NovelToon NovelToon
Nona Pengganti

Nona Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.

Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.

Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lepaskan

"Aku rasa ini... terlalu kebesaran di tubuhku?"

Hita menatap pantulannya di cermin, memperhatikan bagaimana kemeja Bram melekat di tubuhnya, begitu longgar hingga ia tampak tenggelam di dalamnya. Bahkan kemeja itu mampu menutupi sampai bagian paha.

Apakah ia sekurus dan sekecil itu? Atau mungkin Bram yang terlalu besar?

Hita menggeleng pelan, menepis pikiran tak berguna itu dan mencoba bersyukur karena setidaknya ia masih memiliki pakaian yang bisa digunakan. Toh ini lebih baik daripada ia tak berpakaian sama sekali.

Hita lanjut menyisir rambut bergelombangnya yang terurai indah di punggung, berhati-hati agar tak membuat helaian-helaian indah itu lepas dari kulit kepalanya.

Hita mendongak, menatap ke arah jam dinding yang kian berdetak. Entah mengapa, Hita tiba-tiba memikirkan Dirga, bertanya-tanya apa yang sedang laki-laki itu lakukan sekarang.

Apakah benar-benar bekerja? Atau melanjutkan pencariannya terhadap Loria?

Hita jelas mengerti bahwa semarah apapun Dirga atas apa yang Loria lakukan, laki-laki itu akan tetap mencintainya. Hita jadi sedikit iri, bertanya-tanya kapan ia akan mendapatkan cinta seperti itu.

Bahkan sejak kecil, Loria sudah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, ditambah lagi keluarga besar dan teman-temannya. Loria jelas mendapatkan perlakuan yang baik dari orang-orang di sekitarnya sejak kecil, sangat berbeda dengan Hita.

Hita menghela napas, mencoba tak memikirkan penderitaan itu sekarang. Ia butuh pengalihan, kegiatan untuk melupakan bebannya sejenak.

...****************...

"Pastikan semuanya berjalan dengan baik, saya tidak ingin ada kendala dalam hal ini."

Yang terdengar sebagai penutup dari rapat menegangkan siang itu adalah tuntutan Dirga akan kesempurnaan.

Dirga memang dikenal seperti itu, tegas dan selalu menekan setiap sudut agar tak tercipta sedikitpun celah untuk kegagalan menghampiri. Semuanya akan sekuat mungkin ia tangani, membawa nama Martadinata selalu berada di atas.

Mungkin para karyawan akan bertanya-tanya mengapa Dirga masuk kantor hari ini, mengingat kemarin bos mereka mengadakan pesta pernikahan yang begitu mewah, bahkan menjadi trending topik di seluruh penjuru negeri.

Setidaknya, dia akan berlibur sementara bersama istrinya, kan?

Nama Loria Wijaya dan Dirga Re Martadinata berada di setiap layar pengguna media sosial saat ini.

Saat perintahnya dijawab oleh anggukan para anggota di dalam ruangan, Dirga bangkit dan membenahi jasnya dalam satu gerakan sebelum bergerak keluar dari ruangan.

Tangannya mendial nomor di layar handphonenya yang mahal, lalu menempelkan benda itu di telinganya.

"Bagaimana, Nu? Apakah Loria sudah ditemukan?" tanya Dirga tanpa basa-basi.

"Belum, Pak," jawab seseorang di seberang telepon. "Kami belum bisa menemukan tanda-tanda keberadaan Nona Loria. Sudah kami kerahkan semua orang-orang yang kita punya, tapi masih belum ada titik terang."

Tangan Dirga mengepal tatkala mendengar ucapan sosok yang berada di seberang telepon—Wisnu, tangan kanan kepercayaan keluarganya selama bertahun-tahun yang ia perintahkan untuk memandu pencarian Loria.

Tangan Dirga gemetar karena marah, meremas benda pipih di tangannya itu hingga nyaris retak. Di manapun Loria berada, ia berjanji pada dirinya sendiri akan membawa wanita itu kembali.

Dan saat wanita itu kembali, Dirga akan melakukan apapun untuk menahannya tidak pergi. Menghamilinya? Mengurungnya di dalam sangkar emas? Semuanya akan Dirga lakukan.

"Lanjutkan pencarian, dan pastikan saat dia ditemukan..." Suara Dirga menelan, menunjukkan nada berbahaya dan mengancam. "Seret dia kehadapanku detik itu juga."

"B-baik, Pak," jawab Wisnu sedikit tergagap, tentunya kaget dengan perintah itu.

Dirga mematikan sambungan telpon dengan satu gerakan, memasukkan kembali handphone di tangannya ke dalam kantong di dalam jas mahalnya.

Tatapannya begitu tajam saat menatap ke depan, dipenuhi ambisi untuk membawa wanita yang sangat ia cintai untuk kembali pulang.

Dirga tak akan berlama-lama dengan wanita tak berguna dan menjijikan yang kini berada di rumahnya. Ini hanya untuk menekan Arseno agar berusaha lebih keras mencari Loria, karena ia tau bahwa Arseno juga menyayangi Hita meskipun wanita itu adalah anak haram yang tak diharapkan.

Dirga melanjutkan langkahnya, menjalani hari-harinya di kantor seperti biasa meskipun hal-hal yang menimpanya kini sangat berat.

Saat sore hari datang, Dirga kembali ke rumah besar Martadinata dengan penampilannya yang masih rapi seperti saat ia baru berangkat ke kantor pagi tadi.

Begitu pintu terbuka, langkah Dirga berhenti mendapati Pramahita yang berada di ruang tamu.

Hal pertama yang Dirga lihat adalah sosok bertubuh mungil yang duduk di lantai, rambut hitam bergelombang menutupi punggung dengan indah, tapi yang paling menonjol adalah kemeja kebesaran yang sudah Dirga kenali bukan miliknya, dan sepertinya juga bukan milik Hita. Gadis seperti dia tak mungkin memiliki kemeja mahal seperti itu, kan?

"Kak Dirga?" Hita menoleh ke arah Dirga saat menyadari keberadaan laki-laki itu, tangannya memegang Lego yang sudah setengah jadi ia rakit.

"Dari mana kau mendapatkan pakaian itu?" alih-alih membalas hangat, Dirga melontarkan pertanyaan dengan nada menuduh. "Lebih tepatnya, pakaian siapa yang kau curi?"

"Aku tidak mencuri, Kak." Hita menggeleng cepat saat mendengar tuduhan Dirga, buru-buru berdiri dan menatap laki-laki itu yang berdiri cukup berjarak dengannya. "Kak Bram meminjamkan ini padaku," jelasnya.

"Bram?" ulang Dirga, sebelah alisnya terangkat. "Dan kenapa kakakku tiba-tiba meminjamkan pakaiannya padamu?" tanyanya, seperti seseorang yang tengah mengintrogasi.

"Aku lupa membawa pakaian," Hita menjelaskan hati-hati, menunduk saat mendapati tatapan tajam Dirga. "Aku tak sengaja melihatnya, dan dia menawarkan pakaiannya padaku. Awalnya aku ingin meminjam pakaian Lian, tapi dia mengatakan sedang terburu-buru," lanjut Hita. "Lian mengatakan bahwa akan mengajakku membeli pakaian, tapi dia belum pulang sampai sekarang."

Hita menoleh gugup ke arah Dirga, jari-jarinya terpaut gugup di depan paha. Tatapan Dirga benar-benar tajam, dingin, bahkan menusuk hingga Hita takut menatapnya.

"Begitukah?" ucap Dirga skeptis, nadanya meremehkan. "Kau memang benar-benar menyusahkan, kau bahkan tidak bisa mengurus dirimu sendiri," ucapnya menohok, membuat Hita semakin menundukkan kepalanya.

Dirga mengamati penampilan Hita sebalik kemeja kakaknya, mengamati bagaimana tubuh kecil itu tenggelam di dalam kemeja kebesaran yang menutupi hingga ke paha, bahkan turut menutupi celana pendek gadis itu.

"Lepaskan."

Hita sontak mendongak saat mendengar perintah tiba-tiba Dirga, kebingungan yang polos terukir di wajahnya. "Apa? Apa yang dilepaskan, Kak?" tanya Hita bingung.

"Kemeja itu," tekan Dirga, geram saat melihat raut wajah polos dan bingung Hita. "Lepaskan. Sekarang."

Hita terbelalak saat mendengar ucapan Dirga. Apa katanya? Dirga ingin agar ia melepaskan kemeja ini? Tapi kenapa?

"Kenapa harus dilepas, Kak?" tanya Hita bingung, menatap tubuhnya sendiri. "Aku tidak punya pakaian—"

"Aku bilang lepaskan," potong Dirga cepat, semakin geram dengan Hita yang terus bertanya. Jika itu adalah Loria, pasti wanita itu cepat-cepat menanggalkan pakaiannya dan berakhir tanpa busana dihadapannya.

Hita menelan ludah, sedikit ragu saat meraih kancing kemejanya. Ia tak bisa melawan, tidak saat Dirga memiliki kendali penuh atas dirinya.

Tepat saat Hita melepaskan kancing teratas kemejanya, Dirga kembali bicara.

"Apa yang kau lakukan?" tanyanya tajam, membuat Hita sontak mendongak.

"M-membuka kemeja," jelasnya sedikit gugup, suaranya nyaris tak terdengar.

Dirga memutar mata, memijat pelipisnya saat menghadapi gadis polos yang entah benar-benar polos atau mungkin bodoh.

"Aku memang menyuruhmu untuk membuka kemeja itu," ucapnya dengan penekanan. "Tapi bukan berarti di hadapanku."

Dirga melangkah menjauh dari ruang tamu, berbelok ke arah Dapur yang tak jauh dari sana.

"Kau benar-benar murahan, membuka pakaian di hadapan pria bahkan tanpa berpikir dua kali," sindirnya, menuangkan air ke dalam gelas. "Tak heran, kau pasti mendapatkan sikapmu itu dari ibumu yang merupakan seorang jalang."

Hita terdiam saat mendengar ucapan Dirga, tangannya terjatuh di sisi tubuh saat lagi-lagi perkataan Dirga menyakitinya.

Hita menoleh ke arah laki-laki yang kini berstatus sebagai suaminya, seseorang yang seharusnya menjadi sosok yang sangat mencintai dan menyayanginya.

"Kenapa?" ucap Hita pelan, rasa sakit terukir di setiap kata yang ia ucapkan. "Kenapa Kak Dirga berkata seperti itu?"

Dengan santai Dirga menegak air di dalam gelas, meletakkan kembali gelas itu di atas meja dengan suara dentingan pelan.

"Kenapa?" ulangnya dengan tawa hambar. "Karena itu adalah kenyataan, karena kau adalah wanita murahan sama seperti ibumu yang dengan mudahnya memperdaya laki-laki hanya dengan membuka kaki dan pakaiannya," ucapnya tanpa merasa bersalah, menatap Hita dari seberang ruangan.

"Kau juga sama, kan? Kau bahkan ingin membuka pakaianmu di hadapanku bahkan tanpa menolak." Dirga tersenyum sinis dan menggeleng, dimaksudkan untuk menghina. "Aku ingin kau melepaskan kemeja itu agar kau tak berlama-lama menggunakan pakaian kakakku hingga dia berpikir aku bukanlah seseorang yang bertanggungjawab, seorang suami yang tak mampu memberi istrinya sendiri pakaian yang layak, bukan karena aku ingin melihat tubuhmu yang tak menarik."

"Segera buka kemeja itu di kamar dan ambil salah satu pakaianku," perintahnya kembali melangkah mendekat. "Kita akan membeli beberapa pakaian yang pantas, agar tak seorangpun bisa mengatakan bahwa aku adalah pria tak bertanggungjawab."

Jangan tanyakan bagaimana sakit hatinya Hita saat mendengar kata-kata Dirga. Ia biasa mendapatkan hinaan, dan ia tau itu menyakitkan.

Tapi saat yang dihina adalah ibunya, ia merasa bahwa dunianya benar-benar runtuh. Seseorang yang telah melahirkannya, seseorang yang begitu berarti baginya dihina begitu saja seolah-olah itu hal yang tak salah untuk dilakukan.

"Cepat, aku tidak suka dengan wanita lamban," ulang Dirga dengan rahang mengeras, membuat Hita buyar dari lamunan rasa sakit.

Hita segera mengangguk patuh, melangkah melewati Dirga dengan kepala tertunduk dan menaiki tangga menuju kamar.

Dengan air mata yang tanpa sadar menetes, Hita terisak dalam di setiap langkah menuju kamar.

Bersambung....

1
Lilla Ummaya
Please thor jangan satu bab
Lilla Ummaya
Ditunggu segera thor updatenyaa
Lilla Ummaya
Pleasee update banyk penasaran
Liaramanstra: author usahakan ya kak🤍
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
Elvia Rusdi
Thor..jangan sampai bikin Hita hamil ya..dan pengen lihat penyesalan Dirga atas sikap nya ke Hita
Elvia Rusdi
cukup menarik
partini
wow double wow ini mah buka pedas lagi Thor ini di luar Nurul seorang lelaki yg suka lendir nya loria Weh Weh nyesek nya
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
partini: ngemis seperti apa ya Thor
dia like Casanova 🤣
total 2 replies
partini
Dirga otaknya geser ya Thor udah lihat masih aja bego ini akibat nya lihat pakai mata dengkul
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
partini: patut lah ukuran kecil tuh otak udang pantas ga nympe yah Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
partini
semoga Hita ga kaya yg lain jatuh cinta duluan 😭
partini
sangat bangus cerita nya tapi muak sama Dirga Thor jaharaaa bnggt plus bego nya dihhh gumussss
Liaramanstra: Wahh makasii ya kakk🤍
total 1 replies
partini
tuh kabur sama laki laki,masih Bege jg ga melek tuh mata
partini
Bram sering dah ketemu ma Hita biar tuh tuan sombong plus songong esmosi
partini
yah di gantung Thor
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
partini
good story
Liaramanstra: Wahh makasi banyak ya kakk, semoga suka sama ceritanya🤍
total 1 replies
partini
jirr CEO koplak pantas harus ketemu udah lihat yg polos polos dasar CEO kamu yang murahan bukan Hita
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga
partini
tuh mulut kaya bon cabe ,, Ampe Kemabli use your brain Dirga cari tau tuh Liora kenapa macam ferek
partini
dasar laki" BEGE
partini
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!