NovelToon NovelToon
Di Ujung Rasa Sesal

Di Ujung Rasa Sesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah / Romansa / Konflik etika
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.

Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.

Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.

Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.

Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehilangan yang Mendalam

Nadira masih menangis di pelukan Raka, tubuhnya bergetar, napasnya tersengal, air matanya tidak berhenti mengalir. Tangisannya mulai mereda sedikit, tidak lagi histeris seperti tadi, tapi isakannya masih terdengar jelas... isakan yang memilukan, penuh kepedihan.

Raka terus memeluknya dengan erat, membiarkan Nadira menangis sepuasnya, membiarkan semua kesedihan itu keluar. Tangannya mengusap punggung Nadira dengan lembut, mencoba memberikan kenyamanan meski ia tahu tidak ada yang bisa benar-benar mengurangi rasa sakit Nadira sekarang.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan... hanya suara isakan Nadira dan angin yang bertiup pelan di sekitar mereka.

Lalu Nadira angkat bicara, suaranya serak, hampir berbisik.

"Om..." panggilnya pelan, wajahnya masih tertunduk di bahu Raka. "Om... Om benar-benar nggak tahu dimana makam Bapak dan Ibu Nadira?"

Pertanyaan itu jatuh seperti pisau di dada Raka.

Ia menutup matanya erat, merasakan dadanya sesak lagi.

"Maafkan Om, Dira," bisik Raka dengan suara yang bergetar. "Om benar-benar nggak tahu. Om nggak pernah ketemu orangtua kamu. Om nggak pernah tahu dimana mereka dimakamkan. Maafkan Om..."

Nadira terdiam. Tubuhnya kembali bergetar dan tangisannya pecah lagi.

"Jadi... Nadira nggak bisa ketemu mereka?" isaknya dengan suara yang penuh kesedihan. "Nadira nggak bisa ketemu Bapak dan Ibu lagi? Selamanya?"

Raka merasakan matanya memanas lagi. Ia tidak bisa menjawab, karena jawabannya akan semakin menghancurkan Nadira.

Tapi diam pun sama menyakitkannya.

"Dira..." Raka menarik napas dalam, mencoba menguatkan suaranya. "Bapak dan Ibu kamu sudah di tempat yang lebih baik sekarang. Mereka di surga. Mereka bahagia di sana."

"Tapi Nadira mau ketemu mereka..." isak Nadira dengan suara yang sangat lemah. "Nadira kangen... Nadira kangen banget..."

Raka memeluk Nadira lebih erat, memeluk dengan sepenuh hatinya, mencoba memberikan kehangatan yang Nadira butuhkan.

"Om tahu, Dira. Om tahu kamu kangen. Tapi... mereka sudah pergi. Dan kita nggak bisa ketemu mereka lagi. Setidaknya... belum sekarang," ucap Raka pelan, suaranya bergetar.

Nadira tidak menjawab. Ia hanya menangis, menangis dengan tangisan yang semakin pelan, semakin lemah, seperti semua tenaganya sudah habis.

Mereka terduduk di tanah seperti itu, berpelukan dalam keheningan, berbagi kesedihan yang terlalu berat.

---

Setelah beberapa lama... entah berapa menit atau berapa jam, Raka tidak tahu... tangisan Nadira akhirnya berhenti. Tubuhnya masih bergetar sesekali, tapi tidak ada lagi isakan yang keluar.

Raka perlahan melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Nadira yang penuh air mata... mata yang merah dan sembab, pipi yang basah, bibir yang bergetar.

"Dira," panggil Raka dengan suara lembut. "Ayo kita pulang. Kita pulang ke kota."

Nadira mengangkat wajahnya, menatap Raka dengan tatapan kosong, tatapan yang kehilangan cahaya.

"Pulang?" ulangnya pelan, seperti tidak mengerti arti kata itu.

Raka mengangguk sambil mengusap air mata di pipi Nadira dengan ibu jarinya, gerakan yang lembut, penuh kasih sayang.

"Iya. Kita pulang. Sudah nggak ada yang bisa kita lakukan di sini," ucap Raka pelan. "Dan... kalau Nadira kangen sama Bapak dan Ibu, Nadira bisa kirim doa untuk mereka. Doa itu akan sampai ke mereka. Mereka akan senang."

Nadira menatap Raka dengan tatapan yang masih kosong... tapi perlahan, ia mengangguk lemah.

"Doa..." bisiknya pelan. "Nadira kirim doa..."

"Iya," jawab Raka sambil tersenyum tipis, senyuman yang penuh kesedihan. "Nadira bisa kirim doa untuk mereka setiap hari. Mereka pasti senang."

Nadira mengangguk lagi, anggukan yang sangat lemah, seperti boneka yang kehilangan tenaga.

Raka berdiri perlahan, lalu membantu Nadira berdiri juga. Tubuh Nadira terasa sangat lemas seperti tidak ada tenaga sama sekali. Raka menyangga tubuhnya dengan hati-hati, lalu membawanya kembali ke mobil.

Beberapa warga yang masih berdiri di kejauhan menatap mereka dengan tatapan penuh simpati. Seorang ibu tua bahkan mengusap matanya sendiri, terharu melihat pemandangan yang sangat menyedihkan itu.

Raka membukakan pintu mobil untuk Nadira, membantu wanita itu duduk di kursi penumpang, lalu memasang sabuk pengamannya dengan hati-hati.

Nadira hanya diam, menatap kosong ke depan, tidak berkata apa-apa.

Raka masuk ke kursi pengemudi, menyalakan mesin mobil, lalu perlahan keluar dari kampung itu... meninggalkan kampung yang seharusnya menjadi rumah Nadira, tapi sekarang hanya menjadi tempat penuh kenangan yang menyakitkan.

---

Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan yang sangat berat.

Nadira duduk di kursi penumpang dengan kepala bersandar pada jendela, menatap kosong ke luar, menatap pemandangan yang lewat tanpa benar-benar melihat. Wajahnya pucat, matanya kosong, bibirnya tertutup rapat.

Raka sesekali melirik ke arah Nadira dengan tatapan khawatir. Ia mencoba membuka pembicaraan beberapa kali, mencoba mengalihkan perhatian Nadira, mencoba membuat suasana sedikit lebih baik.

"Dira, kamu mau berhenti dulu? Mau beli minum atau makanan?" tanya Raka dengan suara lembut.

Tidak ada jawaban. Nadira hanya diam.

"Dira, kamu haus nggak? Om ada air di tas belakang. Mau Om ambilin?" tanya Raka lagi.

Tetap tidak ada jawaban. Nadira tetap menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.

Raka menghela napas pelan. Ia tidak memaksa lagi. Ia tahu Nadira butuh waktu untuk memproses semua yang baru saja terjadi, butuh waktu untuk menerima kenyataan yang sangat menyakitkan itu.

Jadi Raka hanya mengemudi dalam diam dengan hati yang berat, dengan pikiran yang penuh kekhawatiran tentang Nadira.

Sesekali ia melirik lagi, berharap melihat Nadira bergerak, berharap mendengar Nadira bicara, bahkan berharap melihat Nadira menangis lagi.

Tapi tidak ada. Nadira hanya diam seperti patung, seperti kehilangan jiwa.

Dan itu lebih menyakitkan daripada melihat Nadira menangis.

Tiga jam kemudian, mereka sampai di apartemen. Langit sudah gelap, malam sudah tiba. Lampu-lampu kota menyala, tapi bagi Raka dan Nadira, semuanya terasa gelap.

Raka memarkir mobilnya di tempat biasa, lalu turun dan membukakan pintu untuk Nadira.

"Dira, kita sudah sampai. Ayo turun," ucap Raka dengan suara lembut.

Nadira bergerak perlahan, sangat perlahan keluar dari mobil dengan gerakan yang sangat lemas. Raka menyangga tubuhnya, lalu membawa Nadira masuk ke gedung apartemen, naik lift, dan sampai di pintu apartemen mereka.

Raka membuka pintu, lalu membawa Nadira masuk.

"Dira, kamu mau makan dulu? Om pesenin makanan," tawar Raka sambil membantu Nadira melepas sepatunya.

Nadira menggeleng pelan, gerakan yang hampir tidak terlihat.

"Kamu yakin nggak mau makan? Kamu belum makan dari tadi pagi," ucap Raka dengan nada khawatir.

Nadira menggeleng lagi, lalu berjalan dengan langkah gontai menuju kamar.

Raka mengikuti dari belakang dengan tatapan khawatir. "Dira..."

Tapi sebelum ia sempat mengatakan apa-apa, Nadira sudah masuk ke kamar dan menutup pintu... tidak mengunci, tapi menutup.

Raka berdiri di depan pintu dengan tangan terangkat, ingin mengetuk, ingin masuk, ingin menemani Nadira.

Tapi ia tidak jadi.

Ia tahu Nadira butuh sendiri sekarang. Butuh waktu untuk mencerna semuanya. Butuh waktu untuk meratapi kehilangannya.

Raka menurunkan tangannya perlahan, lalu berjalan ke ruang tamu dengan langkah berat.

Ia duduk di sofa, menatap kosong ke arah pintu kamar yang tertutup.

Di dalam kamar, Nadira berjalan dengan langkah gontai menuju ranjang. Tubuhnya terasa sangat berat seperti tidak punya tenaga sama sekali.

Ia berbaring di ranjang dengan gerakan yang lambat, lalu menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya dari kepala sampai kaki, seperti mencoba bersembunyi dari dunia.

Di dalam kegelapan selimut itu, Nadira menatap kosong, menatap ke arah tidak ada.

Pikirannya kosong. Hatinya kosong. Semuanya kosong.

Bapak dan Ibu sudah pergi.

Mereka tidak akan pernah kembali.

Nadira tidak akan pernah bisa memeluk Ibu lagi. Tidak akan pernah bisa digendong Bapak lagi. Tidak akan pernah bisa makan nasi goreng buatan Ibu lagi.

Semuanya... sudah hilang.

Air mata kembali mengalir,jatuh perlahan di pipinya, membasahi bantal di bawahnya. Tapi Nadira tidak menangis keras. Ia hanya membiarkan air mata itu jatuh dalam diam, jatuh dengan kesedihan yang sangat dalam.

"Ibu... Bapak..." bisiknya dengan suara yang sangat pelan, suara yang hampir tidak terdengar. "Maafin Nadira... Maafin Nadira yang nggak bisa jadi anak baik..."

Ia menutup matanya erat, membiarkan air mata terus mengalir, membiarkan kesedihan itu menenggelamkannya.

---

Di luar, Raka duduk di sofa dengan kepala tertunduk menatap lantai dengan tatapan kosong.

Ia ingin masuk ke kamar. Ingin menemani Nadira. Ingin memeluk wanita itu dan bilang "semuanya akan baik-baik saja."

Tapi ia tidak bisa.

Karena semuanya tidak akan baik-baik saja.

Setidaknya belum sekarang.

Nadira baru saja kehilangan orangtuanya...lagi. Pertama kali saat mereka benar-benar meninggal bertahun-tahun lalu, dan kedua kali hari ini... saat Nadira yang ingatannya kembali ke masa kecil harus menerima kenyataan bahwa orangtuanya sudah tidak ada lagi.

Dan Raka tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan luka itu.

Ia hanya bisa menunggu. Menunggu dengan sabar. Memberikan Nadira waktu dan ruang untuk berduka.

Raka merebahkan tubuhnya di sofa, menatap langit-langit dengan mata yang lelah.

"Ya Allah," bisiknya pelan. "Beri Nadira kekuatan. Beri dia kekuatan untuk melewati ini. Dan beri aku kekuatan untuk terus menjaganya."

Dan di malam yang sunyi itu, Raka dan Nadira berada di ruangan yang sama, tapi terasa begitu jauh.

Nadira terbaring di kamar dengan kesedihan yang menenggelamkan.

Dan Raka terbaring di sofa dengan kekhawatiran yang memenuhi hatinya.

Keduanya sendirian dalam kesedihan mereka masing-masing, menunggu hari esok yang entah akan membawa apa.

1
Dew666
🍎🍎🍎🍎🍎
Dew666
🪸🪸🪸🪸
aku
lah, masa dlu dy semerong sm yg lain dong brti pas msh ma dira?
Anonymous
CUIH bawa bawa nama TUHAN,, dasar MUNAFIK
Anonymous
gak perlu bangun Nadira..
aku
3 vs 1
bnr kata mama mu raka, ujian buatmu, kau gantung dira 3 thn, ni msh setahun lbh dikit udh blg lelah aja hehh
partini
ini nanti bangun dari koma langsung lovely doply atau sebaliknya
semoga ga lovely doply yah Thor
gantian dong tuh laki merasakan rasa sakit hati enak benar menyesal terus happy, semua orang bisa Kya dia berbuat sesuka hati terus nyesel
Anonymous
BANGGA? MENGHAMILI ANAK ORANG BANGGA? MEMBUAT NYA SEKARAT DAN KEGUGURAN ITU BANGGA? DASAR GILA
Anonymous
Fuwa Fuwa Time 🎸🎸
Dew666
💎💎💎💎💎
Sasikarin Sasikarin
q kira mo tiap hari up nya.. dah lah buat pembaca kevewa sanhat
rian Away
TCH GOB
rian Away
bisa bisa nya lu bawa nama tuhan
Shuttttttttttt
up thoooor
Shuttttttttttt
bkn aku nangis aja, awas yaa end mreka sma²
cik gak terima aku cwk udah berkorban sbnyak itu, sedangkan cwoknya hnya menyesal lngsung damai dan bersma kmbli
ogaaah bgtt cokk
Dew666
🔥🔥🔥🔥🔥
Dew666
💐💐💐💐💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!