Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.
Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.
Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?
Conquer me ~》Taklukan aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35🩷 Hati yang patah
Dea membalas tatap itu dengan perasaan campur aduk. Alis Rifal bergerak seolah meminta jawaban, sementara Dea justru menunduk, "sebelum aku jawab, aku mau tanya dulu sama kamu."
"Oke. Apa, jangan yang susah-susah aku belum ngafalin soalnya." kekeh Rifal semakin membuat dirinya nyaman dengan menatap wajah indah di depannya itu. Sementara Dea sendiri sudah tak enak duduk, bahkan bernafas saja ia terlihat sesak.
"Menurut kamu, LDR itu gimana?" sorot Dea penuh harap dan nervous menanti jawaban Rifal, ia melihat gestur Rifal yang seolah terheran, "LDR?"
Dea mengangguk sama sekali tak melihatnya sebagai sesuatu yang lucu padahal Rifal sudah mendengus sumbang.
"Long distance relationship maksud kamu?"
Dea kembali mengangguk.
"Ngapain harus ngomongin yang begitu sih, De? Kamu ada disini, aku disini....itu kenapa aku mau kamu jadi pacarku karena kamu ada disini buatku, dan aku ada disini buat kamu. Ngerti kan?" alisnya kembali bergerak meminta jawaban Dea, wajah Dea menandak redup ketika mengangguk. Seolah masih berharap jika Rifal akan mentoleransi hubungan jarak jauh.
"Simpel aja. Buat apa pacaran kalo rasanya tetep kaya sendiri. bullshit kalo aku ngga mau sama kamu tiap hari, kalo bisa aku nikahin kamu langsung, tapi kan ngga gitu konsepnya, De...mungkin tanpa aku jelasin kamu ngerti lah, cara pikir aku."
Dea mengangguk paham, dengan menelan salivanya sulit Dea menghela nafas, "kalo gitu jawabanku, engga Fal."
Wajah sumringah Rifal langsung berubah kaku dan dingin, "gimana?"
"Aku ngga bisa jadi pacar kamu." Jelas Dea lagi melihat Rifal, dimana air mukanya sudah benar-benar kelam. Pemuda itu beranjak dari duduknya, dalam sekali gerakan ia meraih minuman soda dalam kaleng miliknya dan melempar itu melewati Dea langsung menabrak tembok pagar.
Blughh!
Dan BUGH!
Dea terhenyak kaget karena hanya sepersekian detik kemudian Rifal meninju tembok tepat di belakang Dea. Vian, dan mereka yang ada di dalam langsung berhamburan keluar.
Vian....awalnya ia sedang mengunyah kacang, namun langsung bergegas berlari keluar sebab ia tau yang diluar adalah Dea---Rifal.
"Cuma karena jawaban aku ngga sreg di kamu, kamu nolak aku, De?" tanya Rifal menatapnya tajam, "liat aku?!" tangkap Rifal menarik Dea untuk bangkit.
"Fal, Fal..." Vian segera melerai, bahkan menarik Dea ke belakang badannya saat merasakan red flag di diri Rifal sudah berkibar.
"Kamu mau mainin aku, Dea? Apa kamu masih mikir-mikir karena temen-temen, perbedaan circle atau gimana, De? Coba jelaskan salah dan kurang aku dimana?!"
Yang ada di pikiran Rifal saat ini adalah---Dea terlalu bullshit.
"Kamu bisa terima cowok lain siapalah itu, tapi kenapa aku engga? Apa karena kesan pertama aku jelek buat kamu?" terlihat betul wajah kecewa Rifal, dan itu praktis membuat Dea hanya bisa menunduk di belakang badan Vian, dan erangan Rifal selanjutnya yang menghantam kembali tembok cukup membuat Dea ketakutan.
"Santai bro..." Vian mencoba menenangkan.
Rifal menghela nafasnya, ia menggeleng dan mencoba mengelola emosinya. Dimana yang lain kembali masuk ke dalam saat menemukan semua sudah tertangani.
Rifal kembali berbalik setelah berusaha tenang, dan menemukan wajah Dea yang mulai berkaca-kaca memalingkan wajahnya di belakang badan Vian, "gue anter balik, De?" Vian berkata.
"Gue udah ngga apa-apa. Sorry..." Rifal kini menghampiri Dea melewati Vian, "aku anter kamu pulang, udah malem."
Dea hanya mengangguk saja tanpa menolak ataupun berkomentar apapun, "Vi, gue balik ya.." pamit Dea, dan gerakan terakhir adalah Rifal membuka jaket miliknya lalu memasangkan itu pada Dea, "sorry kalo bikin kamu jadi makin ilfeel sama aku..."
Dea mendongak menatap Rifal, namun pandangan Rifal yang sudah jauh lebih meredup sekarang justru lari dari netra Dea dan memilih segera menarik resleting jaketnya di badan Dea.
"Hati-hati..." Vian melepas keduanya melangkah ke arah motor Rifal.
Sepanjang jalan menuju rumah Dea, keduanya diam. Tak ada yang angkat bicara baik Dea ataupun Rifal. Tak ada lagi candaan renyah atau obrolan penuh kenyamanan, semuanya hening diantara hiruk pikuk malam.
Dan seperti biasa, Rifal akan memutari jalan komplek rumah Dea hingga mereka sampai di depan rumah Dea, memberikan waktu sedikit lebih lama untuk mereka saling melepas aroma tubuh masing-masing sekarang, gadis itu membuka terlebih dahulu jaket milik Rifal dan memberikannya.
"Langsung tidur, udah malam." Ucap Rifal memakai jaketnya lagi. Dea mengangguk melihat Rifal, "kamu langsung pulang, kan?"
"Aku mau balapan. Udah ambil nomor race." jawabnya siap menstater motornya kembali, menatap Dea untuk yang terakhir dan memutar balik laju motor untuk kemudian pergi.
Dea masih menatap kepergian Rifal, bahkan sampai lampu motor itu hanya sebesar titik merah kecil saja, "aku sayang kamu Rifaldi Elvan Januar."
Ia mendekap kedua lengannya sendiri menahan dinginnya hati yang lebih dingin dari cuaca malam ini. Dea berbalik badan dan bersiap masuk ke dalam rumah.
Ia menemukan mama disana bersama papa, "Hay De, gimana seru acara ultahnya?"
Dea mengangguk mengiyakan, "cape ma, Dea ke atas dulu." pamitnya hanya ingin bergelung dengan lelahnya.
Perasaan Dea cukup sedih, muram namun sedihnya kali ini benar-benar merasa patah hati, lebih sakit dari sebelumnya. Dea memeluk lututnya, dan menangis terisak disana. Mengumpati bibirnya yang sekelu itu untuk berbicara pada Rifal. Ia justru diam saja saat mendapati Rifal begitu kecewa padanya.
Namun apakah keputusannya itu sudah benar? Lebih baik sakit sekarang daripada nanti setelah terlanjur, kan? Sebab, Rifal sendiri tak menerima hubungan jarak jauh. Berkali-kali ia bertanya pada dirinya sendiri tentang keputusan yang baru ia ambil itu.
Dea menekan dadanya, sakit. Nafasnya mendadak pendek, dan Dea mulai mengeluarkan inhalernya. Yang membuat Dea sakit adalah, seharusnya ia menjadi pelipur lara Rifal di tengah kondisi keluarga yang toxic, seharusnya ia yang paling mengerti dan mengobati Rifal sebagai seorang yang paling tau kondisi Rifal. Tapi disini, ia justru menjadi seorang yang menyakiti Rifal.
Rifal memang membutuhkan seseorang di sampingnya, menghibur, menyemangati, bermanja-manja bukan seseorang yang akan pergi jauh meninggalkan, membuat Rifal khawatir, ketakutan dan rindu setiap saat.
Tanpa sadar perih itu membuat Dea sesenggukan, sesenggukan yang harus ia redam sendiri berteman inhaler.
Semua akan lebih mudah jika ia masih disini. Namun keadaan yang membuatnya menjadi sulit.
/
Dan tentang semalam, Inggrid masih meributkan kejadian semalam, sementara Dea...ia sudah tidak bersemangat menjelaskan atau bercerita. Ia hanya menyebut, jika orang-orang itu hanya teman-temannya dulu. Tanpa ada penjelasan yang membuat Gibran, Inggrid dan Willy semakin merasa aneh dan penasaran. Tapi Dea enggan menjelaskan apapun.
Ngga bisa ya nanya, nyapa baik-baik?
Mesti pake slayer, bertindak kaya begal motor...Aneh.
Bikin makin curiga. Jangan-jangan itu si berandal ya, De?
Berandal siapa?
Siapa lagi kalo bukan MIPA 3!Rifaldi Elvan Januar kan, De?
Oh my God! Dea, jadi beneran Lo punya hubungan sama dia?! Jawab gue De!
Perdebatan Inggrid, Willy dan Gibran masih mengudara tak ingin ia tanggapi, cukup pusing menjawab dan memikirkannya.
"Lo kenapa sih, De? Aneh deh...Lo ngga diapa-apain kan?" tanya Gibran cukup khawatir begitupun Inggrid, Dea menggeleng, "gue oke. Mereka bukan anak MIPA 3 atau Rifal, Gib...Ing, udah ya. Gue oke. Kata temen gue itu sorry katanya udah gebukin Gibran sama Willy.." jawab Dea, "ke kantin yuk, laper gue." ajak Dea.
Dan ayunan langkah mereka tak sengaja berpapasan dengan Rifal serta yang lain. Namun hari ini....
Ia seolah tak melihat Dea, Pandangan matanya lurus ke depan padahal yang lain sudah menyapanya lirih, "Deaaa...ini om Ipal De...Ipal adalah maut." goda Rio yang mengundang decakan protektif Inggrid.
"Mamahnya anak-anak, om..." goda Yusuf.
Vian meringis menatap Dea. Tak berani menggoda seperti biasanya.
Dapat Dea rasakan sakit yang luar biasa, namun huffftt....ia harus legowo, memang dirinya lah yang membuatnya jadi seperti ini. Dea terima....hanya saja....
Dea membalikan ponselnya, dimana salah satu hasil jepretan foto box waktu lalu itu, ia tempel diantara case bening dan hapenya. Menatap meratapi kebersamaan yang kini menjadi asing. Padahal semalam masih baik-baik saja.
.
.
.