Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.
Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.
Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.
Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.
Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangis Nadira
🦋
Udara di ruang tamu itu pekat. Dinding putih yang biasanya terasa tenang kini seakan menyempit, menahan semua emosi yang berputar di dalamnya. Nadira duduk di tengah antara Kakek Wiratama dan Paman Rigel. Wajahnya pucat, matanya sembab, seolah setiap detik menahan sesak yang tak mau reda.
Tangannya gemetar di pangkuan, sementara di sekelilingnya duduk keluarga besar yang kini tampak asing. Di ujung ruangan, Riana, menatap Nadira dengan pandangan dingin.
"Aku sudah bilang dari dulu," suara Riana melengking, "jangan terima anak itu di rumah ini, Yah!"
"Yang meminta Faizel menitipkan Nadira itu aku," ucap Kakek Wiratama datar, tanpa menatap siapa pun.
"Dan lihatlah hasilnya sekarang, ayah! Anak ini menggoda putraku sendiri!" Suara Riana menembus dada Nadira seperti belati.
"CUKUP, BUDE!" seru Nadira tiba-tiba, suaranya bergetar tapi tegas. "Aku tidak pernah menggoda Mas Erwin. Dialah yang memperk*saku!"
"Hah! Kucing kalo dikasih ikan asin, mana mau nolak," sindir Riana dengan tawa sinis.
"Jadi Bude lebih memilih membela pelaku, daripada korban?"
Dunia seolah berhenti sesaat.
"Nadira!" suara Erwin menggelegar dari kursi sebelah kanan, "kapan aku memperk*sa kamu, hah?! Jangan asal tuduh!"
"Bulan sembilan," ucap Nadira pelan, "malam itu hujan deras. Waktu itu Kakek dan Paman sedang keluar kota, dan Fero tidur di rumah temannya."
Hening. Semua menatap Erwin. Lelaki itu menunduk, rahangnya menegang, matanya liar ke arah kanan-kiri, tapi tak berani menatap langsung.
"Erwin," tanya Pak RT yang duduk paling depan, "benar kamu yang menghamili Nadira?"
"Tidak, Pak. Bukan saya. Mungkin pacarnya," jawabnya tergesa.
Nadira tertawa getir. Air matanya mengalir, bukan karena sedih, tapi karena muak.
"Berapa kali pun kalian tanya, jawabanku tetap sama," katanya menatap semua yang hadir. "Mas Erwin lah pelakunya!"
Ketegangan menebal. Paman Andra menepuk meja, suaranya membelah udara.
"Sudahlah! Kalau begitu biar adil...kita sumpah pocong saja."
"Saya setuju!" Nadira langsung menjawab, matanya menatap Erwin tanpa takut.
"Bagaimana dengan nak Erwin?" tanya Pak RT lagi.
Erwin terdiam. Wajahnya pucat. Bibirnya kaku. Ia tahu sumpah pocong bukan main-main.
"Jadi benar kamu yang memperk*sa Nadira?"
Kepala Erwin perlahan menunduk, hanya satu anggukan kecil, tapi cukup membuat ruangan bergemuruh.
Paman Andra langsung berdiri, hampir menerjang, namun ditahan oleh Pak RT.
"BERANINYA KAU SENTUH SEPUPUMU SENDIRI, ERWIN!" suaranya mengguncang. "Kau sudah mencoreng nama keluarga! Mulai hari ini aku keluarkan kau dari keluarga ini! Jangan pernah injak rumah ini lagi!"
Andra meninggalkan ruangan dengan napas memburu. Riana menatap Nadira dengan amarah membara.
"Lihat! Karena kamu, keluarga ini hancur! Anak haram kamu itu..."
"Cukup, Bude! Kalau buda masih tidak percaya, ayo kita lakukan tes DNA!"
Riana mendengus. "Huh, dasar anak tidak tahu diri. Udah nggak cantik, jerawatan, kusut, mana mungkin anakku mau nyentuh kamu kalau bukan kamu yang menggoda duluan."
"Mas Erwin bahkan tidur dengan banyak perempuan, Bude!"
"KAMU!"
"CUKUP, RIANA!" bentak Kakek Wiratama, suaranya serak. "Apa kamu lupa peringatan Arzan tadi sore?"
Ruangan kembali sunyi. Nama Arzan selalu berhasil membuat semua diam.
"Aku tidak bersalah," bisik Nadira, suaranya kini bergetar lagi. "Kalau kalian terus menyudutkanku, aku akan bawa kasus ini ke pengadilan."
Tak lama, ponsel Nadira bergetar. 'Mas Arzan' terpampang di layar. Nadira berdiri dengan susah payah, ia melangkah menuju dapur dan duduk di kursi panjang, dengan tangan gemetar ia menjawab teleponnya.
"A-assalamualaikum, Mas..."
"Waalaikumsalam," suara Arzan dalam dan berat. "Dira, jangan lakukan apa pun. Mas berangkat besok pagi ke Lampung. Sekali mereka sakiti kamu—mas akan habisi mereka semua."
Air mata Nadira pecah lagi. "Mereka nggak mukul Dira, Mas... Erwin juga udah ngaku..."
"Bagus!. Kalau dia nggak ngaku, mas bunuh dia depan adek."
"Mas..."
"Sekarang Dira masuk kamar. Kunci pintunya. Jangan keluar kalau nggak perlu, paham?"
"Iya, Mas..."
Panggilan berakhir. Nadira berdiri dengan susah payah, perutnya yang besar membuat langkahnya goyah. Ia kembali ke ruang tengah menatap seisi ruangan terakhir kali sebelum masuk kamar.
Setelah mereka semua pergi, malam turun dengan cepat. Rumah sepi, hanya ada suara jangkrik dan embusan angin.
Nadira berbaring di ranjang kecilnya. Tangannya mengelus perut yang bergerak pelan.
"Bunda nggak salahkan kamu, Sayang..." bisiknya lembut. "Cuma waktunya aja yang salah."
Air matanya jatuh lagi. Ia tersenyum kecil saat merasakan tendangan halus dari dalam.
"Mau laki-laki atau perempuan, kamu tetap anak bunda. Sekalipun ayahmu nggak mau ngakuin, nggak masalah. Masih ada bunda yang bakal jagain kamu."
Nadira tak sadar, di balik kain tirai kamar yang jadi pengganti pintu, Erwin berdiri diam.
Pisau kecil tergenggam di tangannya. Matanya merah, rahangnya tegang, napasnya berat.
Ia mendengar semuanya. Dan itu membuatnya semakin hancur.
***
Keesokan paginya, aroma sayur bening memenuhi rumah. Nadira menyapu halaman dalam diam, seolah ingin menenangkan pikirannya. Tapi percakapan di teras membuatnya menegang.
"Bayi yang dilahirkan Nadira biar aku saja yang urus," ucap Riana pada Kakek Wiratama.
"Terserah kalian," jawab sang kakek datar.
"Aku nggak setuju!" Nadira keluar dari pintu.
"Masih untung aku mau ngurus anak harammu!" bentak Riana.
"Bagaimanapun juga, hanya aku yang berhak atas bayiku," jawab Nadira mantap.
"Perempuan nggak tahu diuntung!" Riana mendelik, lalu berlalu sambil mendengus.
"Kamu tak seharusnya bicara begitu pada bude mu," tegur Kakek Wiratama.
"Aku cuma melindungi anakku sendiri, Kek," balas Nadira dingin.
Ia kembali masuk kamar, duduk di tepi ranjang, menatap lantai kayu tua yang mulai lapuk.
"Enak aja mau ngambil bayiku. Dikiranya ngelahirin gampang apa..." gumamnya pelan, lalu tertawa getir. "Pokoknya bayiku nggak akan aku serahkan ke siapa pun."
Tangannya kembali mengusap perut. "Bunda akan jaga kamu, Nak. Sekalipun dunia ini menuduh kita berdosa."
Di luar kamar, kakek Wiratama diam lama menatap pintu kamar cucunya. Di dalam, Nadira terus menangis tanpa suara—hingga malam menelan segalanya.
***
Hujan turun pelan, menetes di genting tua rumah Kakek Wiratama. Angin masuk dari celah jendela, membawa aroma tanah basah yang bercampur getir udara malam.
Kamar Nadira remang. Hanya cahaya lampu kecil di pojok ruangan yang menyorot wajahnya yang lelah.
Perutnya kembali berdenyut, bayinya menendang pelan seolah ikut resah merasakan hati ibunya. Nadira menatap langit-langit, matanya sayu.
"Tidurlah, Sayang…" bisiknya lirih, "bunda janji, besok kita pergi dari rumah ini."
Tapi malam punya rencananya sendiri.
Langkah kaki terdengar dari arah dapur. Pelan. Teratur. Tapi cukup membuat Nadira langsung menegakkan tubuhnya.
Krek.
Suara lantai kayu memecah hening.
Ia menahan napas. Seluruh tubuhnya kaku. Kain tipis penutup pintu bergoyang pelan. Bayangan seseorang tampak samar di baliknya.
"Siapa...?" suara Nadira hampir tak terdengar.
Tak ada jawaban.
Hanya langkah yang semakin mendekat.
Lalu kain itu tersingkap perlahan. Wajah Erwin muncul di balik cahaya kuning temaram. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan di tangannya—kilatan pisau kecil bergetar.
Nadira membeku.
"Ma-mas Erwin..." suaranya bergetar, "ngapain malam-malam ke sini?"
Erwin berdiri di ambang pintu. Nafasnya berat, seperti menahan sesuatu yang lama terpendam. Ia tertawa pelan, tawa yang serak dan tak wajar.
"Kamu tau, Dira… sejak hari itu, aku nggak pernah bisa tidur."
"Mas... tolong... keluar, mas."
"Kamu benci aku, kan? Tapi aku juga benci diriku sendiri."
Ia melangkah masuk, selangkah, dua langkah.
Nadira bergeser mundur, punggungnya menabrak ranjang.
"Mas Erwin, tolong, jangan dekati aku," Nadira menahan tangis.
"Aku cuma mau bicara," katanya dengan nada datar. "Aku denger kamu ngobrol sama bayi itu tadi malam. Kamu pikir aku nggak dengar?"
Air mata Nadira jatuh. Ia tahu ini bukan waktu yang aman. "Mas, aku mohon, jangan sakiti aku. Aku udah cukup terluka."
"Kamu pikir aku nggak terluka? Kamu pikir gampang buat aku ngaku di depan semua orang?!" teriak Erwin, matanya memerah.
Pisau di tangannya bergetar hebat. Ia menatapnya sendiri, seolah menyesal, tapi tidak bisa melepaskannya.
"Mas Erwin, tolong letakkan pisaunya," suara Nadira lembut, tapi penuh ketakutan.
Erwin menatap Nadira lama. Air matanya jatuh. Ia melangkah maju lagi, lalu menjatuhkan diri ke lantai, berlutut di depan Nadira.
"Aku salah, Dira… Aku... aku takut. Aku nggak tahu kenapa aku bisa... melakukan hal itu."
"Lalu kenapa nggak ngaku dari awal?" Nadira berbisik dengan suara pecah.
"Aku yang dipermalukan. Aku yang dituduh menggoda kamu. Kamu tahu bagaimana rasanya?"
Erwin menutup wajahnya. Pisau itu kini tergeletak di lantai, namun Nadira tak berani mendekat.
Tangis Erwin berubah menjadi seruan putus asa. "Aku mau tanggung jawab, tapi semuanya udah terlambat! Aku udah dikeluarin dari keluarga, Dira! Aku... aku nggak punya siapa-siapa lagi!"
Nadira menatapnya dingin. "Kalau kamu ingin menebus dosa, jangan dengan pisau. Tapi dengan keberanian."
Keduanya terdiam.
Hanya suara hujan yang terdengar dari luar, menetes lembut seperti doa yang tak selesai.
Namun saat Nadira hendak berdiri untuk mengambil air, Erwin tiba-tiba menatapnya lagi, tatapan yang berbeda. Gila. Liar.
"Tapi kalau aku nggak bisa punya kamu... nggak ada yang boleh punya kamu juga."
Nadira membeku.
Jantungnya seperti berhenti berdetak.
Pisau itu kembali tergenggam di tangan Erwin. Ia maju cepat dan Nadira menjerit keras.
Braaak!
Kain pintu terrobek saat Paman Rigel menerobos masuk, menubruk Erwin hingga keduanya jatuh ke lantai. Pisau terlempar ke pojok ruangan.
"Erwin! Kamu gila?! Kamu mau bunuh Nadira?"
"Lepasin aku, Paman! Aku cuma mau ngomong!"
"Kamu udah lewat batas!"
Nadira gemetar hebat, tubuhnya lemas, tangannya menutup perut yang menegang karena stres.
"Kakek! Cepat panggil orang! ERWIN MAU BUNUH NADIRA!" teriak Paman Rigel dari dalam kamar.
Beberapa detik kemudian, rumah itu penuh dengan teriakan dan langkah kaki. Erwin ditarik keluar oleh warga, wajahnya basah oleh hujan dan air mata.
Nadira terduduk di lantai, tubuhnya gemetar, tapi matanya menatap kosong. Bukan karena takut. Tapi karena ia benar-benar lelah.
Kakek Wiratama berdiri di pintu, menatap cucunya yang kini memeluk perutnya erat-erat.
"Sudah cukup, Nak," katanya lirih, nyaris berbisik.
"Belum, Kek," balas Nadira pelan. "Keadilan belum ditegakkan."