Han Chuan adalah seorang anak desa yang ceria dan penuh semangat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan melukis pemandangan dan bermain bersama teman-temannya di bukit kecil dekat desa. Hidupnya sederhana dan bahagia hingga suatu hari, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang bermain bola bersama teman-temannya, langit tiba-tiba menggelap. Suara raungan aneh menggema dari hutan, dan makhluk-makhluk iblis menyerang desa tanpa ampun. Anak-anak yang bermain bersamanya menghilang satu per satu, ditelan oleh iblis saat di bersama ibunya. Ketika Han Chuan turun dari bukit, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan desa hancur, dan jasad para penduduk berserakan. Dalam keputusasaan, ia juga menyaksikan ibunya yang ternyata seorang dewa yang turun tangan melawan para iblis. Namun malang, sang dewa tewas ditusuk dari belakang dan tubuhnya dilahap utuh oleh iblis. Rasa sakit dan amarah yang tak tertahankan membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam diri Han Chuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FAUZAL LAZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Kekacauan Di Restoran
Namun sebelum sempat mendapat jawaban, Shen Tu malah menunjuknya dengan kasar. “Heh, kau juga diam! Aku belum selesai bicara!”
Han Chuan menatapnya tajam, urat di pelipisnya menegang. Dalam sekejap, ia melangkah maju, menangkap kerah baju Shen Tu, dan mengangkatnya dengan satu tangan. “Siapa yang kau panggil gendut tadi, sialan?”ucap Han Chuan dengan marah.
Han Chuan mengangkat tubuh Shen Tu lalu dia membantingnya
Dengan keras ke lantai hingga kayu meja di dekatnya ikut bergetar. Para pekerja restoran menahan napas Meraka dan suasana berubah tegang dalam sekejap. Han Chuan berdiri tegap, matanya tajam menatap para pengikut keluarga Yan lainnya yang kini tampak ragu untuk bergerak.
“Kalian tunggu apa lagi?! Cepat serang dia!” teriak Shen Tu kepada kelima sahabatnya. Kelima orang itu langsung maju bersamaan, menyerbu Han Chuan dengan teriakan lantang.
Han Chuan tidak tinggal diam. Ia melempar pedangnya ke arah Xue Lin. “Pegang sebentar,” ucapnya cepat, lalu melesat maju menghadapi mereka dengan tangan kosong. Benturan pukulan dan tendangan terdengar berulang kali, membuat udara di dalam restoran bergetar oleh tekanan aura para petarung.
Kelima lawannya berusaha memojokkan Han Chuan, bergerak cepat dari segala arah. Namun Han Chuan hanya tersenyum tipis. “Aku tidak mau berlama-lama.”
Tubuhnya tiba-tiba memancarkan cahaya biru yang berdesir kuat, disertai suara petir kecil yang menyambar dari tubuh nya“Teknik Rahasia Lukisan Dalam Pedang! Gerakan Guntur!”
Dalam sekejap, Han Chuan menghilang dari pandangan mata. Kilatan biru berkelebat di antara lima orang lawannya, diikuti suara sambaran petir dan benturan keras. Tubuh mereka terhempas satu per satu ke dinding dan lantai, menjerit kesakitan, sementara sisa energi petir masih berdesir di sekitarnya.
Han Chuan melangkah pelan ke arah mereka yang terkapar. “Cepat pergi dari sini… sebelum aku benar-benar menggunakan pedangku untuk membuat kalian lenyap,” ucapnya datar dengan nada dingin.
Ia lalu berjalan ke arah Xue Lin dan mengambil pedangnya. “Terima kasih sudah memegangnya,” katanya sambil menyarungkan pedang ke punggung.
“Tidak masalah,” jawab Xue Lin dengan senyum tipis.
Shen Tu dan kelima temannya yang ketakutan segera bangkit dan berlari keluar restoran dengan langkah tergesa, bahkan hampir terjatuh di pintu keluar.
Han Ling berdiri dari kursinya, menepuk bahu Han Chuan sambil tersenyum tipis. “Nak, kau terlalu berlebihan saat menghajar mereka,” ucapnya dengan nada lembut.
Han Chuan menoleh santai. “Bagiku tidak berlebihan, karena mereka sudah berani mengatai Ayah. Benar, kan, Xue Lin?” katanya sambil menatap gadis itu.
“Benar sekali,” jawab Xue Lin sambil tertawa kecil. “Kalau aku, mungkin sudah kutancapkan anak panah di kepalanya.”
Han Ling hanya menghela napas sambil tersenyum tipis dan kembali duduk di mejanya ,sementara suasana restoran perlahan kembali tenang, dan para pekerja di restoran membersihkan sisa sisa pertarungan.
Han Chuan pun ikut duduk bersama ayahnya, ditemani oleh Xue Lin. Tak lama, salah satu pelayan datang menghampiri mereka.
“Terima kasih, Tuan Muda Han, karena sudah membereskan kekacauan tadi,” ucap pelayan itu sambil sedikit membungkuk.
“Sudah tidak apa-apa. Ini restoran milik keluargaku. Jadi kalau ada masalah dan aku ada di sini, tentu aku yang harus membereskannya,” jawab Han Chuan dengan nada santai.
“Sekali lagi terima kasih, Tuan Muda Han. Kalau Tuan Muda datang ke sini, pasti lapar. Tunggu sebentar, saya akan menyiapkan makanannya,” ucap pelayan itu lagi sebelum bergegas pergi untuk menyiapkan hidangan bagi mereka bertiga.
Mereka pun duduk santai sambil berbincang-bincang ringan. Suasana menjadi hangat saat topik pembicaraan beralih ke konferensi pemburu iblis dan para jenius yang akan hadir di Istana Pedang Matahari.
“Han Chuan, sekarang kau sudah berada di ranah berapa?” tanya Han Ling sambil menatap anaknya.
“Tadi baru saja naik ke ranah Penempaan Fondasi Dewa tahap awal, berkat pil peningkat kultivasi yang diberikan oleh Bibi,” jawab Han Chuan sambil menyesap tehnya.
Xue Lin yang duduk di sampingnya tampak terkejut. “Apa? Sudah di ranah Penempaan Fondasi Dewa? Aku sendiri baru mencapai ranah Penyempurnaan Tubuh tingkat atas!” serunya kagum.
Han Ling mengangguk pelan. “Perkembanganmu memang berbakat, tapi belum seberapa jika dibandingkan dengan Ling Shura—anak yang berada di bawah bimbingan Penguasa Istana Pedang Matahari,” ucapnya serius.
Han Chuan tersenyum percaya diri. “Maka dari itu, aku akan menunjukkan kekuatanku besok di konferensi pemburu iblis. Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya dan melihat sejauh mana kehebatannya,” ucapnya bersemangat.
Setelah beberapa lama berbincang, makanan yang dipesan akhirnya datang. Aroma masakan memenuhi ruangan, dan mereka pun mulai menyantap hidangan itu dengan tenang sambil melanjutkan obrolan ringan.
Sementara itu, Shen Tu sudah kembali ke kediaman keluarga Yan. Ia berjalan pincang menuju ruang meditasi, di mana Yan Long sedang duduk bersila dikelilingi aura hijau pekat.
“Ketua... kami gagal membuat kekacauan di restoran keluarga Han karena dihalangi oleh Han Chuan,” ucap Shen Tu dengan wajah menahan sakit, tangannya menekan dada akibat benturan keras saat dibanting oleh Han Chuan.
Yan Long membuka matanya perlahan, menatap tajam ke arah Shen Tu. “Anak bernama Han Chuan lagi…” gumamnya dalam hati, matanya menyipit tajam. “Han Ming pasti tidak akan diam kali ini,” pikirnya sambil menghela napas pelan.
Ia mengambil beberapa pil penyembuh dari kantong ruangnya dan melemparkannya ke arah Shen Tu. “Pulihkan dirimu. Besok kau akan ikut dalam konferensi pemburu iblis,” ucapnya datar sebelum kembali memejamkan mata untuk bermeditasi.
Shen Tu menunduk dalam-dalam, menangkap pil itu dengan dua tangan. “Terima kasih, Ketua,” ucapnya dengan nada hormat, lalu berbalik dan meninggalkan ruangan dengan langkah berat.
Di sisi lain, murid-murid dari Sekte Iblis Langit telah sampai di perbatasan kota Sianlong. Mereka berjalan perlahan memasuki kota, menyembunyikan aura iblis mereka dengan teknik khusus. Dalam sekejap, mereka berbaur sempurna di antara manusia biasa, menyamar sebagai para petarung muda yang hendak mengikuti konferensi pemburu iblis. Dan melancarkan rencana jahat mereka.
Sementara itu, berita tentang kekacauan yang terjadi di restoran keluarga Han sudah sampai ke telinga Han Ming. Wajahnya langsung menegang, matanya menyipit penuh amarah.
“Dasar tua sialan! Berani-beraninya kau membuat kekacauan di restoran milikku!” geram Han Ming sambil menghentakkan tongkatnya ke lantai. Aura panas keluar dari tubuhnya, membuat udara di sekitarnya bergetar hebat.
Tanpa pikir panjang, Han Ming langsung bangkit dari tempat duduknya dan melesat dengan kecepatan tinggi menuju bukit di samping Istana Pedang Matahari. Angin berdesing kencang saat ia menapaki udara, meninggalkan jejak energi berwarna merah menyala di belakangnya.