Pagi ini dia akad nikah dengan perempuan pilihannya. Padahal dua minggu lalu dia berjanji akan melamarku. Laki-laki mana lagi yang bisa dipercaya?
Dekat sejak SMA, bahkan Kyara selalu mendukung Bagaskara untuk mencapai cita-citanya. Mulai dari beli sepatu, memberi uang untuk ongkos seleksi, Kyara selalu ada. Namun, sekarang gadis cantik itu membuktikan jika kamu memulai hubungan dengan pasanganmu dari nol, maka kamu akan mendapat pengkhianatan.
Ikuti perjalanan cinta Kyara Athiya hingga mendapat pengganti Bagaskara dengan cinta yang tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KASIH IZIN
"Kita naik dulu ya, Wi. Terimakasih banyak," ucap mama dan tak lupa papa menepuk pundak sang atlet seolah memberikan izin kepada sang putri untuk ditemani Owi, Adit hanya berpesan gak usah kecentilan sama laki, Kya hanya mendengus kesal pada keluarganya, malah kasih izin agar dirinya keluar dengan Owi.
"Kamu capek?" tanya Owi yang melihat Kya tak bersemangat saat bersamanya. Sebenarnya, Owi juga tak memaksa setelah mengantar keluarga Kya ke hotel, langsung pulang. Tapi mama Kya menyuruhnya untuk berdua dulu sama Owi, mungkin beliau sungkan kalau langsung menyuruh Owi pulang. Kok kesannya seperti sopir taksi saja.
"Enggak, cuma jetlag saja."
"Mau makan es krim gak?" tawar Owi, Kya mengangguk saja. Menghormati Owi yang sudah direpotkan olehnya.
Keduanya pun keluar hotel, dan segera menuju kedai es krim, tak lupa Kya mengabari orang tuanya. "Sini aku foto!" tawar Owi, ia tahu betul kebiasaan Kya yang selalu mendokumentasikan segala macam akivitasnya, di Indo saja main cekrek, masa' iya di Jepang gak didokumentasikan. Kya tertawa ngakak, karena Owi sudah terlebih dulu membaca pikirannya. Bahkan Owi mengarahkan spot terbaik untuk diambil foto.
"Kamu sering ke sini?" tanya Kya penasaran, karena spot yang dipilih Owi terkesan ikonik sekali.
"Beberapa kali."
"Sama cewek kamu?" Owi langsung menatap Kya dengan tertawa.
"Teman cewek satu club pernah, sama penerjemah tim pernah, sama psikolog club pernah," jelas Owi.
"Kamu yakin gak ada yang marah kalau kita keluar berdua begini?" tanya Kya, antisipasi saja.
"Kalau dari aku sih gak ada yang marah, kalau kamu?"
"Gak ada. Kamu tahu kan aku jomblo!" ujar Kya sedikit kesal, kalau disinggung statusnya, dan itu membuat Owi gemas padanya.
"Ya kamu juga tahu aku jomblo."
"Aku tahunya kamu jomblo di Indo, kalau di Jepang bisa jadi beda kan," ujar Kya dengan menatap Owi, sedangkan pemuda itu hanya tertawa saja. Merasa kalau Kya canggung berduaan begini, mereka memang dekat karena ada Bagas, kalau berdua berhadapan begini apalagi sudah jarang komunikasi mendadak canggung saja.
"Gak ada kayak gitu, Kya. Apa sih fungsinya pacaran? Cari perhatian? Lah, orang pulang latihan juga capek, ngapain pakai pacar-pacaran segala, ribet. Gak ada kabar nanti dikira gak perhatian, mana kalau bertengkar aduh ribet amat ganggu konsentrasi pas tanding juga!"
"Kok tahu?"
"Lupa kalau aku dan Bagas pernah satu tim di pelatnas," sindir Owi yang merujuk pada kasus Bagas-Kya dulu. Kya tertawa ngakak, kebiasaannya dulu ternyata dilihat oleh Owi juga. Jadi malu. "Sini foto dulu," ajak Owi. Namun Kya tak serta merta mau. Khawatir fotonya disalah gunakan.
"Iya aku salah gunakan buat mengusir tikus," ujar Owi, tapi pada akhirnya Kya juga mau foto berdua dengan Owi, di tengah-tengah mereka ada es krim, terlihat kalau mereka duduk saling berhadapan. "Rencana mau ke mana saja?" tanya Owi kepo.
"Besok cek kampus dan apartemen Kak Adit, mau ke disney juga, terus kuliner sama belanja aja!"
"Dua minggu lama loh," ujar Owi mendengar agenda Kya kayaknya gak terlalu padat juga.
"Ya gak dua minggu juga sih, di Jepangnya sekitar 8 harian, habis itu pulang. Tapi aku nambah jatah libur, khawatir kecapekan," ujar Kya dan diangguki oleh Owi.
"Siap jadi tour guide loh, aku udah ambil cuti 5 hari."
"Gak enak."
"Kenapa? Aku loh sengaja ambil cuti memang buat kamu. Teman ke Jepang, masa' iya gak dipeduliin sama sekali."
"Bayar berapa?" tanya Kya, Owi langsung mencondongkan wajahnya mendekati Kya.
"Bayar tunai gimana? Mumpung lengkap tuh keluarga kamu."
"Ngaco!"
"Mana berani kamu nikah sama aku, masih belum move on juga dari Bagas." Kya langsung berubah ekspresi setelah mendengar nama itu.
"Kamu tahu gak kenapa aku malas balas chat kamu?"
"Iya kenapa? Aku juga penasaran, gak biasanya kamu setega itu."
"Karena kamu bahas Bagas. Aku gak suka."
"Bukannya kalian balikan?"
"Kata siapa?"
"Dia ke rumah kamu?"
"Ke rumahku bukan berarti aku balikan sama dia, malah aku usir. Intinya kalau sudah putus, aku gak mau kembali lagi sama dia. Apalagi putusnya kita karena dia tidak menghargai aku banget, gak ada omongan putus, malah nikah sama perempuan lain. Nyesek, dan aku bukan perempuan bodoh juga, segampang itu kembali."
"Ya maaf, habis statusnya seolah menunjukkan sedang berjuang mendapatkan kamu lagi." Kya sekali menegaskan tidak ada rencana itu, dan tidak akan. Apalagi sampai sekarang segala macam akses komunikasi masih diblok oleh Kya.
"Jadi please, jangan bahas Bagas. Aku bakal menghindari semua tentang Bagas. Sudah kututup masanya dalam hidupku." Owi mengangguk, dan setelah ketegasan begini, Owi jadi tahu hubungan mereka.
"Gak mau take away?" tanya Owi. "Buat mama, papa, dan Kak Adit?" Kya tertawa.
"Kok aku jadi curiga sama kamu sih, Wi. Kamu emang seperhatian begini sama keluarga teman kamu?"
"Enggak, cuma sama keluarga kamu doang. Aku bela-belain jemput kamu juga sama kamu doang. Ada kali beberapa teman kita yang melancong ke sini, tapi ya aku bertemu hanya say hello saja. Eh tapi aku gak merecoki kamu kan?"
"Enggak, kalau kamu gak rese'!" Owi tertawa, ia sekarang tahu rese'nya Kya tentang apa. "Mama dan papa malah mengira kita punya hubungan, terus papa dan mama ramah banget sama kamu, beda saat mama dengan Bagas dulu."
Owi semakin tertawa saja, dalam hati sedikit tersanjung, istilahnya mendapat poin plus dibanding Bagas dulu. Ia menatap Kya dengan serius, "Namanya orang tua, tentu ingin anaknya mendapat pasangan yang mapan. Saat kamu kenal dengan Bagas dulu, dia belum punya apa-apa, bahkan belum jadi siapa. Diakhiri dengan pengkhianatan pula, mungkin orang tua kamu sudah firasat kalau kamu gak berjodoh dengan Bagas."
"Sedangkan sama kamu?"
"Ya beliau bertemu dengan aku posisi aku sudah jadi siapa, dan feeling orang tua saat pertama kali bertemu sebenarnya sudah ada sih, tinggal lihat saja besok papa kamu ramah lagi sama aku gak. Kan bisa jadi beliau ramah karena aku udah menemani kalian tadi."
"Kalau mama dan papa sudah terlalu promosi aku, please jangan ilfeel ya. Itu hanya candaan orang setengah tua aja."
Owi makin tertawa saja. "Emang kenapa harus ilfeel?"
"Ya malu aja seolah aku gak laku loh."
"Padahal sudah ada dua cowok yang terang-terangan naksir."
"Siapa?" tanya Kya heran, bahkan sampai mengerutkan dahi.
"Aku dan Kak Justin." Kya langsung melengos. Niatnya enggak mau urusan hati, malah dipepet terus. Mana Kya oke ajak diajak makan es krim, bisa saja dianggap kencan bukan.