Pagi ini dia akad nikah dengan perempuan pilihannya. Padahal dua minggu lalu dia berjanji akan melamarku. Laki-laki mana lagi yang bisa dipercaya?
Dekat sejak SMA, bahkan Kyara selalu mendukung Bagaskara untuk mencapai cita-citanya. Mulai dari beli sepatu, memberi uang untuk ongkos seleksi, Kyara selalu ada. Namun, sekarang gadis cantik itu membuktikan jika kamu memulai hubungan dengan pasanganmu dari nol, maka kamu akan mendapat pengkhianatan.
Ikuti perjalanan cinta Kyara Athiya hingga mendapat pengganti Bagaskara dengan cinta yang tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAK SENGAJA
"Owi. Pagi banget?" Kya kaget mendapat pesan dari Owi, padahal ini baru jam 6 waktu Jepang, tapi Owi sudah sampai di hotel tempat Kya menginap.
"Biar gak telat, boleh aku masuk?" tanya Owi dengan hanya memakai kaos putih dan jeans serta topi saja. Kya sebenarnya tak berani mengizinkan Owi masuk ke kamarnya. Tapi masa' menyuruh Owi menunggu di lobi, malah gak enak. Dengan terpaksa, Kya pun memberi izin Owi masuk ke kamarnya. Ia melihat kamar Kak Adit di depan dan kamar kedua orang tuanya masih tertutup rapat.
Kya menghembuskan nafas berat, semoga tidak terjadi salah paham pada keluarganya telah memasukkan Owi ke kamar. Untungnya Kya memakai kaos lengan pendek dan celana training, jadi tidak sexi juga di mata laki-laki pikirnya.
"Wi, kamu masuk kamar cewek begini sudah biasa?" tanya Kya yang duduk berjarak dari Owi.
"Enggak, cuma berani sama kamu doang!"
"Yakin?"
Owi tertawa, "Kamu kok curiga aja sih sama aku!"
"Ya gimana ya, gak enak saja. Ini masih pagi loh, tapi aku sudah ada tamu cowok masuk kamar. Khawatir dimarahin mama dan papa."
"Ya kalau terciduk, kan bisa langsung aku nikahi!" ujar Owi sembari melempar bantal sofa ke wajah ganteng Owi, si atlet itu hanya tertawa ngakak.
"Gak usah macam-macam ya," ancam Kya saat melihat Owi mulai mengeluarkan ponselnya seperti main game.
"Macam-macam gimana sih." Kya berdecak sebal, menganggap Owi pura-pura gak tahu. Kya pun menyiapkan baju yang akan ia pakai saat mengunjungi ke kampus Kak Adit nanti, sopan dan tidak terlalu heboh, apalagi setelah dari kampus langsung ke Disney. Jadi pakaiannya harus sesuai dengan dua lokasi kunjungan.
"Wi, bagus yang mana?" sengaja Kya merusak fokus Owi dari game. Ia memegang dua kaos lengan panjang berwarna putih, dan satunya sweater rajut berwarna pink.
"Kaos lengan putih!" jawab Owi sekenanya.
"Oke. Tapi nanti dikira matching sama kamu."
"Lah emang kenapa? Di sana juga banyak kali orang pakai kaos putih."
Kya mengangguk, benar juga sih. Ia pun menyimpan baju yang ia keluarkan, tiba-tiba ia kaget karena ada tangan yang melingkar di perut kecilnya. Spontan menoleh, dan Owi sudah memeluknya erat.
"Wi?" tanya Kya kaget bahkan sampai melotot karena kedekatan ini. Mendadak jantungnya berdegup kencang. Takut digrebek orang tuanya, mana Owi terlihat menatapnya seperti elang yang akan memangsa anak ayam. "Wi, jangan gini!" ucap Kya mencoba melepaskan diri. Namun nafas Kya serasa berhenti, karena kening Owi ditempelkan di kening Kya.
"Jangan khawatir, aku gak akan merusak kamu. Tapi izinkan aku dekat seperti ini, aku sangat sayang sama kamu, Kya," ucap Owi dengan nafasnya berat. Mata mereka bertemu, dan Kya dibuat terdiam saat bibir Owi menempel di bibirnya.
Kya hanya diam, seolah mengizinkan Owi untuk mengeksplore bibir mungilnya. Owi tak membuang kesempatan ini, dia malah memperdalam lumatan di bibir Kya. Hingga gadis itu terbuai, malah melingkarkan tangannya pada leher Owi. Sungguh, pagi yang mengasyikkan. Keduanya terbuai, Owi mengarahkan tubuh langsing Kya hingga ke ranjang, semakin panas dan satu desahan lolos dari bibir Kya.
"Wi, kita kejauhan."
"Aku akan tanggung jawab, Kya. Please aku sudah tak bisa menahannya."
"Janji?" Owi mengangguk, dan Kya pun kembali menyambut lumatan Owi, tak mungkin hanya ciuman bibir. Tangan lelaki itu sudah bebas menjamah, Kya sudah bergerak gelisah. Bahkan kaosnya sudah tertanggal, menampakkan kulit mulus. Owi sudah berkabut gairah, bibirnya langsung menyesap di kulit putih Kya.
"Owi!"
"Iya Sayang."
"Wi, aku takut."
"Aku gak akan lebih jauh dari sini," ujarnya lembut mana Owi sudah melepas kaosnya juga. Kya tak memberontak, dia malah sangat menikmati, hingga Owi sudah tak tahan, ia justru melucuti celana dan Kya mengalihkan pandangan. Sudah kepalang tanggung, Owi pun menggerakkan area yang mengeras di bagian sensitif Kya, masih terhalang celana training Kya, hingga lenguhan panjang Owi serentak dengan bunyi alarm yang nyaring.
Apalagi teriakan dan ketukan di balik pintu, membuat Owi terbangun seketika. "Astaghfirullah!" ujarnya dengan nafas ngos-ngosan. "Iya, Ma!"
"Katanya mau keluar sama Kya, kok gak segera bangun? Tuh alarm minta dibuang aja dari tadi bunyi terus!"
"Iya!" teriak Owi menjawab omelan sang mama. Dia melihat area bawahnya sudah basah, sembari tersenyum dan menggelengkan kepala. Ternyata sampai bermimpi dengan Kyara, hingga mewajibkannya harus mandi besar dulu.
"Fix, aku harus minta izin pada papa Kyara. Bahkan dalam mimpi pun, dia datang dengan jelas! Gak bakal aku biarkan dia jadi milik cowok lain, apalagi kembali ke Bagas," gumam Owi sembari memakai pomade, dan bersiap untuk menuju ke hotel Kya.
Selama mengemudi, Owi tersenyum seperti orang gila yang sedang jatuh cinta. Masih belum percaya saja, mimpi seorang laki-laki dewasa memilih Kya. "Emang gue udah secinta itu ya sama Kya? Perasaan biasa saja. Terbawa suasana juga kenapa, sikapnya aja jutek begitu," gumamnya sembari tersenyum malu.
Menatap Kya pun rasanya pipi Owi menjadi pink, hingga gadis itu heran menatap tingkah Owi. "Kenapa?"
"Enggak."
"Aneh deh, wajah kamu tersipu begitu?"
"Salah tingkah bertemu kamu, mungkin."
"Dih, kayak anak ABG jatuh cinta!" Owi tertawa ngakak, gadis jutek begini malah bisa masuk ke mimpinya, mana sampai keluar lagi.
Papa Kya menyewa mobil dengan sistem private day tour, dengan sopir lokal. Owi juga ikut dalam rombongan keluarga Kya. Adit begitu semangat, di saat hatinya sakit karena ditinggal menikah oleh sang mantan, dan memilih mengalihkan sakit hati dengan pendidikan. Ternyata jalur ini malah didukung oleh keluarganya, makin semangat saja, dan Adit merasa memang tidak ada yang mencintai dirinya sebesar ini kecuali kedua orang tua dan adiknya.
Begitu masuk gerbang kampus, kesan tempat penuh ilmu sangat terasa. Tak lupa mereka berfoto, bahkan Owi menawarkan dirinya sebagai fotografer untuk keluarga ini, namun ditolak. Papa Kya malah menyuruh Owi ikut masuk frame, dan Adit mengatur tripod yang sengaja ia bawa. Melalui remote, mereka berfoto keluarga dengan bahagia dengan latar belakang halaman kampus di Tokyo. .
Saat masuk ke lorong kampus, Kya sangat terhipnotis dengan nuansa belajar di sini. "Jadi pengen," gumam Kya.
"Kuliah ke sini aja, aku siap nikahi kamu," bisik Owi yang berdiri di samping Kya saat melihat pigora dinding.
"Nikah, nikah, kayak cinta aja sama aku!"
"Cinta, bahkan sampai masuk mimpi," spontan Owi langsung menutup mulutnya yang keceplosan. Mata Kya langsung mendelik, dia juga perempuan dewasa pasti paham dengan mimpi yang dimaksud Owi, langsung saja Kya menabok lengan Owi.
"Aduh, sakit. Maaf, maaf, sumpah gak sengaja!" ucap Owi sambil tertawa, dan interaksi mereka dipotret oleh Adit. Entah feeling sebagai kakak, menganggap Owi memang lebih baik dari Bagas untuk Kyara.