NovelToon NovelToon
Aku Bukan Milik Langit

Aku Bukan Milik Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:980
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.

Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.

Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.

Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Anak dari Qingshui

Tetua Feng dan dua bawahannya sudah pergi sejak senja, meninggalkan peta-peta yang digulung rapi dan cangkir teh yang dingin. Tirai tebal menutup jendela. Lampu minyak mencetak bayangan setiap orang di dalam ruangan terlihat lebih panjang dari tubuh mereka sendiri.

Luo Pang duduk di kursi kayu dekat dinding. Wajahnya penuh bekas pukulan, mata kiri bengkak, sudut bibir bonyok, rahangnya memar. Namun sikapnya santai, bahkan sempat menyeringai ketika Mei Lan menekan kain basah ke pelipisnya.

“Jangan bergerak terus.” Tangan Mei Lan cekatan, mengoleskan salep herbal ke luka Pang tanpa basa-basi. “Kalau kau bergerak lagi, aku tak akan selesai-selesai.”

“Keningku gatal,” gumam Pang, cari alasan.

Di tengah ruangan, seorang remaja berdiri kaku. Pakaian lusuhnya jelas terlalu besar untuk badannya. Kedua tangannya mencengkeram ujung baju sendiri, jemarinya pucat. Ia tidak berani mengangkat kepala.

Madam Luo duduk di kepala meja. Kipas tertutup bertumpu di pangkuannya. Tatapannya tenang, tapi cukup untuk membuat siapa pun merasa sedang dibedah. Yang jelas menakutkan bagi anak itu.

“Nama?” Tegasnya.

Remaja itu menelan ludah. “Lin Xiao.”

“Usia?”

“Enam belas.”

Madam Luo mengangguk. “Siapa yang menyuruhmu mengawasi Selendang Merah?”

Lin Xiao tersentak. Kepalanya terangkat sedikit, wajahnya pucat. “A-aku—”

“Jangan bohong!” Bentak Madam Luo. “Kalau kau hanya pengemis atau pencuri, kau sudah mati di bar sejak tadi.”

Ruangan menjadi hening kala melihat ketegasan Madam Luo.

Li Shen berdiri di sisi meja, tangan bersedekap. Hua’er di dekat pintu, menyandarkan bahu ke dinding, mata tajam mengamati setiap perubahan raut Lin Xiao.

Akhirnya, remaja itu menghela napas panjang dan mengangguk pelan. “Aku dibayar Paviliun Tianlu,” lirihnya. “Oleh Han Qingshan.”

Luo Pang mendecak. “Kepala Paviliun Distrik Hongluo?!”

Lin Xiao mengangguk lagi. “Dia bilang… perintah datang dari seseorang bernama Zhao Tianlong. Dia yang menyuruh untuk memasang mata di semua sudut kota. Di semua tempat yang mereka anggap mencurigakan.”

Madam Luo menyipitkan mata. “Lalu kenapa kau tetap di sini, kalau tahu Selendang Merah berbahaya?”

Lin Xiao ragu sejenak, lalu berkata jujur, “Han Qingshan bilang… Selendang Merah bukan ancaman.”

Hua’er mengangkat alis tipis. “Kenapa?”

“Karena pemuda yang datang ke Paviliun waktu itu… ,” Lin Xiao melirik Li Shen sekilas, lalu menunduk lagi. “…katanya hanya fana biasa. Berani, tapi tidak punya qi. Dan kabar soal seorang pria Wei Guojin, itu juga katanya hanya sebatas keributan orang mabuk. Wei sendiri yang cari mati.”

Pang terkekeh. “Penilaian yang masuk akal.”

Madam Luo tidak ikut tertawa. “Lalu,” katanya, “kenapa kau lompat-lompat di atap sore tadi? Mengintip wanita?”

“Ah—tentu saja tidak!” Lin Xiao mengepalkan tangannya. “Aku hanya… butuh uang lebih. Adikku sakit. Obatnya mahal. Aku dengar Selendang Merah kadang membantu orang miskin. Aku ingin melihat… apakah itu benar. Tapi aku takut ketahuan.”

Madam Luo mengetukkan ujung kipas ke meja, sekali. Dia tahu ini akibat ulah Li Shen yang memukul Wei Guojin dan menyelamatkan pedagang tua waktu itu. “Adikmu sakit apa?”

“Qi-nya lemah sejak lahir. Batuk darah kalau kelelahan. Seorang tabib pernah bilang… kalau tak dapat ramuan penahan meridian, dia tak akan bisa hidup lebih lama.”

Suara Lin Xiao pecah di akhir kalimat itu. Ia menunduk dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca.

Madam Luo terdiam sejenak. “Desa asalmu?”

“Qingshui.”

Kata itu keluar seperti gong yang dipukul keras. Li Shen langsung menegakkan badan. “Qingshui,” ulangnya. “Itu desaku.”

Semua mata beralih kepadanya.

Madam Luo menoleh. “Li Shen.”

Li Shen sudah melangkah maju. “Aku akan ke sana.”

“Sekarang?” tanya Madam Luo. “Tiga hari lagi kita bergerak. Kau tahu risikonya.”

“Aku tahu,” jawab Li Shen tanpa ragu. “Aku butuh dua hari. Aku kembali sebelum operasi dimulai.”

Madam Luo menghela napas, lalu memijat keningnya dengan ujung kipas. “Zhao Tianlong sedang memasang mata di mana-mana. Kau pergi sekarang, dan semua perhatian bisa beralih ke Selendang Merah.”

Hua’er melangkah maju setengah langkah. “Aku ikut.”

“Huhh… .” Madam Luo mendongak. Dia tahu dirinya tidak akan bisa menahan mereka berdua. “Kau yakin?”

“Aku kenal sedikit wilayah sekitar Qingshui,” jawab Hua’er. “Aku bisa membantu Li Shen untuk mempercepat misi. Sekalian menyebarkan pamflet ke desa-desa kecil seperti yang Madam inginkan. Penolak Mandat Langit butuh suara di sana.”

Madam Luo menatap mereka berdua, Li Shen yang berdiri tegak tanpa ragu, Hua’er yang tenang namun mantap. Bibirnya menegang tipis. “Sejak malam itu,” lirihnya, “kalian jadi sulit dipisahkan.”

Ia berhenti sejenak. “Aku tahu alasannya.”

Tidak ada yang menyangkal.

Akhirnya, Madam Luo menghela napas panjang. “Baiklah. Pergi. Dua hari. Tidak lebih.”

Li Shen mengangguk. Ia berbalik ke Lin Xiao dan meletakkan tangan di pundak remaja itu. Pegangannya mantap. “Aku akan lihat adikmu,” ujarnya. “Kalau masih bisa diselamatkan, aku akan coba. Dan apa pun yang terjadi di Qingshui… aku tidak akan membiarkannya dibiarkan begitu saja.”

Air mata Lin Xiao jatuh tanpa suara. Ia membungkuk dalam-dalam. “Terima kasih… terimakasih banyak… .”

Mei Lan mengakhiri balutan di wajah Pang, lalu beralih ke Lin Xiao tanpa diminta. Tangannya lembut tapi tegas saat membersihkan memar di pipi remaja itu. “Kalian berdua,” katanya singkat, “kalau masih hidup besok pagi, itu karena aku.”

Pang menyeringai. “Dengar itu, Nak? Kita beruntung.”

Lin Xiao membalas dengan senyuman penuh haru.

Malam itu, Li Shen, Hua’er dan Lin Xiao meninggalkan Selendang Merah. Arah mereka satu, yaitu Qingshui. Dan Madam Luo tahu, sejak keputusan itu diambil, rencana mereka tak lagi berjalan di jalur aman. Bisa dibilang operasi pemberontakan sudah di mulai dari sekarang.

1
yuzuuu ✌
bau2 istri MC 🤭
yuzuuu ✌
lanjut lanjutt lanjut thor..... suka bngtt 😍
MuhFaza
lanjutt
yuzuuu ✌
wkakaka mampus
yuzuuu ✌
bakal se op apa beliau2 ini 👀
MuhFaza
baguss
MuhFaza
tpikal novel zero to hero
yuzuuu ✌
wakakak 🤣👍
yuzuuu ✌
meskipun menolak pemberian langit tapi nggak mulai dari nol yh,. si Xuan yg kasi secara cuma2 atw karena li Shen membunuh bayangan2 di taixu jadi naik tingkat?
yuzuuu ✌
apakah nanti jadi jodohnya huaer? 👀🤭
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
yuzuuu ✌
🤣/Sob/
yuzuuu ✌
jarang nemu novel yang pembukaannya rapi begini thor. semangat 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
yuzuuu ✌
suka tipe MC sampah begini di awalnya. tinggal jejak dulu thor, lanjutkan 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!