Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: KONSEKUENSI PERTARUNGAN
#
Sabtu pagi. Dyon bangun di gubuknya dengan seluruh badan sakit. Rusuk nyeri, kepala pusing, pipi bengkak. Dia ngeliatin cermin kecil yang retak di dinding.
Astaga.
Muka penuh lebam. Bibir pecah. Ada luka di kening yang udah ditutup plester.
Tapi... dia menang.
Dia lindungin Ismi.
Hape berbunyi. SMS masuk.
Dari nomor nggak dikenal: "Dyon Syahputra, Anda dan Edward Tanwijaya diminta datang ke sekolah hari ini, Sabtu jam 9 pagi. Ke ruang kepala sekolah. Jangan terlambat. Kepala Sekolah."
Jantung Dyon berdebar.
*Ketahuan.*
***
Jam sembilan pagi. Dyon sampai di sekolah dengan jalan yang agak pincang, kaki kiri masih sakit bekas ditendang Edward. Masuk gerbang, satpam ngeliatin aneh.
"Dyon, kamu... kamu kenapa?" tanya Pak Hadi, satpam.
"Jatuh, Pak," bohong Dyon.
Jalan ke ruang kepala sekolah di lantai dua. Di depan pintu, udah ada beberapa orang.
Edward. Duduk di kursi tunggu, muka juga babak belur, hidung diplester, tangan kanan diperban. Matanya merah, tatapan penuh benci ke Dyon.
Di samping Edward, ada dua orang dewasa. Bapak tinggi besar pakai jas mahal, jam tangan emas. Ibu cantik pakai dress mewah, perhiasan bling bling. Orang tua Edward.
Mereka ngeliatin Dyon dengan tatapan... meremehkan. Jijik.
"Jadi ini anak yang mukul anakku?" tanya bapaknya Edward, suara rendah tapi penuh ancaman.
Dyon nggak jawab. Cuma berdiri di sana.
Pintu ruang kepala sekolah terbuka. Pak Budi, kepala sekolah, keluar. Wajah serius.
"Masuk. Semua," perintahnya singkat.
Mereka masuk. Ruangan luas, ada meja besar, kursi empuk, AC dingin. Di dinding ada foto presiden sama lambang negara.
Pak Budi duduk di kursi kepala sekolah. Orang tua Edward duduk di kursi tamu. Edward duduk di samping mereka.
Dyon? Disuruh berdiri. Nggak dikasih kursi.
"Baik," Pak Budi buka map di mejanya. "Kemarin sore, Jumat, kalian berdua berkelahi di atap sekolah. Benar?"
Dyon angguk. "Benar, Pak."
Edward juga angguk, tapi sambil nunduk pura pura takut.
"Siapa yang memulai?" tanya Pak Budi.
"DIA!" Edward langsung tunjuk Dyon. "Dia yang tantang saya duel, Pak! Dia yang... yang mukul saya duluan! Saya cuma... cuma membela diri!"
"BOHONG!" Dyon teriak. "Lo yang tantang gue! Lo yang bawa pisau!"
"Pisau?" Bapaknya Edward berdiri, marah. "Kamu tuduh anakku bawa senjata tajam?! Dimana buktinya?!"
"Pisaunya ada di atap! Gue tendang ke pojok!" Dyon bilang.
Pak Budi menelepon satpam. "Pak Hadi, tolong cek atap sekolah. Cari apa ada pisau atau senjata tajam."
Beberapa menit kemudian, Pak Hadi lapor lewat telepon. "Pak, saya sudah cek. Nggak ada pisau. Cuma ada pipa besi sama... sama darah di lantai."
Dyon shock. "Nggak mungkin! Pisaunya... pisaunya pasti diambil!"
Edward senyum tipis, licik. Dia yang ambil pisaunya tadi pagi, sebelum sekolah buka.
"Tidak ada bukti," kata bapaknya Edward, duduk lagi. Senyum puas. "Anakku tidak bawa senjata. Tapi anak ini..." tunjuk Dyon, "anak ini yang bawa pipa besi! Anak ini yang menyerang anakku!"
"Gue... gue pakai pipa buat bela diri!" Dyon membela. "Edward bawa pisau duluan!"
"Dimana buktinya?" ibunya Edward nyeletuk, suara nyinyir. "Kamu cuma... cuma anak miskin yang iri sama anakku. Kamu cari alasan buat menyerang dia!"
Dyon ngepal tangan. Dadanya panas.
Pak Budi diam, mikir. Terus dia ngeliatin Dyon. "Dyon, kamu punya saksi? Atau bukti?"
"Nggak ada, Pak," Dyon bisik. "Cuma... cuma saya sama Edward di sana."
"Kalau begitu," Pak Budi napas berat, "berdasarkan laporan dan... dan tidak adanya bukti yang mendukung cerita kamu, saya putuskan... Dyon Syahputra dikeluarkan dari sekolah."
Dunia Dyon runtuh.
"Pak... Pak kumohon..." Dyon mohon. "Saya... saya nggak salah! Saya cuma... cuma bela diri!"
"Keputusan sudah final," kata Pak Budi dingin.
"TUNGGU!" suara dari pintu.
Semua nengok.
Leonardo. Masuk dengan napas ngos ngosan. Di tangannya ada laptop.
"Pak Budi, saya punya bukti," kata Leonardo tegas.
"Leonardo? Kamu... kamu ngapain di sini? Ini hari Sabtu," kata Pak Budi bingung.
"Saya tau ada masalah," Leonardo taruh laptop di meja Pak Budi. "Dan saya punya bukti. Video. Rekaman CCTV yang saya ambil dari sistem keamanan sekolah."
"CCTV? Tapi atap sekolah nggak ada CCTV," kata Pak Budi.
"Memang nggak ada di atap," Leonardo buka laptop, putar video. "Tapi ada di koridor lantai tiga. Dan ini... ini merekam Edward naik ke atap dengan sesuatu di tangannya."
Video diputar. Keliatan jelas. Edward jalan ke tangga atap, tangan kanan di saku jaket, tapi ada tonjolan. Bentuknya... bentuk pisau lipat.
"Ini bukan bukti dia bawa pisau," bapaknya Edward bantah. "Itu cuma... cuma hape atau dompet!"
"Tunggu, masih ada," Leonardo putar video lain. "Ini rekaman setelah pertarungan. Edward turun dari atap. Dan lihat... tangannya kosong. Tapi dia berhenti di tangga, ambil sesuatu dari saku, buang ke tempat sampah."
Video menunjukkan Edward buang sesuatu ke tempat sampah di koridor lantai dua.
"Saya sudah cek tempat sampah itu tadi pagi sebelum ke sini," Leonardo ngeluarin plastik bening dari tas. Isinya... pisau lipat berdarah. "Ini pisaunya. Masih ada darah Dyon di situ."
Ruangan hening.
Bapaknya Edward pucat. Ibunya Edward shock. Edward sendiri... ketakutan.
Pak Budi ngeliatin pisau itu. Terus ngeliatin Edward. "Edward... kamu bawa senjata tajam ke sekolah?"
Edward nggak jawab. Cuma nunduk.
"Dan kamu..." Pak Budi ngeliatin orang tua Edward, "kalian mau menutupi kesalahan anak kalian dengan... dengan menyalahkan Dyon?"
"Pak Budi, kami... kami bisa jelaskan..." bapaknya Edward panik.
"Tidak perlu," Pak Budi berdiri. "Berdasarkan bukti yang jelas ini, saya putuskan: Edward Tanwijaya dikeluarkan dari sekolah. Efektif hari ini."
"APA?!" Edward berdiri. "Pak, saya... saya nggak bisa dikeluarin! Ayah saya... ayah saya bisa..."
"Bisa apa?" Pak Budi tatap tajam. "Menyuap saya? Mengancam saya? Silakan coba. Tapi keputusan saya tetap. Anda keluar."
Bapaknya Edward marah, berdiri. "Saya akan laporkan sekolah ini! Saya akan tuntut!"
"Silakan," Pak Budi tenang. "Tapi saya punya bukti anakmu membawa senjata tajam dan menyerang siswa lain. Siapa yang akan menang di pengadilan?"
Bapaknya Edward terdiam. Akhirnya dia tarik Edward, keluar ruangan dengan wajah merah menahan malu.
Ibunya Edward ngeliatin Dyon dengan tatapan penuh benci sebelum ikut keluar.
Pintu tertutup.
Hening.
Pak Budi duduk lagi. Napas lega. "Dyon."
"Ya, Pak?"
"Kamu... kamu juga salah. Kamu ikut berkelahi. Meskipun untuk bela diri, tapi... kamu tetap melanggar peraturan sekolah."
Dyon nunduk.
"Tapi," Pak Budi lanjut, "karena ada bukti kamu diserang duluan, hukumannya diringankan. Kamu diskors tiga hari. Senin, Selasa, Rabu. Kamis kamu boleh masuk lagi."
Dyon nengadah. "Terima kasih, Pak."
Pak Budi senyum tipis. "Terima kasih ke Leonardo. Dia yang selamatkan kamu."
Dyon nengok ke Leonardo yang berdiri di samping. Leonardo senyum lebar.
"Makasih, Leo," kata Dyon, suara bergetar. "Lo... lo selamatin gue."
"Buat apa punya sahabat kalau nggak saling selamatin?" Leonardo nyengir. "Lagian gue nggak bisa ngebiarin lo dikeluarin gara gara orang gila kayak Edward."
Mereka keluar ruangan. Di koridor, Andra udah nunggu, excited.
"Dyon! Lo nggak jadi dikeluarin?!" Andra peluk Dyon.
"Iya. Cuma diskors tiga hari," Dyon senyum.
"YEAY!" Andra loncat loncat. "Edward yang keluar! Karma, Bro! Karma!"
Leonardo ketawa. "Iya. Akhirnya sekolah bersih dari sampah psikopat."
Mereka ketawa bareng.
Tapi Dyon... ada yang mengganjal di hatinya.
*Edward dikeluarin. Tapi... tapi dia pasti dendam. Dia... dia pasti bakal balas.*
"Lo mikirin apa?" tanya Leonardo, nyadar Dyon melamun.
"Nggak," Dyon geleng. "Cuma... cuma takut Edward bakal balas dendam."
"Santai," Andra nepuk punggung Dyon. "Dia udah kalah. Dia udah dipermalukan. Dia... dia nggak bakal berani lagi."
Dyon senyum tipis. Berharap Andra bener.
Tapi dalam hati...
Dia tau Edward bukan tipe orang yang nyerah gampang.
***
BERSAMBUNG
***