Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.
Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.
Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.
sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 Terlambat atau Terlalu Jujur
Sejak saat itu, kebun jati menjadi saksi atas hubunganku yang semakin renggang dengan Raka.
Hari-hari aku habiskan melawan sepi, terutama tatkala usai berladang karena biasanya Raka selalu ada untuk menjemputku.
Dia tidak di sana. Tidak di ujung jalan, mengendarai motor tuanya ketika mentari siap untuk terbenam. Atau ketika aku berada di gudang bersama baglog sialan yang kerap jatuh ketika aku rawat.
Entah saat aku pergi ke warung, ke bukit, atau bahkan ke balai desa. Raka juga tidak di sana.
Meski rumahnya hanya berbatas pagar denganku, tampaknya semesta menciptakan banyak kebetulan agar kami tidak saling bertemu.
Hidup menjadi terasa kosong, makanan hambar tak berasa. Kepalaku melayang terbang, tapi dengan sensasi yang tidak menyenangkan, seperti siap dijatuhkan kapanpun aku lengah.
Kabut pagi hari ini pekat menutup pandangan, berjalan menenteng pisau sadap saja sudah tak membuat tubuh kelelahan. Bukannya memperbaiki suasana hati, punggung bapak yang berjalan di depanku malah mengingatkanku pada Raka.
Wine, kembang api, senyumannya, kilauan serbuk gergaji tatkala Rerindang ditebang bahkan desa ini saja, mengingatkan aku pada Raka.
Perasaan apa ini? Dadaku terasa geli, sedangkan hatiku gelisah tidak karuan. Ini tidak seperti aku yang biasanya.
Mulai menyadap karet, aku gesekkan pisau sadap dengan amarah, hingga sayatan terlalu dalam membuat jalur getah menjadi rusak. Datanglah amarah bapak memperkeruh suasana hati.
Aku terdiam, pisau sadap masih tergenggam erat di tanganku. Suara bapak yang meninggi membuat dadaku semakin sesak, seakan semua amarah dan gelisah yang kupendam kini mencari celah untuk meledak.
"Kok begini cara kamu, hah?! Mira!" bentak bapak, matanya tajam menyorot batang karet yang terluka terlalu dalam.
Aku ingin menjawab, ingin mengatakan bahwa bukan batang karet itu yang ingin kulukai, melainkan rasa kosong yang terus menggerogoti hatiku.
Tapi lidahku kelu, hanya mampu menunduk, menatap tanah yang basah oleh kabut pagi.
Bayangan Raka kembali muncul, senyumnya, caranya menyalakan motor tua, bahkan tatapan matanya yang dulu begitu sederhana. Semua itu kini terasa jauh, seakan semesta sengaja menariknya dari sisiku.
"Maaf, Pak..." suaraku lirih, seperti suara kabut yang menetes dari daun-daun.
Bapak hanya menggeleng, lalu melanjutkan langkahnya ke pohon berikutnya. Aku tertinggal, berdiri sendiri di antara batang karet yang terluka, merasa diriku sama rapuhnya dengan pohon ini.
Sedikit aku lampiaskan kesal kepada rumput dan bumi, dengan cara menginjak tanah lebih keras sembari berjalan.
Aku melangkah hati-hati, menendang tanah basah yang lengket di telapak kaki. Kabut pagi masih pekat, menutup pandangan, seakan ingin menyembunyikan semua luka yang baru saja kubuka.
Di sela langkah, ingatanku melayang pada sosok Pak Wiryo sang tetua desa. Aku teringat tentang dirinya dan Siska, perempuan yang dulu pernah ia cintai, tapi tak pernah ia ucapkan dengan jujur.
Hingga akhirnya Siska pergi ke luar kota, tanpa kabar, meninggalkan Pak Wiryo dengan penyesalan yang membeku.
Aku berhenti sejenak di bawah batang karet yang basah oleh embun, membiarkan ingatan tentang Pak Wiryo menyesaki kepalaku.
Lelaki tua itu sering duduk di dekat anak Rerindang, wajahnya keras, tapi sorot matanya menyimpan cerita yang tak pernah ia bagi dengan lantang.
Aku masih ingat bagaimana ia pernah berkata lirih, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.
"Kalau saja dulu aku berani bilang… mungkin Siska tidak akan pergi." Kata-kata itu menempel di benakku, seperti noda yang tak bisa dihapus.
Kini, saat aku meraba luka di batang karet, aku merasa sedang menyentuh luka yang sama, luka karena terlambat bicara, terlambat jujur. Pak Wiryo kehilangan Siska, dan aku… mungkin sedang kehilangan Raka.
Kabut pagi semakin pekat, menutup jalan di depan. Tapi justru di dalam kabut itu aku melihat bayangan dua orang, Siska yang pergi tanpa kabar, dan Raka yang menjauh tanpa kata. Dua kisah berbeda, tapi sama-sama pergi bersama keheningan.
Aku menggenggam pisau sadap lebih erat, dada terasa sesak. "Apa aku akan menyesal seumur hidup karena terlambat berkata jujur, atau menyesal karena terlalu jujur."
Angin pagi berhembus, membawa aroma tanah basah. Aku menutup mata, membiarkan kabut menyelimuti wajahku.
Di dalam hening itu, aku tahu satu hal, jika aku tidak segera mencari Raka, aku akan mengulang nasib Pak Wiryo.