NovelToon NovelToon
Hasrat Majikan

Hasrat Majikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Selingkuh / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.

Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan?

Fajar menyingsing di langit Jakarta dengan warna merah keunguan yang mencekam, seolah sedang menggambarkan luka yang baru saja menganga di lantai tiga puluh apartemen Eduardo. Alexander terbangun dengan kepala yang berat akibat pengaruh wiski. Namun, ada satu perasaan asing yang menggelitik sanubarinya—sebuah kekosongan yang tidak biasa. Biasanya, ia akan mendengar langkah kaki kecil Almira yang menyiapkan kopi atau sekadar gesekan kain saat gadis itu merapikan tirai.

Namun pagi ini, penthouse itu sunyi senyap. Terlalu sunyi.

Alex bangkit, berjalan menuju kamar Almira dengan langkah yang sedikit sempoyongan. Pintu kamar itu terbuka sedikit. Ia mendorongnya pelan, berharap melihat gadis itu sedang meringkuk ketakutan di bawah selimut, menunggu nasibnya yang akan ditentukan pukul sepuluh pagi ini.

Namun, ranjang itu kosong. Spreinya tertata rapi, terlalu rapi untuk seseorang yang baru saja bangun tidur. Matanya kemudian tertuju pada sebuah kertas putih yang tergeletak di atas bantal.

Alex melangkah mendekat, jantungnya berdegup dengan irama yang tidak beraturan. Ia menyambar kertas itu. Begitu matanya membaca baris demi baris tulisan tangan Almira yang sedikit bergetar, napasnya seolah terhenti.

“Tuan Alex, saya sudah pergi. Saya sudah melakukan apa yang Anda inginkan—janin ini sudah tidak ada. Saya membenci Anda lebih dari apa pun di dunia ini. Jangan pernah cari saya lagi.”

"Sialan!" raung Alex. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam genggamannya. "ALMIRA!!!"

Suara teriakan Alex mengguncang seluruh ruangan. Ia berlari keluar, memanggil para penjaga yang seharusnya berjaga di depan pintu. Kedua pria berbadan tegap itu tampak bingung, baru saja tersadar dari kantuk mereka.

"Di mana dia?!" bentak Alex, mencengkeram kerah baju salah satu penjaga hingga wajah pria itu memerah. "Aku membayar kalian mahal untuk menjaga seorang gadis kecil, dan kalian membiarkannya pergi?!"

"T-tapi Tuan, pintu depan tidak pernah terbuka. Kami bersumpah tidak ada yang lewat sejak semalam," jawab penjaga itu terbata-bata.

Alex melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Ia segera berlari menuju balkon belakang. Benar saja, pintu darurat sedikit terbuka. Di sana, ia menemukan secarik kain dari gaun tidur Almira yang tersangkut di pagar besi.

Dia benar-benar pergi. Dan dia membunuh anaknya.

Rasa marah yang luar biasa membakar dada Alex, namun di balik amarah itu, ada sesuatu yang terasa patah. Ia pikir ia akan merasa lega jika "masalah" itu hilang, namun membaca kata-kata bahwa Almira membencinya membuat Alex merasa seperti ditusuk belati tepat di jantungnya. Ia tidak menyangka bahwa kebencian gadis itu bisa terasa sesakit ini.

Dalam waktu kurang dari satu jam, Alex telah mengerahkan seluruh tim keamanannya untuk melacak keberadaan Almira. Ia duduk di ruang kerjanya, menatap monitor CCTV yang menunjukkan rekaman jalanan di sekitar gedung. Namun, hujan deras semalam membuat pandangan kamera menjadi kabur.

"Tuan, kami sudah memeriksa semua rumah sakit dan klinik aborsi ilegal di radius sepuluh kilometer," lapor salah satu orang kepercayaannya. "Tidak ada catatan atas nama Almira Nindya. Kami juga memeriksa stasiun dan terminal, namun belum ada hasil."

Alex menggebrak meja mahoninya. "Cari lagi! Periksa setiap sudut kota ini! Dia tidak mungkin pergi jauh dengan kondisi fisik seperti itu!"

Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya terbuka. Elara melangkah masuk dengan wajah yang tampak prihatin—sebuah akting yang sangat sempurna.

"Alex, sayang... aku baru dengar kabar itu dari Bi Inah. Ya Tuhan, gadis itu benar-benar nekat," ucap Elara sambil mencoba menyentuh bahu Alex.

Alex menepis tangan Elara dengan kasar. "Apa kau tahu sesuatu tentang ini, Elara?" tanya Alex, matanya menatap tajam ke dalam manik mata wanita itu.

Elara sedikit tersentak, namun ia segera menguasai diri. "Aku? Tentu tidak. Aku baru saja sampai. Tapi jujur saja, Alex, bukankah ini yang kau inginkan? Kau bilang janin itu kesalahan. Sekarang dia sudah menyingkirkannya dan pergi. Kau bebas sekarang."

"Bebas?" Alex tertawa sinis, suara tawa yang terdengar sangat pahit. "Dia membenciku, Elara. Dia pergi dengan membawa dendam. Dan kau... kau tampak terlalu tenang menghadapi hilangnya orang yang kau sebut 'sampah' kemarin."

"Aku hanya berpikir realistis, Alex. Gadis seperti dia hanya ingin uangmu. Mungkin dia sengaja mengatakan sudah menggugurkan janin itu agar kau tidak mengejarnya, padahal dia berencana memerasmu nanti," hasut Elara dengan suara lembut yang berbisa.

Alex tidak menjawab. Ia menatap Elara dengan pandangan yang sulit dibaca. Ada sesuatu yang janggal. Bagaimana mungkin Almira bisa melewati penjagaan ketat tanpa bantuan orang dalam atau seseorang yang sangat berpengalaman? Namun, saat ini, fokusnya hanya satu: menemukan Almira.

Di saat yang sama, ratusan kilometer dari Jakarta, sebuah bus antarkota berhenti di sebuah terminal kecil yang becek di pinggiran Jawa Tengah. Almira turun dengan langkah gemetar. Tubuhnya terasa sangat lemah, mual itu masih ada, namun ia menguatkan dirinya demi nyawa yang ia bawa.

Ia mengenakan kerudung lebar dan pakaian longgar untuk menyamarkan identitasnya. Di tangannya, ia menggenggam alamat yang diberikan oleh orang suruhan Elara—sebuah alamat di desa terpencil bernama Desa Sukamaju.

"Nona Almira?" seorang pria paruh baya dengan sepeda motor tua menghampirinya.

Almira mengangguk takut. "I-iya, saya."

"Saya Pak Darmo. Mari, Nyonya Elara sudah mengatur semuanya. Anda akan tinggal di rumah kecil di kaki bukit. Warga di sana tidak akan banyak bertanya."

Selama perjalanan di atas motor melewati jalanan setapak yang berbatu, Almira menangis dalam diam. Ia merasa seperti pecundang yang melarikan diri. Ia merindukan ibunya, ia mencemaskan bagaimana kondisi ibunya sekarang. Apakah Elara benar-benar menepati janjinya untuk membiayai pengobatan ibunya?

Ia menyentuh perutnya. "Kita aman sekarang, Nak. Ayahmu tidak akan bisa menyakitimu lagi. Kita akan mulai hidup baru, meski tanpa siapa-siapa."

Sesampainya di sebuah rumah kayu yang sangat sederhana, Almira langsung merebahkan diri di atas tikar. Ia merasa sangat kesepian. Kemewahan di penthouse Alex terasa seperti mimpi buruk yang sangat jauh, namun aroma parfum Alex seolah masih tertinggal di indra penciumannya. Penderitaan batinnya tidak berhenti hanya karena ia sudah bebas. Ia justru merasa dihantui oleh bayang-bayang pria yang telah menghancurkan sekaligus "memilikinya" secara paksa.

Kembali ke Jakarta, malam telah jatuh. Alexander Eduardo masih berada di ruang kerjanya. Botol wiski di sampingnya sudah kosong. Ia menatap ke jendela, ke arah kegelapan malam yang sama yang menyembunyikan Almira.

Ia merasa sangat hancur. Bukan karena Elara, tapi karena Almira. Ia mulai menyadari bahwa selama ini, ia tidak hanya menggunakan Almira sebagai pelampiasan. Tanpa sadar, kehadiran gadis polos itu telah menjadi candu baginya. Kepolosan Almira, ketegarannya, dan bahkan ketakutannya telah mengisi celah-celah kosong di hati Alex yang selama ini hanya diisi oleh ego dan ambisi.

"Kenapa kau pergi, Almira?" bisiknya parau. "Aku belum sempat mengatakannya..."

Alex tidak tahu apa yang ingin ia katakan. Maaf? Mungkin. Atau mungkin sesuatu yang lebih dalam yang ia sendiri takut untuk mengakuinya.

Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Ia mengambil ponselnya dan menelepon pihak rumah sakit tempat ibu Almira dirawat.

"Halo, ini Alexander Eduardo. Bagaimana kondisi Nyonya Nadin hari ini?"

"Kondisinya stabil, Tuan. Namun ada seorang wanita yang mengaku dari yayasan Anda datang sore tadi untuk memindahkan administrasi ke akun anonim. Kami pikir itu atas perintah Anda," jawab pihak rumah sakit.

Mata Alex menyipit. Yayasan? Dia tidak pernah memberikan perintah itu. Ia segera menyadari bahwa Elara terlibat lebih jauh dari yang ia duga. Arogansi Alex kini berubah menjadi kecurigaan yang membakar.

"Elara..." geram Alex.

Ia bangkit dari kursinya, menyambar kunci mobil. Jika Elara berpikir dia bisa mempermainkan Alexander Eduardo, maka dia salah besar. Jika Elara adalah orang yang membantu Almira pergi, maka Elara pulalah yang harus mengembalikan Almira padanya—meskipun ia harus menghancurkan Elara dalam prosesnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!