Aku Nadia istri dari Mas Afif dan ibu dari Bintang. aku istri yang setia, yang selalu berusaha melayani suamiku dengan baik, menemaninya dari nol. aku juga ibu yang baik untuk anakku Bintang. singkatnya aku berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku.
Namun di saat pernikahanku yang ke tujuh, Mas Afif memberikanku kejutan besar, dia membawa seorang wanita lain ke dalam rumah tangga kami, namanya Laras dan anak tirinya bernama Salsa, yang Bintang selalu bilang kalau anak itu adalah anak tercantik di kelasnya.
cerita perhianatan dan kebangkitan Nadia dari penghianatan suaminya.
happy reading All❤️ bantu support cerita pertama saya ya, trims🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
“Jadi ada apa nak Darel?.“Tanya bibi yang menatap Darel cukup dalam dengan kening mengeryit, sementara aku sedang memperhatikan Bintang dan Arthur yang sedang anteng main mobil-mobilan.
Darel terlihat beberapa kali menghela nafasnya dalam-dalam, kedua matanya bergerak gelisah, sepertinya pria itu tengah mengalami dilema, tapi karena apa? Aku jadi penasaran sekali.
“Begini bi, tapi mohon maaf sebelumnya. Saya berniat akan ke kota selama satu minggu penuh dan eum.. saya berniat menitipkan Arthur di sini, tidak apa-apakan? Soalnya ibu saya sedang ada di surabaya bersama papa, pulangnya seminggu kemudian.“Ucapnya terdengar lirih dan matanya terlihat penuh harap namun agak sungkan, aku pun kembali melarikan tatapanku pada Arthur yang masih anteng bersama Bintang__anak sebaik itu dan sekecil itu hanya punya seorang papa yang sibuknya luar biasa, tentu saja dia harusnya masih di perhatikan dan di sayang oleh ibunya. Dia masih kecil menurutku__tapi entahlah, aku pun belum tahu kenapa sampai mantan istri Darel tidak mendapatkan hak asuh dan aku pun enggan bertanya pada Darel apalagi Arka yang pastinya akan meledekku habis-habisan nantinya.
Dan baby sitter. Ku rasa Darel sangat mampu kok untjk menyewa sekaligus sepupuh baby sitter, tapi kenapa tak di lakukan ya? Ketimbang ribet seperti ini, bukan aku tak ingin menerima Arthur di sini, hanya agak heran saja.
“Tentu saja boleh nak Darel.“Jawab Bibi sambil tersenyum tipis dan membuatku menghela nafas panjang.
“Terimakasih bi, mohon maaf saya ngerepotin, ya? Tapi saya bingung nau titipin Arthur di mana lagi, kalau saya bawa. Kasihan juga.“
Bibi mengangguk mengerti dan masih mengulas senyumnya”Iya, gak papa nak Darel. Tapi bagaimana dengan sekolahnya, ya?.“
Darel tersenyum meringis”Jika tidak merepotkan, bisa bibi temani Arthur ke sekolah barunya.“
“Ke sekolah baru? Memang yang lama kenapa kalau boleh tahu?.“
“Eum, Arthur ingin pindah dari sekolah lamanya bi.“Ujar Darel sambil tersenyum kecil.
“Yaudah kalau gitu, satu sekolah sama aku aja ya, Thur?.“Sahut Bintang yang langsung di jawab cepat oleh Arthur, bahkan anak itu terlihat bersemangat sekali.
“Satu sekolah dengan Bintang, ya?.“Ujar Darel terdengar agak sedikit bimbang.
“Iya papa, mau satu sekolah sama Bintang aja.“Kini Arthur terdengar merengek dan membuat Darel menatapnya dalam, namun pria itu tak kunjung menjawab dan malah terlihat berpikir, sampai..
“Yaudah boleh deh, asal janji gak boleh nakal dan harus nurut sama bu guru di sekolah, ya?.“
“Iya papa.“
Bibi terlihat tersenyum tulus pun dengan kedua anak-anak itu, dan aku masih menatap Darel dengan kening yang mengeryit dalam, aku jadi curiga kalau telah terjadi sesuatu dengan Arthur di sekolah lamanya dan aku tidak bisa menebak itu apa, terlebih baik Darel maupun Arka tidak pernah mengatakan apapun.
Aku tahu ini bukan urusanku, bukan ranahku juga. Tapi anehnya aku ingin tahu.
“Ada yang ingin kamu tanyakan, kak?.“Tanya Darel sambil memandangku lurus, buru-buru aku pun menggelengkan kepalaku, walau rasa penasaran ini begitu besar sekali, tapi sekali aku paham kalau aku tidak terlalu ingin tahu tentang permasalahan orang.
“Eum kalau begitu saya permisi ya, bi. Kak Nadia..“Darel berdiri dan tersenyum kepada bibi jiga aku dengan kepala yang terlihat mengangguk dua kali, lalu kedua tangannya saling menangkup dan di taruh di depan dada, lantas pria itu menghampiri anaknya, menggendongnya dan menciumi pipinya, lalu Darel juga melakukan hal yang sama pada Bintang, minus tidak menggendongnya.
“Aku mau oleh-oleh ya, pa.“
“Siap sayang.“Ujar Darel sambil mengambil posisi menghormat pada Arthur dan membuat anak itu pun cekikikan.
“Yang banyak pokoknya..“Ucap Arthur lagi yang di angguki oleh Darel, lalu tatapan Arthur pun beralih pada Bintang”Bin, kamu mau oleh-oleh apa?.“Tanyanya dan membuat Bintang juga aku terkejut, pasalnya kenapa Arthur malah bertanya Bintang yang notabennya bukan siapa-siapa bagi Darel dan Arthur dan tentu saja membuatku malu kan.
Aku pun menggelng sambil meyakinkan supaya Bintang melakukannya dengan menatap matanya dari jarak jauh begini.
“Enggak usah Arthur.“Jawab Bintang yang membuatku mendesah lega pada akhirnya.
“Eh gak papa, kita kan kakak adik. Kamu adik aku..“Ucapnya yang seketika membuatku nyaris tak bernafas, saudara? Kakak adik? Kenapa otakku mendadak buntu begini, agaknya otakku memproses kalau adik kakak yang di maksud oleh Arthur adalah dengan aku dan Darel menikah, tapi bisa saja mungkin Arthur hanya menganggap Bintang sebagai adiknya, tanpa aku dan Darel yang mesti menikah. Ahh memang otakku kadang-kadang suka bikin resah.hehr
“Gak papa ya kan, pa?.“
“Gak papa dong, seperti kata Arthur. Kamu adiknya dan otomatis kamu udah jadi anak om juga.“
Ya Tuhan, ada apa lagi? Bisa-bisanya Darel mengatakan sesuatu yang kembali membuat aku nyaris tak bisa bernafas dengan benar.
Lalu aku pun melihat bagaimana tatapan penuh arti dari bibi untukku, apa maksudnya coba? Ahhh sialan, kenapa pula kedua pipiku ikut memerah dengan jantung yang berdebar di dalam sana.
“Ehhmm.“ku pun berdehm pada akhirnya dan membuat atensi semua orang teralih padaku, lalu tatapan Darel yang meringis tak enak pun tertuju padaku.
“Maaf kak, aku gak ada maksud apa-apa kok, cuman ya. Arthur memang udah deket banget sama Bintang, makanya dia menganggap Bintang sebagai adiknya, gak papa kan?.“Tanyanya dengan menatapku harap-harap cemas. Baiklah, ini cuman karena Arthur merasa dekat dengan Bintang kan? Tanpa ada niatan apa-apa dari Darel untukku? Yang jelas masih belum mau membuka hati untuk pria manapun.
Lalu kepalaku mengangguk, sontak kedua anak itu bersorak gembira sambil bertos ria dan Darel menatapku sambil tersenyum lebar.
“Makasih kak.“
“Hm..“
“Bintang mau apa?.“Tanyanya pada anakku.
“Terserah Om__”
“Jangan Om, papa ya? Kan kamu udah jadi aku “Potong Arthur yang kembali berhasil membuat kedua pipiku memanas dan tak bisa bernafas dengan benar, aku syok dan terkejut. Dalam waktu singkat Bintang sudah mendapatkan sosok papa baru, hah.. baiklah, anggap saja sebagai permainan. Ya, sebuah permainan papa papaan.
“Ehm terserah papa aja deh.“
“Yaudah, kalau gitu papa pamit dulu, ya? Assalamu'alaikum.“
“Wa'alaikumussalam.“
©©©
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun, sudah membantu bibi buat sarapan dan juga membantunya untuk mencuci piring, walau bibi melarangku, tapi jwngan sebiat aku Nadia jika tidak punya sifat keras kepala..hehe
Lagian aku hamil, bukannya penyakitan kok. Bibi dan Arka saja yang lebay.
“Ya Alloh, Nadia. Bibi kan udah bilang gak perlu masa sama cuci piring.“Omelnya sambil melotot ke arahku dan tentu saja aku menyahutinya dengan cengiran kecil di bibirku, untungnya sudah beres, hingga bibi pun hanya bisa mengomel tanpa bisa menghentikannya.hehe..
“Kamu harus banyak istirahat, Nadia.“
“Aku enggak sakit bi, tapi cuman hamil.“Ujarku dan membuatnya mendengus serta satu sentilan ringan mendarat di keningku.
“Di bilangin orang tua, nurut atuh. Kan drmi kebaikan kamu juga.“
“Habisnya Nadia bosan aja bi, masa cuman ongksng-ongkang kaki aja.“
“Yaudah, sekali ini bibi biarin. Lain kali enggak, ya.“
“Iya-iya.“
“Kamu duduk dulu, bibi panggilin anak-anak untuk sarapan.“Tuturnya yang ku angguki. Bibi meninggalkanku untuk mrmanggil Arka, Bintang dan juga Arthur, sementara aku sudah terduduk manis di atas kursi dengan pemandangan masakanku yang terlihat menggiurkan dan berjejer rapih di atas meja.
Tak lama, Arthur, Bintang dan Arka pun sudah turun, mereka semua kompak sudah pada cakep-cakep dengan seragam masing-masing.
“Kelihatannya enak, nih.“Celetuk Arthur dengan liurnya yang hampir menetes melihat masakanku, aku terkekeuh pelan melihat respon Arthur yang begitu antusias sekali.
“Mama masak apa?.“Tanya Bintang yang membuatku mengangguk kecil lalu mulai menunjuk satu persatu menu yang ku buat.
“Ada telor balado, sayur asep, goreng ikan teri, goreng ayam dan kerupuk. Memang gak nyambung, tapi di sambung-sambungkan aja, ya? Soalnya lagi pengen masak menu ini..hehe.“
Arka mendengus”Kamu masak Kak? Ya Tuhan, aku sama mama udah karang kamu kak. Jangan kecapean ih, takut dede bayinya ikut capek juga.“Gerutu Arka dan memberikan pelototan padaku yang tentunya sama sekali tidak berpengaruh apa-apa, aku tetaplah aku. Yang punya keinginan dan harus tercapai.
“Mama udah larang, kakak kamu yang kekeuh.“
Aku terkekeuh”Udah-udah, lagian gak papa kok. Justru seneng, akhirnya setelah cukup lama hiatus bisa lagi masak.“
Arka berdecak”Terakhir ya? Nanti aja masaknya kalau udah lahiran.“Tukasnya dan sukses membuatku mengerucutkan bibir karena sebal. Masa iya aku harus berhenti dari salah satu hobiku ini gara-gara hamil sih? Bibi Dan Arka sangat keterlaluan sekali.
“Maaf ma, tapi Arthur pingin telur baladonya.“Ujar Arthur yang membuat Arka tersedak, lalu bibi buru-buru membantunya dengan meng-angsurkan segelas air yang lantas di minum Arka sampai habis, lalu tatapan Arka pun terlihat begitu dalam keadaku.
“Mama? Sejak kapan? Dan kenapa bisa?.“Tanyanya terlihat kaget dan aku menghela nafas panjang.