andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Pagi pun datang. Aku dan Dika terasa bukan lagi seperti ayah dan anak, melainkan dua rekan kerja yang terjebak dalam satu kasus yang sama. Sejak subuh kami sudah berdiskusi pelan di dalam mobil, membedah potongan demi potongan teka-teki kode 172. Ironisnya, aku sedang dibebastugaskan, tetapi justru pagi ini pikiranku bekerja lebih keras dari biasanya.
Dari pukul 06.30 hingga 07.30, arus kendaraan di depan SMP Nusantara Global nyaris tidak terputus. Mobil-mobil mewah keluar masuk bergantian, menciptakan kemacetan pendek yang berulang. Hampir semua siswa diantar menggunakan mobil pribadi dengan sopir. Ada beberapa yang berjalan kaki, tetapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Kehadiran siswa dari keluarga sederhana seolah hanya pelengkap citra, sekadar bukti bahwa sekolah ini tidak membeda-bedakan status sosial.
Aku menatap gerbang besar sekolah itu lama. Jika analisis Dika benar, maka pagi ini akan terjadi satu kematian lagi. Korbannya alumni SMP Nusantara Global. Dan waktunya sudah ditentukan.
Pukul delapan lewat sedikit, aku memutuskan masuk ke area sekolah. Pemeriksaan di gerbang dilakukan dengan ketat. Satpam meminta identitas, memeriksa lencana, lalu berkomunikasi lewat handy talky sebelum akhirnya mengizinkanku masuk. Tatapan mereka waspada, tidak ramah, tetapi sopan. Sekolah ini jelas terbiasa dengan kontrol.
Kompleks sekolah itu luas dan tertata rapi. Gedung-gedung tiga lantai berdiri berjajar dengan jarak yang terukur. Taman-taman kecil di sela bangunan terlihat terawat. Aku langsung menuju gedung SMP yang masih berada dalam satu kawasan. Setelah memarkir mobil dengan rapi, aku masuk ke ruang guru. Dika kutitipkan di kantin sekolah dengan pesan singkat agar tidak ke mana-mana.
“Maaf, Pak, mau bertemu dengan siapa?” tanya seorang guru perempuan muda. Wajahnya ramah, penampilannya rapi.
“Saya ingin bertemu kepala sekolah,” jawabku.
“Apakah Bapak sudah membuat janji?”
Aku mengeluarkan dompet dan menunjukkan identitasku. Seketika raut wajahnya berubah. Senyum itu masih ada, tetapi matanya menjadi lebih waspada.
“Mohon tunggu sebentar, Pak. Saya lapor dulu ke Ibu Kepala Sekolah.”
Aku duduk di ruang tunggu. Jarum jam menunjukkan pukul 08.10. Setiap menit terasa berat. Aku tahu waktu tidak berpihak padaku. Sepuluh menit berlalu, lalu lima menit berikutnya. Tidak ada siapa-siapa. Kecemasan mulai menekan dadaku. Lima puluh menit lagi, jika perkiraan kami benar, nyawa seseorang akan melayang.
Aku berdiri, berniat mendekati pintu ruang kepala sekolah. Namun tepat saat itu pintu terbuka. Seorang perempuan paruh baya keluar. Tatapannya tegas, gesturnya penuh kendali. Ia menatapku sejenak, lalu tersenyum tipis.
“Mohon maaf menunggu, Pak. Tadi ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan,” katanya.
Kami duduk berhadapan. Aku memilih tidak berbasa-basi. Waktu terlalu berharga.
“Bu, pada tahun 2019, sekitar bulan Februari, apakah pernah terjadi kasus perundungan di sekolah ini?” tanyaku langsung.
Raut wajahnya berubah. Senyum itu hilang. Matanya mengeras.
“Bapak ini siapa?” tanyanya dingin.
“Saya Andi, Bu. Dari Polsek Pasar Selasa.”
“Ini wilayah Polsek Pasar Rebo,” katanya cepat. “Kenapa Bapak bertugas di luar wilayah?”
Aku menarik napas panjang. Dugaan terburukku mulai terbukti.
“Mohon maaf, Bu. Tapi ini menyangkut nyawa orang. Dalam dua hari terakhir sudah ada tiga korban meninggal dengan pola yang sama. Ketiganya pernah bersekolah di sini sekitar lima tahun lalu. Menurut perkiraan saya, korban berikutnya juga alumni SMP ini.”
Wajahnya semakin tegang. Napasnya tampak tidak teratur.
“Sejak sekolah ini berdiri, tidak pernah ada perundungan,” jawabnya tegas. “Kami sekolah ramah anak. Banyak penghargaan yang sudah kami raih. Pertanyaan Bapak sangat menyudutkan institusi kami.”
Rasa jengkel merambat naik. Waktu terus berjalan, dan yang kutemui hanyalah tembok penyangkalan.
“Bu, tolong jujur,” desakku. “Berikan saya catatan kejadian perundungan lima tahun lalu. Ini penting.”
“Mana surat tugas Bapak?” tanyanya cepat.
Aku menunduk sesaat. “Saya tidak membawanya, Bu.”
Wajahnya mengeras. “Lalu apa maksud Bapak datang ke sini? Ini pelanggaran prosedur. Ketua yayasan kami mantan jenderal polisi.”
Ancaman itu jelas, meski dibungkus kalimat rapi.
“Bu, saya mohon,” ucapku pelan. “Ini soal mencegah kematian.”
Ia terdiam lama. Lalu berdiri. “Tunggu di sini.”
Ia melangkah keluar ruangan. Dadaku berdebar. Ada secercah harapan, tetapi jarum jam di dinding menunjukkan pukul 08.30. Tiga puluh menit lagi. Dan aku belum memegang apa pun
Pintu ruangan itu terbuka. Ibu kepala sekolah masuk sambil memegang ponsel di tangannya. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi.
“Ada yang ingin bicara dengan Bapak,” katanya singkat.
Ponsel itu disodorkan kepadaku. Begitu kutempelkan ke telinga, dadaku langsung mengencang.
“Andi, kurang ajar kamu,” suara Pak Haris terdengar tajam dan penuh amarah. “Kamu sedang dibebastugaskan. Kenapa kamu melakukan penyelidikan tanpa izin?”
Tubuhku gemetar. Jadi bukan catatan yang ia ambil, melainkan laporan ke atasanku. Tanganku mengepal, menahan emosi.
“Ini penting, Pak,” kataku menahan suara agar tetap stabil. “Lima belas menit lagi akan muncul korban keempat.”
“Omong kosong,” bentaknya keras. “Keluar dari tempat itu sekarang. Dalam lima menit kamu harus meninggalkan sekolah tersebut. Kalau tidak, aku akan rekomendasikan kamu bertugas di perbatasan.”
Aku melirik jam tangan. Waktunya semakin sempit. Namun orang yang seharusnya percaya justru menganggap semua ini delusi. Kode 172 bukan dugaan, bukan permainan, melainkan ancaman nyata. Tapi suaraku tak lagi didengar.
“Baik, Pak,” ucapku akhirnya dengan rahang mengeras. “Kalau jam sembilan nanti terjadi lagi, Bapak yang bertanggung jawab.”
“Jangan mengancam,” balasnya dingin. “Kamu polisi, Andi. Tugasmu menenangkan, bukan membuat kepanikan.”
“Iya, Pak,” jawabku singkat. “Saya pergi.”
Sambungan terputus.
Aku menyerahkan ponsel itu kembali kepada ibu kepala sekolah. Tatapannya dingin, seolah kemenangan kecil baru saja diraihnya. Lagi-lagi, demi citra dan kekuasaan, satu nyawa kembali terancam.
“Saya pamit, Bu,” kataku singkat sambil berdiri.
“Ya, silakan,” jawabnya. “Dan sebaiknya mulai sekarang Bapak berhati-hati. Bapak sudah menyinggung mantan jenderal.”
Ancaman itu meluncur ringan, tapi aku tidak peduli. Sejak kecil aku hidup mandiri. Kehilangan jabatan bukan hal menakutkan bagiku. Yang membuat dadaku sesak adalah pembiaran, saat nyawa manusia dipertaruhkan begitu saja.
Jarum jam menunjukkan pukul 08.57 saat aku melangkah keluar ruangan, membawa amarah dan firasat buruk yang semakin nyata.
Aku melangkah ke kantin. Andika duduk sendirian menatap televisi besar yang tergantung di dinding. Sekolah ini memang luar biasa. Hampir setiap sudut dipenuhi monitor yang menayangkan pengumuman dan iklan prestasi, seolah terus menegaskan diri sebagai sekolah unggulan.
“Bagaimana, Yah?” tanya Andika.
Aku hanya menggeleng pelan. Raut kecewa langsung muncul di wajahnya.
Tiba-tiba semua monitor mati serentak. Kantin mendadak sunyi. Beberapa detik kemudian layar menyala kembali, menampilkan angka 1711300.
Dadaku sesak. Layar berganti. Bukan iklan, bukan pengumuman.
Itu siaran langsung CCTV. Layar terbagi dua. Satu menunjukkan toilet, satu lagi ruang laboratorium.
Layar itu membuat seluruh kantin membeku.
Di sisi kiri, kamera toilet menampilkan seorang siswa berdiri di atas bangku. Wajahnya pucat, matanya kosong. Ia memasukkan kepalanya ke dalam jeratan yang sudah terpasang rapi di atas pintu bilik. Tidak ada keraguan di gerakannya. Tangannya sempat bergetar sesaat, lalu bangku itu ditendangnya pelan. Tubuhnya tergantung, diam, seperti boneka yang dilepas talinya.
Teriakan pecah di kantin.
Di sisi kanan, ruang laboratorium tampak lebih terang. Seorang siswa lain berdiri di depan meja praktikum. Ia menatap kamera sejenak, seolah tahu sedang disaksikan banyak orang. Lalu ia menarik napas panjang dan menjatuhkan dirinya ke belakang, ke arah rangka besi yang sudah disiapkan. Tubuhnya tersentak, lalu terdiam.
Aku terpaku. Tanganku dingin, jantungku berdegup tak beraturan.
Andika menggenggam lenganku erat. “Yah… ini bukan bunuh diri,” ucapnya lirih.
Monitor masih menayangkan dua tubuh yang tak bergerak. Kode itu bukan ancaman lagi. Itu pengumuman eksekusi.
Aku melihat jam tangan tepat pukul 09:00
“itu terjadi gedung SMA nusatara” ucap ibu kantin