Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menguji..
Malam itu, sekitar pukul dua dini hari, Indira tertidur pulas di ranjang tambahan yang disediakan di sudut ruangan.
Rasa lega fisik dari asupan sesi sebelumnya membuatnya kelelahan. Darsih, ibunya, juga terlelap di sampingnya.
Di ranjang utama, Arjuna menggeliat. Ia terbangun bukan karena rasa sakit, tetapi karena rasa haus yang mendadak menyerang kerongkongannya, khas saat tubuhnya membutuhkan asupan nutrisi khusus itu.
Rasa haus ini lebih mendesak dan menyiksa daripada haus air biasa.
Arjuna melirik jam di dinding. Jadwal asupan berikutnya masih lama, tetapi tubuhnya tidak bisa menunggu. Ia tahu, setelah kecelakaan, ritme kebutuhan tubuhnya menjadi tidak menentu.
Ia menoleh ke arah sofa, lalu ke ranjang tambahan tempat Indira tidur meringkuk dalam selimut.
"Indira," panggil Arjuna pelan, suaranya serak dan sedikit berbisik.
Indira tidak bergerak.
Arjuna mengulang panggilannya, kini sedikit lebih keras. "Indira. Bangun."
Indira tersentak dari tidurnya yang pulas. Ia mengernyit dan duduk tegak. Ia melihat siluet Arjuna di ranjang utama yang diterangi cahaya redup lampu tidur.
"Tuan Arjuna? Ada apa?" tanya Indira bingung, masih setengah sadar.
"Aku haus. Sekarang," desis Arjuna, suaranya menunjukkan kebutuhan yang mendesak.
Indira langsung tersadar. Ia mengerti arti 'haus' bagi Arjuna. Ia merasakan dadanya yang kembali penuh dan nyeri, mengonfirmasi bahwa sudah waktunya.
"Baik, Tuan," balas Indira, ia segera bangkit dari ranjangnya. Darsih tidak bergerak sama sekali, terlelap karena kelelahan.
Indira berjalan perlahan menuju ranjang Arjuna. Rasa malu dan canggung di tengah malam yang gelap ini terasa jauh lebih besar, apalagi Arjuna kini sepenuhnya sadar dan menatapnya dengan pandangan yang tajam karena kebutuhan.
"Aku sangat haus,,cepatlah," perintah Arjuna, dengan suara yang serak.
Indira mengangguk, lalu dengan cepat membuka pakaiannya sendiri,menyisakan branya yang masih menggantung.
Perlahan Indira mengeluarkan daging kenyal itu dari wadahnya,lalu mengarahkan putingnya ke mulut Arjuna.
. Di tengah kebutuhannya yang mendesak, semua formalitas lisan seolah hilang, digantikan oleh keheningan yang penuh tuntutan dan kepatuhan.
Proses itu dimulai. Arjuna, yang haus, menghisap dengan kuat. Indira menutup mata, fokus pada rasa lega yang menyebar ke seluruh tubuhnya.
Beberapa menit berlalu. Arjuna sudah merasa kenyang, napasnya melambat, dan rasa haus yang menyiksa itu hilang. Rasa kantuk yang sangat nyaman mulai menyerangnya, efek samping dari nutrisi yang kaya itu.
Ia seharusnya segera melepaskannya. Ia seharusnya menyuruh Indira kembali ke ranjangnya.
Namun, seperti magnet yang tak terlihat, kehangatan tubuh Indira yang menempel padanya, suara napasnya yang kini tenang, dan sentuhan yang lembut itu, menahan Arjuna.
Arjuna tetap diam. Ia masih menempel pada Indira, menghisapnya dengan lembut dan pelan, kini lebih karena kenyamanan daripada kebutuhan.
Matanya perlahan terpejam.
Di sisi lain, Indira yang merasa sudah lega, seharusnya segera pergi. Namun, ia juga sangat mengantuk. Ia merasa aman dalam pelukan Arjuna, dalam kegelapan yang intim itu. Rasa sakit fisik yang telah hilang memungkinkan rasa lelah yang lama tertahan untuk mengambil alih.
Indira tanpa sadar terlelap.
Mereka berdua terlelap, terbungkus dalam selimut, dalam kehangatan yang terlarang, melupakan semua kontrak, status, dan perbedaan dunia yang memisahkan mereka.
Arjuna sesekali kembali menghisap puting Indira,meskipun masih terlelap. namun proses menyusui masih berlangsung.
***
Pagi hari datang dengan tergesa-gesa.
Sinar matahari masuk dan langsung mengenai wajah Arjuna, membuatnya terbangun.
Arjuna membuka mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah aroma manis yang asing namun menenangkan, dan kehangatan yang luar biasa di sisi kirinya.
Ia membuka matanya,. Matanya membelalak.
Indira. Gadis itu tidur meringkuk di pelukannya. Pakaian mereka berantakan, dan ia masih... menempel pada Indira, menghisap daging kenyal itu seperti bayi besar yang sedang tertidur.
Arjuna segera sadar. Perasaan malu dan panik melandanya, lebih parah dari rasa malu saat Darsih memergoki mereka.
Ia segera menarik diri, tindakannya yang tiba-tiba membuat ranjang berderit, yang sukses membangunkan Indira.
Indira tersentak. Ia segera melihat posisinya, melihat wajah Arjuna yang panik, dan buru-buru menutup dirinya. Wajahnya langsung memerah padam karena malu yang luar biasa.
"M-maaf, Tuan Arjuna!" bisik Indira, suaranya bergetar. Ia berusaha cepat merapikan pakaiannya.
Arjuna tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajahnya, rahangnya mengeras karena menahan rasa malu dan gejolak emosi yang tak bisa ia kontrol.
Gerakan di ranjang tambahan membuat Darsih terbangun.
"Apa Den Arjuna sudah minum nak?" tanya Darsih pada putrinya.
"Dini hari tadi bu," jawab Indira singkat.
kembali ke ranjang yang ditempatinya lalu berbaring disana.
Indira masih mengantuk.
Dalam hitungan detik Indira kembali terlelap.
"Tuan butuh sesuatu?" tawar Darsih.
"Tidak bik,," jawab Arjuna singkat.
Kakinya belum bisa digerakkan sebelah,mungkin akibat benturan itu terlalu keras,ditambah lagi dia terjepit didalam mobil,membuat kakinya jadi patah.
Kata dokter hanya sementara dia lumpuh,seiring waktu berlalu kakinya akan kembali pulih.
Tidak berapa lama perawat datang mengantarkan sarapan.
Sarapan Arjuna khusus dimasak oleh koki dan ahli gizi yang profesional.
Uhukkk...uhukkk..uhuk..!!!
Kerongkongan Arjuna kembali kering dan sensasi terbakar.
Baru juga dia mau memakan sarapannya tiba tiba tenggorokan nya panas dan tercekat.
penawarnya hanya satu yaitu asi.
Sementara pemilik asi masih terlelap.
Darsih yang sudah paham dengan penyakit tuannya langsung mengerti,dia mendekati ranjang dimana Indira terlelap,lalu menggunjang bahu putrinya itu pelan.
"Indira,sayang,,bangun nak,,"
"Ada apa Bu? aku masih mengantuk,," rengek nya layaknya anak pada ibunya.
"Den Arjuna kembali sakit nak," bisiknya pelan.
"Lalu?" Indira yang belum mudeng bertanya asal.
"Berikan asupan asimu pada Den Arjuna,kamu bisa sambil terlelap disana,buruan..!" bisik ibunya mendesak.
Darsih sangat kasihan melihat putra dari majikannya tersiksa bahkan menderita.
Menyuruh putrinya memberikan asinya juga bukanlah hal yang keterlaluan.
Satu keuntungan juga buat putrinya,dengan begitu Indira tidak perlu mengeluh sakit lagi.
Perlahan Indira membuka matanya,
Mau tak mau akhirnya Indira bangun.
Dia menatap Arjuna yang masih terbatuk.
"Tuan,,berbaring lah,,ayo minum dulu,," Indira membantu tuannya berbaring.
Dengan perasaan berkecamuk Arjuna menurut.
Sebenarnya dia merasa tidak enak selalu tergantung pada gadis belia itu, dia terlihat lemah dihadapan gadis manis itu,tapi mau bagaimana lagi? kenyataan memaksanya jadi seperti ini.
Indira menarik selimut lalu membungkus tubuhnya setelah membuka pakaiannya memampangkan bra nya yang berwarna pink.
Indira menyodorkan pucuk dadanya ke mulut Arjuna,setelah pria itu menghisap,Indira memejamkan matanya,melanjutkan tidurnya yang tergantung.
Arjuna melahap kedua dada kenyal itu bergantian,sampai isinya benar benar habis dikuras.
Setelah kenyang,Arjuna tidak segera melepaskan.
Dia berniat mengerjai gadis cantik itu.
Arjuna memainkan lidahnya menggelitik pucuk dada Indira.
Hhmmm..!
Tanpa sadar Indira mendesah.
Hal itu sontak membuat Arjuna terkejut.
Wanita di hadapannya itu masih berusia 16 hampir 17 tahun,sudah mengerti akan gairah?
Arjuna mengerutkan keningnya,,apa gadis di depannya itu sudah mengerti sentuhan lawan jenis?
Tentu saja Arjuna! jangan kan gairah,diajak buat anak pun sudah bisa,,bathinnya menjawab rasa penasaran nya.
Arjuna meremas dada Indira,memastikan apakah gadis itu bereaksi dengan sentuhannya?
Hhhmmmm...!
lagi lagi gadis berambut panjang itu mendesah.
Arjuna segera menghentikan aksi konyolnya.
Yang ada dia jadi panas dingin mendengar desahan lirih Indira.
bersambung...