Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.
Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!
Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Past, present and future.
Keduanya memasuki kabin mobil, Reynand duduk di jok belakang. Jacky segera memacu kendaraan memecah kepadatan lalu lintas menjelang pergantian tahun dari 2025 ke 2026.
Lama sekali, dirinya tidak pernah merasakan kemeriahan tahun baru. Setelah kecelakaan yang merenggut kebebasannya untuk melangkah, baginya, tahun ini dan tahun yang akan datang terasa sama. Kakinya tetap tidak bisa
digerakan. Dan tahun berikutnya pun akan selalu berada di atas kursi roda.
"Hey, mas bro! Kenapa loe melow begitu, kayak perawan patah hati ditinggal kawin. Sebentar lagi pergantian tahun. Semoga tahun berikutnya membawa keberuntungan untuk kita semua. Amin!" ucap Zakaria dengan tulus.
Reynand menatap sahabatnya agak lama. Dan tersenyum getir. Dia pun merenungi perkataan sahabatnya.
"Amin!" jawabnya datar.
Benar!
Saat ini dia sedang melow. Mengingat tentang keponakan yang tak tentu rimbanya. Sudah 4 tahun waktu berlalu, selama itu dia tak putus asa mencarinya. Informasi sekecil apapun selalu dia kejar.
Di saat hatinya lemah, entah mengapa, ingatannya selalu mundur ke belakang saat usianya13 tahun di bulan Januari.
Dia pulang liburan kuliah akhir semester dan kembali ke mansion untuk mengistirahatkan otak dan hatiku juga menengok kedua orangtuaku yang terlibat kecelakaan. Saat itulah dia bertemu dengan gadis itu, bersama mommy dan daddy yang sudah sehat sedia kala.
Mereka berdua ditolong seorang peri kecil dan berniat mengadopsi menjadi adiku. Tapi tidak jadi karena usia kedua orangtuaku yang tidak memungkinkan mengadopsi. Jadi dimasukan ke keluarga kakak sulungku. Akhirnya seminggu kemudian, dia resmi menjadi keponakan dan menyandang nama besar kami dan keluarga angkatnya.
"Namaku Rembulan Senja!" ucapnya kala itu memberi salam padaku sambil mencium tangan.
Kesan pertamaku, dia menggemaskan dan mengenal sopan santun.
Mencium tangan!
Sesuatu yang telah lupa diajarkan bahkan ku lihat keponakanku tidak melakukan pada orangtuanya.
"Aku lahir bulan Juni di hari ke 23 pada hari senin saat bulan muncul di senja hari. Kata ibu peri, itu adalah bulan terindah yang pernah dia lihat, bulat sempurna berwarna indah dan bersih seperti diriku. Aku suka makanan enak dan belajar dang mengaji!" ucapnya lagi.
Aku pun tertawa mendengar jawabannya yang tak lazim. Aku tak tahu siapa ibu perinya. Seharusnya cukup menyebutkan nama saja tak usah lengkap. Kemudian dia berceloteh tentang banyak hal.
Aku yang tadinya pulang membawa kesusahan hati, merasa terhibur oleh celotehannya yang kadang tidak nyambung dengan tema atau topik dan gaya bicaranya melebihi usianya. Juga berbicara dalam bahasa daerah sesekali. Yang tidak kupahami artinya, dengan gaya kenes (centil) dan natural.
Bagaimana tidak bersedih hati. Di usiaku yang ke 13 tahun (remaja tanggung) dimana anak lain seusiaku bermain bareng (mabar) game konsole atau gadget bersama teman-teman, bermain futsal atau skate board (di taman komplek), aku dihadapkan dengan makalah kuliah seabreg, prospek bisnis serta proyeksi keuangan perusahaan yang dipaksa masuk ke otakku yang kecil, seharusnya dipegang orang dewasa (ketiga kakakku misalkan).
Sejenak, aku melupakan siapa diriku saat bersama dengannya. Aku kembali menjadi seorang anak pada umumnya, berlari, berteriak dan tertawa!
Tingkah polah dirinya dan Calvin yang selalu berebut makanan (Rembulan sebagai pemenangnya) berebut semangkuk mie kuah bumbu telor rebus (padahal masing-masing memiliki jatah).
Gadis itu kuat sekali makan, tidak cukup satu tapi tiga mangkuk. Seperti tidak makan berhari-hari. Aku yang masih lapar, memberikan jatahku padanya untuk dihabiskan. Rasanya tak tega, melihat mata kucing itu, yang selalu memandangku berharap memberikan makanan.
Walaupun banyak makan, tubuhnya tetap kecil dan ramping.
Dia juga gesit berlari, pandai berenang, kecepatannya mengalahkan aku dan Calvin yang lelaki. Selain itu, suaranya merdu sekali. Dia bilang karena suka ikut grup Rebana dan tilawatil Al-Quran. Dia juga bisa menari, tarian Jaipongan khas Sunda, favoritnya. Opa dan oma pun terkagum melihat kelincahannya. Sejak kehadirannya, rumah menjadi hidup dan ceria.
Katanya lagi, dia suka berenang di sungai dan menang melawan anak-anak di kampungnya. Dan akan mengajak kami ke sungai dan sawah. Pandai memanjat pohon dan bermain layangan.
Rupanya dia anak tomboy dan segala bisa. Akhirnya, aku bisa melalui masa liburanku dengan tidak membosankan.
Hari-hariku menjadi riang dan semangat karena ada Rembulan dan Helga yang menemaniku. Di usia 15 tahun, Helga pergi ke luar negeri mengikuti kedua orangtuanya. Saat itu, dia sudah menjadi bintang dan idola remaja. Helga adalah cinta pertamaku. Usianya dua tahun di bawahku, seumuran dengan Calvin. Kakak pertamanya adalah sahabatku.
Saat usiaku 16 tahun, aku sudah memegang kendali penuh perusahaan Ambrosia. Di tanganku, 'kapal besar' Ambrosia berhasil melalui banyak hantaman gelombang besar dan halangan batu karang. Di tanganku Ambrosia menjadi lebih kuat dan bersinar baik di tanah air, Asia dan masuk jajaran elit dunia.
Aku dan Helga berpacaran dan di usia 20 tahun kami bertunangan. Impianku, ingin menikah muda supaya jarak aku dan anakku tidak jauh. Kami bisa menjadi teman. Aku akan membebaskannya untuk menentukan hidupnya sendiri. Aku hanya mengarahkan. Kalau dia mau meneruskan jejakku sebagai pengusaha silahkan, kalaupun memilih bidang lain, tak apa. Asalkan anakku bahagia dan tidak kehilangan masa kecilnya.
Aku terlalu euforia pada kebahagiaan bersama wanita pujaanku dan melupakan keberadaan peri kecil yang telah menemaniku bangkit dari
keterpurukan saat kecelakaan menerjangku.
Di pojokan, dia terdiam memandangku sendu. Tak ada lagi binar mata keceriaan. Aku abai dan tak peka. Aku menganggap dia sudah besar, menjadi pemalu dan pendiam. Aku semakin lupa dan perlahan sosoknya tak terlihat di mataku. Aku lumpuh dan dicampakan tunanganku yang berpaling pada keponakanku. Aku semakin sembunyi di balik kata sibuk dan banyak pekerjaan hingga aku akhirnya kehilangan dan terlambat menyadarinya
Rembulanku telah redup dan mati. Menghilang entah kemana. Tapi aku yakin dia masih hidup dan bersembunyi entah dimana dan enggan untuk ku temukan.
Aku merindukan Rembulan Perak yang selalu memberi terang di hidupku yang gelap.
"Lur! Loe masih sedih dan mengingat Rembulan Perak!" tanya Jacky tentang julukanku pada gadis itu.
Aku pun mengangguk lemah.
"Begitulah! Entah mengapa aku merasa dia masih hidup dan dekat, mata bulatnya sedang menatapku di suatu tempat!" jawabku sendu.
Mataku terpaku melihat suasana kota yang semakin meriah dari kaca jendela.
"Sampai sekarang jasadnya tidak pernah ditemukan baik di darat maupun di aliran sungai yang mengarah ke laut lepas. Kalaupun masih hidup, aku sudah menyisir wilayah itu hingga pantai selama 4 tahun hingga kemarin!" lirihnya.
"Sabar dan berdoa, lur. Orang-orang kita masih mencari!" ujar Jacky memberi semangat.
"Yah. Semoga! lirih Reynand.
"Rembulan Senja! Kamu benar-benar pintar bersembunyi, seandainya kamu masih hidup dan memalsukan kematianmu. Jangankan tubuhmu bahkan wangimu pun tak tercium. Sebegitu benci, kah kamu padaku? Pada mommy dan daddy hingga kamu betah dalam persembunyianmu!?"
"Rembulan Senja, dimanapun berada, semoga kamu bahagia dengan hidup 'baru'-mu. Sesungguhnya, aku ingin kamu hidup dan kembali ke kediaman Ambrosia namun bila itu membuatmu menderita maka pergilah jauh dari cari kedamaianmu!" doanya tulus.
"Andaikan masih hidup dan aku menemukanmu, aku akan melindungi dengan segenap hatiku dengan nyawaku! Takkan kubiarkan kamu menghilang dari pandanganku walau sekejap!" ungkap hatinya yang paling dalam.
Reynand memandangi keriuhan kota yang belum surut. Ahhh, tidak. Tepatnya, api gemerlapan kota ini tidak akan pernah padam walau diguyur hujan. Titik air merayap di balik kaca jendela seakan membisikan padanya musim kemarau telah usai dan musim hujan telah tiba.
Pipinya menempel di balik kaca, netranya yang tertutup cairan bening, tak henti menatap bayang oranye sepanjang jalan, dalam hatinya berharap netranya menemukan bayangan Rembulan Peraknya di antara manusia yang menyemut.
Di apartemen tengah kota, Rembulan memandang langit yang sama dengan yang dilihat Reynand. Tampak awan kelabu yang menutupi 'dirinya' (Rembulan) di langit gelap. Sambil merapatkan jaket tebal guna menghalau dinginnya angin malam.
"Om Reynand, kamu masih gigih, kah!? Seperti masa muda dan belum bisa move on dari mantanmu. Mencari tahu keberadaanku tapi ku pastikan kamu tidak akan bisa menemuiku. Belum saatnya kita bertemu.
"Apa kamu tahu, karena sikapmu yang acuh, aku jadi korban!" monolognya.
Dia mengenang sang paman begitu baik dan humoris serta dewasa melebihi usianya. Sebenarnya, usia mereka tidak terpaut jauh, hanya selisih enam tahun tapi tidak seperti anak lelaki yang dia kenal di keluarga angkatnya yang masih kekanakan, berisik dan cenderung tidak memakai otak ketika bertindak, Reynand lebih bijaksana dan cerdas.
Setelahnya, Reynand dan Helga pun bertunangan dan merencanakan untuk menikah di masa depan. Sedih sih, tapi yah apa mau dikata. Dia adalah orang luar dan apalah artinya seorang anak adopsi yang menumpang hidup di keluarga Ambrosia.
Reynand mengalami kecelakaan fatal. Dia terpuruk dan dirinyalah yang membantu memberi semangat untuk sembuh. Tapi, yang namanya cinta pertama sulit untuk dilupakan, di hati Reynand bertahta nama Helga. Keberadaannya bagai bayangan di depan pria itu.
"Seandainya kamu tak terlalu bucin, mungkin ...
"Ahhh, sudahlah! Masa lalu adalah masa lalu. Aku hidup sejatinya untuk diriku sendiri, past, present and future!" gumamnya.
Dan malam pun berlalu dan kota Jakarta diguyur hujan tiada henti diiringi suara petir yang menggelegar, mendampingi denyut kehidupan yang tak pernah berhenti berdegub.