringan itu, tengkuk Adinda meremang.

Srek.

Suara langkah kaki yang diseret. Bukan langkah mahasiswa. Langkah berat, tidak teratur.

Mata Adinda melirik ke spion motor yang terparkir di trotoar. Di belakang mereka, sekitar sepuluh meter, ada empat pria berjalan mengikuti. Bau alkohol samar-samar terbawa angin.

Analisis: Empat subjek pria. Mabuk. Potensi ancaman: Begal atau pemalakan. Senjata: Kemungkinan pisau lipat atau botol kaca.

Adinda menghentikan langkahnya sejenak, pura-pura membetulkan tali sepatu.

"Kenapa, Din?" tanya Arthur berhenti.

"Tali sepatu lepas," jawab Adinda sambil berjongkok. Matanya memindai posisi keempat pria itu dari pantulan genangan air. Mereka mempercepat langkah.

"Hoi, Neng! Abang yang gondrong! Bagi rokok dong!" teriak salah satu pria itu. Suaranya serak dan kasar.

Arthur, yang berjiwa seni lembut dan anti-kekerasan, mencoba bersikap ramah. "Maaf, Bang. Kita nggak ngerokok."

"Masa anak seni nggak ngerokok? Bohong lu!" Pria itu—yang memakai jaket kulit imitasi kumal—maju menghadang Arthur. Tiga temannya menyebar, mengepung Siska dan Reni yang mulai ketakutan.

Adinda berdiri perlahan. Jantungnya berdetak tenang, sangat tenang. Insting bertahan hidupnya mengambil alih kendali otaknya. Dalam kepalanya, ia sudah menyusun skenario: Patahkan leher pria jaket kulit, tendang lutut pria kedua, gunakan tas kanvas untuk memblokir serangan pria ketiga.

Tapi kemudian, suara William terngiang di kepalanya: "Hiduplah normal, Adinda."

Mahasiswi seni normal tidak mematahkan leher orang. Mahasiswi seni normal akan berteriak ketakutan.

"Woy! Siniin dompet lu!" Pria berjaket kulit itu mendorong dada Arthur hingga terhuyung ke belakang. Siska menjerit kecil.

Arthur mencoba melawan dengan canggung. "Bang, jangan cari gara-gara. Ini deket kampus..."

"Banyak bacot!" Pria itu melayangkan pukulan ke wajah Arthur.

Saat itulah Adinda bergerak.

Bukan dengan gerakan bela diri yang presisi, tapi dengan "kecerobohan" yang diperhitungkan dengan matematika tingkat tinggi.

Adinda menjatuhkan dirinya ke depan, seolah-olah tersandung kakinya sendiri karena panik.

"Awaaas!" teriak Adinda dengan nada histeris yang dibuat-buat.

Tubuh Adinda menubruk si pria berjaket kulit tepat di momen dia mengayunkan tangan. Bahu Adinda menghantam ulu hati pria itu dengan keras—tapi terlihat seperti tabrakan tidak sengaja.

Bugh!

"Ugh!" Pria itu kehabisan napas seketika. Pukulannya meleset jauh dari wajah Arthur, dan dia justru terhuyung mundur, kakinya tersangkut kaki Adinda (yang sengaja dijulurkan sedikit), lalu jatuh terjengkang mencium aspal dengan suara gedebuk yang menyakitkan.

"Aduh! Maaf! Saya kesandung!" seru Adinda, pura-pura panik sambil memegangi kepalanya, padahal matanya tajam mengunci posisi tiga pria lainnya.

Teman-teman preman itu kaget melihat bos mereka jatuh konyol. Salah satu dari mereka, yang memegang botol kaca, maju marah. "Anjing! Lu nendang temen gue?!"

Dia mengayunkan botol itu ke arah Adinda yang masih berlutut.

Arthur berteriak, "Adinda! Awas!"

Adinda tidak menghindar dengan salto atau tangkisan. Ia justru mengangkat tas ranselnya yang berat—berisi buku sketsa tebal dan kotak cat kayu—seolah-olah ingin menutupi wajahnya karena takut.

Gerakan itu terlihat defensif dan pengecut. Tapi sebenarnya, Adinda mengarahkan sudut keras kotak kayu di dalam tasnya tepat ke lintasan ayunan tangan si preman.

PRAK!

Botol kaca itu menghantam tas Adinda dan pecah, tapi pergelangan tangan si preman juga menghantam sudut kotak kayu itu dengan keras. Bunyi krek pelan terdengar.

"ARGH! Tangan gue!" Preman itu menjerit, memegangi pergelangan tangannya yang mungkin retak.

Adinda mundur dengan wajah pucat yang ia "pasang". "Ya ampun! Maaf! Saya cuma mau ngelindungin muka saya!"

Dua preman sisanya bingung. Dalam hitungan detik, dua teman mereka tumbang. Satu sesak napas di aspal, satu lagi memegangi tangan yang cedera. Dan pelakunya adalah gadis kecil yang terlihat ketakutan setengah mati dan "kebetulan" membawa tas yang keras.

"Ini cewek bawa batu apa gimana sih tasnya?!" bentak preman yang tangannya sakit.

"Cabut, woy! Orang-orang mulai ngeliatin!" teriak preman yang satu lagi saat melihat beberapa mahasiswa lain mulai keluar dari gerbang kampus karena mendengar keributan.

Keempat preman itu akhirnya mundur teratur, memapah teman mereka yang masih memegangi perutnya. Mereka pergi sambil menyumpah-serapah, mengira mereka sedang sial.

Setelah mereka hilang di tikungan, suasana hening sejenak.

Arthur, Siska, dan Reni menatap Adinda dengan mulut terbuka.

Adinda berdiri perlahan, membersihkan debu di celana jeans-nya dengan tangan gemetar—gemetar yang 50% akting, 50% adrenalin yang harus ditahan.

"Din... lo nggak apa-apa?" tanya Arthur, masih syok.

"Aku... aku takut banget," jawab Adinda pelan, menunduk. "Tadi aku lari mau nolongin kamu, eh malah kesandung tali sepatu sendiri. Terus pas botol itu dateng, aku reflek angkat tas. Untung tas aku isinya kotak cat kayu yang tebel."

Arthur menghembuskan napas lega, lalu tertawa tak percaya. "Gila! Lo ceroboh banget tapi hoki parah! Sumpah, gue kira muka gue udah bakal hancur tadi."

"Adinda The Lucky Girl," timpal Siska, memeluk lengan Adinda. "Makasih ya, Din. Kalau lo nggak jatuh tadi, si preman itu pasti udah hajar Arthur."

Adinda tersenyum tipis, senyum yang canggung. "Iya... kebetulan aja. Yuk, kita cari tempat makan yang lebih rame. Di sini serem."

Mereka melanjutkan perjalanan. Teman-temannya tertawa-tawa membahas kejadian itu, menyebutnya sebagai "Keajaiban Tas Lukis".

Namun, Arthur berjalan sedikit lebih lambat di belakang Adinda.

Arthur adalah mahasiswa seni rupa. Matanya terlatih melihat detail anatomi dan gerak tubuh.

Ia melihat cara Adinda "jatuh" tadi. Orang yang tersandung biasanya jatuh dengan tangan menggapai-gapai acak. Tapi Adinda jatuh dengan bahu terkunci, sikunya rapat melindungi rusuk, dan tumpuannya kokoh. Itu bukan jatuh sembarangan. Itu tackle bahu yang disamarkan.

Dan saat Adinda mengangkat tas untuk menangkis botol... matanya tidak terpejam. Arthur sempat melihat sekilas dari samping. Mata Adinda terbuka lebar, fokus, dan dingin.

"Din," panggil Arthur pelan saat mereka duduk di warung makan yang terang.

Adinda menoleh, sedang meminum es teh manis. "Ya, Thur?"

Arthur menatap mata Adinda. Mata itu sekarang terlihat polos, bulat, dan ramah. Tidak ada jejak predator yang tadi sempat ia lihat sekilas.

"Lo... pernah belajar bela diri?" tanya Arthur hati-hati.

Jantung Adinda berdegup satu ketukan lebih cepat. Tapi wajahnya tetap tenang. Ia meletakkan gelasnya.

"Dulu waktu kecil pernah ikut karate sebentar," jawab Adinda santai, setengah jujur. "Tapi cuma sampai sabuk kuning. Udah lupa semua jurusnya. Kenapa?"

Arthur menatapnya lama, mencari celah kebohongan. Tapi Adinda adalah asisten yang pernah menipu dewan direksi soal keberadaan bosnya. Menipu mahasiswa seni yang naif jauh lebih mudah.

Akhirnya, Arthur tersenyum dan menggeleng. "Nggak. Cuma mikir, refleks lo bagus juga buat orang yang cuma sabuk kuning."

"Faktor kepepet, Thur. Orang kalau takut bisa ngelakuin apa aja," Adinda tertawa kecil.

Obrolan beralih ke topik tugas kuliah. Adinda bernapas lega. Penyamarannya aman.

Namun, di bawah meja, tangan kanan Adinda mengepal kuat. Kejadian tadi membuktikan satu hal: dunia tidak pernah aman. Tidak peduli seberapa mahal pakaian yang ia kenakan atau seberapa normal hidup yang ia jalani, bahaya akan selalu datang.

Dan yang lebih menakutkan bagi Adinda adalah fakta bahwa ia menikmati momen singkat tadi. Saat bahunya menghantam ulu hati preman itu, ada rasa kepuasan yang familiar. Rasa kendali. Rasa kuasa.

Ia merindukan sensasi itu.

Ia merindukan menjadi perisai.

Adinda menatap layar ponselnya. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. William benar-benar memutus kontak sesuai janjinya.

Apa Bapak aman malam ini? batin Adinda bertanya pada layar hitam ponselnya. Apa asisten baru Bapak bisa menjatuhkan orang dengan pura-pura tersandung?

Malam itu, Adinda menyadari bahwa meskipun ia berusaha menjadi kanvas putih yang baru, warna merah darah dan hitam masa lalunya akan selalu menjadi cat dasar yang tak bisa dihapus. Ia hanya bisa menimpanya dengan warna lain, tapi tidak akan pernah bisa menghilangkannya.

Bersambung....

1
gina altira
Suka sama ceritanya, ga lebay. Bikin nagih bacanya, tiap hari nunggu update.
Qyzz🇲🇾
maaf kak author..aku ingin bertanya,bukan bermaksud untuk menjatuhkan kak author.novel ini menggunakan AI ke?sebab penggunaan kata macam AI.maaf kalau soalan ni mengganggu kak author.🙏
Dede Dedeh
lanjutttt......
Nurhartiningsih
lanjuuut...dikit amat up nya
gina altira
jd sedihhh,, cinta yang tulus dan berbesar hati
gina altira
galak tapi ngangenin ya,🤭
Nurhartiningsih
lanjuuut....mkin penasaran
Nurhartiningsih
kereeeennn aku suka.. aku suka
Nurhartiningsih
ah knp banyak bawang disini??
Nurhartiningsih
ya ampun... sesulit apa hidupmu dindaa
Nurhartiningsih
ah suka deh sama cerita yg ceweknya badas
Nurhartiningsih
kereeeen....ah knp baru Nemu nih novel
Raditya Gibran
aku menanti episode selanjutnya bestii
terimakasih
Fenti Fe
Ceritanya mulai menarik, gaya bahasa dan tulisannya rapi. Semangat Author...
PENULIS ISTIMEWA: Terima kasih qha qha.. 😍
total 1 replies
Kavina
Kalo novel ini di bwt movie nya pasti seru abiss, thank ya Thor dh UP byk 😘😘💪💪
PENULIS ISTIMEWA: 😍😍 Kak Kavina bisa aja deh.. 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!