Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.
Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.
Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Ardan sedikit berdeci, tangannya refleks mengepal, seolah tidak terima dengan jawaban yang tidak pernah tuntas, setelah ia pembeli pergi, lagi-lagi pembeli yang lain datang secara bergantian seolah tidak ingin dirinya mengetahui sesuatu.
Ardan berdiri, lalu membayar kopi tersebut dengan raut yang datar tidak seramah tadi, ia berjalan, kali ini mendekat ke depan pintu gerbang sekolah, matanya menghunus, bahkan menyelidiki seolah di dalamnya ada sesuatu yang dekat dengan dirinya, namun ia terlambat.
"Arbani, dia terlalu lebih hanya sekedar mirip," gumamnya.
Hatinya bergetar, hebat ketika nama itu ia sebut, berkali-kali ia membuang nafas perlahan namun tidak bisa mengusir kegundahan hatinya, yang berpikir terlalu jauh jika di dalam sekolah itu ada rahasia yang ia sendiri belum bisa memecahkan.
"Aku akan menunggu," ucapnya kembali.
Ia duduk di samping kiri pintu gerbang, menatap ke arah jalan yang lenggang, gedung sekolah terlihat sepi, anak-anak semua sudah masuk mengikuti pelajaran di kelasnya masing-masing. Dan pria dewasa itu masih tetap duduk menunggu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Siang itu, ladang tampak lebih lengang dari biasanya. Angin bergerak pelan, menyapu daun-daun bunga yang belum sempat dipetik. Nara berdiri di tepi ladang, membawa bekal makan siang yang masih hangat.
Albi baru saja duduk di batu besar ketika Nara mendekat.
“Pak,” panggilnya pelan.
“Iya, Ra?”
Nara mengulurkan rantang. “Mangan sek.”
(Makan dulu.)
Albi menerima tanpa banyak tanya. Ia membuka tutup rantang, aroma sayur dan nasi mengepul tipis.
“Kowe kok katon kesel?” tanyanya tiba-tiba, tidak menatap, tapi tahu.
(Kamu kok kelihatan capek?)
Nara terdiam sepersekian detik.
“Sedikit,” jawabnya akhirnya.
Albi mengangguk, seperti biasa. Tidak memaksa. Tidak mengejar. Ia tahu kapan harus menunggu.
Nara duduk di sampingnya. Tangannya saling meremas di pangkuan.
“Pak…” ucapnya pelan, lalu terhenti.
“Iya?”
Nara menelan ludah. Kalimat itu sudah di ujung lidah, tapi bayangan wajah Arbani pagi tadi membuatnya ragu.
“Aku mung kepikiran Bani,” katanya mengalihkan.
(Aku cuma kepikiran Bani.)
Albi menoleh. “Kenapa?”
Nara menggeleng. “Ora napa-napa. Aku mung… wedi.”
(Tidak apa-apa. Aku cuma… takut.)
Albi berhenti makan. Bukan kaget, tapi serius.
“Wedi opo?”
(Takut apa?)
Nara menatap ladang. “Wedi nek ono sing gawe uripe keganggu.”
(Takut kalau ada yang mengganggu hidupnya.)
Albi diam lama. Lalu ia berkata pelan, hampir seperti berjanji.
“Sak lawase aku urip, Ra, aku ora bakal ngidini ana sing gawe kowe lan Bani ora tentrem.”
(Selama aku hidup, aku tidak akan membiarkan ada yang mengganggu ketenanganmu dan Bani.)
Kalimat itu membuat dada Nara menghangat sekaligus sesak, sejak dulu suaminya itu tidak pernah memaksa dan selalu menjaga, terkadang Nara sendiri sampai bingung, entah terbuat dari apa hati suaminya itu.
"Matur suwun, wis ngancani aku sampe detik iki," ucap Nara jujur. (Makasih sudah menemani aku sampai detik ini.)
"Pado-podo, awakmu karo Arbani sigarane nyowoku," tutur Albi. (Kamu dan Arbani belahan jiwaku)
Nara semakin tersentuh, namun untuk sekarang ia masih belum berani untuk mengungkap yang sebenarnya, ingin jujur. Tapi ia tahu, kejujuran yang datang tanpa kesiapan hanya akan menumbuhkan cemas yang belum perlu.
“Pak…” katanya lirih.
“Iya?”
“Yen sakwanci aku durung crita kabeh, kowe ora nesu ta?” (Kalau suatu saat aku belum cerita semuanya, kamu tidak marah, kan?)
Albi menatapnya, kali ini sungguh-sungguh.
“Ra,” katanya tenang, “aku milih kowe dudu amarga critamu. Tapi amarga caramu njaga.” (Aku memilihmu bukan karena ceritamu. Tapi karena caramu menjaga.)
Nara menunduk. Matanya berkaca-kaca. Di situlah Albi tahu, bukan bahwa Nara menyembunyikan sesuatu yang buruk, tapi sedang menahan sesuatu demi melindungi.
Dan di situlah Nara memutuskan: bukan tidak jujur, tapi menunggu waktu yang tepat, demi Arbani, demi rumah yang sudah ia bangun dengan susah payah.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sudah lama pria itu duduk dan menunggu di depan pagar, hingga jam istirahat datang, namun sedari tadi matanya menyapu halaman sekolah yang sedang dipenuhi anak-anak bermain, dam di situ ia tidak mendapatkan wajah yang sedang ia cari.
"Arbani kenapa tidak keluar," ucapnya sendiri.
Matanya terus saja mengawasi anak-anak di dalam itu, ada yang bermain bola, ada yang sekedar berjalan ke kantin dan juga ada yang hanya sekedar bersenda ria dengan teman-temannya.
Namun dari itu semua ia tidak menemukan wajah Arbani, dan pikirannya mulai berkelana jauh. Apa Arbani tidak dikasih uang saku, apa Nara terlalu pelit, apa anak itu memang tidak suka jajan
Namun semakin lama ia berdiri di sana, semakin jelas satu hal: ketidakhadiran Arbani bukan kebetulan.
Bel istirahat masih menyisakan waktu. Anak-anak berlarian, suara tawa pecah di mana-mana. Tapi sosok kecil dengan langkah teratur itu tidak muncul.
Ardan melangkah sedikit lebih dekat ke pagar. Tidak mencolok. Hanya cukup untuk bisa melihat lebih jelas ke arah kelas-kelas yang berjajar. Ia mencoba menenangkan diri.
Mungkin anak itu memang tidak keluar setiap istirahat. Mungkin ia memilih tinggal di kelas.
Mungkin juga… hari ini ia sedang tidak masuk.
Tapi hatinya menolak kemungkinan terakhir itu.
Pandangan Ardan jatuh pada seorang anak laki-laki yang duduk sendirian di bawah pohon, membuka bekal dari kotak makan kecil. Gerakannya hati-hati, rapi. Untuk sesaat, Ardan hampir yakin, lalu menyadari itu bukan Arbani. Ia menghela napas pelan.
“Apa aku kelewatan?” gumamnya. "Dia bukan Arbani."
Tangannya refleks mengepal lagi, lalu mengendur. Ada perasaan asing yang mengendap: kecewa, tapi tidak tahu berhak atau tidak.
Tak lama kemudian, seorang ibu kantin mendorong gerobaknya melewati dekat pagar. Ardan menoleh, ragu, lalu memutuskan bertanya dengan nada santai.
“Bu, biasanya anak-anak kelas kecil istirahat di sini semua?”
Ibu itu mengangguk. “Iya, Mas. Kecuali yang bawa bekal. Biasanya makan di kelas.”
Jawaban itu membuat dada Ardan mengencang.
Bekal.
Ia teringat caranya duduk kemarin. Cara berbicaranya. Cara anak itu tidak pernah terburu-buru. Anak seperti itu… memang bukan tipe yang berebut jajan.
Ardan kembali menatap ke arah gedung kelas. Kali ini lebih lama. Ia mencoba membaca dari jauh, mencari bayangan kecil di balik jendela.
Dan di situlah ia melihatnya, bukan di halaman Arbani duduk di dalam kelas, dekat jendela. Kotak makan terbuka di mejanya. Ia makan pelan, sambil sesekali menoleh ke luar bukan ke arah pagar, tapi ke arah ladang di kejauhan, seolah memastikan sesuatu yang hanya ia yang tahu.
Ardan terdiam. Ada sesuatu yang menusuk dadanya tanpa peringatan. Bukan karena anak itu sendirian, tapi karena caranya baik-baik saja dengan kesendirian itu. Anak itu tidak merasa ditinggalkan, dia tidak kekurangan, bahkan tidak sedang mengejar keramaian. Anak itu tidak butuh dunia di luar pagar.
Dan untuk pertama kalinya, Ardan merasa, yang berdiri di luar, justru dirinya, dengan segala pencarian yang ada di benaknya.
Bel masuk berbunyi. Arbani menutup kotak makannya, merapikan meja, lalu duduk tegak menunggu guru datang. Tidak sekalipun ia menoleh ke arah pagar sekolah.
Ardan melangkah mundur satu langkah. Hari ini, ia tidak terlihat. Dan mungkin… memang seharusnya begitu.
Namun saat kakinya berbalik pergi, satu pertanyaan tertinggal, lebih berat dari sebelumnya. "Jika anak itu tidak pernah mencariku… kenapa aku yang tidak bisa berhenti mencari dia?"
Ia pergi dengan langkah pelan, membawa kegelisahan yang tidak bisa dititipkan pada siapa pun. Dan dari balik jendela kelas itu, kehidupan Arbani berjalan seperti biasa tenang, terjaga, dan tanpa sadar… sedang diawasi oleh masa lalu yang belum selesai.
Bersambung ...
Semoga suka ya
biar tdk ada salah paham
atau klo ada apa² biar siap