Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.
Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32_SESEORANG YANG MEREMEHKAN
Azka menarik tangannya kembali, seolah baru sadar dengan apa yang barusan ia lakukan. Gerakannya cepat, nyaris kasar. Wajahnya kembali datar seperti semula, namun ada ketegangan yang tertinggal di rahangnya.
"Masuk kelas," ucapnya singkat.
Nayla mengerjap, masih sedikit linglung. "Sekarang?"
Azka mengangguk kecil. "Nanti Sena sama Dani curiga kenapa kamu lama."
Ia berbalik lebih dulu, melangkah menuju pintu rooftop. Kali ini langkahnya tidak secepat tadi, seolah memberi Nayla waktu untuk mengikutinya tanpa perlu ditarik lagi.
Nayla menatap punggung Azka beberapa detik. Dadanya terasa aneh, campur aduk antara kesal, bingung, dan sesuatu yang hangat tapi bikin jantungnya berdetak lebih cepat. Perasaan yang bahkan tak ia mengerti sendiri.
Akhirnya, Nayla menyusul.
Mereka berjalan turun tanpa banyak bicara. Hanya suara langkah kaki yang sesekali bergema di tangga, dan jarak di antara mereka kini lebih terjaga, meski entah kenapa tetap terasa dekat.
Begitu sampai di koridor lantai kelas, Nayla refleks melirik ke kanan-kiri. Sepi.
"Untung saja…"
Azka berhenti di depan kelas, lalu menoleh ke arahnya. "Masuk duluan."
"Kamu?" tanya Nayla spontan.
"Aku nyusul," jawab Azka singkat.
Nayla mengangguk kecil, lalu mendorong pintu kelas dan masuk. Beberapa kepala langsung menoleh. Sena yang baru duduk langsung berdiri setengah badan.
"Nayla! Dari mana lo?" bisiknya cepat.
"Perpus," jawab Nayla asal, lalu duduk di bangkunya.
Dani melirik heran, tapi memilih diam.
Tak lama kemudian, Azka masuk ke kelas. Ekspresinya sama seperti biasa—dingin, datar, seolah tak terjadi apa-apa. Raka, Dion, dan Devan menoleh hampir bersamaan.
"Lama juga ke toiletnya" Gumam Dion.
Azka langsung duduk di bangkunya tanpa menanggapi.
Devan sempat melirik sekilas ke arah Nayla, lalu kembali menatap Azka dengan tatapan penuh arti. Namun, ia memilih bungkam.
Di bangkunya, pikiran Nayla terus melayang. Ucapan Azka di rooftop terngiang jelas di kepalanya.
"Kamu istriku."
Tangannya mengepal pelan di atas meja.
***
Hari itu, mereka pulang lebih cepat dari biasanya karena guru tiba-tiba mengadakan rapat.
Di koridor, Nayla baru keluar dari toilet. Tadi ia tiba-tiba kebelet, sementara Sena dan Dani sudah pulang lebih dulu. Ia berjalan sendirian, langkahnya santai.
Tiba-tiba, tangannya ditarik.
"Pulang bareng," kata Azka.
Nayla terkejut. Matanya refleks menoleh ke sekitar, memastikan tak ada yang melihat.
"Nggak ada yang lihat," ucap Azka datar, seolah tahu apa yang membuat Nayla panik.
Di dalam mobil, Azka duduk di balik kemudi, menatap lurus ke depan dengan fokus. Tangannya mantap memegang setir. Namun sesekali, tanpa sadar, pandangannya melenceng ke arah Nayla yang duduk di sampingnya.
Setiap kali itu terjadi, dadanya terasa mengencang.
Azka menghela napas pelan. Entah sejak kapan, hal sederhana seperti Nayla bicara dengan cowok lain bisa membuatnya kehilangan kendali.
***
Mobil Azka akhirnya berhenti di halaman kediaman Mahendra. Perjalanan yang barusan mereka tempuh terasa jauh lebih panjang dari biasanya, bukan karena jarak, tapi karena keheningan yang sejak tadi menggantung di antara mereka, pekat dan canggung.
Azka mematikan mesin. Tak ada kata pamit, tak ada basa-basi.
Mereka turun hampir bersamaan. Nayla melangkah lebih dulu masuk ke dalam rumah, disusul Azka di belakangnya.
Di ruang tengah, langkah mereka sama-sama terhenti.
Nayla menoleh. Azka sudah lebih dulu menatapnya, ekspresinya sulit ditebak.
"Ka… aku ke kamar ya?" ucap Nayla pelan.
Azka hanya mengangguk singkat.
Tanpa menunggu jawaban lain, Nayla berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Azka seorang diri di ruang tengah yang kembali sunyi.
Malam semakin larut.
Di kamarnya, Azka berdiri di depan cermin. Kaos hitam membalut tubuhnya, jaket kulit tersampir rapi di bahu, celana jeans gelap menegaskan kesan dingin yang memang sudah melekat padanya. Rambutnya masih sedikit lembap, seolah baru saja dikeramas.
Penampilannya terlalu rapi… untuk sekadar di rumah.
Azka menatap pantulan dirinya sendiri. Sorot matanya tajam, rahangnya mengeras. Tangannya mengepal tanpa sadar ketika ingatannya kembali melayang pada satu hal yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
Perjanjian itu. Dengan orang yang paling tidak ingin ia hadapi. Napasnya tertarik dalam, berat.
Refleks, tangannya meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja. Bunyi logamnya beradu pelan, memecah kesunyian kamar. Azka langsung melangkah keluar, pintu kamar ditutup tanpa suara keras.
Namun sebelum menuruni tangga, langkahnya terhenti. Pandangan Azka tertuju pada satu pintu di ujung lorong.
Pintu kamar Nayla.
Tertutup rapat. Tapi dari celah bawah pintu, cahaya lampu menyelinap keluar, tanda bahwa gadis itu belum tidur.
Azka menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu.
Akhirnya, ia mengalihkan pandangan. Tanpa menoleh lagi, Azka menuruni tangga, melangkah keluar rumah, dan langsung menuju mobilnya.
***
Mobil Azka melaju mulus membelah jalanan malam. Lampu-lampu kota berkelebat di sisi kaca, namun sorot matanya tetap lurus ke depan, dingin, tanpa emosi. Tak butuh waktu lama sampai mobil itu berhenti di sebuah tempat yang terlihat sepi dari luar.
Mesin dimatikan.
Azka langsung turun, menutup pintu mobil agak keras. Langkahnya cepat, penuh keyakinan—seperti seseorang yang memang sudah bersiap menghadapi apa pun yang ada di depan.
Ia masuk ke sebuah ruangan yang pencahayaannya temaram. Udara di dalam terasa berat. Beberapa orang sudah ada di sana, berdiri atau duduk santai seolah ini bukan pertemuan yang asing bagi mereka.
Dan benar saja. Orang yang sejak awal ingin Azka temui… sudah ada di ruangan itu.
Cowok itu melangkah mendekat dengan senyum miring terukir di wajahnya. Tatapannya penuh ejekan, seolah menikmati setiap detik ketegangan yang tercipta.
"Wow…" katanya sambil bertepuk tangan pelan. "Ternyata lo datang juga. Gue kirain lo bakal kabur."
Azka berhenti tepat di hadapannya. Tatapannya datar, dingin, tanpa sedikit pun reaksi terhadap nada meremehkan itu.
Ruangan terasa semakin sunyi.
***
Di sisi lain, di kamar Nayla.
Nayla menepuk jidatnya keras saat sebuah kesadaran tiba-tiba menyambar. "Astaga… kok aku bisa lupa sih?" gumamnya pelan.
Ia menatap buku-buku di mejanya yang belum lengkap. Catatan pelajaran yang tertinggal itu kembali menghantuinya.
"Mau pinjam buku Sena atau Dani…" Nayla menggeleng pelan. "Nggak mungkin."
Tangannya menggaruk kepala yang mendadak terasa gatal, pikirannya berputar ke mana-mana. Hingga satu nama tiba-tiba muncul begitu saja.
Azka.
Cowok galak yang dulu tanpa ampun membulinya. Yang sekarang… entah sejak kapan… sudah menjadi suaminya.
Suami rahasia.
"Kenapa aku malah lupa sama dia?" gumam Nayla pelan.
Ia langsung berdiri dari kursi belajarnya, berniat keluar kamar. Namun langkahnya terhenti lagi.
"Kalau dia marah karena aku ganggu malam-malam gimana ya…" Nayla menggigit bibirnya ragu.
Beberapa detik kemudian, ia mendengus kesal sendiri. "Halah. Bodo amat. Mau marah atau nggak, urusan belakangan."
Keputusan dibuat. Nayla melangkah cepat menuju kamar Azka.
Di depan pintu yang tertutup rapat itu, Nayla mengangkat tangannya dan mengetuk.
TOK. TOK. TOK.
"Azka…" panggilnya pelan.
Sunyi.
Tak ada jawaban.
Nayla mengernyit. "Tidur? Nggak mungkin… lampunya aja nyala," gumamnya sambil melirik cahaya yang menyelinap dari bawah pintu.
"Atau lagi di kamar mandi?" tebaknya lagi.
Ia kembali mengetuk.
TOK. TOK. TOK.
Tetap tak ada sahutan.
Dengan ragu, Nayla memutar gagang pintu. Pintu terbuka dengan mudah—tidak terkunci.
Ia mengintip ke dalam kamar. Kosong.
Tak ada Azka. Tak ada suara air dari kamar mandi. Tak ada tanda-tanda seseorang ada di sana.
Napas Nayla sedikit tercekat. Sekali lagi ia memanggil, kali ini lebih keras.
"AZKA!"