NovelToon NovelToon
Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Barat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ambisi di Ambang Keabadian

Kekejaman Ratu Layla tidak lagi mengenal batas. Setelah monumen kemegahannya berdiri di atas tulang-belulang rakyatnya, ia mulai menyadari bahwa kecantikan dan kekuasaannya suatu saat akan memudar ditelan waktu. Ia tidak sudi menyerahkan singgasananya kepada maut. Di dalam ruang pribadinya yang berbau kemenyan dan darah, Layla memanggil sang Penasehat.

"Penyihir Petir, siapkan kereta kencana dan pasukan terbaik. Aku tidak ingin hanya menguasai dunia ini, aku ingin menguasai waktu itu sendiri," ucap Layla sambil menatap pantulan wajahnya di cermin perak. Ia menyentuh garis tipis yang hampir tak terlihat di sudut matanya, sebuah tanda penuaan yang ia benci lebih dari apa pun.

Layla memerintahkan sang Penasehat untuk membawanya ke sebuah tempat yang hanya ada dalam legenda terkutuk: Sumur Keabadian. Konon, air dari sumur itu dapat memberikan kehidupan abadi, namun perjalanannya dilingkupi oleh kabut kematian. Penyihir Petir, dengan mata yang memancarkan kilatan listrik redup, menunduk patuh. Ia tahu bahwa keinginan Ratu adalah titah yang tak boleh dibantah, meski taruhannya adalah nyawa seluruh pasukan.

Ratu Layla keluar dari istana dengan jubah merah darah yang menyapu lantai. Di gerbang, Delta sudah menunggu bersama barisan Minotaur yang memegang kapak raksasa dan pasukan Centaur yang bersenjatakan busur panjang. Di langit, Naga Api berputar-putar, menyemburkan api kecil yang mengintimidasi siapa pun yang berani menatap. Perjalanan menuju tempat paling rahasia itu dimulai dengan langkah kaki yang menggetarkan bumi, meninggalkan aroma ketakutan yang pekat di Kerajaan Atlas.

Perjalanan menuju Sumur Keabadian membawa mereka ke sebuah wilayah gersang yang dipenuhi dengan bebatuan tajam dan pasir hitam. Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat. Dari balik bukit-bukit batu, muncul segerombolan kalajengking raksasa—makhluk-makhluk sebesar kereta kuda dengan capit yang mampu menghancurkan baja dan ekor beracun yang berkilat mengancam.

"Lindungi Ratu!" Delta berseru, suaranya menggelegar di tengah desisan makhluk-makhluk tersebut.

Pertempuran pecah seketika. Seekor kalajengking raksasa menerjang ke arah kereta Ratu, namun Delta melompat dari kudanya dengan kecepatan luar biasa. Pedang besarnya menebas udara, memotong salah satu kaki tebal makhluk itu hingga cairan hijau pekat menyembur. Sementara itu, para Minotaur menggunakan kekuatan fisik mereka untuk menahan capit-capit raksasa, sementara para Centaur melepaskan hujan anak panah dari jarak jauh.

Layla hanya duduk diam di dalam keretanya, menonton pembantaian itu dengan tatapan bosan seolah-olah nyawa pasukannya yang melayang hanyalah pertunjukan hiburan. Ketika seekor kalajengking hampir mencapai pintu keretanya, Naga Api yang terbang rendah menyemburkan api pemurni, membakar makhluk itu hingga menjadi abu dalam sekejap. Delta, yang tubuhnya kini berlumuran darah monster, berdiri di depan pintu kereta, memastikan tidak ada satu pun debu yang menyentuh jubah sang Ratu hingga kalajengking terakhir tewas mengenaskan di bawah injakan kaki pasukan Atlas.

Setelah melewati rintangan monster, mereka akhirnya tiba di sebuah cekungan tanah yang tersembunyi. Di tengahnya, berdiri sebuah sumur kuno yang airnya memancarkan cahaya biru pucat yang dingin. Udara di sekitar tempat itu terasa berat dan magis. Layla turun dari keretanya dengan langkah angkuh, mengabaikan mayat-mayat pasukannya yang bergelimpangan di sepanjang jalan tadi.

Ia mendekati sumur itu. Penyihir Petir merapal mantra pelindung, memastikan tidak ada jebakan gaib yang menghalangi. Dengan tangan gemetar karena gairah kekuasaan, Layla mengambil sebuah cawan emas dan menciduk air jernih tersebut. Tanpa ragu, ia meminum air keabadian itu hingga habis. Seketika, cahaya biru merambat masuk ke dalam pembuluh darahnya, membuat matanya bersinar terang sejenak.

"Aku abadi! Atlas akan sujud di kakiku selamanya!" teriak Layla dengan tawa melengking yang menggema.

Tanpa membuang waktu, ia memerintahkan pasukan yang tersisa untuk segera kembali ke istana. Ia ingin segera duduk di singgasananya dan merencanakan kekejaman baru yang lebih besar. Delta dan pasukannya, meski kelelahan dan terluka, terpaksa memacu langkah kembali menuju jantung Kerajaan Atlas. Sepanjang jalan pulang, Layla tidak berhenti tersenyum sinis, merasa dirinya kini telah melampaui derajat manusia dan dewa.

Namun, kemenangan Layla tidak bertahan lama. Setibanya di istana, saat malam mulai menyelimuti Atlas, tubuh sang Ratu mulai menunjukkan reaksi aneh. Suhu tubuhnya meningkat drastis hingga ia merasa seolah-olah ada api yang membakar dari dalam tulang-tulangnya. Layla jatuh pingsan di tengah aula utama dengan napas yang tersengal-sengal.

Demam tinggi menyerangnya dengan hebat. Namun, yang lebih mengerikan adalah dampaknya pada kesadarannya; meskipun tubuhnya sangat lelah dan menderita, Layla tidak bisa tidur. Matanya terus terbuka lebar, dipenuhi oleh guratan merah darah. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, bayangan-bayangan mengerikan dari mereka yang telah ia bunuh muncul menghantui, namun ia tetap terjaga dalam kondisi sadar yang menyiksa.

"Kenapa aku tidak bisa tidur?!" teriak Layla sambil menghancurkan barang-barang di kamarnya.

Penyihir Petir mencoba segala jenis ramuan penenang, namun air keabadian itu menolak segala bentuk sihir manusia. Tubuh Layla menjadi medan perang antara kehidupan abadi dan rasa sakit yang tak berujung. Delta hanya bisa berdiri di luar pintu kamar, mendengarkan jeritan frustrasi sang Ratu yang kini tampak seperti monster yang terjebak dalam tubuhnya sendiri.

Melihat kondisi Ratu yang semakin memburuk dan terancam gila karena tidak bisa tidur, Penyihir Petir menyadari bahwa ia membutuhkan kekuatan yang lebih tua dan lebih gelap. Ia teringat pada saudaranya, seorang penyihir hitam yang telah lama mengasingkan diri di negeri seberang yang tak tersentuh oleh peta Kerajaan Atlas.

"Panglima, jaga Ratu dengan nyawamu. Aku harus mencari penawar atau cara untuk menyeimbangkan kekuatan ini," bisik Penyihir Petir kepada Delta.

Tanpa membawa pasukan besar agar tidak menarik perhatian, sang Penasehat pergi meninggalkan istana. Ia membawa sebuah tongkat kayu hitam yang terbuat dari pohon yang disambar petir seribu kali. Perjalanannya melintasi perbatasan kerajaan sangat sunyi, namun penuh dengan ancaman yang tidak terlihat. Ia harus menemui saudaranya yang dikenal sebagai penguasa kegelapan di negeri asing tersebut, berharap hubungan darah mereka masih cukup kuat untuk meminta bantuan bagi sang Ratu yang haus darah.

Perjalanan sang Penasehat membawanya ke sebuah tempat yang dikenal sebagai Lembah Kematian. Tempat ini adalah rumah bagi berbagai jenis siluman dan roh-roh penasaran yang lapar akan jiwa manusia. Saat Penyihir Petir melangkah masuk ke dalam lembah yang tertutup kabut tebal itu, tanah di bawahnya mulai bergejolak.

Sekelompok siluman bayangan muncul dari balik kabut. Mereka tidak memiliki bentuk tetap, namun kuku-kuku mereka tajam seperti silet. Di sudut lain, siluman pemakan bangkai dengan wajah hancur mulai mengepungnya. Penyihir Petir tidak gentar. Ia mengangkat tongkatnya, dan seketika langit yang gelap di atas lembah itu terbelah oleh kilatan petir raksasa.

"Jangan berani menghalangi jalanku, makhluk-makhluk nista!" teriaknya.

Pertempuran sengit terjadi. Penyihir Petir melepaskan gelombang listrik yang menghanguskan siluman-siluman tersebut menjadi asap hitam. Setiap kali seorang siluman mencoba menerjang, ledakan petir mementalkan mereka hingga hancur. Lembah itu menjadi terang benderang oleh sihirnya yang luar biasa. Meski terkepung oleh ribuan siluman, sang Penasehat terus maju, menginjak sisa-sisa energi hitam yang hancur, demi mencapai tujuannya sebelum sang Ratu di istana Atlas benar-benar kehilangan kewarasannya.

1
Anang Anang
seru
Dini
sungguh mengerikan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!