Pagi ini dia akad nikah dengan perempuan pilihannya. Padahal dua minggu lalu dia berjanji akan melamarku. Laki-laki mana lagi yang bisa dipercaya?
Dekat sejak SMA, bahkan Kyara selalu mendukung Bagaskara untuk mencapai cita-citanya. Mulai dari beli sepatu, memberi uang untuk ongkos seleksi, Kyara selalu ada. Namun, sekarang gadis cantik itu membuktikan jika kamu memulai hubungan dengan pasanganmu dari nol, maka kamu akan mendapat pengkhianatan.
Ikuti perjalanan cinta Kyara Athiya hingga mendapat pengganti Bagaskara dengan cinta yang tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIBLINGS
Di sela-sela bekerja di toko Justin, Kya menyempatkan diri untuk fitting kebaya untuk wisudanya minggu depan. Ia memilih warna kebaya peach dan rok batik yang senada, tak lupa bersama sang mama, Kya sudah booking MUA untuk hari H datang ke rumah.
"Kayaknya kurusan deh, Mbak Kya ini. Pinggangnya mengecil," ujar Tante Yura, penjahit langganan sang mama saat Kya fitting terakhir kebayanya. Ia memutar area pinggang sembari menghadap kaca, dan memang sedikit longgar di bagian itu, sehingga kesan press body tak nampak. "Dikecilkan saja, Tante, sesuai badan!" ujar Kya yang memang ingin press body, biar terlihat ramping saja gak kedodoran. Tante Yura pun mengangguk, dan besok baru bisa diambil lagi.
"Padahal, makanku lebih teratur sekarang loh, Ma. Kenapa bisa kurus ya?" tanya Kya saat keduanya pulang. Mama yang menyetir mobil sedangkan Kya sedang asyik melihat foto fitting tadi.
"Ya kamu sekarang sering moving ke banyak area toko, Dek. Makanya kamu sering jalan, sehingga kalorinya banyak terbakar," jawab mama dan diangguki oleh Kya. Justin selain toko masih memegang kerjaan di kantor sang kakak, sehingga yang full di toko ya Kya. Tentu saja Kya tak bisa diam di satu area, pasti moving ke area depan, meeting dengan anak marketing, meeting dengan anak design, sekaligus melaporkan apapun yang terjadi kepada Justin selama Justin tidak berada di toko, mungkin aktivitas itulah yang membuat Kya semakin kurus saja.
Pulang dari butik, mama langsung meluncur pulang padahal Kya ingin nongkrong di cafe, mumpung besok weekend juga. Tapi sayang mama ada jaga malam, sehingga tak bisa menemani Kya nongkrong. Alhasil, Aditya menjadi sasaran Kya.
"Tumben si jaka di rumah menjelang weekend?" tanya mama yang melihat mobil Adit sudah terparkir di garasi.
"Kan udah putus, gak punya acara kencan lah!" ledek Kya, dan Aditya hanya berdecak sebal mendengar ledekan sang adik. "Habis maghrib, temani aku ke cafe dong, Kak! Bosen nih, sibuk kerja masa' di rumah doang!"
"Traktir!"
"Cieleh, gaji kamu lebih gede kali, Kak. Teganya minta traktir pada adik," gerutu Kya sembari naik tangga menuju kamar.
Hanya di mulut saja candaan minta traktir, ujung-ujungnya Aditya justru yang semangat pergi. Ia yang memilihkan cafe tempat untuk tongkrongan yang bebas rokok, karena Aditya tahu sang adik paling sebal dengan asap rokok. Aditya memilih cafe outdoor dengan konsep city view, lampu kota dilihat dari cafe sangat bagus, menambah suasana bahagia kakak beradik yang jomblo itu. Mereka memesan banana roll, kopi gula aren, dan juga roti bakar. Tak lupa Aditya dan Kya berselfie dengan pose gak jelas ala mereka.
"Kakak udah sering kemari sama Mbak Sandra?" tanya Kya sembari menyeruput kopinya. Aditya mengangguk, cafe ini merupakan favorit Sandra. Mereka beberapa kali mengunjungi cafe ini, sekedar melepas penat selepas pulang kerja.
"Pasti kangen, terus ajak aku ke sini?" tuduh Kya sembari memicingkan mata. Aditya hanya mengangguk saja, ia tak bisa mengelak tebakan sang adik. Keduanya terlalu dekat, sehingga bisa merasakan kehampaan satu sama lain. Kya menghela nafas pelan sembari menepuk pundak sang kakak.
"Ternyata sakit banget ya, kita putus tanpa ada pengkhianatan tapi keadaan yang memaksa kita untuk putus."
"Sejak awal sudah berbeda, Kakak pasti sudah tahu konsekuensinya!" ujar Kya sangat paham betapa terlukanya sang kakak yang terpaksa tegas pada kelanjutan hubungan dengan Sandra. Perbedaan keyakinan membuat Aditya harus mengakhiri jalinan cinta ini. Usia Aditya yang sudah tak muda menjadi alasan utama hubungan ini mau dibawa ke mana. Masing-masing juga tidak mau log out dari keyakinan, jadi lebih baik putus saja.
"Dulu saat belum usia 20 tahun, dalam diri Kakak selalu meyakinkan diri bahwa Sandra akan mengikuti kakak, tapi lambat laun justru kita semakin terbiasa akan perbedaan, hati kakak pun tak tega bila mengajak Sandra mualaf. Dia pasti juga punya harapan yang sama."
"Salah kita si Kak, pacaran. Makanya kita di usia muda begini sudah merasakan patah hati. Baik
pengkhianatan maupun perbedaan keyakinan juga sama-sama sakit. Jadi lebih baik memang gak perlu pacaran."
"Kalau dipikir-pikir benar juga sih, Dek. Berapa kali papa bilang ke kita gak baik pacaran, apalagi tahun-tahunan kayak kita. Kredit motor saja kalah," keduanya tertawa mengingat betapa bucin mereka pada pacar masing-masing.
"Mana papa gak pernah mau menemui Bagas juga, masih saja aku bodoh kalau papa gak suka aku pacaran, seringa banget menyindir juga gak malu sama jilbab main boncengan sama anak cowok."
"Kalau aku disindir, segera menikah keburu anak gadis orang lecet," ujar Aditya menirukan peringatan sang papa.
"Tapi Abang gak pernah bikin lecet Mbak Sandra kan?"
"Lecet apa? Jatuh dari motor? Atau lecet apa?" tanya Aditya memastikan pikiran sang adik, toh dia juga berniat introgasi sejauh apa hubungan Kya dengan Bagas.
Kya memberi kode seperti orang berciuman. "Bibir? Pernah."
"Sumpah?"
"Dih, kayak kamu enggak pernah saja, Dek!" Kya langsung menampol pundak sang kakak dengan kesal.
"Meski aku pacaran lama, cuma mentok gandengan tangan sama pelukan doang kali, Kak. Pernah cium kening doang. Masih ori nih bibir."
Aditya tertawa ngakak, ternyata sang adik masih bisa jaga diri. Justru dirinya yang kelewat pacarannya. "Gak mungkin sekali kan?" tebak Kya, dan Aditya kembali mengangguk.
Ia melayang ke moment romantis bersama Sandra saat itu. Keduanya menghadiri pernikahan teman kuliah di Bali, lebih tepatnya teman kuliah Aditya, sengaja mengajak Sandra. Sekalian staycation meski beda kamar, tapi saat menikmati suasana malam di pinggir pantai Aditya terbawa suasana hingga terjadi ciuman bibir tersebut.
"Kalau cowok sudah pernah sekali ciuman bakal ketagihan, Bagas emang gak pernah?"
"Kalau sama aku gak pernah, entah sama perempuan lain aku gak tahu. Yang jelas, pacaran kita sehat, sejak awal fokus dia kan berkarier jadi atlet, kalau sampai hubungan kita tidak sehat justru akan menghambat karirnya kan. Makanya dari pihak dia gak ada niatan untuk merusak aku."
Aditya mengangguk, saat bertemu dengan Bagas, Aditya juga mengakui kalau Bagas memang cowok baik-baik, mungkin karena latar belakang keluarga yang membuat dia harus menomor satukan karir daripada terjebak menikah muda dengan Kya. Tapi sayang, ternyata berkhianat juga.
"Justin gimana?"
"Gak gimana-gimana."
"Yakin? Feelingku sih ada udang di balik rempeyek."
"Ya Kak Adit tahu lah, sebagai pria dewasa dekat dengan perempuan cantik dan pintar pasti susah kalau tidak melibatkan perasaan," ujar Kya yang langsung ditonyor oleh sang kakak, karena terlalu percaya diri. Kya tertawa ngakak, berhasil membuat sang kakak sebal.
"Terus? Berarti kalian jadian dibalut rekan kerja?"
"Enggak, aku gak mau pacaran lagi. Kapok. Lagian dia gak bodoh kayak Kakak, kalau sejak awal beda agama maka dia gak mau terlibat jauh, just confess saja."
"Buh, berat dong ya."
"Ya mungkin bagi dia berat, tapi kalau aku sih gak kasih harapan dan gak caper juga, ngapain. Niatku cari uang."
"Mungkin begitu ya kalau cewek sudah patah hati, menutup hati."
"Bukan menutup, lebih tepatnya sedang menikmati kesendirian saja, toh jomblo juga gak menakutkan."
"Kencan sama aku aja lah," ujar Aditya melas juga melihat sang adik jomblo.
"Gak papa asal ditraktir."
"Ck."