NovelToon NovelToon
Perjuangan Suamiku:Istriku Surgaku

Perjuangan Suamiku:Istriku Surgaku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

"Dulu aku berjanji di depan Tuhan untuk menjaganya, namun dunia seolah memaksaku untuk ingkar."
Tian hanyalah seorang pria sederhana yang dianggap 'tidak berguna' oleh keluarga besar istrinya, Mega. Pernikahan mereka yang didasari cinta suci harus berhadapan dengan tembok tinggi bernama kemiskinan dan penghinaan. Saat Mega divonis mengidap penyakit langka yang membutuhkan biaya miliaran, Tian tidak menyerah.
Ia menjadi kuli di siang hari, petarung jalanan di malam hari, hingga terseret ke dalam pusaran dunia gelap demi satu tujuan: Melihat Mega tersenyum kembali. Namun, saat harta mulai tergenggam, ujian sesungguhnya datang. Apakah kesetiaan Tian akan tetap utuh saat godaan wanita lain dan rahasia masa lalu Mega mulai terkuak?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang pembuktian bahwa bagi seorang suami, istri adalah surga yang layak diperjuangkan meski harus melewati neraka dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Pelarian Sang Pendosa

Suara deru napas Tian terdengar seperti mesin rusak di kesunyian koridor belakang rumah sakit. Ia baru saja melompat dari balkon lantai dua, mendarat dengan tumpuan kaki yang salah hingga rasa nyeri menyambar dari pergelangan kaki menuju sumsum tulang belakangnya. Namun, ia tidak boleh berhenti. Di tangannya, tas berisi uang berlumuran darah itu ia dekap lebih erat daripada nyawanya sendiri.

"Berhenti! Jangan bergerak!" teriakan polisi bergema dari arah lobi.

Tian memacu kakinya yang pincang, menembus semak belukar di area parkir belakang. Ia merayap di bawah bayangan pohon-pohon besar, menghindari lampu sorot petugas. Pikirannya kalut. Di dalam ruang ICU tadi, ia melihat garis kehidupan Mega kembali berdenyut, namun kini ia justru harus lari meninggalkannya.

“Maafkan aku, Mega. Aku harus pergi agar bisa memastikan kau tetap bernapas,” batinnya perih.

Tian berhasil keluar dari area rumah sakit dan menghilang di kegelapan gang sempit pemukiman padat penduduk. Ia jatuh terduduk di balik tumpukan kayu tua, mencoba mengatur napasnya yang terasa seperti menyedot beling. Ia membuka tas itu; tumpukan uang kertas itu masih ada di sana, bercampur dengan aroma amis darah dari Si Jagal dan keringat perjuangannya.

Lima belas juta. Uang yang diraih dengan cara kotor untuk tujuan paling suci.

Namun, kejutan pahit menantinya. Saat ia menghitung lembaran itu di bawah lampu jalan yang remang, jemarinya gemetar. Uang itu tidak sampai lima belas juta. Hanya ada sekitar delapan juta rupiah. Sisanya? Bara sengaja memotongnya dengan alasan 'biaya keamanan' dan 'pajak ring'.

"Brengsek!" Tian memukul tembok bata di sampingnya hingga buku jarinya pecah.

Dunia seolah tidak pernah berhenti menjepitnya. Delapan juta tidak akan cukup untuk biaya operasi ginjal Mega. Itu hanya cukup untuk biaya administrasi dan sewa alat selama beberapa hari. Di tengah keputusasaan itu, ponselnya bergetar. Bukan panggilan, melainkan sebuah pesan video dari nomor yang tidak dikenal.

Tian membukanya dengan tangan bergetar. Video itu memperlihatkan ruang ICU Mega. Adrian sedang berdiri di samping ranjang istrinya, mengelus rambut Mega yang tak berdaya dengan sangat posesif. Di sampingnya, Dewi ibu mertuanya tampak tersenyum puas sambil menandatangani beberapa dokumen.

"Jangan khawatir, Tian. Aku sudah memindahkan Mega ke paviliun VIP. Dokter terbaik sudah menanganinya. Tapi sebagai gantinya, Ibu Dewi sudah menandatangani surat kuasa. Mulai detik ini, kau dilarang mendekati Mega. Jika kau muncul, polisi akan langsung menyeretmu ke sel atas tuduhan penganiayaan dan percobaan pembunuhan yang sudah aku siapkan saksinya."

Suara Adrian dalam video itu terdengar begitu tenang, namun penuh racun yang mematikan.

Tian meraung tanpa suara. Dadanya terasa seperti dihantam palu godam. Adrian tidak hanya mencuri kesempatan Tian untuk menjadi pahlawan bagi istrinya, pria itu juga menggunakan kekayaannya untuk membangun tembok hukum yang memisahkan Tian dari separuh jiwanya.

"Kau pikir kau bisa membelinya denganku, Adrian?" gumam Tian, matanya kini memerah, bukan lagi karena air mata, melainkan karena api dendam yang mulai mengkristal.

Tian bangkit berdiri. Ia tidak bisa kembali ke rumah sakit dengan status buronan. Ia harus mencari perlindungan, dan ia tahu ke mana harus pergi. Ada satu orang yang selama ini ia hindari, seorang paman yang hidup di pinggiran dermaga, seorang veteran dunia hitam yang dulu pernah memohon agar Tian menjadi penerusnya.

Dalam perjalanan menuju dermaga, Tian melewati sebuah etalase toko perhiasan yang tutup. Ia melihat bayangan dirinya di kaca: kotor, hancur, dan terlihat seperti sampah masyarakat. Namun di matanya, terpancar satu tekad yang belum pernah ada sebelumnya. Jika dunia ini hanya tunduk pada kekuasaan dan harta, maka ia akan menjadi penguasa yang paling ditakuti agar tidak ada satu pun orang yang berani menyentuh istrinya lagi.

Tian sampai di sebuah gubuk reyot di tepi dermaga yang berbau amis ikan busuk. Saat ia mengetuk pintu, sebuah moncong pistol dingin langsung menempel di keningnya. "Berikan satu alasan kenapa aku tidak boleh menarik pelatuk ini, keponakan sialan," ucap sebuah suara parau dari balik kegelapan.

Tian menatap tajam ke dalam kegelapan itu dan menjawab, "Karena aku butuh kekuatan untuk membunuh seorang iblis bernama Adrian."

Kegelapan di dalam gubuk itu seolah menelan cahaya rembulan yang mencoba masuk. Tian tidak berkedip sedikit pun saat dinginnya baja senjata itu menekan kulitnya. Ia bisa mencium aroma tembakau murah dan minyak senjata dari pria di depannya. Paman Hasan, pria yang dulu ia tinggalkan demi hidup normal bersama Mega, kini adalah satu-satunya jembatannya menuju kekuatan.

"Aku tidak butuh belas kasihanmu, Paman. Aku butuh jalan untuk menghancurkan mereka yang menganggap nyawa istriku bisa dibeli dengan recehan," desis Tian. Paman Hasan menurunkan senjatanya, lalu menyalakan korek api. Cahaya kecil itu menunjukkan senyum miring yang menyeramkan.

Selamat datang di rumah, Macan. Aku sudah lama menunggumu pulang ke neraka.

Tian duduk di kursi kayu yang rapuh, merasakan perih di rusuknya. Kelelahan dan keputusasaan membebani bahunya. Di depannya, Paman Hasan menatapnya dengan tatapan tajam yang sulit diartikan.

"Aku gagal, Paman," suara Tian bergetar. "Aku mencoba menjadi suami yang baik, bekerja jujur, dan menjauhi kekerasan. Tapi semuanya sia-sia. Mega... dia sekarat. Dan aku tidak tahu harus berbuat apa."

Paman Hasan menghela napas panjang. Ia mengambil sebotol air dan menyerahkannya pada Tian. "Dunia ini memang keras, Tian. Terkadang, jalan yang lurus terasa lebih sulit daripada jalan yang bengkok."

Tian meneguk air dengan cepat, sedikit meredakan dahaga dan rasa sakit di tenggorokannya. "Aku hanya ingin Mega selamat, Paman. Aku tidak peduli dengan yang lain."

"Untuk itu, kau tidak bisa hanya mengandalkan keinginan," kata Hasan. "Kau butuh kekuatan. Bukan kekuatan untuk menyakiti orang lain, tapi kekuatan untuk menghadapi tantangan. Kekuatan untuk mencari bantuan yang tepat."

Hasan bangkit berdiri dan berjalan ke arah lemari besi kecil yang tersembunyi. Ia membukanya, bukan untuk mengambil senjata, melainkan sebuah buku telepon tua dan beberapa lembar kertas.

"Di dunia ini, ada orang-orang baik yang siap membantu, Tian," ujar Hasan sambil meletakkan buku telepon itu di depan Tian. "Ada lembaga sosial, rumah sakit yang memiliki program bantuan, dan orang-orang yang mendedikasikan hidup mereka untuk membantu sesama. Kau hanya perlu tahu ke mana mencarinya."

Tian menatap buku telepon itu, matanya berkaca-kaca. Ia merasa sedikit harapan muncul di tengah kegelapan yang melingkupinya.

"Kau bukan sendirian, Tian," lanjut Hasan. "Banyak orang menghadapi kesulitan yang sama. Mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda keberanian."

Tian membuka buku telepon itu dengan tangan gemetar. Ia mulai mencari nomor-nomor yang mungkin bisa memberikannya informasi atau arahan. Hasan duduk di sampingnya, membantunya membaca dan memahami informasi yang ada.

Mereka menghabiskan sisa malam itu dengan mencari kontak, membuat catatan, dan merencanakan langkah-langkah selanjutnya. Tian mulai merasa bahwa beban di dadanya sedikit berkurang. Mungkin, masih ada jalan keluar dari semua ini.

Saat fajar mulai menyingsing, Tian merasa ada secercah harapan. Ia tahu perjalanannya akan sulit, tetapi ia tidak lagi merasa sendirian. Ia memiliki dukungan dari pamannya dan potensi bantuan dari orang-orang di luar sana.

"Terima kasih, Paman," kata Tian dengan tulus.

Hasan hanya mengangguk. "Sekarang, beristirahatlah sebentar. Kita punya banyak pekerjaan besok."

Tian merebahkan diri di lantai kayu yang keras, tetapi hatinya terasa lebih ringan. Ia memejamkan mata, memikirkan Mega, dan berdoa agar masih ada waktu untuk menyelamatkannya.

Saat pagi menjelang, Tian dan Paman Hasan menemukan sebuah nomor telepon dari organisasi bantuan medis yang menawarkan layanan gratis untuk kasus darurat. Mereka segera menghubungi nomor tersebut, dan suara ramah di seberang sana memberi mereka arahan yang jelas tentang langkah-langkah yang harus diambil untuk mendapatkan bantuan bagi Mega.

Lanjut bab 5...

1
grandi
pasti ada harapan
grandi
Tian selalu kuat ya💪
grandi
sesaknya minta ampun dah/Sob/
Panda%Sya(🐼)
Di novel 2027 udah dateng ya thor🤣 Happy new year Thor/Facepalm/
christian Defit Karamoy: sebenarnya tahunnya emang saya buat begitu agar lebih menyenangkan 😄
trimakasih selalu suport ya 🙏
total 1 replies
Panda%Sya(🐼)
Biar makin semangatt ni Aku bagi /Rose/
christian Defit Karamoy: trimakasih kakakku🙏😍
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
semoga tian ga kenapa-napa
christian Defit Karamoy: ikuti terus ya qila🙏
total 1 replies
Panda%Sya(🐼)
Banyak banget rintangan nya Tian, semoga tetap kuat ya💪
christian Defit Karamoy: iya kak😭
total 1 replies
studibivalvia
penulisan rapi jadi enak banget bacanya 😎 yuk terus lanjutkan kak semangat
christian Defit Karamoy: siap kak trimakasih🙏
total 1 replies
Arceusssxara
💪
christian Defit Karamoy: siap kak🙏
total 1 replies
Panda%Sya(🐼)
Gas terus thor. Sampai tujuan
christian Defit Karamoy: siap trimakasih kak🙏
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
ceritanya bagus, semangat terus up nya thor
christian Defit Karamoy
iya bang/Sob/
Panda%Sya(🐼)
Si manusia satu itu, sangat kejam sekali huh😤
Kenjiro Dominic
span thor
christian Defit Karamoy: siap😄
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
ibumu bohong mega jangan dipercai, kesel banget aku sama nenek tua ini rasanya pengen ku pukul pakai kayu mulutnya 1000×
christian Defit Karamoy: /Sob//Sob//Sob/
total 1 replies
christian Defit Karamoy
amin🙏
Kasychan`●⑅⃝😽
lanjut thor
christian Defit Karamoy: siyap😄
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
yang sabar ya Tian ini ujian
christian Defit Karamoy: /Sob/
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
semangat terus Tian, ayo jangan nyerah dulu💪☺
christian Defit Karamoy: siap qila🙏
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
beginilah orang klau sudah cinta dengan seseorang, ia akan melakukan apapun bahkan nyawapun dia pertaruhkan demi orang yang dia cintai, beruntung banget ya mega, btw semangat terus thor up nya, semoga karyanya bisa ramai ya☺
christian Defit Karamoy: amin amin qila🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!